
Jam pulang kantor tiba, Daniel sudah siap-siap pulang tapi dia sadar dompetnya ketinggalan di ruanganya. Daniel menyuruh Zandi untuk mengambilnya sedangkan dia menunggu didalam mobilnya diparkiran kantor, saat sedang asik melihat keluar dia terkejut saat Vania keluar bersama dengan seorang laki-laki.
Laki-laki itu merangkulnya dan mereka terlihat sangat akrab, mereka berjalan kearah sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari mobil Daniel.
"Apa yang terjadi barusan? dia merengkul Vania?" tanya Daniel tak percaya.
"Berani sekali dia...!!" ucap Daniel lagi.
"Siap yang berani Bos?" tanya Zandi yang baru saja masuk kedalam mobil.
"Kamu lihat itu" tujuk Daniel pada Vania yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki.
"Ada apa memang nya? apa Bos cemburu?" tanya Zandi sambil menatap Daniel yang mukanya sudah mulai memerah.
"Cemburu? siapa yang cemburu?" tanya nya mengelak, padahal dari raut wajah nya juga terlihat sekali kalau dia sangat kesal saat ini.
"Sudah lah, ayo kita pulang. Antar aku kerumah Mama" sambung Daniel.
"Apa Bos tidak pulang ke apartemen?" tanya Zandi sambil mulai melajukan mobilnya.
"Iya karena kami ada makan malam dirumah sahabat Mama, kamu tau siapa anaknya?" tanya Daniel sambil memandang Zandi yang fokus menyetir.
"Dia Sirena...!!" sambung Daniel lagi.
"Jangan bilang Sirena, artis terkenal itu. Saat ini filmnya banyak diminati semua orang Bos" jawab Zandi tak percaya.
"Iya kamu benar sekali, wanita itu lah yang akan Mama jodohkan dengan ku kali ini. Menurut kamu bagaimana aku harus menolak perjodohan kali ini?" tanya Daniel meminta pendapat Zandi.
"Kalau aku jadi Bos, aku sangat senang. Mana ada laki-laki yang menolak Sirena karena dia sangat cantik" jawab Zandi sangat yakin.
"Aku tidak menyukainya, kamu tau dia itu sepertinya sangat manja dan merepotkan. Dimana-mana selalu ada manajer nya, belum lagi karyawannya yang ada dimana-mana" sahut Daniel membayangkan saat mereka makan kemarin, banyak sekali yang mengikuti wanita itu.
"Ya namanya juga artis, pasti banyak juga yang ingin bertemu dengan nya" Zandi mengerti apa yang dimaksud oleh Daniel.
"Oh iya cari tau siapa laki-laki yang bersama dengan Vania tadi" sambung Daniel.
"Lagi Bos? kenapa Bos sangat tertarik dengan wanita itu?" kesal Zandi karena dia lah yang selalu repot mengurus kegilaan ini.
"Karena dia berbeda Zan, kamu lihat kemarin bahkan dia menolak ajakan ku untuk makan siang bersama. Yang aneh lagi aku tidak berani mengejarnya dan memberikan buket bunga itu dan akhirnya aku memberikan nya pada Iren" jawab Daniel yang terlihat menghembuskan nafasnya.
"Iya-iya Bos aku mengerti" jawab Zandi lagi sambil menganggukan kepadanya.
Zandi tidak bisa menyuruh Daniel untuk tetap memilih Serina, percuma karena Daniel itu keras kepala sekali. Dia paling suka hal yang aneh dan menantang, seperti mendekati Vania. Aneh nya Vania sama sekali tidak tertarik dengan Daniel, menurut pengamatan Zandi malahan dia takut dan terkesan menghindar.
.
.
Sedangkan ditempat lain, Vania dan Tomi sedang menuju kerumah Vania. Tomi sengaja mengatar Vania pulang karena tadi Vania ingin pulang dengan Lauren, tiba-tiba saja dia ada urusan.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai dan Vania mengajak Tomi mampir kerumah nya tapi Tomi tidak mau, sebelum masuk tidak lupa Vania berterima kasih.
"Mau mampir dulu Tom?" tanya Vania sebelum turun.
"Tidak usah Van, ini sudah sore. Lain kali saja" jawab Tomi sambil memperhatikannya rumah Vania yang cukup mewah dan dia salah menilai Vania dari penampilannya dia terlihat biasa-biasa saja.
Vania membuka gerbang lalu masuk kedalam, ternyata Mama sudah melihat mereka dari tadi. Dia tersenyum saat melihat Vania pulang, Vania pun langsung memeluk Mama nya.
"Kenapa Mama menunggu disini?" tanya Vania sambil memeluk Mama nya.
"Tidak ada Mama hanya mencari udara segar saja sambil menunggu kamu pulang, oh iya siapa yang mengantar kamu tadi?" tanya Mama sambil melepaskan pelukanya.
"Oh itu Tomi teman kantornya Vania Ma, Vania nebeng sama dia pulang tadi. Padahal Vania mau naik taksi tapi karena dia memaksa jadi Vania nggak enak" jawab Vania santai.
"Apa kamu sudah memulai membuka hati sayang?" tanya Mama yang terlihat sangat senang.
"Apaan sih Ma, maksud Mama sama Tomi tadi. Dia udah punya pacar Ma, Mama ini aneh-aneh aja" jawab Vania sambil menggelengkan kepalanya.
"Maksud Mama nggak sama sih Tomi aja, mungkin banyak laki-laki ganteng di perusahan kamu" ucap Mama yang mengikuti Vania berjalan kearah dapur.
Vania mengambil gelas dan menuangkan air putih lalu meminumnya, setelah itu dia ikut duduk dimeja makan bersama dengan Mama nya.
"Mama jangan barharap lebih karena saat ini Vania belum bisa melupakan Brayen, Vania mengerti apa yang Mama inginkan" jawab Vania membuat Mamanya hanya bisa terdiam.
"Sudah lah Ma jangan bahas ini lagi, oh iya apa sih Roki ku sudah benar?" tanya Vania menanyakan mobil kesayangan yang masuk bengkel kemarin karena tidak mau hidup.
"Iya udah di benarin sama Papa kebengkel, kata orang bengkel rusaknya agak parah. Jadi Papa memutuskan untuk membelikan kamu mobil baru, bagaimana kamu setuju kan sayang?" ucap Mama nya.
"Nggak Ma, Vania mau mobil lama saja. Banyak kenangan disana, bahkan aku membeli mobil itu dari gaji ku" jawab Vania sambil mengingat bagaimana dia menabung untuk membeli mobil itu, bahkan saat mereka pindah pun mobil itu tidak di jual.
"Tapi dia udah lama sayang, mana sering rusak. Mama takut terjadi apa-apa nanti" ucap Mama lagi.
"Tidak apa-apa Ma, Vania yakin kalau udah dibenari dia akan benar lagi" jawab Vania meyakinkan Mama nya.
"Apa kamu mau kue sayang? Mama sudah membuat kue untuk kamu" Mama megambil kue tersebut dan memberikannya pada Vania.
"Wah Mama membuat kue lagi, kelihatanya sangat enak sekali. Sebaiknya Mama buku toko kue deh, pasti laku" ucap Vania sambil mengambil satu kue dan ingin memakanya.
"Tunggu sayang, cuci tangan dulu" sahut Mama dan Vania pun tersenyum lalu mencuci tanganya.
"Apa menurut kamu Mama harus membuka toko kue?" tanya Mama nya yang terlihat sangat bersemangat.
"Iya karena kue buatan Mama sangat enak" jawab Vania lalu mengambil kue nya lagi dan memakanya.
"Apa Papa akan setuju, Mama takut Papa tidak mengizinkan" ucap Mama sambil memikirkan apa suaminya itu akan mengizinkan dia bekerja.
"Mama bicara pelan-pelan sama Papa dan katakan kalau Mama memang mau bisnis buka toko kue, Vania yakin Papa akan mengizinkan Mama" jawab Vania meyakinkan Mama nya.
"Baiklah nanti Mama akan coba tanya sama Papa, jujur saja Mama bosan dirumah kalau kalian pergi kerja semua" sambung Mama sambil ikut mencicipi kuenya.
"Iya nanti Vania juga coba bilang sama Papa" jawab Vania sambil tersenyum.
Vania memberikan ide bisnis pada Mama nya, dari pada Mama bosan dirumah lebih baik dia membuka toko kue. Tidak terlalu capek juga, apa lagi semua pekerjaan rumah sudah di kerjakan oleh Mbok.
.
.
Bersambung...