Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 11. Masalah Perjodohan



Daniel sudah membaca semua biodata dan info yang sudah diberikan oleh Zandi, dia sangat tertarik dengan sosok Vania. Hingga beberapa hari ini dia bahkan sering memperhatikan Vania, entah dia sengaja datang keruangan Vania dan masih banyak lagi tingkah nya yang membuat orang aneh.


Saat ini dia sedang duduk dikursinya dan berbicara pada Laras, dia ingin memutuskan pacarnya karena ini sudah lebih dari satu minggu.


"Ayo kita putus" ucap Daniel tentu saja Laras sangat marah dan tidak terima dengan ucapan Daniel.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengajak aku putus, bukan kah kita baik-baik saja sayang. Aku nggak mau putus sama kamu" mohon Laras yang berdiri dari duduk nya dan menghampiri Daniel.


"Bukan kamu yang menentukan peraturanya disini tapi aku, aku yang memutuskan semuanya. Ambil ini sebagai konpensasi" Daniel melemparkan uang ketangan Laras.


"Kamu nggak bisa gini dong, apa kurang nya aku?" tanya Laras lagi tanpa memperdulikan uang yang sudah berhamburan dilantai, dia menggoyangkan tubuh Daniel.


"Kamu sangat sempurna, tapi sayang saat ini aku sudah bosan dan mari akhiri semua ini. Kamu boleh keluar" suruh Daniel sambil menunjuk kearah pintu.


"Aku masih akan tetap disini, enak saja kamu main putusin aku begitu saja" jawabnya lagi masih berdiri disana dengan mata yang mulai memerah sepertinya dia akan menangis.


"Zandi...!" Saat mendengar Daniel memanggilnya Zandi langsung masuk kedalam dan melihat keadaan nya sangat kacaw, Laras terlihat menangis dan memohon pada Daniel.


"Iya ada apa Bos?" tanya Zandi sambil berjalan kearah Daniel.


"Kamu urus wanita ini, suruh dia keluar dari ruangan ku. Bikin repot saja..!" ucap Daniel sambil melanjutkan kerjanya.


"Ayo keluar Nona, apa mau saya panggil satpam untuk menyeret kamu keluar dari sini?" ucap Zandi sambil mendekati Laras yang masih menangis.


Tanpa menjawab Laras mengambil uangnya lalu pergi dari sana, Zandi mengikutinya sampai keluar dari ruangan. Dia memastikan kalau Laras benar-benar pergi dari sini, setelah itu dia kembali lagi keuangannya.


"Apa dia sudah pulang?" tanya Daniel tanpa menolah karena dia masih fokus dengan ponselnya.


"Iya dia sudah pulang Bos, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Zandi balik bertanya pada Daniel.


"Tidak ada, tapi kamu harus memastika bahwa dia tidak akan menggangu aku lagi. Perasaan yang kamarin tidak serepot sih Laras ini, akhirnya masih mau uang juga" jawab Daniel terlihat kesal.


"Iya Bos, saya pastikan dia tidak akan berani datang kesini lagi" ucap Zandi dengan serius.


"Oh iya Bos, Nyonya Sandra akan datang kesini sebentar lagi" Sambung Zandi memberitahu Daniel kalau Mama nya sebentar lagi akan datang kesini.


"Kenapa Mama datang kesini?" tanya Daniel yang terkejut karena ucapan Zandi.


"Entah lah aku tidak tau, tapi dia mengirim pesan ingin datang kesini karena mau makan siang bersama. Hanya itu saja, karena takut Bos punya janji lain" jelas Zandi dan Daniel sudah menebak pasti ada sesuatu yang akan dilakukan Mama nya.


"Perasaan ku tidak enak, pasti akan terjadi sesuatu dengan ku nantinya. Apa kamu mau menggantikan aku makan siang nanti, bilang saja aku sibuk" jawab Daniel meyakinkan Zandi.


"Tidak bisa Bos, ini kan Mama Bos masa saya yang makan siang bareng. Lebih baik Bos turuti saja" ucap Zandi lagi sambil menolak untuk menggantikan Daniel pergi.


"Iya-iya aku akan pergi, tapi kamu harus menyelesaikannya tugas ku nanti kalau aku belum pulang kesini setelah makan siang. Kamu tau sendiri pasti wanita tua itu akan menyita waktu kalau bertemu" jawab Daniel lagi.


"Wanita tua itu Mama anda Bos" sahut Zandi sambil melihat Daniel yang terlihat berpikir keras.


"Iya kamu benar sekali, sudah lah jangan membahas ini. Mau ikut cuci mata nggak?" tanya nya pada Zandi.


"Apa? jangan bilang Bos mau bertemu dengan gadis itu?" tabak Zandi dan tentu saja tebakanya benar.


"Tentu saja benar, ayo kita turun kebawah. Aku mau tau apa yang dia lakukan sekarang" jawab Daniel lalu berdiri dan keluar dari ruanganya.


Zandi pun terpaksa mengikutinya dari belakang, dia sangat lelah menemani Daniel yang tiap hari sibuk memperhatikan Vania dari jauh.


Sesampainya di divisi keuangan, seperti biasa Daniel pura-pura mencari Lion padahal dia hanya ingin bertemu dengan Vania.


Semuanya pun bersiap-siap, sambil merapikan meja mereka. Benar saja tidak lama kemudian Zandi membuka pintu dan Daniel masuk kedalam, dia memperhatikan semua orang yang ada disana.


"Apa Pak Lion nya ada?" tanya Daniel dan Aza pun memberanikan diri menjawab.


"Ada Pak, silahkan masuk kedalam ruangan nya" Aza mengantar mereka keruangan Pak Lion yang beradi di sudut semua meja kerja divisi.


Setelah itu Ririn keluar dari sana dan menyuruh Vania untuk membuatkan kopi serta membawa cemilan yang ada di pantry. Biasa lah anak baru memang suka disuruh-suruh, dengan terpaksa Vania bangkit dari duduk nya lalu pergi ke pantry.


"Vania cepat buatkan tiga gelas kopi, jangan lupa bawa cemilan juga. Cepat pergi ke pantry, jangan sampai Pak Lion marah" ucap Bu Ririn sambil melihat kearah Vania.


"Baiklah Bu" Vania buru-buru pergi keluar.


"Kenapa ya Pak Daniel akhir-akhir ini agak aneh, dia sering sekali mengunjungi ruangan kita?" tanya Aza yang masih duduk di meja nya.


"Aku pikir juga begitu, selama aku bekerja disini. Bisa kita hitung kapan dia kesini, itu pun saat ada pengawas lapangan" jawab Bu Ririn membenarkan kata Aza.


"Tapi bukan nya mereka memang berteman ya Bu?" tanya Lauren sambil memandang ruangan Pak Lion.


"Iya mereka memang berteman, tapi Pak Lion lah yang sering keatas keruang Pak Daniel" jawab Aza.


"Sudah lah jangan bahas ini lagi, cepat kembali bekerja" sahut Bu Ririn yang sudah duduk kemeja nya.


Tidak lama kemudian Vania masuk kedalam, dia membawa nampan berisi kopi dan cemilan. Vania berjalan keruangan Pak Lion, dia mengetuk pintu dulu dan Pak Lion mempersilahkan dia masuk.


"Permisi Pak, saya membawakan kopi dan cemilan" ucap Vania sambil berjalan kearah mereka.


"Iya terima kasih Vania, maaf merepotkan" jawab Pak Lion sambil tersenyum.


Vania sedikit membungkukkan badanya dan meletakan kopinya diatas meja, kebetulan mereka bertiga sedang duduk di sopa. Vania gugup sekali karena saat ini dia sangat dekat dengan Danie karena dia duduk paling ujung, tanpa Vania sadari dari tadi Daniel memperhatikan dirinya.


"Saya permisi dulu Pak, silahkan dilanjutkan mengobrolnya" ucap Vania lagi sambil menundukan kepalanya dan Daniel tersenyum tipis mendengar itu.


Vania buru-buru keluar, dia benar-benar menghindari Daniel karena malu saat itu dia memergoki Daniel.


"Apa kamu sudah puas melihat wajah nya?" bisik Zandi sambil mendekatkan kepalanya.


"Tentu saja dia puas, aku tidak menyangkan ternyata kalau dari dekat dia lebih cantik" jawab Daniel pelan.


"Apa yang kalian bisikan, apa kalian membicarkan aku?" tanya Lion yang melihat tingkah aneh mereka berdua.


"Tidak ada, siap juga yang membicarkan kamu. Aku bicara tentang Mama ku yang mau kesini, aku mauk sekali karena harus ikut kencan yang Mama siapkan. Menyebalkan..!" jawab Daniel yang memang terlihat kesal.


"Tante Sandra itu mau kamu tobat, lagian berhentilah bermain wanita. Mungkin sudah saat nya kamu memberikan penerus Green Group, Iya kan Zan?" ucap Lion sambil meminta pembelaan dari Zandi.


"Iya kalau masalah itu, aku setuju dengan kamu" Jawab Zandi sambi menganggukan kepalanya.


"Kalian berdua ini sama saja !!" Daniel menujuk Zandi dan Lion bergantian.


Percuma bicara dengan Zandi dan Lion mereka sama sekali tidak sependapat dengan Daniel, dia ingin hidup bebas dan belum mau terikat dengan pernikahan atau pun perjodohan orang tua yang sangat membosankan baginya.


.


.


Bersambung....