
Sudah satu minggu ini Vania bekerja di ruangan Daniel, saat ini dia sudah terbiasa dengan sikap Daniel yang menyebalkan dan suka menyuruh. Seperti hari ini, Vania saja tidak tau apa kesalahan nya hingga dia disuruh membersihkan ruang arsip sendirian.
Saat ini Zandi juga ada diruangan mereka, Zandi duduk didepan Daniel. Tiba-tiba Daniel memanggil Vania dan Vania pun mendekat.
"Vania sini kamu!!" teriak Daniel dan Vania pun buru-buru mendekat.
"Iya ada apa Pak?" tanya Vania yang bingung.
"Apa kamu sudah makan siang?" Daniel balik bertanya pada Vania dan Vania pun menganggukan kepalanya.
"Bagus sepertinya kamu sudah mempunyai banyak tenaga, cepat bereskan ruang arsip" sambung Daniel dan Zandi yang ada disana juga terkejut.
"Kamu gila? bahkan ruang arsip terakhir dibereskan dua tahun lalu" sambung Zandi dan Vania pun hanya diam.
"Memang nya kenapa? justru sudah dua tahun tidak dibereskan maka harus dibereskan sekarang. Iya kan Vania?" tanya Daniel pada Vania.
"Iya benar Pak" jawab Vania mengangukan kepalanya.
"Sekarang pergi lah, dokuman lama kamu masuskan kedalam kardus ya. Jangan lupa angkat ke gudang belakang" suruh Daniel dan Zandi pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu" jawab Vania lalu pergi dari sana.
"Ayo lah Bro, jangan terlalu keras pada nya. Kenapa kamu menyuruh dia mengerjakan itu, bukan kah itu tugas Mang Dadan" Mang Dadan adalah petugas kebersihan di perusahan.
"Biarkan saja, aku sedang kesal dengan nya" jawab Daniel sambil memikirkan waktu makan siang tadi, dia sengaja menyusul Vania untuk makan kekantin tapi dia dikejutkan melihat pemandangan Tomi menyuapi Vania dan mereka terlihat sangat romantis.
"Apa masalah nya?" tanya Zandi penasaran.
"Aku melihat dia makan bersama dengan anak culun itu di kantin, lebih menjijikan lagi mereka saling suapi" Daniel terlihat emosi saat menceritakan itu.
"Astaga Daniel kamu konyol sekali, kenapa tidak bilang saja kamu cemburu" Zandi pun tertawa.
"Aku tidak cemburu hanya kesal saja" jawab Daniel berusaha tenang.
"Itu sama saja, sepertinya kamu harus banyak belajar. Sudah lah aku akan kembali ke meja ku" ucap Zandi lalu pergi dari sana.
Zandi pun pergi dari sana dan meninggalkan Daniel sendirian, Zandi tidak habis pikir dengan Daniel. Bisa-bisanya dia mencampurkan semua urusanya dengan pekerjaan, jika di pikirkan kasihan juga sih Vania.
.
.
Vania memberskan semua dokumen lama lalu memasukan nya ke dalam kardus dan mengikatnya, tanganya sangat sakit saat ingin memgambil berkas yang ada di rak-rak tinggi. Bahkan dia membutuhkan meja untuk memanjatnya, sesekali dia hampir jatuh untung dia berpegangan pada rak itu.
"Ternyata ini cukup melelahkan juga ya" ucap Vania sambil mengelap keringatnya.
Tidak lama kemduian ponselnya berbunyi dan ternyata itu adalah pesanan dari Tomi, dia bertanya kemana Vania. Saat dia mengantarkan dokumen keruangan Daniel tadi, Vania tidak ada di meja nya.
"Hallo Tom, ada apa?" tanya Vania saat Tomi langsung menelponya kareba tidak membalas pesan nya.
"Kamu dimana? kok nggak ada diruangan?" tanya Tomi penasaran.
"Aku ada diruangan arsip, Pak Daniel menyuruh aku untuk membereskan semua berkas disini" jawab Vania terlihat dari nada bicaranya bahwa dia sangat lesu.
"Kenapa kamu yang membersihkan nya? bukan kah sudah ada tugas kebersihan" Tomi bertanya lagi.
"Enatah lah aku juga nggak tau Tom, sudah dulu masih banyak yang harus aku kerjakan disini. Aku tutup telponya" jawab Vania ingin mengakhiri panggilan telponya.
"Tunggu..! Aku akan bantu kamu setelah izin dengan Pak Lion" ucap Tomi lalu dia menutup panggilnya.
Benar saja tidak lama kemudian Tomi datang, dia membawah kopi untuk Vania. Terlihat sekali kalau Tomi ingin memperlihatkan perhatiaan nya pada Vania, tapi Vania hanya menanggapinya santai.
"Kamu benar-benar kesini? apa Pak Lion tidak marah?" tanya Vania saat melihat Tomi masuk ke dalam.
"Nggak lah aku udah izin tadi, kebetulan aku juga sudah mengerjakan tugas ku jadi aman. Ini aku buat kopi untuk kamu" Tomi memberikan gelas kopi itu pada Vania.
"Terima kasih, tapi seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Aku jadi nggak enak" jawab Vania sambil mengambil kopinya.
"Santai saja, rak mana yang belum di bereskan? apa masih banyak?" tanya Tomi sambil memperhatikan di sekeliling mereka.
"Hemmm bukan lagi banyak, tapi banyak banget" tunjuk Vania pada 10 rak di belakang mereka.
"Wow lumayan juga, apa kita harus lembur sampai besok?" tanya Tomi sambil bercanda dan Vania pun ikut tertawa.
"Baiklah ayo mulai bekerja" ucap Tomi sambil menggulung lengan baju nya, karena tumpukan berkas ini terlihat berdebu.
Setelah itu dia lenjut membereskan bagaian paling belakang, Vania yang tidak enak pun langsung meminum kopinya sedikit lalu membantu Tomi di belakang.
"Ternyata kalau membersihkan berdua seperti ini lebih menyenangkan, setidak punya teman untuk bicara" ucap Vania sambil tersenyum.
"Tentu saja, maka nya aku kesini. Kamu tau biasa nya banyak tikus dan kecoa di sini, karena aku disini makabaky akan mejadi penyelamat kamu" Tomi mengedipkan mata nya.
Mereka terlihat tertawa dan sesekali Tomi bercanda untuk menghibur Vania, tapi mereka tidak menyadari kalau Daniel ada didepan pintu dan melihat apa yang mereka berdua kerjakan.
"Jadi dia disini lagi!" ucap Daniel melihat kearah mereka berdua.
Karena tidak mau melihat mereka bermesraan lama-lama, Daniel pun pergi dari sana dengan kesal. Saat masuk kedalam ruangan nya dia membanting pintu kencang sehingga membuat Iren dan Zandi terkejut, Iren yang penasaran pun mengajak Zandi untuk bergosip.
"Apa bapak sudah mengambil kopi nya? apa mau saya ambilkan?" tanya Iren yang melihat Daniel lewat tanpa membawah apa-apa, dia bilang tafi akan membuat kopi sendiri.
"Tidak usah, aku sudah tidak ingin membuat kopi" jawabnya dingin dan terus berjalan tanpa melihat kearah Iren.
"Brakk..." bunyi pintu yang di tutup keras oleh Daniel.
"Ada apa dengan Bos? apa dia sedang kesal?" tanya Iren sambil mendekatkan kursinya.
"Aku tidak tau, mungkin saja dia sedang kesal" jawab Zandi cuek.
"Berhentilah bersikap dingin, pantas saja kamu ngga punya pacar sampai sekarang" ejek Iren karena Zandi sangat dingin.
"Kenapa kamu penasaran sekali, urus saja urusan kamu" jawab Zandi sambil menatap Iren.
"Baiklah, tapi aku mau tanya satu lagi. Apa benar Pak Daniel suka sama Vania? tapi kenapa dia pacaran dengan Sirena" tanya membuat Zandi menghembuskan nafasnya.
"Berhentilah bertanya, kalau kamu mau tau jawabanya. Tanya saja sendiri" ucap Zandi lagi.
"Kalau aku berani, sudah aku tanya kan dengan Pak Daniel" jawab Iren kesal dan kembali lagi kemeja nya.
Zandi memang selalu cuek dengan semua orang, dia hanya terlihat ramah pada Daniel saja. Apa lagi kalau dekat dengan cewek, dia sudah seperti kulkas dua pintu yang hanya diam dan sikapnya sangat dingin.
.
.
Bersambung...