Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 17. Mereka Pacaran?



Vania menghampiri Mama dan Papa nya yang berada diruang makan, karena saat ini mereka sedang sarapan bersama. Beruntung tadi pagi Mama membangunkan dirinya, dia bisa saja terlambat karena tadi malam pulang jam sebelas malam.


"Pagi Mama...Papa" ucap Vania lalu duduk disamping Mama nya.


"Pagi sayang, ayo makan sarapan kamu" jawab Papa sambil melihat Vania yang duduk disamping istrinya.


"Wah nasi goreng, kayaknya enak sekali" Vania melihat nasi orang yang ada dihadapanya.


"Cepat makan nanti kamu telat datang kekantor, untuk Mama bangunin kamu tadi" jawab Mama sambil memberikan satu gelas susu pada Vania.


"Kamu dari mana sayang? kenapa pulang malam sekali?" tanya Papa penasaran.


"Jalan kebioskop sama teman Pa, biasalah lah menghibur diri" jawab Vania santai sambil melahap nasinya.


"Jangan keseringan pulang malam kalau besoknya kerja" jawab Papa sambil melihat Vania.


"Iya Pa, nggak akan sering cuma tadi malam aja kok. Oh iya katanya minggu besok Kayra mau menginap disini" ucap Vania.


"Wah bagus dong, Mama juga udah lama nggak ketemu sama Kayra. Kamu juga baru cerita kemarin kalau di juga kerja disini sekarang" jawab Mama yang terlihat senang mendengar kabar dari Kayra.


"Iya katanya dia nggak enak, belum sempat terus main kesini" ucap Vania lagi.


"Kamu juga sebaiknya sering main dengan dia, Papa perhatikan Kayra terus yang menghampiri kamu" sambung Papa menasehati Vania.


"Iya Papa tenang saja, lain kali aku yang akan menginap dengan nya. Oh iya apa mobil ku sudah benar ya?" tanya Vania menanyakan soal mobil kesayanganya.


"Mobilnya mungkin tidak akan benar lagi seperti sebelumnya, saran Papa kamu ganti mobil aja. Biar mobil itu dijual" jawab Papa menjelaskaan kedaan mobilnya saat ini.


"Tapi mobil itu banyak sekali kenangnya Pa" Vania tidak mau menjual mobil nya.


"Tapi Mama setuju dengan Papa, kalau dia sudah sering mati seperti itu kan bahaya sayang. Kalau di jual kamu bisa tambung uangnya" sambung Mama.


"Iya dengar apa kata Mama, nanti kalau kelamaan tidak ada yang mau membelinya lagi sayang" jawab Papa yang membenarkan perkataan istrinya.


"Baiklah aku ikut bagaimana baiknya aja Pa, Aku pergi dulu ya" ucapnya ingin pergi dari sana.


"Mau Papa antar?" tanya Papa yang melihat Vania sudah berjalan menjauh.


"Tidak usah, Tomi sudah menjemput ku" teriak Vania dan membuat Papa penasaran siapa Tomi.


"Tomi, siapa Tomi Ma?" tanya Papa sambil melihat istrinya yang masih asik makan.


"Itu temanya Vania di kantor Pa, Mama lihat mereka sering jalan bareng. Tadi malam saja Vania habis nonton sama sih Tomi itu" jawab Mama menceritakan tentang Tomi.


"Benarkah? apa anaknya baik? sebaiknya kamu nasehati Vania agar dia tidak terlalu dekat dengan orang yang baru dia kenal. Papa takut kejadian kemarin terulang lagi" ucap Papa sambil mengingat masa lalu Vania.


"Iya nanti Mama akan bicara sama dia, tapi kelihatanya dia terlihat senang akhir-akhir ini" jawab Mama sambil tersenyum.


"Bagus lah berarti dia sudah mulai melupakan kejadian itu, apa Vania masih konsul sama psikolog kemarin?" tanya Papa lagi.


"Masih tapi sudah jarang, dokter bilang dia cukup datang dua bulan satu kali atau saat keadaanya benar-benar tidak baik" jawab Mama sangat serius.


"Bagus lah berarti Vania sudah punya peningkatan, aku bersyukur dia dapat tersenyum seperti dulu. Semoga dia selalu dijauhkan dari nasip sial seperti kemarin" ucap Papa dan Mama hanya menganggukan kepalanya.


"Mama harap juga begitu" Mama menghembuskan nafas dalamnya.


.


.


Sedangkan di Vania dan Tomi berjalan memasuki kantor, mereka sedikit berlari karena tidak mau menunggu lift berikutnya. Mereka berlari dan saat itu lift kembali terbuka, Vania melihat beberapa orang karyawan dan ada juga CEO mereka bersama dengan assistennya.


"Apa kalian berdua tidak akan masuk?" tanya Daniel yang menatap tajam pada mereka berdua.


"Ayo masuk...." Tomi menarik tangan Vania.


"Selamat pagi Pak" sapa Tomi sambil menundukan kepalanya.


"Selamat pagi Pak" sambung Vania sambil menundukan kepalanya, jujur saja dia malu karena pertemuan mereka benar-benar mimpi buruk.


Daniel hanya menganggukan kepalanya, dia menoleh kesamping melihat Vania dan Tomi sesekali tersenyum. Dia benar-benar kesal melihat keadaan ini, kenapa dia tidak naik lift khusus saja pikirnya dalam hati.


Saat sampai dirunganya Daniel mengamuk, dia meleparkan beberapa dokumen yang ada diatas mejanya.


" Kenapa Bos pagi-pagi sudah mengamuk begini?" tanya Zandi sambil mengambil satu persatu kertas yang berserahkan dilantai.


"Apa kamu tau mereka sudah pacaran?" tanya Daniel sambil melotot pada Zandi.


"Mereka pacaran? oh maksud Bos, Vania dan laki-laki tadi ya?" jawab Zandi sambil meletakan laporannya diatas meja.


"Menurut informasi dari Abdi, Vania tidak punya pacar. Kurasa mereka dekat karena rekan kerja saja" ucap Zandi berusaha menenangkan Daniel.


"Apa kamu tidak melihat tingkah mereka sudah seperti itu, kamj benar-benar buta" marah Daniel dan membuat Zandi tidak bisa menahan emosinya.


"Lebih baik Bos urus saja pertunangan Bos sama Sirena, lupakan saja Vania. Vania hanya gadis biasa dan aku pikir Bos cuma terobsesi saja ingin menjadikan dia pacar Bos" ucap Zandi yang balik menasehati Daniel.


Dia dengar dari Mama nya Daniel bahwa mereka sudah membicarakan masalah pertunangan, Sirena juga tidak keberatan untuk menikah dengan Daniel. Tentu saja karena semua wanita pun tidak akan menolaknya, dia tampan dan kaya raya.


"Tapi ini bukan obsesi Zan, aku pikir aku benar-benar jatuh cinta pada nya. Bahkan saat aku berdekatan dengan nya jantung ku terus saja berdebar" jawab Daniel lalu duduk dikurisnya sambil memijat kepalanya.


"Sebaiknya kamu tenangkan diri kamu dulu, aku akan keluar dulu" jawab Zandi lalu keluar dari sana.


Zandi malas mendengar semuanya, dia lebih memilih untuk keluar dari ruangan itu. Zandi menyuruh Iren untuk mengantarkan satu gelas air mineral, mungkin saja emosinya dapat mereda setelah dia minum pikir Zandi dalam hatinya.


"Bos benar-benar gila...!!" ucap Zandi saat keluar dari sana dan Iren yang mendengar itu langsung menoleh kearah Zandi.


"Iren bawahkan air minum untuk Pak Daniel" ucap Zandi lalu duduk dikursinya.


"Apa dia mengamuk lagi?" tanya Iren sambil melihat wajah Zandi yang muram.


"Iya dia membuat aku pusing, pagi-pagi seperti ini sudah bikin emosi. Cepat antar air nya" Suruh Zandi lagi dan Iren buru-buru pergi kedalam dan mengambilkan air untuk Daniel.


.


.


Bersambung...