MAHIRA

MAHIRA
bab 5 | Wali Kelas



Dingin. Satu kata yang menggambarkan keadaannya tubuhnya sekarang, balkon kamar yang ia buka membuatnya merasa hawa dingin langsung menyeruak masuk ke dalam tubuhnya ditambah dengan sunyinya malam membuat perasaannya kian riuh.


Mahira ga pernah minta apa apa cuma ingin ngerasain sebentar duduk dimeja makan dengan makanan yang sederhana serta mama papanya sebagai pendengar cerita remajanya.


Bahkan kalo Mahira boleh minta dia pengen putar waktu dan minta sama tuhan untuk ga pernah lahir di dunia ini kalo kesendirian yang bakal temenin dia terus. Mahira cuma pengen dunia yang ramai.


Berjalan ke pintu balkon dan menutupnya lalu naik ke tempat tidur bersiap melupakan sesak dan penat yang tiada habis, bahkan sebelum terlelap pun ia masih sempat menengok langit berterima kasih sudah menjadi temannya setiap malam.


☄☄☄


Mahira sampai di sekolah disaat keadaannya belum terlalu ramai cepat cepat berjalan ke gedung kelasnya dan menaiki tangga lalu teringat bahwa tadi pagi belum sempat sarapan kembali turun dan putar arah menuju kantin yang terletak di sebelah barat gedung kelasnya.


Keadaan kantin jam segini mulai ramai karena biasanya orang mampir dulu kesini untuk sekedar sarapan atau mengobrol sebelum memasuki kelas.


Hari ini adalah hari keduanya di kelas 12 tidak berbeda. Sama. Datar seperti biasanya.


Melangkahkan kakinya ke salah satu penjual yang paling dekat dari tempat ia berdiri membeli 2 roti dan sebotol air mineral ia rasa cukup, menyerahkan selembar uang dan berterima kasih.


Meninggalkan kantin dengan langkah tenang serta tatapan tidak peduli, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak ia mulai masuk ke kantin.


☄☄☄


Mahira sampai di kelas mendapati keadaan kelasnya yang belum terlalu ramai, menyadari sebagian dari teman kelasnya meliriknya saat ia memasuki kelas namun ia tak peduli.


Melangkahkan kakinya kebelakang lalu duduk disana dengan tenang, melirik sebentar kursi yang masih kosong disebelahnya menandakan orang yang duduk di kursi itu belum datang, lalu mengangkat bahu tak peduli.


Seperti biasa mengeluarkan novel bersiap untuk larut dalam dunianya sambil membuka sebungkus roti lalu mulai memakannya dengan tenang.


Semesta ga pernah mau tau kamu terluka sehebat apapun. Dia cuma mau tau kalo kamu itu ga rapuh. Kamu itu bisa bahagia tapi belum saatnya.


Mahira tersentak membaca kalimat ini, kalimat yang seakan menamparnya bahwa ia sudah terlalu banyak mengeluh.


"Ira!" gebrakan dimejanya membuatnya tersentak kaget dan refleks menoleh menemukan Debi berdiri di sampingnya sambil menunjukkan senyum lebarnya.


"Baca apa deh? serius banget," ucapnya kepo dan melongok ingin melihat apa yang sedang Mahira baca. Tidak mempedulikan teman sebangkunya ini Mahira melanjutkan kegiatannya "Gue dikacangin ini? yaampun sedih hati ariana" ucapnya meracau tidak jelas, Mahira dalam hati hanya mendelik 'apa apaan ariana disamakan dengan perempuan disebelahnya ini'


Debi yang merasa diabaikan oleh Mahira akhirnya menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan berusaha menahan lapar "Lagian kenapa gue ga sarapan dulu sih berasa superman aja" gerutunya dalam hati sambil bergerak gerak tidak jelas.


Ya walaupun ga sampe kedengeran teman didepannya tapi kan tetap aja malu apalagi kan samping dia si kutub es.


Mahira yang mendengar itu tanpa kata mengeluarkan roti di laci mejanya dan menyodorkan ke samping perempuan yang sedang menunduk melihat sepatunya. Debi mendongak mengeluarkan eskpresi seakan bertanya, Mahira hanya mengangguk seakan memberi tau bahwa roti itu untuknya.


"Makasih ya Ra" ucapnya sambil tersenyum ramah yang dibalas anggukan samar oleh Mahira, dalam hati Debi tersenyum akan perlakuan kecil Mahira padanya.


☄☄☄


"Udah cukup kali ya perkenalannya iya ah udah ibu cape nih" ucap Bu Syana sudah terlihat lelah.


12 IPA 2 di hari ke dua sekolah terlihat ramai bahkan disaat perkenalan pun ada aja celetukan gaje yang bahkan bikin pengen ngumpat.


Contohnya saat Nino yang maju untuk perkenalan awalnya berjalan lancar sampai tiba tiba dia nyeletuk "Anjay ganteng banget gue kaya Nino anaknya Uya" buru buru si Edo maju dan narik anaknya supaya cepet duduk, katanya keburu dijorokin ke selokan depan.


Beda lagi saat Idrus yang kebagian perkenalan karna anaknya ga bisa diem jadi dia perkenalan sambil goyang goyang, karna pas dia kenalan angin tiba tiba gede Bu Syana nyeletuk "Coba dipegangin ini temennya takut kebawa angin" membuat satu kelas hampir mengumpat karna BU SYANA NGOMONG GITU SAMBIL MASANG MUKA SANTAI TAPI JATOHNYA BENERAN NGAJAK BERANTEM.


Gimana ga greget.


Emang 12 IPA 2 tuh bukan dapet walikelas yang udah berumur yang kalo pake kerudung bisa sampe belakang banget atau yang udah kumisan dan botaknya cuma setengah.


12 IPA 2 dapet walikelas segokil Bu Syana yang pas masuk kelas udah senyum senyum sendiri katanya kelasnya dingin ac-nya ada 2.


Serandom itu.


Sebenarnya nama aslinya bukan Bu Syana tapi Bu Syasa tapi dia kekeh mau dipanggil Bu Syana katanya biar mirip penyanyi yang terkenal itu.


Anak kelas cuma diam menghadapi walikelas mereka yang random ini.


"Oke ibu cukupkan anak anak sampai ketemu di minggu yang akan datang baaayy!" ucapnya sambil berlalu meninggalkan kelas. Bahkan saat penutupan aja dia masih ga jelas bukannya pake salam tapi pake salam khas anak remaja.


Lalu hening tiba tiba membuat Debi nyeletuk, "Temen temen gua dikirim dari planet alien, ditambah walikelasnya dikirim dari abad 99 mau minggat trus pinjem kantong doraemon aja rasanya"


Dengan kompak Adilla dan Nino maju mengambil kantong kresek yang biasa Reva bawa memaksa Debi si gadis cantik itu masuk ke dalamnya membuat Debi meronta ronta minta dilepaskan.


Lagi lagi 12 IPA 2 menghela nafas lelah.