Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 6. Rapat Bulanan



Sudah satu minggu dia bekerja di perusahan dan hari ini dia sangat sibuk membuat laporan yang disuruh Pak Lion karena sebentar lagi akan diadakan rapat bulanan, Vania dan Tomi yang ditugsakan untuk membacakan hasil laporan mereka.


Vania berjalan buru-buru karena dia melupakan materi yang harus dia bahwa, akhirnya dia berlari agar tidak telat nantinya. Vania dengar bos nya sangat galak dan mudah marah, jangan sampai dia yang jadi bahan amukan karena menyampaikan laporanya tidak maksimal.


"Kamu mau kemana lag Van? bentar lagi rapatnya mau dimulai?" tanya Tomi sedangkan Pak Lion sudah masuk duluan.


"Aku mau ngambil materi ku ketinggalan diatas meja, kamu duluan aja. Aku janji nggak akan lama" jawab Vania lalu berlari dengan cepat.


Dia tidak menghiraukan orang yang melihatnya, termasuk hampir menabrak seseorang. Kenapa dia benar-benar lupa padahal dia sudah mengingatnya dari tadi, sungguh bodoh sekali pikirnya.


"Hey Nona hati-hati...!" teriak seorang laki-laki.


"Maaf pak aku buru-buru" jawab Vania tanpa menoleh dan berlari begitu saja.


"Kamu tau siapa dia?" tanya laki-laki yang berdiri disampingnya.


"Aku juga tidak tau siapa dia, mungkin karyawan baru" jawabnya.


"Peringatkan dia tidak boleh lari di kantor, siapa yang membuat dia lolos dan bekerja disini?" tanya nya lagi dengan emosi.


"Iya nanti akan saya cari tau, kita harus ke ruang meeting sekarang Tuan karena semuanya sudah menunggu" jawabnya lagi.


Semuanya sudah berkumpul diruang rapat, kebetulan rapat bulan ini selalu diadakan satu bulan sekali. Vania yang baru saja masuk membuat semua orang yang ada disana terdiam dan melihat kearahnya, Pak Lion terlihat sangat marah.


"Mati aku...udah dimulai ternyata!' ucap Vania dalam hatinya.


"Siapa kamu kenapa kamu masuk tiba-tiba seperti itu? tidak sopan sekali" ucap laki-laki yang duduk paling depan dikursi yang berbeda dengan mereka dan Vania yakin jika itu adalah CEO mereka.


"Maaf Pak, dia adalah Vania anak divisi saya" jawab Pak Lion sambil mengisyaratkan Vania untuk duduk disebelah Tomi.


"Baiklah ayo kita lanjutkan, capat duduk kamu!" bentak nya pada Vania.


Vania pun duduk dan semua orang menatapnya sekilas, lalu melanjutkan rapat kembali. Beberapa ketua divisi menyampaikan laporan mereka, giliran divisi keuangan yang menyampaikan laporanya. Pak Lion langsung melirik Vania dan menyuruhnya maju kedepan.


"Maju lah Van, aku mendukung kamu dari sini. Ingat hidup dan mati kita ada ditangan kamu" bisik Tomi sebelum Vania maju.


"Sialan loh Tom..." jawab Vania lalu berdiri sambil tersenyum dia berjalan kedepan.


Setelah itu Vania menjelaskan semuanya dengan lancar dan terlihat Pak Lion sangat senang, semua juga memuji cara penyampaian nya yang mudah dipahami.


"Baiklah kamu boleh duduk, saya rasa pertemuan hari ini sudah cukup. Kalian boleh kembali bekerja" ucapnya lalu pergi dari sana.


Semuanya sudah mulai keluar dan mereka bertiga pun kembali keruanga, Pak Lion memuji Vania dan Vania sangat senang.


"Kerja bagus Vania, tapi lain kali kamu harus menyiapkan semuanya agar tidak lupa lagi. Beruntung kamu selamat karena mood pak Daniel lagi baik" ucap Pak Lion sebelum masuk kedalam ruanganya.


"Kembali lah keruang" sambungnya lagi.


"Baik Pak, kami permisi dulu" jawab Vania dan Tomi bersamaan.


"Gila ya, CEO kita galak banget ngeri gue. Siapa nama nya? aku bahkan lupa siapa nama nya" tanya Vania pada Tomi.


"Masa kamu nggak tau, keterlaluan banget loh Van. Daniel Prayoga, kamu cari aja di internet, pasti akan muncul profil nya" jawab Tomi.


"Benarkah? apa dia seterkenal itu?" tanya Vania lagi karena dia penasaran.


"Iya jika kamu penasaran cari saja" jawab Tomi lagi dan Vania menganggukan kepalanya.


Vania duduk dikursinya dan Lauren bertanya apa rapatnya berjalan rancar, lagian Pak Lion menyuruh nya padahal dia kan anak baru kenapa tidak Bu Ririn atau Aza saja.


"Bagaimana rapat hari ini apa lancar?" tanya Lauren sambil mendekatkan kursinya denga Vania.


"Tidak apa-apa yang penting lancar kan, bagaimana wajah CEO kita? Apa dia benar-benar tampan seperti yang mereka bilang?" tanya Lauren sangat bersemangat.


"Iya dia memang tampan, tapi kelihat galak dan menyebalkan" jawab Vania sambil cemberut.


"Sudah lah jangan dipikirkan, lebih baik kita pergi kekantin. Aku sangat lapar, bukan kah sebentarlagi jam istirahat" ajak Lauren dan Vania pun langsung mengiyakanya.


"Kamu tau aja kalau aku lapar, ayo kita kekantin sekarang" jawab Vania sambil menganggukan kepalanya.


"Apa kamu mau ikut Tom?" tanya Lauren dan Tomi pun langsung menganggukan kepalanya.


"Mau kemana kalian?" tanya Aza sambil menatap mereka bertiga.


"Kami mau kekantin, apa Mbak mau ikut?" tanya Vania dan dia langsung marah karena belum jam istirahat.


"Ini belum jam istirahat, jangan seenaknya saja. Kembali ketempat duduk kalian" jawabnya dengan nada tinggi.


"Tapi cuma kurang 10 menit Mbak" keluah Tomi dan Vania pun langsung menarik Tomi untuk duduk kembali dan memang terkadang Aza sangat menyebalkan.


Akhirnya mereka bertiga menunggu sampai jam istirahat beneran, baru lah setelah itu mereka pergi kekantin. Banyak orang juga makan disana dan mereka hanya bertiga karena belum mempunyai teman baru.


Saat asik menikmati makanan mereka, ada seorang laki-laki datang dan bergabung bersama mereka. Dia mengenal Vania karena tadi dia juga ikut rapat, sepertinya dia tertarik dengan Vania.


"Permisi, apa aku boleh bergabung bersama kalian?" tanyanya dan sontak saja mereka bertiga langsung melihat kearah laki-laki itu.


"iya silahkan saja" jawab Lauren sambil bergeser agar dia bisa duduk.


"Kamu Vania kan? aku Akbar dari bagian marketing" dia mengulurkan tanganya pada Vania.


"Iya salam kenal Akbar" jawab Vania salah tingkah karena Tomi dan Lauren memperhatikan mereka.


"Aku melihat kamu diruang rapat tadi, kamu keren banget" dia mengacungkan jempolnya pada Vania.


"Hemm...!" Tomi berdeham.


"Oh iya kenalkan ini teman-teman ku, Tomi dan Lauren" sambung Vania sambil melepaskan uluran tangan nya.


"Salam kenal..." ucap Akbar sambil tersenyum pada mereka berdua.


Mereka pun akhirnya makan bersama dan sebelum pergi Akbar meminta nomor Vania, karena tidak enak Vania pun memberikan nomornya. Selama perjalanan menuju ruangan Tomi dan Lauren tidak berhenti meledaknya dan membuat Vania tambah malu.


"Hebat juga loh Van, baru beberapa hari kerja disini. Udah ada aja yang nyangkut sama loh" ucap Lauren tiba-tiba.


"Apaan sih Lau, mungkin dia hanya mau berteman saja. Jangan berlebihan" jawab Vania yang salah tingkah.


"Mana ada seperti itu, itu hanya ada di novel saja Vania. Aku benari bertaruh kalau dia suka sama kamu, iya kan Tom?" tanya Lauren sambil menyenggol tangan Tomi.


"Iya mungkin saja begitu, tapi kamu harus hati-hati Van. Apa lagi kalian baru bertemu" Tomi memperingatkan Vania.


"Emm baik banget kamu Tom" Lauren merangkul pundak Tomi, tapi Tomi berusaha melepaskan rangkulan Lauren.


"Sudah lah lepaskan dia..." sahut Vania tapi Lauren tidak menghiraukan nya.


Memang ada-ada saja tingkah konyol yang di lakukan Lauzen, tapi semua itu membuat Vania dan Tomi cukup terhibur.


.


.


Bersambung...