Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 41. Jangan Sampai Daniel Kabur!



Daniel dan Zandi sedang berada diruangan apartemen Daniel, mereka sedang mengobrol dengan Papa nya Daniel masalah acara pertunangan Daniel besok pagi. Daniel terlihat sekali tidak semangat dan hanya menjawab ucapan Papa nya singkat, bahkan selama satu minggu terakhir ini banyak sekali yang dia pikirkan.


Setelah banyak mengobrol Papa memutuskan untuk pulang, tentu saja Zandi di tugsakan untuk manjaga Daniel di sini. Daniel tidak mau pulang kerumah karena dia menentang semua ini, padahal kakak dan iparnya sudah pulang ke Indo dari kemarin.


"Papa pulang dulu, jangan macam-macam kamu! ikuti saja semua acarnya besok" Papa memperingati Daniel dan Daniel hanya diam saja.


"Papa pergi dulu, cepat istirahat kamu harus bangun pagi-pagi besok" sambung Papa yang berdiri dari duduk nya.


"Jangan sampai Daniel kabur! kamu tau akibatnya nanti" ucap Papa kepada Zandi yang juga sudah berdiri ingin mengatar Papa Daniel ke depan.


"Tentu saja Tuan, saya akan memastikan Daniel aman sampai besok" jawab Zandi sambil menundukan kepalanya.


"Tidak perlu mengantar kedepan, itu sudah ada Pak Diman yang menunggu saya" sambung Pak Haris dan Zandi pun menganggukan kepalanya.


"Iya Tuan hati-hati di jalan" jawab Zandi.


Setelah Papa nya Daniel keluar, Zandi langsung mengunci pintu nya. Dia menyuruh Daniel untuk tidur sesuai dengan perintah Papa Daniel tadi, Daniel pun kembali ke kamarnya begitu juga Zandi yang mengikutinya dari belakang.


"Tidur lah, biar kamu tidak kesingan besok" ucap Zandi dan Daniel pun berdiri dari duduk nya.


"Mau kemana kamu?" tanye Daniel melihat Zandi mengikutinya dari belakang.


"Tentu saja mau tidur, aku akan tidur di kamar kamu untuk memastikan kamu aman" jawab Zandi yang membuka pintu kamar duluan.


Zandi menarik matras yang ada didalam lemari dan mengambil selimut serta bantal satu di atas ranjang, dia membentang matrasnya di samping ranjang Daniel.


"Aku akan tidur disini, tenang saja aku tidak akan mengganggu kamu" ucap Zandi lalu merebahkan tubunya sambil menarik selimut.


Daniel pun membaringkan tubuh nya di atas ranjang, dia memejamkan mata nya. Dia ingin berpikir jernih apa yang harus dia lakukan besok, dia tidak mau berakhir menikahi Sirena. Membayangkan pertunangan mereka besok saja membuat Daniel muak, apa lagi kemarin dia sempat bertemu dengan Angga.


Angga minta maaf atas kelakukan nya di masa lalu yang merebut Dona dari Daniel, tapi sebagai mantan sahabat Angga tidak mau Daniel dengan Sirena karena Sirena bukan lah wanita baik-baik.


Dia sering tidur dengan banyak laki-laki termasuk sutradara dan lawan main nya di film, pada saat mereka pacaran dulu. Angga bilang dia sudah dua kali memergoki Sirena, Angga saja sudah mengatakan semua nya tentu saja Daniel tidak mau.


"Aku harus apa besok?" ucap Daniel karena jika sudah terikat pertunangan maka akan lebih sulit melepaskan diri dari Sirena, apa lagi orang tua mereka bilang pernikahan akan di adakan secepatnya.


"Berhentilah bicara dan tidur lah Bos" sambung Zandi yang masih belum tidur tapi dia sudah memejamkan mata nya.


"Aku tidak bisa begini" Daniel bangkit dari duduk nya lalu berjalan kearah lemarin dan mengambil jaket.


Zandi yang mendengar itu pun langsung bangun dan duduk untuk melihat apa yang sedang di lakukan oleh Daniel.


"Mau apa kamu?" tanya Zandi terkejut saat Daniel memakai jaketnya.


"Aku akan pergi ke kota B sekarang" jawabnya sambil mengambil dompet dan kunci mobil di atas nakas.


"Apa kamu tidak waras? mau ngapain kamu kesana?" tanya Zandi yang sudah berdiri menghadap Daniel.


"Justru aku masih waras, maka nya aku pergi ke kota B untuk menyusul Vania. Aku bisa gila jika memikirkanya" jawab Daniel ingin pergi dari sana.


"Jangan kabur, apa maksud nya ini?" teriak Zandi mengikuti Daniel yang berlari keluar.


"Nanti aku akan mengabari kamu, jangan bilang sama siapa-siapa. Tentap dia di apartemen sampai aku memberikan perintah, aku tau kamu sahabatku jadi jangan berhianat dan memberitahu Papa" ancam Daniel sebelum menaiki lift dan Zandi pun hanya bisa terdiam di depan pintu apartemen.


Daniel mengemudikan mobilnya menuju kota B, entah jam berapa dia akan sampai disana dan ini pengalaman pertama pergi sendirian. Walaupun dia sudah sering kesana tapi dia tidak percaya dia akan senekad ini, yang Daniel pikirkan hanya bertemu dengan Vania saat ini.


.


.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhrinya Daniel sampai di kota B, saat ini pukul 3 malam. Daniel tau dimana tempat tinggal Vania, dia langsung menuju kesana. Tempat tinggal mereka seperti Asrama, Daniel bingung karena dia tidak tau nomor kamar Vania berapa.


"Sebaiknya aku telepon saja" ucap Daniel mengulurkan ponselnya.


Daniel masih di dalam mobil yang terparkir di halaman tempat Vania tinggal, beberapa kali Daniel menelpon tapi tidak di angkat. Setelah mencoba untuk ke sepuluh kali nya, Vania pun memgakat telpon dari Daniel dan dia terlihat sangat kesal.


"Hallo ada apa? kenapa menelpon malam-malam begini?" tanya nya sambil marah-marah.


"Hallo Van, akhrinya kamu angkat juga. Kamar kamu nomor berapa?" tanya Daniel sudah keluar dari mobilnya masuk kedalam.


"Ada apa memang nya?" Vania balik bertanya.


"Jawab saja! aku sudah di bawah sekarang" sambung Daniel kesal.


"Apa? Apa kamu benar-benar disini?" tanya Vania tak percaya.


"Cepat katakan atau aku teriak disini, agar semua bangun!!" ancam Daniel.


"Baiklah jangan berteriak, lantai dua kamar nomor 12 jawab Vania dan Daniel pun langsung menaki tangga dan mematikan panggilanya.


Benar saja Vania sudah menunggu di depan pintu kamar nya, lorong itu terlihat sangat sepi karena ini sudah jam 3 pagi mungkin semua orang sudah tidur. Dia masih terlihat cantik seperti biasa walaupun hanya menggunakan piyama tidur dan rambutnya terurai cantik, dia sedikit malu saat Daniel mentap nya dan berlari kearahnya.


"Aku sangat merindukan kamu" ucap Daniel memeluk Vania dan Vania hanya terdiam mematung.


"Aku bisa gila jika tidak bertemu dengan kamu malam ini" sambung Daniel sambil mengelus kepala Vania.


"Kenapa kamu ada disini malam-malam begini?" tanya Vania di selah pelukan mereka.


"Tentu saja karena aku mau menemui kamu" jawab Daniel lalu mengajak Vania masuk karena dia tidak mau orang lain melihat mereka.


"Ayo masuk" ajak Daniel menarik tangan Vania setelah melepaskan pelukanya.


"Tapi kamu nggak boleh masuk kedalam..." ucap Vania dan Daniel pun tidak perduli.


"Tunggu dulu...!" percuma Vania berteriak Daniel pun sudah masuk kedalam.


"Kenapa dia selalu saja bertingkah konyol seperti ini, menyebalkan!' umpat Vania dalam hatinya.


Daniel melihat kamar Vania terlihat bersih dan rapi, kamar nya cukup luas. Tidak ada tempat masak ataupun ruang tamu dan ini hanya full kamar tidur, serta kamar mandi satu di ujung ruangan.


.


.


Bersambung...