
Setelah acara konser kemarin, banyak artikel yang memberitakan bahwa Pak CEO mereka sedang berpacaran dengan artis dan kabarnya akan segera bertunangan. Semua karyawan kantor juga sangat heboh karena Sirena adalah artis terkenal saat ini, popularitas nya juga lagi tinggi-tinggi nya.
Diruangan mereka juga begitu, bahkan Aza yang paling heboh saat menceritakan gosip ini. Semua yang ada disana juga mendengarkan dengan serius, mereka bergerombol dimeja nya Aza termasuk Vania yang juga sangat penasaran.
Ditambah lagi siang ini Sirena datang ke kantor dan membuat semua nya heboh, itu menguatkan bukti bahwa CEO mereka memang sedang berpacaran dengan Sirena.
"Kalian tau tadi aku melihat Sirena, artis terkenal itu ada disini sekarang. Dikantor kita" ucapnya sangat heboh.
"Benarkah? apa dia bertemu dengan Pak Daniel?" tanya Bu Ririn yang juga ikut penasaran.
"Sepertinya begitu, dia keren sekali bahkan ada beberapa bodyguard yang mengikutinya dari belakang" jawab Aza sambil mengeratkan kedua tanganya.
"Kenapa aku nggak seberuntung Mbak Aza, aku juga sangat ingin bertemu dengan Sirena. Apa benar dia secantik di tv Mbak?" tanya Lauren.
"Tentu saja dia lebih cantik aslinya, aku sangat bangga dengan Pak Daniel bisa pacaran dengan artis terkenal" jawabnya terlihat sangat kagum dengan kedua nya.
"Ternyata mereka memang pacaran ya" ucap Vania sambil tersenyum kecil.
"Aku kalau jadi Sirena juga mau sama Pak Daniel udah ganteng, kaya lagi. Siapa yang nggak mau" sambung Lauren sambil membayangkan ketampanan Bos nya.
"Aku kira kalian ngomong apa, ternyata lagi ngosipin Pak Daniel" sambung Tomi lalu pergi dari sana.
"Sudah aku bilang, pembicaraan mereka tidak penting" sahut Pak Bima yang bicara dengan Tomi.
"Iya Pak, aku kira apa. Ayo kita lanjutkan, mana data yang baru nya pak?" tanya Tomi mendekati Pak Bima.
"Ada dimeja Pak Lion, tolong ambil semua laporannya juga ya. Poto copy sekalian dan yang asli balikin lagi" jawab Pak Bima menyuruh Tomi mengambil laporan nya.
"Oke siap Pak" jawab Tomi dan berjalan menuju ruangan Pak Lion.
"Ayo aku bantu Tom" ucap Vania yang mengikuti Tomi masuk kedalam ruangan Pak Lion.
"Kenapa harus bedua? padahal laporanya nggak banyak" sambung Pak Bima sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa mereka sedang pacaran?" tanya Bu Ririn sambil menatap Lauren.
"Kenapa Bu Ririn lihat aku, aku juga nggak tau" jawab Lauren yang terlihat bingung.
"Kan kamu paling dekat dengan Vania, ingat kan dia. Jangan pacaran di kantor, itu larangan dari Pak Daniel. Kalua mau pacaran di luar jam kerja" jelas Bu Ririn dan Lauren pun menganggukan kepalanya lalu kembali ke meja nya.
Mereka berdua mengambil laporan serta data yang ada di meja Pak Lion, kebetulan hari ini dia pergi meeting dengan Zandi dan lainya di luar dengan klien.
"Apa kamu ada acara besok?" tanya Tomi sambil mengambil laporan diatas meja.
"Aku ada janji sama Mama, emang nya ada apa Tom?" Vania balik bertanya pada Tomi.
"Gitu ya, sayang sekali padahal aku mau ngajak kamu pergi" jawab Tomi sambil menghela nafas nya.
"Memang nya mau kemana?" sambung Vania lagi sambil menatap Tomi.
"Mama aku berkunjung kesini dan aku bingung mau ngajak siapa, soal nya Mama mau jalan-jalan" jawab Tomi menceritakan kalau Mama nya datang kesini.
Orang tua Tomi memang tinggal di Bandung, setelah tamat kuliah dia merantau sendiri ke jakarta. Tapi menurut Vania kayaknya Tomi orang nya juga berada, di lihat dari penampilanya dan mobilnya nggak mungkin kalau dia orang biasa.
"Kayak nya bisa deh Tom, kamu juga sering nemenin aku kemana-mana. Jam berapa besok?" tanya Vania lagi.
"Kayaknya agak siang deh Van, apa kamu bisa?" Tomi bertanya lagi untuk memastikan kalau Vania memang benar-benar mau.
"Baiklah kabari aja aku besok" jawab Vania sambil tersenyum.
Setelah itu mereka pergi kerungan poto copy untuk mengcopy laporanya, mereka berdua sesekali bercanda dan tertawa bersama.
"Ini laporan nya kasih sama Pak Bima, biar aku yang kembalikan ke meja Pak Lion" ucap Vania.
"Oke makasih banyak ya, lain kali aku teraktir makan" ucap Tomi karena Vania banyak membantu dia dalam pekerjaan nya.
"Iya sama-sama" jawab Vania lalu pergi keruangan Pak Lion.
Dalam ruangan Pak Lion, Vania meletakan kembali laporannya. Saat dia ingin keluar ponselnya berbunyi dan Vania melihat siapa yang menghubungi nya, dia melihat ternyata Daniel yang menelpon nya.
Dari kemarin Daniel selalu mengirim pesan pada nya, tapi Vania sama sekali tidak membuka pesan Daniel dan mengangkat telponnya.
Vania pun keluar dari sana dan kembali duduk di kursinya, dia kembali mengerjakan PPT untuk presentasi rapat bulanan. Sama seperti bulan lalu, Vania yang akan menjelaskan laporan mereka lagi setelah dia berhasil bulan lalu dan membuat atasan mereka senang.
"Rajin banget anak kesayangan Pak Lion" goda Lauren sambil mendekat pada Vania.
"Apa sih Lau, jangan ganggu aku. Aku lagi fokus" kesal Vania karena Lauren selalu saja mengganggu nya.
"Sensi banget sih Van, aku hanya bercanda. Oh iya tadi Bu Ririn ngomongin kamu, dia nanya apa kamu pacaran sama sih Tomi" ucap Lauren menceritakan apa yang dikatan Bu Ririn tadi.
"Emang dia ngomongin apa lagi dan kamu jawab apa?" tanya Vania penasaran tapi mata nya masih fokus dengan layar labtop nya.
"Ya aku jawab nggak tau, apa kamu beneran pacaran sama Tomi?" Lauren balik bertanya.
"Nggak kami cuma teman aja, aku juga nggak berminat pacaran. Sudah sana jangan ganggu aku" mengusir Lauren agar menjauh.
"Pelit banget, cuma mau tau aja kok. Kalau udah jadian jangan lupa pajak jadian ya Van" sambung Lauren sambil mengedipkan mata nya.
"Siapa juga yang jadian, tanya Tomi kalau nggak percaya" kesal Vania.
"Iya-iya aku percaya" jawabnya lalu pergi dari sana.
Vania melanjutkan kembali tugasnya dan dia mencoba menghidupkan ponselnya, benar saja sudah hampir puluhan pesan dari Daniel.
( Kenapa kamu nggak balas pesan aku? kamu hindari aku ya?) isi pesan dari Daniel.
(Vania balas dong!!) sambungnya.
"Kenapa dia menyebalkan sekali, apa aku blokir aja ya. Tapi jangan nanti aku dapat masalah, lebih baik diamin aja" ucap Vania sambil menutup ponselnya.
"Diamin apa?" tanya Tomi dan Vania pun terkejut karena Tomi tiba-tiba datang.
"Kamu Tom, bikin kaget aja!!" kesal Vania sambil meletakan tanganya di dada.
"Serius banget Van, ini aku beli susu coklat kesukaan kamu. Biar nggak mumet ngerjain tugas nya" Tomi memberikan susu itu pada Vania.
"Aku nggak dikasih juga Tom?" tanya Lauren sambil bercanda dengan Tomi.
"Aku masih ada satu kok di meja aku, bentar aku ambilin" jawabnya ingin pergi ke meja nya yang berada disamping Pak Bima.
"Nggak usah aku hanya bercanya" jawab Lauren sambil tersenyum.
"Makasih ya Tom, kebetulan aku lagi haus" sambung Vania lalu meminum susu itu.
"Sama-sama Van" jawabnya salah tingkah sambil menggaruk kepalanya karena Lauren menatap nya dari tadi.
Setelah itu Tomi mengambil kan minuman nya satu lagi untuk Lauren, dia tidak mau Lauren salah paham. Dengan terpaksa Lauren menerima nya sambil melirik Vania dan Tomi bergantian, sepertinya dia mencurigai sesuatu.
"Ini buat kamu Lau" ucap Tomi memberikan minuman susu coklat itu pada Lauren.
"Sudah ku bilang tidak usah, tapi terima kasih karena kamu sudah memberikan nya" sambil menatap Vania.
"Apa kalian pacaran?" tanya Lauren membuat Tomi makin salah tingkah.
"Apa sih Lau, ada-ada aja kamu. Kamu cuma berteman iya kan Tom?" Vania melirik kearah Tomi, Vania terlihat sangat santai.
"Iya yang di katakan Vania benar, kami cuma berteman. Aku balik ke meja ku dulu" jawabnya lalu pergi dari sana.
"Apa kamu tidak bohong Van?" tanya Lauren sekali lagi.
"Beneran Lau, sudah jangan ganggu aku" Vania mulai kesal karena Lauren terus saja bertanya.
Lauren pun kembali ke meja nya, yang awalnya dia mendekati Vania dari tadi. Sesekali dia melihat kearah Vania dan Tomi bergantian dan sesekali tersenyum, sambil menganggukan kepalanya.
.
.
Bersambung...