
Hari ini Vania kembali masuk kerja, dia tidak mau membayar denda kontrak kerja itu. Tabungannya saja tidak cukup lagi, apa lagi Papa dan Mama nya juga tidak memiliki uang tabungan sebanyak itu. Mereka hanya keluarga yang cukup sederhana, dibandingkan dengan keluarga Daniel mereka tidak ada apa-apanya.
Vania sedang duduk di ruang makan bersama kedua orang tuanya, Vania tidak berani bicara karena dia yakin pasti Mama dan Papa nya sangat kecewa, apa lagi pernikahan ini tidak di rencanakan sama sekali.
"Makan yang banyak sayang, kamu harus jaga kesehatan" Mama terlihat sangat perhatian.
"Iya Ma, terima kasih" jawab Vania sambil terus menundukan kepalanya.
"Apa boleh Papa tanya sesuatu?" Sambung Papa sambil melirik kearah Vania.
"Iya tanya saja Pa, ada apa?" Vania balik bertanya.
"Papa hanya ingin tau saja, sejak kapan kamu punya hubungan dengan Daniel?" Tanya Papa serius, Mama terlihat pura-pura tidak mendengar agar Vania tidak salah paham.
"Sejak Vania bekerja di kantor, karena Daniel itu atasan Vania dan kami sering bertemu. Maaf tidak memberitahu Mama dan Papa" jawab Vania sambil menghembuskan napasnya dalam, dia juga tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini.
"Kami sama sekali tidak melarang kamu untuk dekat dengan siapa pun, tapi Papa sedikit kecewa kenapa tidak dari dulu kalian mengatakan hubungan kalian. Lihat jika sudah seperti ini, bisa saja calon mertua kamu mengangap kamu itu bukan perempuan baik-baik" nasehat Papa pada Vania.
"Yang di katakan Papa benar, tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi. Kalian memang terlihat berlebihan, kemarin saja Tina melihat kalian sedang berciuman. Mama pikir kalian memang sudah nggak tahan kayaknya, oleh karena itu kami menyetujui untuk membuat acara pernikahan hari minggu" sambung Mama, Vania yang mendengar itu pun sangat malu karena ternyata Tina memberi tahu Mama nya kemarin.
"Iya Vania paham dan merenungi semua kesalahan Vania, sekali lagi Vania minta maaf" tidak ada yang bisa Vania katakan selain minta maaf pada kedua orang tua nya.
"Tidak apa-apa Mama dan Papa hanya menasehati kamu, Mama nggak mau kamu salah pilih dan akan berujung sedih seperti dulu. Itu membuat Mama sangat sakit" Mama memegang tangan Vania.
"Iya Ma, terima kasih karena telah mengkhawatirkan Vania. Kalau gitu Vania pergi kerja dulu" Vania tidak mau memperpanjang masalah ini dan memilih untuk berangkat kerja.
"Iya sayang hati-hati di jalan" balas Mama lagi sambil melihat Vania pergi dari sana.
Tinggalah Mama dan Papa disana, mereka membicarakan Vania. Ada rasa takut kalau Vania akan terluka seperti dulu lagi, tidak mudah membuat Vania bangkit seperti ini.
.
.
Sedangkan Vania terus melajukan mobilnya ke kantor, mungkin hari ini Pak Hadi dan rekan kerja lainya sudah pulang dari Bandung dan mulai bekerja di kantor seperti bisanya. Vania takut Pak Hadi akan membicarkan masalah kemarin dengan rekan kerja yang lain, makanya Vania ingin bicara dengan Pak Hadi nanti agar dia tutup mulut tetang kejadian itu.
Vania buru-buru masuk kedalam ruanganya, benar saja Pak Hadi baru datang. Dia menunduk hormat pada Vania, Vania pun merasa risih dan dia pun menghampiri Pak Hadi.
"Selamat pagi semuanya" sapa Vania.
"Selamat pagi juga, akhirnya kamu pulang juga. Kami sedikit kewalahan nggak ada yang bantu" sambung Bu Desi pada Vania.
"Wah benarkah, kalian terlihat sangat sibuk sekali" balas Vania sambil tersenyum.
"Bestie ku pulang juga" Lauren terkihat sangat heboh melihat Vania yang baru datang, sayang nya Tomi masih belum terlihat mungkin dia belum datang.
"Lebay banget kamu, kelihatannya kamu bahagia banget" balas Vania penuh selidik menatap Lauren sambil meletakan tasnya diatas meja.
"Eh mau kemana?" Tanya Lauren sambil meantap Vania yang berjalan kearah Pak Hadi.
"Aku ada kepentingan dengan Pak Hadi sebentar" jawab Vania sambil terus berjalan.
"Pak Hadi bisa bicara sebentar" sambung Vania yang sudah berada di depan meja Pak Hadi.
Mereka berdua berjalan kearah pantry, setelah dia Vania langsung mengatakan niatnya agar Pak Hadi tutup mulut tetang masalahnya kemarin. Jujur saja dia sangat malu, terlihat seperti pasangan mesum yang sedang tertangkap basa.
"Maaf membuat Pak Hadi tidak nyaman, saya cuma mau minta tolong pada Bapak untuk tidak memberitahu tetang kejadian kemarin pada karyawan lainya" mohon Vania dan Pak Hadi pun terlihat mengerti dan paham dengan maksud Vania.
"Tentu saja Non tentang saja, Pak Daniel sudah bicara pada kami semua. Kami juga sudah berjanji untuk tutup mulut dan Non Vania tidak perlu khawatir" jawab Pak Hadi tersenyum ramah pada Vania.
"Benarkah, terima kasih banyak ya Pak. Jangan salah paham juga saya dan Pak Daniel..." belum sempat Vania menjelasakan hubungannya dengan Daniel, Pak Hadi sudah memotong pembicaraan nya.
"Saya sudah tau Non Vania dan Pak Daniel akan menikah hari minggu, selamat ya Non" sahutnya.
"Jangan keras-keras Pak nanti ada yang dengar, bisa heboh satu kantor nanti. Jangan panggil Non Pak Hadi, saya masih karyawan biasa seperti kemarin. Bahkan saya juga belum naik jabatan" canda Vania.
"Saya hanya merasa sungkan saja dan tidak menyangka kalau kamu pacarnya Pak Daniel" jawabnya agak malu.
"Ya itu terjadi begitu saja, tapi mungkin Bapak berpikir saya ini bukan orang baik kan?" Tanya Vania yang ikut malu, pasti semua menganggap dia bukan wanita baik-baik. Apa lagi gosip yang beredar sekarang tentang pertuanangan Daniel yang batal.
"Tidak sama sekali, saya sudah mengenal kamu dari pertama saya masuk. Kamu orang yang baik dan sangat cocok dengan Pak Daniel" jawab Pak Hadi.
"Lagian saya juga lebih suka kamu dari pada calon tunanganya yang kemarin terlihat sombong" Pak Hadi terkekeh kecil.
"Bapak bisa saja, sekali lagi terima kasih ya Pak" Vania sedikit menundukan kepalanya.
"Sama-sama, ayo kita kembali bekerja sebelum Bu Desi mengomeli kita" ajaknya dan mereka pun kembali keruangan.
Vania duduk di mejanya, dia melihat Tomi baru datang dan dia langsung menghampiri Vania. Tomi juga bertanya kenapa Vania tidak menghubungi Mama nya, padahal dia sudah menunggu kabar Vania dari kemarin.
Vania juga melupakan itu, pada hari pertama mereka sangat sibuk bekerja. Sampai akhirnya kejadian tidak mengeenakan itu terjadi, dia tidak sempat lagi untuk menghubungi Mamanya Tomi.
"Akhirnya kamu pulang juga Van, oh iya kenapa kamu nggak nghubungi Mama. Padahal dia udah nunggu-nunggu banget?" Tanya Tomi sambil manatap Vania yang duduk di meja nya.
"Maaf Tom aku aggak sibuk, jadi belum sempat untuk ketemu dengan Mama kamu. Mungkin lain waktu bisa jalan bareng Mama kamu" jawab Vania merasa tidak enak.
"Iya nggak papa, satu lagi. Kenapa kamu nggak bisa di hubungin beberapa hari ini, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Tomi lagi seperti cowok yang sedang menginterogasi pacarnya.
"Aku hanya ingin fokus kerja aja, makanya jarang aktif dan maaf nggak balas pesan kamu" sambung Vania lagi.
"Hemmmm" Lauren berdehem sambil melirik mereka berdua.
"Apa Lau? Kamu sakit?" Tanya Tomi sambil melihat kearah Lauren.
"Nggak kok, cuma iri aja lihat pasangan bucin lagi melepas rindu. Nggak sekalian Vania nya di peluk Tom?" Canda Lauren membuat Tomi jadi salah tingkah.
"Apaan sih Lau, udah yuk kerja" jawab Vania mengalihkan pembicaraan.
Tomi pun kembali ke mejanya sambil berjalan menggeruk kepalanya, Vania hanya memandang Tomi sekilas lalu melajutkan pekerjaannya.
.
.
Bersambung...