Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 37. Selalu Memaksa



Vania sangat lelah karena tugas nya sangat banyak sekali, belum lagi Daniel selalu menambah pekerjaan nya. Dia seperti sengaja mengerjai Vania, bahkan hari pun sudah gelap dan semua karyawan juga sudah pulang termasuk Daniel juga.


Vania keluar dari ruangan nya, keadaan sangat sepi sampai di lantai mereka juga tidak ada lagi. Vania tetap santai sambil turun ke lantai bawah dengan lift, saat sampai di lantai bawah hanya tinggal beberapa karyawan dan pegawai kebersihan.


Karena Vania tidak membawa mobil hari ini, jadi dia akan pulang menggunakan taksi saja. Kalau kerja lebur begini, mending bawah mobil pikir Vania.


"Hey kamu...!" panggil seseorang dari belakang.


"Pak Daniel" ucap Vania saat melihat Daniel berdiri disana, Vania pun membalikan badan nya.


Daniel menghampirinya dan menarik tangan Vania menuju mobilnya, beberapa orang yang ada disana juga menatap kearah mereka. Ada beberapa karyawan dan satpam yang melihat mereka, Vania tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian mereka.


"Masuk kedalam" ucap Daniel setelah di membuka pintu mobilnya.


"Tapi..." jawab Vania yang tidak mau naik ke mobil, dia memperhatikan sekelilingnya dan dengan terpaksa dia masuk kedalam mobil.


Setelah Vania masuk kedalam mobil, Daniel menutup pintu mobilnya. Dia pun ikut masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya pergi dari perusahan. Ini sudah sekian sekali nya Daniel memaksa Vania seperti ini, Vania sebenarnya sangat kesal karena dia ingin hidup normal seperti karyawan lain nya.


"Kita mau kemana? kenapa Bapak selalu saja memaksa seperti ini" tanya Vania sambil menatap Daniel.


"Aku mau ngajak kamu makan malam, aku juga nggak butuh persetujuan kamu" jawab Daniel santai, Vania pun semakin kesal.


"Aku juga sedang tidak ingin makan" ucap Vania sambil cemberut.


"Sudah lah aku tau kamu lapar, sebelum aku keluar tadi aku mendengar perut kamu berbunyi" sambung Daniel dan Vania yang ketahuan pun langsung malu, muka nya pun memerah.


"Bapak mendengarnya?" tanya Vania tidak percaya.


"Tentu saja aku mendengar nya" jawab Daniel sambil tersenyum.


"Makanya jangan sering bohong Vania, oh iya apa kamu mengenali aku kemarin?" tanya Daniel mengingat kejadian dimana Vanian datang ke rumah nya kemarin.


"Tentu saja aku sangat mengenali bapak, walaupun penampilan bapak agak berbeda" Vania pun tertawa kecil.


"Sialan...!!" ucap Daniel keceplosan.


"Itu sedang tidak bisa di kontrol karena kamu tiba-tiba datang, aku juga baru tau kalau Mama sering beli kue kamu" sambung Daniel memberikan alasan.


"Aku juga terkejut karena rumah bapak sangat mewah, seperti istana. Pantas saja bapak sangat kaya " jawab Vania saat mengingat kejadian kemarin.


"Kamu terlalu berlebihan" ucap Daniel membantah ucapan Vania.


Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di kafe, Daniel mengajak Vania untuk turun. Mereka pun duduk di meja paling ujung, Daniel pun memesan makanan mereka.


"Duduk lah disini, aku pesan dulu" ucap Daniel dan Vania pun hanya menganggukan kepalanya.


Beberapa menit kemudian Daniel datang lagi, di ikuti oleh salah satu pegawai yang membawah makanan mereka. Cepat sekali pikir Vania, terlihat Daniel sangat perhatian pada nya.


"Makasih ya Mas" ucapnya setelah pelayan itu meletakan makanan mereka di meja.


"Kenapa bisa cepat sekali bukan kah Bapak baru pesan tadi?" tanya Vania yang melihat bermacam makanan yang adi di depan nya.


"Berhentilah memanggil aku bapak! aku terlihat sangat tua sekali" jawab Daniel kesal.


"Terus aku harus memanggil bapak apa? Bro atau teman?" tanya Vania yang mulai makan karena dia memang sangat lapar.


"Sayang juga boleh" jawab Daniel sambil tersenyum dan Vania hanya mengerutkan keningnya.


"Ada-ada saja, candaan bapak tidak lucu tau" ucap Vania.


"Pasti kamu melakukan hal ini pada setiap wanita yang kamu temui kan?" tanya Vania sambil menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak, kamu pikir aku ini laki-laki seperti apa?" ucap Daniel tidak membenarkan kata Vania.


"Tapi jujur saja di lihat dari muka kamu, kamu ini tipe orang yang tidak setia dan suka bermain dengan banyak wanita" sambung Vania santai.


"Bagaimana dengan kamu? apa kamu sudah punya pacar?" Daniel menatap Vania dengan serius.


"Kenapa kamu tanya seperti itu?" Vania balik bertanya pada Daniel.


"Apa kamu pacaran dengan karyawan yang satu divisi dengan kamu?" tanya Daniel lagi yang terlihat sangat penasaran.


"Kami tidak pacaran dan hanya berteman, ada ada memang nya?"


"Baiklah kalau begitu, apa kamu mau pacaran sama aku?" Daniel memegang tangan kiri Vania dan Vania pun menghentikan makan nya lalu meletakan sendoknya.


"Bisa-bisa nya kamu minta aku jadi pacara kamu! padahal kamu sendiri punya pacar. Aku bukan yang sangat bodoh sehingga Pak Daniel dapat membodohi aku seperti ini" Vania menarik tangan nya.


"Tapi aku sangat serius dengan kamu Van, aku belum pernah merasakan hal ini bersama dengan wanita lain sekali pun. Masalah Sirena kami tidak pacaran, orang tua kami yang menjodohkan kami. Aku tidak suka pada nya" Daniel berusaha menjelaskan semua agar Vania percaya.


"Tapi aku punya kabar buruk buat kamu, karena aku mencintai laki-laki lain dan aku nggak bisa nerima cinta kamu. Maaf..." Vania mengambil tasnya lalu pergi duluan dari sana.


"Ahhkk....!!" Daniel berteriak dan membuat semua orang yang ada disana melihat kearah nya.


Ini sudah ke sekian kali nya dia menyatakan cinta nya pada Vania, tapi yang ini adalah jawaban yang paling menyakitkan. Vania bilang dia sudah mencintai wanita lain, itu membuat Daniel sakit.


Beberapa menit kemudian Daniel membayar semua makanan mereka dan pergi dari sana, dia memutuskan untuk pulang ke apartemenya hari ini.


Sedangkan Vania bersembunyi di belakang parkiran, dia dapat melihat muka Daniel sangat kesal. Tapi Vania tidak bisa menerima cinta Daniel, dia cukup tau diri. Belum lagi masa lalu kelamnya yang membuat dia takut, semua orang tidak bisa menerima semua itu. Cinta nya untuk tunanganya juga masih sangat besar, dia bahkan selalu minta maaf saat hati nya sudah mulai goyah.


"Maafkan aku Mas..." ucap Vania sambil meneteskan air matanya.


Vania membayangkan waktu yang mereka habiskan bersama dengan Brayen, hati nya sakit. Vania menghapus air mata nya, saat melihat sekelilingnya ternyata turun hujan.


Hujan menguyur tubuh nya, Vania berlari keluar dari area resto. Vania berjalan menuju halte bus untuk berteduh di sana, ada beberapa orang juga disana karena hari ini memang belum terlalu malam.


Tapi baju Vania basah semua membuat dia kurang nyaman dan terus mengelus lenganya, beruntung dia memakai baju yang cukup tebal dan tidak tembus pandang.


Saat Vania ingin menaiki bus ponselnya berbunyi dan ternyata itu dari Mama, Vania mengangkat panggilanya sambil naik ke bus. Dia pun duduk di pojok belakang, keadaan bus pun cukup sepi.


"Hallo Ma" ucap Vania mengangkat panggilanya.


"Kamu dimana sayang? kenapa belum pulang?" tanya Mama terlihat khawatir.


"Vania sudah naik bus Ma, ini sudah di jalan pulang. Maaf lupa mengabari Mama tadi Vania harus mengerjakan tugas yang cukup banyak, jadu pulang nya aggak telat" jawab Vania agar Mama nya tidak khawatir.


"Iya sayang hati-hati di jalan ya, lain kali telpon Mama kalau pulang telat. Mama bisa jemput kamu" ucap Mama lagi.


"Iya Ma, udah dulu ya" panggilan pun berakhir.


Vania memasukan ponselnya kedalam tas, dia memandang kearah luar. Hujan turun sangat deras, padahal tadi saat mereka pergi cerah-cerah saja.


.


.


Bersambung...