Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 42. Mencintai Kamu



Daniel pun duduk diatas tempat tidur, Vania pun menutup pintu nya lalu berdiri didepan Daniel sambil menyilangkan tanganya. Seolah-olah dia minta penjelasan pada Daniel, kenapa Daniel ada disini bahkan besok juga adalah hari pertunaganya.


"Apa bapak bisa menjelaskan semua ini?" tanya Vania berusaha menahan emosinya.


Daniel mala merebahkan tubuhnya, jujur saja dia sangat lelah dari perjalanan jauh. Daniel memejamkan mata nya sebentar dan Vania pun semakin mendekat, dia memperhatikan Daniel yang tidur diatas kasur nya.


"Aku sangat lelah, bisakan kamu berhenti memanggil aku bapak dan jangan marah-marah aku sangat lelah!" Daniel menarik tangan Vania dan Vania pun sudah berbaring di samping nya, Daniel langsung memeluknya.


"Lepaskan!! kamu gila ya?" Vania memukul dada Daniel.


"Jangan-jangan kamu mabuk menyetir mobil sampai sini?" tanya Vania yang masih meronta di pelukan Daniel.


"Aku tidak mabuk Vania, apa tadi kamu bilang aku gila? Iya benar aku memang gila karena aku sangat mencintai kamu" jawab Daniel lagi -lagi jantung Vamia berdetak kencang.


"Bahkan aku jauh-jauh menyetir kesini hanya untuk menemui kamu" sambung Daniel sambil menatap mata Vania.


"Siapa juga yang menyuruh kamu datang kesini?" jawab Vania dingin.


"Percuma berdebat dengan kamu" ucap Daniel kecewa dengan perkataan Vania.


"Apa kamu tau aku akan bertunangan besok?" tanya Daniel dan Vania pun terdiam sejenak, dia pun berhenti merontah.


"Tentu saja aku tau, semua media juga membicarkan pertunangan kalian" jawab Vania.


"Kenapa kamu kesini Daniel? jangan konyol. Pulang lah sekarang, atau aku akan menelpon Pak Bima untuk mengantar kamu" sambung Vania ingin bangun dan mengambil ponselnya.


Daniel pun menahan tubuh Vania, bahkan dia memeluknya lebih kencang.


"Aku kesini karena aku benar-benar merindukan kamu, semenit pun kamu tidak memberikan aku kabar rasanya sangat hampa. Sudah cukup kamu menghindari aku, aku tidak akan melepaskan kamu lagi. Mau kamu mencintai aku atau tidak, aku tidak perduli" ucap Daniel membuat Vania terkejut dan dia tidak menyangkan Daniel akan serius ini.


"Jangan suruh aku pulang, aku akan pulang setelah tidur satu jam. Kamu boleh bangunkan aku" sambung nya sambil memeluk Vania erat.


Vania hanya diam saja, jujur saja ini nyaman. Vania baru merasakan pelukan hangat lagi setelah Brayen pergi, dari cara Daniel bicara dan sikapnya yang tidak mau di bantah mereka sangat mirip.


Vania membiarkan Daniel memejamkan matanya sambil memeluknya, dia tau perjalanan kesini cukip jauh dan melelahkan. Vania memperhatikan wajah Daniel yang terlelap, Daniel adalah laki-laki yang sempurna hanya saja Vania tidak bisa menerima Daniel karena dia terlalu baik untuk nya.


"Pantas saja banyak yang mengatakan kalau dia tampan, dari dekat seperti ini dia memang tampan" ucap Vania sambil melihat muka Daniel.


"Apa dia benar-benar serius dengan perasaanya? rasanya sangat mustahil jika dia bilang suka pada ku. Siapa aku? banyak wanita yang suka pada nya bahkan pacarnya juga artis" Vania langsung menyangkal semua yang di ucapkan Daniel menurutnya hanya main-main, Vania akan memberikan penjelasan pada Daniel besok.


Jujur saja Vania sudah membuka hati nya, tapi keadaan dan takdir seperti tidak berpihak pada mereka. Vania juga hanya orang biasa dan terlalu banyak tembok dan rintangan yang akan menghalang hubungan mereka, apa lagi Vania adalah wanita yang belum usai dengan masa lalu nya.


Tidak lama kemudian Vania juga tertidur, mereka sama-sama terlelap sambil berpelukan. Begitu juga dengan Daniel yang memang belum tidur sepanjang malam dan menyetir menuju kota B, dia sama sekali tidak memperdulikan jika orang tua nya marah atau apa yang akan terjadi jika di tidak ada besok.


.


.


Besok paginya Vania dan Daniel terkejut karena kamar ini sudah di penuhi banyak orang, ada Mama dan Papa nya Daniel serta Abang Joy dan Zandi. Belum lagi Pak Bima dan rekan lain nya mengintip di pintu, rasanya seperti di gerbek orang sekampung. Padahal mereka tidak melakukan apa pun, Papa terlihat marah besar dan memukuli Daniel hingga keluar darah dari sudut bibirnya.


“Bangun…!!” Teriak Mama dan Daniel pun langsung bangun.


“Mama…Papa” ucap Daniel tak percaya.


Daniel pun langsung bangun dan turun dari ranjang, begitu juga Vania yang terkejut dengan semua yang ada di dalam kamar nya. Langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, baju nya memang pendek dan kurang pantas untuk di lihat semua orang.


“Dasar anak kurang ajar kamu…!!” Papa menghampiri Daniel dan memukulnya bertubi-tubi.


Semua benda yang ada di atas meja jatuh karen Papa mendorong Daniel sampai tersungkur kesana.


Plak…


Plakk…


“Bangun kamu lawan Papa, kata nya kamu berani banget?” ucap Papa sambil mengarahkan tanganya agara Daniel bangkit dan melawanya.


“Sudah lah Pa, kita bicarakan baik-baik” sambung Joy yang memegang Papa nya agar tidak memukul Daniel lagi.


Sedangakan Mama berusaha membuka selimut yang menutupi muka Vania, jujur saja siapa yang tidak malu dalam keadaan seperti ini termasuk Vania juga.


“Buka selimutnya, dasar j*l*ng!!” teriak Mama sambil menarik selimut itu.


“Mama jangan sakiti Vania, dia nggak salah apa-apa” sambung Daniel yang melihat Mama memukul Vania dalam selimut itu.


“Kamu masih bisa membela dia?” tanya Papa yang menahan emosinya.


“Sudahlah Pa, cepat suruh dia ganti baju ikut kami kebawah” ucap Abang Joy menyuruh Vania mengganti baju nya dan menyusul mereka ke bawah.


Semuanya keluar dari kamar, Vania terlihat menangis terisak. Ini pertama kali nya Daniel membuat wanita menangis seperti ini. Daniel mendekat dan membuka selimut yang menutupi Vania, Vania pun melihat kearah Daniel.


“Menyebalakn sekali, kenapa harus aku? Padahal aku nggak salah apa-apa” ucap Vania sambil menangis tapi dia masih sangat imut bagi Daniel.


“Kenapa kamu tertawa? Ini semua salah kamu. Seharusnya kamu nggak nagajak-ngajak aku, pasti sete;ah ini aku dapat masalah besar” sambung Vania sambil melototi Daniel.


“Tenang saja aku akan bertanggung jawab penu kamu tidak perlu khawatir. Cepat ganti baju kamu aku tunggu di depan pintu” jawab Daniel lalu pergi dari sana.


“Tanggung jawab apa maksudnya?” tanya Vania sambil berpikir keras.


Dengan terpaksa Vania mengambil bajunya di dalam lemari dan mengganti pakaian, dia juga mencuci muka nya karena mata nya yang sembab. Setelah itu dia keluar dari kamar dan melihat dan yang berdiri di depan kamarnya sambil mengelap darah di bibirnya, Vania agak kasihan juga dan memberikan tisu pada Daniel.


“Lap menggunakan ini saja, apa sakit?” tanya Vania dan Daniel pun mengambil tisu itu.


“Terima kasih, ini tidak terlalu sakit tapi aku heran kenapa mengeluarkan darah terus ya?” Daniel masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini.


“Jangan bercanda, kita sedang dalam masalah sekarang” sahut Vania dan Daniel mala tersenyum.


“Iya kita benar-benar dalam masalah” jawab Daniel lalu  erjalan kearah lift dan Vania mengikutinya dari belakang.


Vania sangat gugup, banyak yang di khawatirkan masalah pekerjaan pasti dia akan di pecat setelah ini dan apa yang akan di akatakan pada Mama dan Papa nya. Berbeda dengan Daniel yang terlihat santai, jika dikatakan dia saat ini sangat senang salah karen dia sempat bersiul dan terus tersenyum pada Vania.


.


.


Bersambung…