
Saat mereka sedang sibuk dengan pekerjaan nya, tiba-tiba Zandi masuk keruangan mereka dan mencari Vania. Vania sudah merasa tidak enak, pasti hal buruk akan terjadi pada nya. Zandi menghampiri Vania dan dia bilang ini adalah peringatan dari Daniel, jika dia melakukan kesalahan lagi dia harus siap untuk di pecat.
"Selamat siang semua nya" sapa Zandi saat masuk kedalam ruangan.
"Iya Pak Zandi, mau cari siapa?" tanya Aza yang bicara dengan centil seperti biasanya.
"Saya ingin bicara dengan Vania, ada pesan dari Pak Daniel yang harus saya sampaikan" jawabnya lalu berjalan kearah meja Vania.
Vania pun langsung berdiri saat melihat Zandi berjalan kearah nya, dia benar-benar takut. Tapi pasrah dengan apa yang akan terjadi pada nya setelah ini karena kesalahan nya menang cukup fatal.
"Selamat siang Pak Zandi, ada apa bapak mencari saya?" tanya Vania sambil menundukan kepalanya.
"Kamu diberikan surat peringatan dari Pak Daniel" ucap Zandi memberikan surat kepada Vania.
Vania pun mengambilnya dengan muka yang sangat sedih, Lauren sampai kasihan melihatnya. Tomi pun juga begitu dan dia hanya bisa memperhatikan dari meja nya.
Sedangkan Bu Ririn dan Aza terlihat bergosip membicarakan Vania, mereka pikir pasti Vania akan dipecat. Pak Daniel paling anti dengan karyawan yang melakukan kesalahan, bahkan yang bekerja sebelumnya juga dipecat.
"Apa dia akan di pecat?" tanya Bu Ririn pada Aza yang duduk disampingnya.
"Aku rasa begitu, mana mungkin nggak di pecat kesalahan cukup fatal. Apa lagi Mbak tau kan Pak Daniel sangat anti dengan karyawan ceroboh" jawab Aza tersenyum kecil.
"Tapi kasihan juga dia" sambung Bu Ririn sambil memperhatikan Vania dan Zandi.
"Sudah lah Mbak, bukan kah Mbak juga nggak suka sama dia. Nanti juga ada yang baru kalau dia memang di pecat" jawab Aza santai.
Setelah itu Vania membuka suratnya dan banar saja itu surat peringatan, lebih mengejutkan lagi Zandi bilang kalau dia akan di disiplinkan langsung oleh Daniel selama tiga bulan agar tidak melakukan kesalahan lagi.
"Kamu sudah membaca nya kan? jadi kamu sebaiknya berhati-hati jangan ulangi kesalahan kamu" ucap Zandi sambil menatap Vania.
"Dan ada satu lagi, sebagai hukuman kamu akan bekerja double. Kamu harus menjadi asisten pribadi Pak Daniel dan kamu juga harus mengerkan pekrjaan kantor, mulai besok meja kamu akan di pindahkan di ruangan CEO" sambung Zandi dan semua orang yang disana juga sangat terkejut.
"Tapi Pak, maksud saya saya menerima hukuman nya tapi kenapa harus pindah meja?" tanya Vania yang tidak terima.
"Ini adalah perintah Pak Daniel, saya tanya kamu atasan nya sehingga berani membantah?" tanya Zandi dan Vania pun menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak ada pertanyaan lagi saya pergi dulu" ucap Zandi sambil mentap Vania
"Emm tidak ada Pak" jawab Vania yang masih menundukan kepalanya.
Zandi pun keluar dari sana dan Vania hanya bisa terduduk lemas, rasa nya dia tidak sanggup melihat muka Daniel yang dingin dan menyeramkan.
"Aku pikir hidup ku akan benar-benar tamat setelah ini" ucap Vania sambil menutup muka nya.
"Setidak kamu tidak di pecat, lagian kamu beruntung bisa melihat Pak Daniel setiap saat" jawab Lauren sambil tersenyum.
"Omong kosong!! yang ada aku mati berdiri karena takut, dia ternyata lebih mengerikan dari pada yang aku bayangkan" jawab Vania kesal sambil melempar surat tadi.
.
.
Sedangkan diruangan Daniel, Zandi sedang mengobrol dengan Daniel. Zandi heran kenapa Daniel menyusahkan pekerjaan Vania, bukan kah dia bilang sangat menyukai Vania. Zandi duduk di depan Daniel, kali ini dia terkejut dengan pengakuan Daniel.
"Iya aku baru dari sana, cukup merepotkan juga" jawab Zandi sambil menarik kursi lalu duduk di depan Daniel.
"Kenapa kamu mempersulit pekerjaan nya? lagian kita tidak butuh asisten pribadi. Aku juga sudah bisa mengurus semua nya" tanya Zandi serius.
"Hanya ingin saja, aku ingin mengerjainya karena dia berani banget nolak aku. Kamu tau kan tidak ada yang pernah menolak aku selama ini" jawab Daniel yang terlihat kesal.
"Apa kamu sudah mengungkapkan cinta?" tanya Zandi tak percaya sambil menutup mulutnya.
"Aku belum menyatakan cinta, tapi dari satu minggu yang lalu aku selalu menghubungi dia dan menelpon nya lebih dari 10 kali sehari. Tapi dia tidak pernah membalas pesan ku apa lagi mengangkat telepon ku, aku pikir saat ini dia sidsh memblokir kontak ku" jawab Daniel yang terlihat marah.
"Hahaha...keran juga sih Vania" ucap Zandi sambil tertawa.
"Kenapa kamu tertawa? bukanya menghibur aku karena aku sedang kesal" sambung Daniel menatap Zandi yang masih terus tertawa.
"Lucu saja, seorang Daniel Prayoga cinta nya di tolak oleh seorang karyawan biasa" Zandi mengejek Daniel.
"Percuma aku bicara sama kamu, dasar menyebalkan. Sana keluar dari sini" Daniel mengusir Zandi dari ruangan nya.
"Baiklah aku akan keluar, oh iya kata tante Sandra dia masu kesini bersama dengan Sirena" Zandi mengedipkan mata nya pada Daniel.
"Sialan loh !! kenapa nggak cari alasan agar mereka nggak ke sini" Daniel melemparkan pena nya kerah Zandi yang sudah berada di depan pintu.
"Sudah nikmati saja waktu bersama Sirena, buka kah dia cantik. Berhentilah mengejar Vania, dia juga nggak tertarik sama kamu" ucap Zandi sebelum benar-benar keluar dari sana.
Kebiasaan Mama nya saat mau kesini bukan menghubungi Daniel tapi malah memberitahu Zandi, dengan kesal dia mengirim pesan pada Mama nya agar tidak jadi kesini. Tapi sayang Mama nya bilang mereka sudah di parkiran dan akan naik keatas sebantar lagi, Daniel benar-benar muak dengan Sirena yang tidak mau menolak perjodohan mereka.
Benar saja tidak lama kemudian Mama nya datang bersama dengan Sirena, yang membuat Daniel terkejut banyak sekali yang mereka bawah. Padahal Daniel sudah makan siang, dia hanya bisa pasrah dan tidak mungkin marah-marah pada Sirena karena ada Mama nya.
"Selamat siang sayang" ucap Mama masuk kedalam bersama dengan Sirena.
"Siang Ma, kenapa Mama kesini dan mengajak dia juga?" tanya Daniel sambil melirik Sirena yang ada di samping Mama nya.
"Oh kami habis dari salon bersama, Mama mau cari salon baru kebetulan Sirena tau dimana salon yang bagus. Jadi Mama minta antar sama dia, oh iya ini Mama bawah makan untuk kamu" ucap Mama sambil menujuk semua paper bag yang sudah dia letakan dia atas meja sopa.
"Kenapa banyak sekali, aku sudah makan Ma" jawab Daniel menghampiri mereka berdua yang duduk di sopa.
"Tidak apa-apa Daniel, bukan kah kamu suka kue akhir-akhir ini. Jadi aku sengaja beli buat kamu" jawab Sirena bersikap manis sekali, Daniel yanh mendengarnya ingin muntah.
"Kamu sangat beruntung punya calon istri yang pengertian seperti Sirena" ucap Mama sambil mengelus pundak Sirena.
"Terima kasih tante, tapi tante terlalu memuji" jawab Sirena malu-malu.
"Dasar siluman bermuka dua' umpat Daniel dalam hati.
Akhirnya mereka bertiga makan kue itu bersama, karena banyak mereka juga memberikan nya pada Zandi dan Iren. Daniel benar-benar muak dengan sikap Sirena yang pura-pura polos di depan orang tua nya, padahal Daniel sudah tau semuanya.
.
.
Bersambung...