Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 7. Kejadian Malam Itu



Malam ini Vania akan bertemu dengan sahabatnya Kayra, dia sangat senang karena sahabatnya itu juga akan pindah ke jakarta. Vania merasa sangat bersalah karena tidak memberi kabar lagi setelah kepergian Brayen, bahkan dia tidak sempat untuk berpamitan secara langsung.


Mereka janjian bertemu di kafe dan Vania sudah menunggu disana, sambil menunggu dia sudah memesan minuman. Benar saja tidak lama kemudian Kayra datang, dia terlihat tersenyum sambil melambaikan tanganya pada Vania.


"Akhirnya kita bertemu lagi, sudah beberapa bulan kamu menghilang tanpa kabar" ucap Kayra lalu duduk didepan Vania.


"Maaf karena keadaan ku benar-benar kacau saat itu, kamu tau sendiri kan. Sudah lah jangan bahas itu lagi, oh iya kenapa kamu juga ikut pindah kesini?" tanya Vania yang terlihat senang.


"Apa kamu sebegitu merindukan aku?" sambung Vania lagi sambil menggoda Kayra.


"Dasar kamu! siapa juga yang merindukan kamu" jawabnya pura-pura kesal.


"Aku hanya bercanda, apa kamu pindah bersama dengan Om dan tante juga?" tanya Vania lagi.


"Nggak Van, aku pindah sendirian. Kebetulan Bos ku yang merekomendasikan untuk bekerja disini karena gajinya lebih besar dan banyak bonus lain nya" jawab Kayra dan Vania menganggukan kepalanya.


"Aku kira kalian pindah kesini semua, memang lebih enak disini. Kalau dikota kita bosan kan, nggak ada penglihatan lain" ucap Vania sambil tertawa kecil.


"Sepertinya kamu sudah mulai ceria?" tanya Kayra membuat Vania mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Iya seprti itu lah, tidak mungkin aku terus menangis dan mengurung diri ku dirumah. Mama dan Papa hanya punya aku anaknya, jadi aku tidak mau mengecewakan mereka" jawab Vania sambil menundukan kepalanya.


"Kamu benar, aku senang kamu sudah bangkit dari kesedihan kamu. Apa aku boleh tau apa yang terjadi malam itu?" tanya Kayra hati-hati agar Vania tidak tersinggung.


"Aku bingung mau cerita dari mana tapi intinya ada orang yang mengirim foto ku saat bersama dengan Mas Haikal, sebenarnya foto itu diambil saat kami liburan bersama dengan semua pegawai kantor. Mas Brayen salah paham dan mengira kami berselingkuh, jadi kami bertengkar malam itu" cerita Vania dan Kayra mendengarnya dengan serius.


"Dan apa lagi yang terjadi?" tanya Kayra lagi karena dia sangat penasaran.


"Aku meninggalkan nya sendirian di kafe, aku pulang menggunakan taksi. Aku tidak tau kalau dia mengejar aku, pada saat sampai dirumah aku mendapatkan kabar kalau Mas Brayen kecelakaan" jawab Vania lagi berusaha tegar tapi air matanya masih menetes.


"Kamu sabar ya Van" Kayra memegang tangan Vania dan satu tangan nya lagi mengelus pundak sahabatnya itu.


"Terima kasih Kay, sudah lah aku tidak mau mengingat itu lagi. Aku berharap bisa melupakan semua nya disini, ini lah alasan aku ada disini Kay" Vania terlihat tegar walaupun hatinya masih sakit dan rasa bersalahnya yang membuat dia tersiksa.


"Iya kamu memang harus melupakan semuanya, ingat aku ada disini. Jika kamu ingin cerita, kamu sepertinya tidak menganggap aku sahabat. Buktinya kamu meninggalkan aku begitu saja" Kayra pura-pura ngambek dan membuat Vania tertawa kecil.


"Tidak mungkin aku melupakan kamu Kay, kamu adalah sahabat aku yang paling baik. Terima kasih banyak sudah hadir di hidup ku" Vania memegang tangan sahabatnya.


"Sama-sama, aku juga senang punya sahabat seperti kamu. Oh iya katanya kamu udah kerja? kerja dimana?" tanya Kayra.


"Dari kemarin diajak ketemu masih kerja terus" sambungnya lagi dan membuat Vania tersenyum kecil.


"Aku kerja diperusahaan Green Group Kay, aku mau cari pengalaman baru aja. Kalau kamu bagaimana, apa masih kerja di Bank?" Vania balik bertanya pada Kayra.


"Iya masih lah, loh kira gue langsung pindah-pindah gitu aja. Wah hebat juga kamu bisa masuk perusahan itu, bukan nya seleksi nya ketat banget kata orang" jawab Kayra dan Vania langsung menggeleng kepalanya.


"Nggak kok Kay, tapi memang harus di training dulu kalau karyawan baru kayak kami. Kata nya memang harus ada masa percobaan dan sejauh ini aku menikamati bekerja disana" ucap Vania.


"Apa jangan-jangan kamu udah punya gebetan ya disana?" tanya Kayra sambil bercanda.


"Mana ada Kay, aku bahkan khawatir tidak bisa dekat dengan laki-laki lain. Jujur saja saat ini aku tak bisa" Vania berkata jujur.


"Siapa tau kan Van, oh iya pesan makan yuk udah laper ni" Kayra mengalihkan pembicaraan.


Vania menganggukan kepalanya lalu melihat menu makanan disini dan mengatakan pesananya pada Kayra, memang selalu begitu kalau mereka makan berdua.


"Minumnya jus jeruk tanpa gula" sambung Kayra dan membuat Vania tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Kamu tau aja, Kayra memang yang terbaik" Vania mengacungkan jempolnya.


"Iya aku tau itu, apa kamu nggak mau tambah makanan lain?" tanya Kayra lagi sambil melihat menunya.


"Kamu mau pesan apa?" Vania balik bertanya pada Kayra.


"Aku kayaknya Ayam goreng aja, kamu mau pisang coklat nggak?" tanya Kayra lagi.


"Iya terserah kamu, aku ngikut aja" jawab Vania pasrah untuk masalah makanan lainya dia serahkan pada Kayra.


"Apa kamu yang traktir?" tanya Kayra sangat bersemangat.


"Baiklah emang ini mau kamu, ya sudah tapi kamu aja yang pesan" jawab Vania lagi.


"Siap laksanakan" Kayra tersenyum lalu pergi.


Setelah itu Kayra pergi untuk memesan makanannya dan Vania masih menunggu disana, jujur saja untuk saat ini Kayra adalah teman terbaiknya. Hanya dia yang paling mengerti tentang Vania dari dulu, bahkan mereka sudah seperti saudara.


Sambil menunggu makanannya mereka mengobrol dengan santai, sambil sesekali bercanda. Hal ini lah membuat Vania nyaman, Kayra bisa mengubah situasi ini menjadi hangat.


"Kamu lihat tu" tunjuk Kayra pada seorang cowok yang duduk paling ujung didekat kaca.


"Kenapa memang nya?" Vania bertanya sambil menoleh kearah sana.


"Kasihan cewek itu, dia sepertinya diputusin deh. kelihatan banget ceweknya kecintaan, sampai memohon seperti itu" jawab Kayra lagi.


Setelah itu makanan datang dan pelayan itu langsung menyajikan makananya, setelah selesai Vania mulai makan sedangkan Kayra masih melihat kearah pasangan yang sedang bertengkar itu.


"Sudah lah kamu sok tau, siapa tau mereka hanya bertengkar" Vania hanya melihat wanita nya menangis dan memohon pada laki-laki didepan nya, sayang dia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu karena duduk membelakangi mereka.


"Tu kan apa kata ku, tapi cowoknya memang tampan. Cepat lihat Van" Kayra memaksa tapi Vania hanya cuek saja.


"Kamu memang masih sama, sangat kepo dengan urusan orang. Cepat makan ini" Vania memasukan pisang goreng kemulut Kayra.


"Ehmm..." jawabnya berusaha bicara tapi tak bisa karena mulutnya penuh.


"Telan makannya, jangan bicara dulu nanti kamu tersedak! " Vania tertawa melihat ekspresi Kayra yang menurutnya sangat lucu.


"Bagus lah kamu tertawa sekarang, lihat kamu sangat cantik kalau tertawa Van. Teruslah begini dan aku yakin semua pasti berlalu" ucap Kayra setelah menelan makanan nya sambil menatap Vania.


"Benarkah? kamu memang selalu pandai memuji" jawab Vania tersenyum kecil.


Kayra adalah salah satu sahabat Vania yang paling baik dan mengerti Vania, dia sangat beruntung memiliki Kayra dalam hidupnya. Tidak ada yang lebih baik dan setulus Kayra, dari sekolah dulu sampai sekarang dia bagaikan malaikat penolong untuk Vania.


.


.


Bersambung...