Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 20. Rahasia



Vania terlihat sangat senang karena tidak ada yang perlu dia takutkan lagi, dia sangat bersemangat masuk keruanganya. Tidak lupa dia menyapa Tomi dan Lauren yang datang duluan, melihat wajah Vania yang sangat ceria membuat Lauren penasaran apa yang terjadi pada teman nya itu.


Saat masuk kedalam ruanganya Vania menyapa semua orang, dia terlihat berseri-seri sangat senang. Dia juga tidak tau kenapa dia sangat bersemangat hari ini, mingkin karena dia tidak perlu takut pada Daniel lagi.


"Selamat pagi semuanya...Selamat pagi Lauren" sapa Vania sambil tersenyum.


"Tumben cerah banget tu muka? habis menang lotre ya?" tanya Lauren sambil bercanda.


"Ah aku tau, kamu udah jadian sama anak tetangga kita?" tabak Lauren lagi.


"Sembarangan kamu, mana ada!" jawab Vania lalu duduk dikursinya.


"Siapa anak tentangga sebelah Lau?" tanya Tomi yang ikut penasaran.


"Kamu tau kan Tom, Akbar yang waktu itu minta nomor Vania. Dia niat banget sampai menghubungi Vania tiap hari dan..." belum selesai Lauren bicara Vania menghentikannya.


"Lau udah ya, nggak sekalian aja satu kantor ini kamu kasih tau" sahut Vania menatap tajam pada Lauren.


"Maaf Van, biasa lah mulut ku ini ember. Tapi apa yang membuat kamu senang sekali hari ini?" tanya Lauren sambil mendekat pada Vania.


"Rahasia" jawab Vania sambil tersenyum.


"Ih nggak seru banget" ucap Lauren lalu kembali kemeja nya.


Saat semuanya sudah datang dan mulai melakukan tugas masing-masing seperti biasa nya, tiba-tiba Pak Lion datang bersama dengan seorang laki-laki yang sudah cukup berumur.


"Selamat pagi semuanya" sapa Pak Lion dan semuanya langsung melihat kearah Pak Lion.


"Selamat pagi juga Pak" jawab mereka bersamaan.


"Tolong minta perhatianya sebentar ya, saya ingin memperkenalkan Pak Bima. Dia akan bergabung di divisi kita mulai hari ini, sebenarnya Pak Bima sudah lama berkeja dibagian keuangan tapi saat ini di mutasi kekantor pusat jadi dia termasuk karyawan senior" jelas Pak Lion dan semuanya mengangguk paham.


"Salam kenal semuanya" sambung Pak Bima yang menyapa mereka berdua.


"Salam kenal juga Pak Bima, selamat bergabung dengan tim kami" jawab Vania sambil tersenyum.


Setelah itu Tomi membantu Pak Bima untuk menyiapkan meja nya, sedangkan yang lain melanjutkan perkerjaan mereka.


"Vania kamu ikut ke ruangan saya sebentar" ucap Pak Lion sebelum masuk kedalam ruangan nya.


Vania pun buru-buru pergi dan masuk kedalam ruangan Pak Lion, dia yang selalu di andalkan. Terkadang Lauren cemburu karena Pak Lion sama sekali tidak meliriknya, Tomi yang melihat Lauren kelihatan cemberut saat memandang ruangan Pak Lion pun mulai curiga.


Vania berdiri didepan meja Pak Lion dan bertanya kenapa Pak Lion memanggilnya, ternyata Pak Lion menyuruh Vania untuk mengantarkan berkas keruangan Pak Jordan.


"Permisi Pak, ada apa bapak memanggil saya?" tanya Vania.


"Tolong antar berkas ini keruangan Pak Jordan ya, maaf merepotkan kamu" jawab Pak Lion menyerahkan beberapa map pada Vania.


"Tidak apa-apa Pak, saya senang bisa membantu bapak. Kalau begitu saya permisi dulu" Vania mengambil berkas itu lalu keluar dari sana.


.


.


Setelah sampai dilantai sepuluh, Vania keluar dari lift. Dia berjalan santai sampai teriakan Daniel mengentikan langkahnya, Vania sangat malu karena disana ada Iren dan Zandi.


"Hay teman..!!" teriaknya sambil melambaikan tanganya pada Vania.


"Selamat pagi Pak" sapa Vania sambil menundukan kepalanya.


"Santai saja, bukan kah kita teman" jawab Daniel yang tersenyum dengan Vania.


"Tapi ini kantor Pak, semua nya akan curiga jika bapak bersikap seperti ini" ucap Vania setengah berbisik.


"Apa teman?" tanya Zandi tak percaya, sejak kapan Daniel sudah berteman dengan Vania.


"Maaf saya duluan Pak, saya harus memberikan berkas ini pada Pak Jordan. Permisi..." ucap Vania lalu pergi dari sana.


"Kenapa dia terlihat menghindari aku, apa aku salah bicara?" tanya nya pada Zandi dan Iren.


"Kenapa kalian dia saja? jawab aku" kesal Daniel lalu masuk kedalam lift karena saat ini mereka akan meeting dengan klien diluar.


"Sejak kapan Bos berteman dengan Vania? kenapa aku tidak tau?" tanya Zandi sambil menatap Daniel dengan tatapan tajam.


"Kemarin, memang nya kenapa?" Daniel balik bertanya pada Zandi.


"Apa Bos bertemu dengan Vania, bukan kah Bos berkata akan pergi bertemu dengan Sirena?" tanya Zandi lagi.


"Aku mengurungkan niat ku untuk bertemu dengan Sirena karena aku mau bertemu dengan Vania, keberuntungan benar-benar memihak aku kemarin" jawabnya sambil tersenyum.


"Bos gila? kalau tante Sandra tau dia pasti marah dan aku yang bakal kena" ucap Zandi yang memijat kepala nya.


"Mama tidak akan marah karena aku sudah katakan kalau aku banyak kerjaan, Sirena kuga tidak keberatan dengan itu" jawab Daniel santai.


Sedangkan Iren yang mendengar semua itu hampir tidak bisa bernapas karena saking terkejutnya, apa benar yang di maksud mereka adalah Sirena seorang artis itu.


"Permisi Pak, apa boleh saya bertanya?" ucap Iren memberanikan diri untuk bertanya pada Daniel.


"Iya ada apa?" tanya Daniel.


"Apa yang dimaksud kalian Sirena itu, Sirena artis ya Pak?" tanya Iren yang sangat penasaran.


"Iya dia artis itu, apa kamu juga tau dia? ternyata dia lumayan terkenal juga" jawab Daniel yang membuat Iren tak bisa berkata-kata.


"Bapak keren sekali, jadi sekarang bapak pacaran dengan artis. Aku tidak percaya ini!" ucap Iren sambil menutup mulutnya.


"Lihat Iren saja tau siapa Sirena, dia itu sangat keren Bos. Semua laki-laki berlomba-lomba mendekatinya, tapi Bos mala mengejar karyawan biasa yang tidak ada apa-apa nya" ucap Zandi kesal.


"Kamu belum tau jika rasa nyaman itu sangat penting dari pada segala nya, Vania juga tidak kalah cantik dari Sirena hanya penampilanya saja yang terlihat kuno" jawab Daniel yang tidak mau kalah.


"Tapi Pak yang dikatakan Zandi benar, Bapak sangat keren bisa mendekati Sirena. Dari gosip yang aku tonton belum ada yang bisa dekat dengan Sirena, bahkan ada artis luar yang menyatakan cintanya tapi sayang dia menolaknya" jelas Iren tapi Daniel tidak tertarik dengan pembahas tentang Sirena.


"Aku tidak perduli, tapi ingat jangan sampai orang tau. Kamu tau dia artis dan kabar serta gosip cepat sekali menyebar" sambung Daniel menyuruh Iren untuk tutup mulut.


"Bapak tenang saja, saya akan tutup mulut" jawab Iren sambil tersenyum.


Setalah itu mereka sampai kelantai satu, Zandi mengambil mobil diparkiran sedangakan Iren dan Daniel menunggu di lobi. Banyak yang memperhatikan mereka, Daniel bagaikan artis diperusahan mereka karena dia sangat tampan.


.


.


Bersambung...