MAHIRA

MAHIRA
bab 8 | Memori



Kalau ada alat untuk menghilangkan manusia dari bumi sungguh Mahira ingin menghilangkan teman temannya.


Bagaimana tidak tadi saat baru saja memasuki kelas ia sudah dikagetkan dengan kepala tengkorak menyembul ke depan mukanya. Membuatnya refleks latah karena benar benar kaget.


Lalu tanpa dosanya mereka tertawa melihat wajah kaget Mahira.


Gimana ga kaget tiba tiba ada kepala tengkorak nongol dengan menunjukkan gigi besarnya.


Mahira melengos lelah lalu berlalu ke kursinya.


Apaan kelas IPA inimah kelas alien semua.


Kelas pagi ini sudah mulai ramai efek cuaca mendung membuat mereka berangkat lebih awal ke sekolah untuk menghindari hujan.


Dari tempat duduknya ini Mahira ikut melihat ke arah pintu kelas menunggu siapa lagi yang akan jadi korban kejahilan teman teman dikelasnya ini. Tak lama sebuah suara nyanyian yang terdengar dari luar kelas membuatnya yakin orang itu adalah Debi yang akan menjadi korban selanjutnya.


Di depan pintu kelas yang sengaja dibuka Mahira bisa melihat wajah Debi yang riang lalu mulai melangkah tanpa tau teman temannya yang lain sudah menunggu di balik pintu.


"Arrghh anjerr" itu bukan suara Debi itu suara Sean yang sudah jatuh berguling guling ke lantai kelas.


"Anjing Sean ngapain guling guling sih"


"Makan tuh tengkorak"


"****** banget sumpah" Itu suara teman temannya yang sudah sibuk mengata ngatai pemuda itu yang sekarang sudah tiduran layaknya korban kecelakaan.


Membuat satu kelas tertawa melihat laki laki itu, bahkan Mahira menipiskan bibir menahan tawa melihat pemuda itu jatuh dengan gaya alaynya.


"Makanya lo tuh kalo mau ngagetin orang jangan pake ginian nih," ledek Debi lalu merunduk mengambil tengkorak itu mengamatinya "Pake muka Idrus gue juga udah takut kok" ucapnya lagi tanpa dosa.


Idrus yang sedang tertawa ngakak itu mendadak menoleh dengan raut seram mengancam ingin melempar cewe itu ke selokan depan, membuat Debi tertawa lalu berjalan ke kursinya.


Sambil melewati Sean ia menyeletuk, "Gue suka gaya lo" ucapnya sambil berlalu membuat Sean kali ini tak tahan untuk tak mengumpat melihat wajah tengil gadis ini.


 


Suara hujan yang terdengar tambah deras membuat fokus Mahira yang sedang membaca buku buyar begitu saja.


Melirik ke arah kanan mendapati Debi sudah tidur pulas dengan bantal kecil dibawah kepalanya.


Lalu menolehkan kepala ke kiri melihat kaca jendela yang sudah tertutup butiran air membuatnya memilih memperhatikan hujan itu, "Hujan adalah salah satu hal yang ia suka di dunia ini selain membuatnya tenang, berjalan di bawah hujan juga seakan mengangkat beban yang selama ini ia pendam sendiri" bisiknya dalam hati, mata tajam itu masih memandang hujan dengan tenang sampai sekelebat percakapan lewat dipikirannya.


Percakapan beberapa tahun yang lalu..


"Ira suka hujan mah" ucap Ira kecil.


"Kenapa Ira suka hujan?" tanya sang mama sambil mengelus kepala putrinya.


"Kalo lagi hujan gini Ira bisa dipeluk mama" jawab Ira polos sambil tersenyum.


Lalu mama berucap "Ira tau kenapa hujan itu selalu jatuh?" Mahira hanya menggeleng sambil menatap sang mama.


Lalu mama melanjutkan "Hujan ga pernah bosan untuk jatuh walau dia udah ngerasain sakitnya tapi dia tetep aja bandel, sama kaya kamu nih kalo lagi main terus disuruh udahan bilangnya nanti nanti," ledek sang mama sambil menjawil hidung kecil itu membuat Mahira tertawa.


Kemudian melanjutkan, "Hujan selalu ngerasain sakit tapi dia ga pernah nyesel untuk jatuh karna setiap orang butuh hujan untuk kehidupannya seperti untuk mengairi sawah kakek, menyiram kebun bu Irna, lalu menyiram hutan di dekat rumah nenek dan hal hal yang nanti kamu tau ketika kamu sudah dewasa nak" ucap sang mama memberi perumpamaan masih sambil mengelus rambut Mahira, lalu kembali berucap "Hujan selalu rela ngerasain sakitnya jatuh untuk ngebuat orang orang disekitarnya bahagia" jelas sang mama menutup ceritanya dengan senyuman.


Membuat Mahira kecil terdiam tidak sabar untuk segera beranjak dewasa.


Percakapan percakapan itu masih ia ingat sampai sekarang walau hanya selintas lewat dipikirannya.


Membuatnya kembali memandang hujan dengan tatapan melamun menyesal karna dulu ingin cepat beranjak dewasa.


Mahira masih ingin bermanja manja dengan mamanya, masih ingin tidur di dekapan sang mama, masih ingin bermain boneka dengan sang papa. Tapi ia tau semuanya mustahil untuk ia utarakan walau jauh di dalam hatinya ia menginginkan keluarganya yang dulu. Yang hangat. Yang bahkan tanpa materi sekalipun.


Tanpa Mahira sadar Debi sudah sejak tadi bangun dari tidurnya dengan posisi masih tiduran di atas bantal berpura pura tidur, ia menatap ke arah Mahira dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.