
Unik.
Satu kata yang menggambarkan Mahira di benaknya saat pertama kali ia melihat perempuan itu.
Membuatnya lagi lagi tersenyum membayangkan wajah ketus gadis itu.
Sebenarnya Damar sudah mulai tertarik dengan Mahira sejak kejadian dimana ia menabrak gadis itu sikapnya yang terkesan tidak peduli membuatnya penasaran.
Harus ia akui Mahira merupakan tipe gadis idealnya dengan rambut panjang melebihi bahu, pipi cabi, serta mata bulatnya membuatnya nampak seperti anak SMP ditambah dengan tubuh pendek membuat Damar gemas melihatnya. Tapi sikap gadis itu yang cenderung dingin membuat orang orang enggan untuk berteman dengannya.
Mencoba mencari tau gadis ini bukanlah perihal yang mudah bahkan ketika Damar mencoba mencari akun instagram gadis itu yang didapatnya hanya nama nama tidak jelas yang muncul.
Sampai ia benar benar tidak sengaja menemukan akun instagram Mahira, tidak ada yang spesial di instagramnya, bahkan hanya ada 4 foto.
Foto foto hujan, secangkir kopi, lembaran novel, dan foto siluetnya membelakangi kamera.
Bahkan komentarnya dimatikan diseluruh foto yang ia post. Dengan jumlah pengikut yang tidak bisa dibilang banyak dan akun yang tidak terkunci membuat akun itu seperti dibiarkan begitu saja.
Tapi yang membuatnya penasaran di satu foto siluetnya terdapat caption singkat 'I Lost'
Membuat Damar bertanya dalam hati, "Kehilangan? siapa?"
Mematikan ponselnya lalu beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri karna tubuhnya sudah terasa lengket sejak tadi.
☄☄☄
Selepas mandi dan berganti pakaian ia kembali mengambil ponsel mengecek notifikasi yang ternyata tidak ada.
Membuatnya kesal sendiri melihat ponselnya yang mirip seperti jomblo.
Memutuskan mengambil laptop lalu menonton film action membuatnya tak sadar larut dalam adegan pertempuran itu.
☄☄☄
Di kamarnya Debi duduk sambil bersandar ke kepala ranjang lagi lagi berusaha menghilangkan bayangan pemuda itu.
Membuatnya seakan mengingat kembali kenangan disaat ia masih bersama pemuda itu.
3 tahun yang lalu...
"Mau eskrim?" tanya pemuda itu yang duduk di sebelahnya.
Sore ini mereka sedang duduk berdua di taman seperti orang orang pacaran pada umumnya.
"Mau!" jawab sang gadis merekah membuat pemuda disampingnya tertawa lalu beranjak
"Kamu tunggu sini ya jangan kemana mana" perintah pemuda itu lalu berlalu meninggalkan gadis itu yang masih tersenyum memandang punggung laki laki itu.
Saat ini mereka duduk di kelas 9 masa masa akhir SMP. Sebenarnya keduanya sudah terlihat dekat dari kelas 8 semester akhir tapi masih gengsi untuk saling berbicara satu sama lain.
Sampai saat bagi rapot kenaikan kelas pemuda itu menyatakan perasaannya dengan tegas tanpa embel embel bunga, coklat ataupun lagu.
Membuat gadis itu tanpa ragu mengiyakan.
Bahkan awal pertemuan Debi dengan pemuda ini karna mereka saling bertemu dan berinteraksi di OSIS.
Debi yang riang serta pemuda ini yang cepat bergaul membuat mereka tanpa sadar jadi dekat sebagai teman. Pun ketika mereka mulai sadar akan perasaan yang lebih dari teman.
"Debii" panggil pemuda itu sedikit lebih keras dari sebelumnya membuat Debi terlonjak kaget.
"Kamu tuh ya pelan pelan dong panggilnya kebiasaan deh suka ngagetin gitu kalo aku jantungan gimana?!" cerocos Debi sebal.
"Kamu lagian kenapa bengong coba? Kalo dihipnotis orang gimana? Trus kamu dijual tuh keluar negri" sahut pemuda itu tidak mau kalah.
"Amit amit jangan sampe! kamu tuh jangan gitu dong masa sama pacar sendiri bilang gitu?!" sungut Debi masih sebal membuat pemuda disampingnya tertawa "Iya iya maaf yaa" sahutnya sambil mencubit kecil hidung gadis itu membuat sang empu berteriak lalu mengancam ingin maju.
"Ett kalem bosku" kilah pemuda itu lalu memberikan es krim yang tadi ia beli membuat Debi menerima dengan semangat.
"Makasih hehe" ucap Debi membuat pemuda itu tersenyum.
"Aku mau nanya boleh ga?" tanya Debi masih asyik dengan es kirimnya.
"Boleh" sahut pemuda itu sambil memakan pinggir es krim yang hampir mencair.
"Setelah ini kamu mau sekolah ke mana?" membuat pemuda itu tersentak dengan pertanyaan sederhana itu membuatnya tak bisa memungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat.
Menyadari pemuda ini diam saja Debi menoleh lalu mengerutkan kening melihat wajah pemuda itu, "Kamu gapapa?" tanya Debi khawatir.
Mendadak perasaannya tidak enak.
"Aku gapapa Deb" jawab pemuda itu sedikit menunduk, "Kamu tadi nanya aku mau kemana setelah ini?" ucap pemuda itu membuat Debi mengangguk, "Belum tau sih aku belum mikir mau kemana setelah ini, masih pingin nikmatin waktu sama kamu" jawab pemuda itu.
"Kamu ga bakal ninggalin aku kan?" tanya Debi menebak membuat pemuda itu terdiam seakan tertembak tepat.
"Aku disini Deb" sahutnya tersenyum mengelus puncak kepala Debi dengan sayang berusaha sekuat tenaga menahan untuk tidak jujur sekarang juga.
Membuat Debi tersenyum kembali melanjutkan memakan es krim yang sekarang hampir mencair.
Tanpa pernah tau pemuda di sampingnya ini menyimpan sebuah rahasia besar yang jika terbongkar tidak hanya pemuda itu yang terluka tapi ia pun juga akan ikut terluka.
Debi menghela nafas sudah beberapa lama tapi jika diingat lukanya masih membekas.
Menahan bulir hangat dimatanya dan berusaha menahan agar tidak jatuh.
Mengambil ponsel di nakas samping tempat tidurnya berniat mengirim pesan ke seseorang walau mustahil pesannya akan dibalas.
Debi : Ira?
Debi : Udah tidur?
Tidak ada balasan bahkan tadi read pun tidak ada.
Membuat Debi menaruh kembali ponselnya di nakas lalu menarik selimut untuk tidur berusaha melupakan sesak.