
Saat pulang kerja hari ini Vania turun sendirian karena pekerjaanya sudah selesai, sedangkan Tomi dan Lauren masih menyelesaikan tugas nya. Dengan santai Vania keluar dari lift dan berjalan santai, tapi setelah dia menoleh ke belakang ada Daniel dan Sirena yang baru keluar dari lift khusus CEO.
Akhir-akhir ini berita kalau mereka pacaran, jadi tidak heran lagi kalau mereka sering bersama. karyawan disana juga sudah bisa melihat Sirena dan kadang heboh minta foto atau yang lain nya.
"Sial kenapa harus barengan dengan Pak Daniel!" kesal Vania yang berjalan cepat agar Daniel tidak melihatnya.
Vania terus berjalan dan sedikit berlari tanpa melihta ke depan, tanpa dia sadari Vania sudah menebak salah satu pegawai perempuan yang baru saja masuk.
"Ahhwww..." ucap wanita itu, berteriak kesakitan karena Vania menyenggol bahu nya.
"Maaf Mbak, saya nggak sejaka. Saya buru-buru" jawab Vania dan ternyata tas nya sudah jatuh, isinya sudah berhamburan dimana-mana.
"Lain kali hati-hati dong !!" sahutnya marah lalu meninggalkan Vania disana.
"Iya Mbak sekali lagi saya minta maaf" Vania pun menundukan kepalanya.
"Kenapa aku selalu sial" ucap Vania sambil menghembuskan nafas dalam.
Setelah itu Vania membereskan isi tas nya yang berhaburan, bedak nya pecah. Vania sedikit kesal gara-gara menghindari Daniel dia jadi sial, dengan menggerutu Vania memasukan barangnya kedalam tas.
"Ini ada satu lagi yang jatuh" ucap seorang laki-laki memberikan pena yang jatuh didepan Vania.
"Terima kasih" jawab Vania sambil tersenyum dan memandang laki-laki yang ada didepanya.
"Pak Daniel..." sambung Vania terdiam sejenak lalu langsung berdiri dan ingin pergi dari sana.
"Saya duluan Pak, permisi" ucap Vania ingin buru-buru pergi dari sana, sekilas dia memandang Sirena yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Tunggu kamu mau kemana? aku belum menyuruh kamu pergi" Daniel menarik tangan Vania.
"Ada apa ya Pak? saya mau pulang dan saya buru-buru karena ada kerjaan" alasan Vania agar Daniel melepaskan tangan nya.
"Kenapa kamu menahan dia? dia juga mau pulang" Sirena menghampiri mereka berdua.
"Dia punya hutang sama aku, kena kamu akhirnya kita bertemu juga" Daniel nambah mempererat tanganya agar Vania tidak kabur.
"Ayo ikut aku sekarang" ajaknya sambil menarik bahu Vania menuju mobilnya.
Sirena yang melihat itu sangat kesal sekali, dia mengikuti Daniel dan Vania dari belakang. Daniel memasukan Vania kedalam mobil dan duduk di kursi belakang, Vania tentu saja langsung memberontak.
"Kenapa dia ikut?" tanya Sirena sangat marah.
"Bairkan dia ikut, itung-itung buat jadi asisten pribadi kita. Dia nggak bisa bayar hutang dari pada kabur kan?" ucap Daniel pelan sambil meyakinkan Sirena.
Dengan kesal Sirena masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Daniel. Setelah itu Daniel melajukan pergi dari perusahan, sepanjang jalan Vania terlihat kesal begitu juga dengan Sirena yang menatap nya sinis.
"Saya mau dibawa kemana Pak? saya ada urusan loh" kesal Vania sambil memandang Daniel yang melajukan mobilnya.
"Kamu kan punya hutang sama saya, jadi kamu cukup jadi asisten hari ini. Hutang kita lunas" jawab Daniel dengan percaya diri.
"Hutang apa? kapan aku punya hutang dengan dia. Sangat menyebalkan sekali !!' jawab Vania dalam hati.
"Maka nya kalau punya hutang itu dibayar, mengganggu saja" sambung Sirena menatap Vania dengan muka kesal.
"Ternyata dia tidak sebaik yang ada di tv, wanita ini terlihat sombong dan angkuh' ucap Vania dalam hati nya.
"Maaf Mbak, lain kali saya akan bayar hutang saya. Tapi tidak bisa kan saya pulang hari ini, bagaimana kalau besok saja?" Vania berusaha bernegosiasi dengan mereka.
"Sudah berhutang banyak gaya, sebaiknya kamu lapor polisi saja sayang. Dia sangat menyebalkan!" Sirena melotot pada Vania.
"Jangan Mbak, saya akan diam" jawab Vania dan Daniel pun tersenyum senang.
"Kenapa aku juga harus ikut kesini?" bisik Vania bertanya pada Daniel.
" Ikut saja, apa kamu kau aku pecat?" Daniel melotot pada Vania dan Vania langsung menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana ini? aku tidak tau apa yang harus aku jawab nanti kalau dia tanya kenapa aku blokir nomor nya. Tamat sudah riwayat ku!' Vania berbicara dalam hati.
Ternyata mereka mau nonton film baru Sirena, saat sampai di bioskop Daniel membeli popcorn dan minuman. Dia terus saja memegangi tangan Vania, setelah membeli makanan mereka bertiga masuk kedalam bioskop.
Daniel duduk ditengah-tengah mereka, Vania merasa sangat risih karena dari tadi Sirena terus saja melotot pada nya. Mulai detik ini juga Vania sangat tidak menyukai Sirena dan berhenti mengidolakanya, dia kira Sirena gadis lemah lembut dan ternyata sebaliknya.
"Ini pegang lah popcron nya" ucap Daniel memberikanya pada Sirena.
"Terima kasih, setalah ini kita makan malam dan aku rasa kita tidak memerlukan sih kaca mata ini. Suruh saja dia pulang" jawab Sirena menyuruh Vania pulang.
"Tidak bisa aku masih membutuhkan dia dan mengerjainya sampai puas, anggap saja dia tidak ada" bisik Daniel memberikan pengertian pada Sirena.
Sepanjang film Vania hanya diam, sesekali Daniel menyuapi popcorn ke mulut Vania. Dia sama sekali tidak menghiraukan Sirena, Sirena hanya tersenyum sinis melihat kelakukan Daniel.
"Aku sudah kenyang" ucap Vania pelan agar Daniel berhenti menyuapinya.
"Makan saja jangan banyak omong" jawabnya dan Vania pun terdiam dan membuka mulutnya pasrah.
Satu jam kemudian mereka sudah selesai menonton, mereka bertiga memurusakan untuk makan malam di sana. Lagi-lagi Vania merasa tidak enak karena sudah mengacaukan kencan Sirena dan Daniel, bahkan dia tidak bernafsu untuk makan saat ini.
Daniel yang melihat Vania hanya diam saja, langsung mengambil sendok itu dan menyuapi Vania. Sirena sudah tidak tahan lagi karena diri nya lah yang seperti pengganggu, mereka terlihat sangat romantis padahal Daniel kan pacarnya.
"Kamu pasti lapar, bukan kah kamu suka ayam goreng. Buka mulut kamu" ucap Daniel sambil mengambil sendok dan menarik sedikit piring Vania.
"Tidak usah aku bisa makan sendiri" jawab Vania menolak.
"Ini cepat makan" Daniel terus saja memaksa dan Vania pun membuka mulutnya.
"Anak yang pintar, gina dong. Kalau disuruh makan ya harus makan, jangan banyak melamun" Daniel mengelus kepala Vania.
"Stop...!! aku rasa kamu sangat keterlaluan" sambung Sirena membentak mereka berdua.
"Hey kenapa kamu marah, duduk lah dan habiskan makanan kamu" Daniel balik membentak Sirena, dia juga tidak berminat jalan dan berkencan dengan Sirena kalau bukan karena orang tua nya.
"Kamu keterlaluan, kamu sengaja kan biar aku cemburu. Cepat suruh dia pulang!" Sirena menujuk pada Vania.
"Iya aku sengaja, apa kamu mau aku berkoar-koar disini agar semua orang tau. Baiklah sekarang aku akan bicara" Daniel yang mulai muak dan emosi.
"Aku sudah katakan menjauh lah, tapi kamu selalu saja mendekati aku. Dengarkan sekali lagi dengarkan aku, aku tidak menyukai kamu dan berhentilah berpura-pura...!!" teriak Alfin dan beberapa orang disana melihat kearah mereka.
"Ayo pergi..." Daniel menarik tangan Vania untuk pergi dari sana.
"Tunggu...!! Daniel..." teriak Sirena yang memandangai Daniel sudah berjalan keluar dan ternyata dia sudah meninggalkan beberapa lembar uang di meja makan tadi.
"Sial...!!" sambung Sirena yang masih berdiri disana.
Sirena hanya bisa mengumpat melihat Daniel pergi dengan wanita itu, dia berjanji akan memberikan pelajaran pada wanita itu nanti. Berani-beraninya dia mengacawkan semua ini, padahal Sirena sengaja sudah berdandan cantik untuk menemui Daniel tapi apa yang dia dapat.
.
.
Bersambung...