Married With The Perfect Boss

Married With The Perfect Boss
Episode 8. Dasar Bos Mesum!!



Hari ini Vania pergi bekerja seperti bisa dan dia sudah bisa menyesuaikan diri, Vania termasuk anak yang rajin dan pandai. Oleh sebab itu Pak Lion sangat menyukainya di bandingkan dengan yang lain Vania yang paling cekatan dan bisa diandalkan, seperti hari ini dia hanya membantu pekerjaan Pak Lion dan dia tidak akan disuruh-suruh oleh Aza.


Mereka sedang duduk bersampingan sambil mengerjakan beberapa laporan, Pak Lion yang membaca laporanya dan Vania yang mengetiknya.


Sampai hampir jam makan siang mereka baru saja menyelesaikan semuanya, setelah itu Pak Lion menyuruh Vania untuk meminta tanda tangan CEO karena laporanya mau dikirim kekantor cabang.


"Van kamu minta tanda tangan Pak Daniel dulu, mumpung belum jam istirahat" Pak Lion memberikan map kertas tersebut pada Vania.


"Tapi Pak..." jawabnya takut sambil berharap Pak Lion menyuruh yang lain saja.


"Tidak apa-apa, kamu datang saja kesana. Nanti kamu tanya dengan sekretarisnya disana kalau tidak berani masuk" ucap Pak Lion lagi dan membuat Vania terpaksa mengambil map itu.


"Saya permisi dulu pak" ucap Vania lalu keluar dari ruangan Pak Lion.


Vania berjalan menuju lift karena ruangan CEO ada dilantai atas, Vania masih kesal karena dia tidak mau bertemu dengan CEO mereka. Jujur saja Vania takut, apa lagi tatapanya yang tajam seperti ingin menelan orang.


Setelah sampai di lantai atas, Vania keluar dan berjalan kearah ruang CEO. Saat sampai disana ternyata sekertaris nya tidak ada, Vania ragu antara mau masuk atau tidak.


"Gimana ni? masuk atau nggak ya?" tanya Vania serba salah, masuk takut dengan Pak Daniel kalau kembali keruangan nanti kena marah Pak Lion.


Tok


Tok


Tok


"Permisi Pak...!" ucap Vania setelah mengetuk pintu, tapi masih tidak ada jawaban.


Akhirnya dengan keberaniannya Vania masuk kedalam, saat masuk Vania terkejut karena melihat pemandangan yang ada didepanya. Bos nya sedang bercumbu dengan seorang wanita, bahkan baju atas wanita itu sudah terbuka. Vania sampai menjatuhkan map yang dia pegang, diam hanya diam beberapa saat sampai Daniel menegurnya.


"Siapa yang membiarkan kamu masuk?" tanyanya kelihatan marah pada Vania.


"Emm maaf Pak, saya tadi sudah mengetuk pintu tapi bapak tidak mendengar" jawab Vania takut dan Daniel hanya diam saja sambil terus menatap nya, sedangkan wanita itu terlihat kesal sambil membenarkan bajunya.


"Sekertaris bapak juga tidak ada, sekali lagi saya minta maaf Pak. Saya benar-benar tidak tau kalau bapak sedang ber....emm maksud saya pacar bapak ada disini" sambung Vania sambil menundukan kepalanya.


"Apa kamu sudah selesai bicara?" tanya Daniel lagi dengan tatapan tajam.


"Iya sudah, saya permisi dulu Pak. Saya akan kembali lagi nanti" jawab Vania salah tingkah.


Vania sudah ingin membuka pintu tapi kemudian dia berbalik dan mengambil map yang dia jatuhkan tadi, Daniel yang melihat itu tersenyum tipis.


"Mati Vania! kamu pasti dapat masalah' ucap Vania dalam hati nya.


"Dasar Bos mesum!!' sambung Vania mengerutu dalam hati nya, lalu Vania pergi secepat kilat dari sana.


Daniel memandangi Vania sampai dia keluar dan tidak terlihat lagi, memang sebenarnya bukan salah Vania juga karena Iren sekertarisnya dia suruh membeli makan siang.


"Sebaiknya kamu pulang karena aku sudah tidak mood lagi" suruh Daniel pada wanita yang masih duduk diatas meja kerjanya itu.


"Tapi sayang, kita belum selesai. Ayo lanjutkan lagi" jawab wanita itu dan ingin mencium bibir Danie tapi Daniel menjauhkan wajah nya.


"Apa aku harus mengulangi perkataan ku?" tanya nya membuat wanita itu takut dan memilih pergi dari sana.


"Baiklah aku akan pulang, tapi aku ingin uang jajan ku ditambah sayang" jawabnya manja sambil menelus dada Daniel.


Wanita yang bernama Laras itu pun pergi dari sana, Daniel kembali duduk dikursinya. Dia mengingat tingkah Vania tadi yang menurutnya lucu dan dia ingin tau siapa Vania, karena dia baru dua kali melihatnya dikantor.


Beberapa menit kemudian Iren datang membawah makanan, dia datang bersama dengan Zandi asisten pribadi Daniel.


"Permisi Pak, kami membawakan makanan Bapak" ucap Iren menaruh makanan nya di atas meja, disana juga ada sopa tempat tamu.


"Iya terima kasih, ambil makanan nya separuh untuk kamu Iren" jawab Daniel dan beberapa saat Iren terdiam setelah itu dia melirik Zandi yang berdiri di sampingnya, Zandi pun hanya mengangkat kedua bahunya.


"Emm maaf Pak, bukanya bapak akan makan siang bersama dengan pacar bapak?" tanya Iren.


"Dia sudah pulang, cepat ambil makananya" jawabnya dingin dan pandangan nya masih fokus pada laptopnya.


"Sudah ambil saja dan kembali lah kemeja kamu" sambung Zandi dan Iren pun mengambil makanan nya lalu keluar dari sana.


Zandi pun masih berdiri disana, dia tidak akan duduk kalau Bos nya itu tidak menyuruh nya. Padahal Daniel sudah menyuruhnya bersikap santai karena mereka teman SMA dulunya, Zandi tidak mau karena dia harus bersiap profesional.


"Kenapa kamu hanya berdiri disana, ayo duduk dan siapkan makanan nya. Kita makan bersama" ucap Daniel dan Zandi pun langsung duduk disopa dan membuka makanan nya.


"Kenapa kamu masih saja terlihat kaku, santai saja. Bukan kah kita teman Bro" sambung Daniel yang ikut duduk disamping Zandi.


"Kita berteman kalau di luar, masalah nya ini dikantor dan aku..." belum sempat Zandi menyelesaikan ucapanya.


"Harus bersikap profesional, aku bahkan sudah hapal dengan ucapan kamu. Menyebalkan!" sahut Daniel.


"Nah itu kamu sudah tau, oh iya kenapa pacar kamu pulang tiba-tiba?" tanya Zandi penasaran.


"Nggak kenapa-napa, aku yang menyuruh nya pulang. Kamu harus mengingat nama pacar ku, nama nya Laras" jawab Daniel santai sambil memulai makan.


"Pacar kamu ganti setiap minggu bagaimana bisa aku menghapal semuanya?" tanya Zandi sambil menggelangkan kepalanya.


"Kamu belum merasakan bagaimana nikmatnya mengencani banyak wanita, makanya cari lah pacar Bro agar kamu tau bagaimana rasanya" Daniel mengedipkan matanya.


"Ajaran sesat dari mana itu? berhentilah bermain dengan banyak wanita. Kasihan tante Sandra" Zandi menasehati Daniel.


"Ayo lah Bro, jangan dianggap terlalu serius. Mama memang sering begitu" jawab Daniel sambil menepuk pundak Zandi.


"Kenapa ada manusia seperti kamu?" ucap Zandi sangat pelan.


"Sangat aneh!" sambung Zandi lagi tapi sayangnya Daniel masih bisa mendengarnya.


"Apa kata kamu tadi?" tanya Daniel menatap Zandi dengan tatapan mematikan.


"Tidak ada, aku tidak bicara apa-apa" jawab Zandi.


Mereka pun akhirnya menikmati makan siang bersama, mereka berdua memang sudah lama berteman dekat. Walaupun Zandi dari keluarga sederhana, bahkan Ayah nya hanya seorang guru sekolah dan Ibu nya hanya ibu rumah tangga biasa.


Daniel tidak pernah mempermasalahakan itu, dia berteman dengan Zandi karena Zandi orang nya baik dan tulus. Tapi terkadang sangat menyebalkan juga, apa lagi dia selalu nurut dengan perintah Papa Daniel.


.


.


Bersambung...