
Beberapa hari ini Vania tidak masuk kerja, dia selalu mengurung diri di kamarnya. Ponselnya pun dia matikan, Mama dan Papa juga sangat khawatir sampai pada hari ini Daniel datang ke rumah mereka bersama dengan keluarganya. Tentu saja itu membuat orang tua Vania bingung, tapi dengan sopan mereka menyuruh kelurga Daniel masuk ke rumah mereka.
Dengan keyakinan penuh Daniel mengetuk pintu rumah Vania, di ikuti oleh Mama dan Papa nya yang berdiri di belakang Daniel. Tidak lama kemudian Mama Vania membukakan pintu dan Papa juga menyusul istirnya kedepan, karena dia pikir yang datang adalah teman Vania atau Tomi.
"Selamat siang Tante" sapa Daniel sambil! menudukan kepala dengan sopan.
"Selamat siang nak Daniel, ada apa ini? Dan siapa mereka?" Tanya Mama Vania sambil memandang mereka.
"Siapa yang datang Ma?" Tanya Papa sedikit berteriak, bertanya pada istrinya.
Papa juga ikut terdiam saat melihat Daniel dan kedua orang tuanya masih di depan sana, Papa pun dengan sopan menguruh mereka masuk kedalam rumah. Walaupun kedua orang tua Daniel terlihat enggan masuk dan bisa dilihat dari penampilannya kalau mereka bukan orang biasa, apa lagi sikapnya terlihat angkuh.
"Saya kesini bersama dengan orang tua saya, kami ingin membicarakan sesuatu yang penting" sambung Daniel dan Papa Vania pun paham dengan maksud Daniel.
"Benarkah, ayo silahkan masuk" jawab Papa Vania, mereka pun masuk keruang tamu yang menurut mereka cukup sederhana di bandingkan dengan rumah mereka yang mewah.
Mereka semua duduk di ruang tamu, keadan sedikit canggung karena mereka sama-sama diam. Kedua orang tua Daniel terlihat memperhatikan sekeliling rumah Vania, setelah melihat itu Daniel merasa tidak enak dan membuka pembicaraan.
"Maaf saya datang kesini tidak memberitahu Om dan Tante, saya juga sudah menghubungi Vania tapi nomor nya tidak aktif" ucap Daniel dan kedua orang tua Vania langsung saling padang, mereka menebak pasti ini ada kaitanya dengan Daniel kenapa Vania jadi murung.
"Tidak usah basa basi, cepat katakan intinya saja" sambung Mama Daniel yang sangat angkuh.
"Begini Om dan Tante, mungkin ini terlalu terburu-buru tapi saya datang kesini punya niat baik untuk melamar Vania menjadi istri saya" sambung Daniel dengan tegas, padahal dalam hatinya dia sangat gugup.
"Apa maksud kamu melamar? Apa kamu pacar dengan Vania?" Tanya Papa Vania penasaran.
"Tapi Tante tidak pernah mendengar tentang hubungan kalian dari Vania, apa karena kamu juga Vania mengurung dirinya dikamar dari kemarin? Kamu apakan anak saya?" Mama Vania mulai emosi.
"Sabar Ma, kita tanya baik-baik apa yang terjadi" Papa Vania berusaha menenangkan istrinya.
"Sudah biar saya jelaskan, kami mengerbek mereka tidur bersama di penginapan di Bandung. Anak kamu itu pasti sudah menggoda Daniel, saya menyuruh kalian datang kerumah tapi kalian terlihat sangat angkuh sehingga kami harus datang kerumah kalian ini" sambung Haris, Papa nya Daniel.
"PAPA..." bentak Daniel.
"Papa hanya menjelaskannya, itu memang kenyataan. Panggilkan putri kalian, bukan kah ini yang dia inginkan menikah dengan Daniel dan menjadi keluarga besar kami" jawabnya semakin angkuh dan orang tua Vania hanya bisa terdiam.
"Sudah Pa hentikan, biarkan Daniel yang menjelaskan semuanya" sambung Daniel lagi.
"Diam kamu, biarkan Papa bicara" Mama menahan Daniel agar membiarkan Papa nya bicara.
"Tidak mungkin Vania melakukan itu, saya sangat tau bagaimana anak saya" balas Mama Vania yang tidak terima.
"Jika tidak percaya panggil saja dia kesini, tanya langsung" ucap Mamanya Daniel.
Orang tua Daniel terpaksa melakukan ini semua demi Daniel, mereka sebenarnya sangat kecewa tapi apa boleh buat Daniel sudah melakukan hal yang tak wajar dan mengacawakan pertunanganya sendiri.
Dari pada menanggung malu karena undangan pernikahan dan semua persiapan pernikahan juga sudah di booking, belum lagi ancaman Daniel kalau tidak menikah dengan Vania maka dia tidak akan menikah dengan siapa pun.
Mereka tentu saja takut karena Daniel tidak akan macam-macam dengan ucapnya, orang tua Daniel sudah punya rencana agar mereka berpisah nantinya tanpa harus membuat Daniel membeci mereka dengan pura-pura menyetujui pernikahan ini.
"Baiklah saya akan panggil Vania kesini, jika dia bilang tidak maka kalian harus pergi dari sini. Saya juga berharap Daniel tidak menganggu Vania lagi!" Ucap Mama Vania penuh penekanan.
Mama Vania pergi dari sana untuk memanggil Vania, dia sangat yakin tidak mungkin Vania melakukan hal seperti itu. Vania adalah anak yang baik, dia tidak pernah berbohong dan Mama yakin semua ini pasti salah paham.
Sampai di depan kamar Vania, Mama mengetuk pintu. Beberapa kali Mama memanggilnya, tapi Vania belum juga menjawab. Sampai akhirnya Mama mengatakan keluarga Daniel datang dan Mama benar-benar kecewa jika semua yang di katakan mereka benar, dengan ragu-ragu akhirnya Vania membuka pintu kamarnya.
Tok Tok Tok
"Sayang buka pintunya ini Mama, Mama mohon!" Mohonya pada Vania.
"Ayo lah sayang buka pintunya, kelurga Daniel ada di bawah. Bilang pada mereka bahwa semua nya tidak benar kan?" Tanya Mama hampir ingin menangis.
"Vania sayang, Mama tau kamu tidak akan pernah melakukan itu. Ayo turun dan jelaskan pada mereka" sambung Mama lagi yang masih betah berada di depan pintu.
"Jika kamu tidak keluar, berarti semuanya benar" ucap Mama menyerah dan ingin pergi dari sana.
Ceklekkkk...
Pintu kamar terbuka, Vania keluar dan menahan tangan Mama nya. Matanya terlihat memerah dan Mama tau pasti Vania habis menangis lama. Dia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi, ada apa antara Daniel dan Vania.
"Mama tunggu..." ucap Vania lirih sambil menahan tangan Mama nya.
"Akhirnya kamu keluar juga, kamu tidak apa-apa kan sayang? Mama sangat khawatir sama kamu" tanya Mama sambil mengelus pipi Vania dan memperhatikan tubuh Vania dari kepala sampai ujung kaki.
"Aku tidak apa-apa, maaf telah membuat Mama khawatir. Ayo kita temui mereka" jawab Vania sambil menghapus air matanya.
Mereka berjalan berdua, saat sampau disana Vania duduk di tengah-tengah orang tuanya. Dia berusaha menjelasakan semuanya tapi percuma karena Daniel selalu mencelahnya, hingga akhirnya di mengajak Daniel bicara berdua di teman belakang rumah.
"Akhirnya kamu kesini juga, cepat jelaskan dengan orang tua kamu. Kami tidak punya banyak waktu untuk menunggu seperti ini, jika kamu memang kamu tidak mau kami juga tidak akan memaksa!" Tegas Mama Daniel.
"Saya minta maaf tapi memang kami tidak punya hubungan, malam itu adalah salah paham karena Daniel tidak mau di jodohkan. Jadi saya pikir semuanya sudah paham dan kami juga tidak akan menikah, aku mohon Pak Daniel jangan libatkan saya dengan masalah anda" ucap Vania menjelasakan semuanya.
"Salah paham bagaimana yang kamu maksud, kita memang tidur bersama. Bagaimana kalau kamu hamil?" Tanya Daniel pura-pura.
"Tapi itu..." belum sempat Vania menyelesaikan ucapnya Papa langsung menyahut.
"Baikalah sepertinya Papa sudah mengerti, ternyata hubungan kalian sudah sangat jauh. Saya mau kamu nikahai Vania secepatnya!" Papa Vania terlihat mulai emosi.
"Tapi Pa, Vania nggak mau nikah sama dia" elak Vania sambil menunjuk Daniel, sedangkan Daniel terlihat senang.
"Baiklah semuanya sudah beres kan, mari kita bicarakan tanggal pernikahanya" sambung Papa Daniel.
"Aku mau bicara sama kamu, ikut aku!" Sahut Vania dan Daniel yang paham pun mengikuti Vania yang pergi dari sana.
"Sialhkan lanjutkan pembicaraan kalian, terima kasih Om dan Tente sudah menerima lamaran saya. Saya janji akan membahagiakan Vania" ucap Daniel dengan percaya diri.
Setelah itu Daniel mengikuti Vania dari belakang, sedangkan para orang tua membicarakan pernikahan anak mereka. Walaupun mereka sama-sama tidak rela keduanya menikah, kenyataan yang membuat orang tua Vania syok adalah karena mereka berdua sudah tidur bersama.
Di taman belakang Vania terlihat marah-marah dengan Daniel, bahkan dia mengancam akan berhenti bekerja tapi Daniel dengan bijak membuat Vania tidak bisa membantah dan menolak menikah.
"Apa yang sebenarnya Pak Daniel inginkan?" Tanya Vania dengan marah.
"Berhentilah memanggil aku Pak, tentu saja aku.mau menikahi kamu. Apa lagi?" Dia mala balik bertanya pada Vania.
"Apa kamu sudah gila, ini nggak masuk akal. Kita nggak bisa menikah, kita juga nggak melakukan apa-apa!" Jawab Vania menjelasakan keadaan mereka pada Daniel.
"Tapi kita memang tidur bersama" balas Daniel dengan nada bercanda.
"Kita hanya berpelukan, itu pun tidak akan membuat aku hamil. Jadi batalkan pernikahan ini" jawab Vania lagi sambil melipat tanganya di dada.
"Kenapa kamu tidak mau menikah dengan ku? Bukan kah kamu juga mencintai aku?" Tanya Daniel sambil menatap mata Vania.
"Tau dari mana kamu tentang perasaan ku? Aku sama sekali tidak mencintai kamu!" Jawab Vania sambil telus mengelak.
"Apa kamu mencintai anak divisi kamu yang bernama Tomi itu?" Tanya Daniel yang mulai emosi.
"Kalau iya kenapa? Kamu mau apa? Aku juga akan berhenti bekerja" tidak ada cara lain Vania harus keluar dari masalah ini.
"Apa kamu sudah berhenti bicara?" Tanya Daniel yang terlihat marah.
"Aku..." belum selesai Vania bicara Daniel sudah membungkan mulut Vania dengan bibirnya.
Dia mengecup bibir Vania lama, bahkan melumutnya lembut. Vania terlus memberontak tapi Daniel malah mendekatnya kepala Vania dengan menariknya, tanya Daniel juga memeluk pinggang Vania dengan erat.
Tanpa mereka sadari Tina, pembantu rumah tangga mereka melihat itu. Vania langsung melepaskan diri dari Daniel, setelah itu Tina dengan malu memberitahu kalau mereka disuruh kembali keruang tamu.
"Tina..." ucap Vania dan Daniel pun sedikit menjauh lalu melepasakan tanganya di pinggang Vania.
"Maaf Non, Nyonya memberitahu saya kalau kalian sisuruh kembali ke ruang tamu. Orang tua Tuan ini katanya mau pulang" jawab Tina salah tingkah dan terus menundukan kepalanya.
"Iya kami akan segerah kesana" jawab Vania sambil menatap tajam kearah Daniel.
Tina pun pergi dari sana, muka Vania sangat merah. Dia merasa jantungnya tidak aman dan terus berdetak kencang, saat Daniel menciumnya tadi.
"Kamu tidak akan bisa kabur, jangan harap kamu bisa berhenti bekerja. Ingat kamu sudah tanda tangan kontrak, jika kamu berhenti kamu harus bayar denda 300 juta" ancam Daniel.
"Kenapa kamu suka sekali mengancam Bapak Daniel yang terhormat?" Vania terlihat menghentakan kakinya karena kesal.
"Mau bayar denda atau menikah?" Daniel memberi pilihan pada Vania.
"Baiklah kita menikah, kamu puas!!" Jawab Vania bertambah kesal.
Enatah apa yang di pikirkan Vania saat ini, otaknya buntu. Tapi dia mempunyai syarat untuk Daniel, mendengar hal itu Daniel pun menyanggupi semua syarat dari Vania.
"Bagus! memang seharusnya begitu" Daniel tersenyum sambil menelus kepala Vania.
"Tapi aku punya syarat untuk kamu, pertama aku mau menikah tapi sederhana dan aku tidak mau semua orang kantor tau aku istri kamu. Kedua kamu nggak boleh sentuh aku, kalau kita memang tidak cocok setelah satu tahun kamu harus melepaskaan aku" ucap Vania dan bagi Daniel itu hal yang mudah, yang penting kita menikah pikir Vania.
"Hanya itu? Baiklah aku setuju" Daniel menaggukan kepalanya.
"Semuda itu?" Tanya Vania sambil menatap Daniel yang terlihat biasa saja.
"Iya akan aku kabulkan semuanya" jawab Daniel tanpa ragu, padahal dalam hatinya jangankan satu tahun. Lihat saja satu bulan kamu bisa membuat kamu jatuh cinta dengan ku Vania, ucap Daniel dalam hatinya.
Setelah itu mereka berdua kembali ke ruang tamu, tidak lama setelah itu Daniel dan kedua orang tuanya pulang. Keputusanya sudah bulat mereka akan menikah satu minggu lagi, ini semua permintaan kedua orang tua Vania.
Daniel pulang dengan perasaan bahagia, akhirnya rencanaya berhasil dia bisa menikah dengan Vania. Walaupun syarat yang dia ajukan sedikit tidak masuk akal, itu bisa dia atasi oleh Daniel.
.
.
Bersambung...