
Debi menatap ponselnya melihat kontak itu tapi masih belum berani untuk menelfon.
Sudah berminggu minggu tapi tetap saja ia tak punya kekuatan untuk menelfon pemuda itu untuk meluruskan semuanya, ia takut pertahanannya kembali runtuh jika harus mendengar suara pemuda itu lagi.
Mematikan ponselnya kemudian melempar kesamping, merebahkan tubuhnya di langit langit kamar kembali membayangkan wajah Mahira.
Memejamkan mata tidak tega jika gadis itu harus kembali terluka, mengingat bagaimana gadis itu sudah rapuh akibat keluarganya membuat Debi serba salah.
Terlintas percakapan mereka waktu itu.
"Broken home?" tanya Debi.
"Hmm...lebih dari itu." jawab Mahira.
"Seperti?" tanya Debi kembali.
"Gue takut ditinggal, gue benci." tutur Mahira lirih, dari nada suaranya tersirat emosi tertahan yang enggan untuk dikeluarkan.
Debi merengkuh tubuh itu mengelus punggung Mahira pelan, tidak perlu menjelaskan lebih, Debi tau luka yang ditanggung gadis itu memang berat.
Mahira terisak samar dipelukannya membuat Debi mengeratkan pelukan mereka seakan memberi tau jika gadis itu tidak sendiri.
Debi mengusap air matanya yang tanpa sadar sudah keluar benar benar tidak sanggup jika nanti membuat gadis rapuh ini terluka.
☄️☄️☄️
Mahira duduk dibalkon kamarnya sambil menikmati es kopi dan novel ditangannya, menikmati semilir angin malam yang membuatnya nyaman.
Sudah lebih dari sebulan sejak Damar mengungkapkan perasaannya tidak ada yang berubah dari pemuda itu.
Ia masih sering menelfon, mengirim pesan bahkan mengajak ke angkringan.
Awal mula memang Mahira yang sedikit menjauh dari pemuda itu tapi dengan segala cara ia kembali dibuat nyaman oleh pemuda itu.
Mahira belum bercerita ini ke Debi, sejak hari dimana ia meminta maaf kepada Debi dirumahnya mereka mulai berjanji agar saling terbuka satu sama lain.
Sepertinya ia akan bercerita kepada gadis itu besok.
☄️☄️☄️
Pagi ini Mahira sudah duduk dikelas dengan tenang serta novel diatas meja seperti biasa.
Menunggu Debi sampai datang.
Jam setengah 7 lewat suara nyaring itu terdengar bahkan pemiliknya saja belum terlihat tapi suaranya sudah terdengar sampai kelas.
Membuat Mahira tau suara siapa ini.
"Pagiiii teman temaaan!!!" sapanya riang memasuki kelas.
"Berisik lo." ucap Sean sinis.
Mahira menjulingkan mata ke arah pemuda itu.
"Lo dah belajar Deb?" tanya Reva.
"Hah? Emang hari ini ulangan?" jawab Debi bingung.
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas menyadari rata rata anak kelasnya fokus membaca buku.
"Bu Rina itu siapa Deb?!" sahut Idrus.
"Kimia" jawab cewe itu polos.
Lalu detik berikutnya tersadar hari ini di jam pelajaran ketiga kelasnya akan diadakan ulangan kimia.
Membuatnya berlari ke tempat duduk lalu rusuh mengambil buku.
"Emm.. Bi gue mau ceri-"
"Nanti dulu ya Ra gue mau belajar dulu gue lupa banget kalo hari ini ulangan kimia" potongnya kemudian berkomat kamit mengahapal rumus.
"Oh...oke" sahut Mahira kemudian ikut mengambil buku kimianya dikolong meja mengulas kembali rumus rumus yang sudah ia pelajari jauh jauh hari.
☄️☄️☄️
"Hahhh!! gue pusing banget hidup di kelas IPA" teriak Debi frustasi.
Mereka baru saja menyelesaikan ulangan dan keadaannya juga sama seperti Debi. Frustasi.
Karna tadi mereka benar benar tidak bisa berkutik, Bu Rina mengawasi mereka dengan tatapan tajamnya membuat 12 IPA 2 benar benar mengerjakan soal itu sendiri. Tanpa menyontek.
Bahkan mereka benar benar tidak bisa bertanya atau melirik karna guru kimia itu akan langsung menyebut nama jika ketauan bertanya atau semacamnya.
"Kantin yu Ra" ajak Debi merasa cacing diperutnya sudah heboh.
"Engga lo aja." ucap Mahira.
"Halah gue tau lo pasti laper ayo ah!" ujarnya menarik tangan Mahira ke kantin.
☄️☄️☄️
Keadaan kantin ramai karna sudah memasuki jam istirahat membuat rata rata tempat duduk sudah penuh diisi oleh siswa.
Beruntungnya mereka mendapatkan meja kosong, membuat Debi menarik Mahira untuk menempati meja tersebut.
"Lo tunggu sini jangan kemana mana biar gue yang pesenin, lo mau apa?" tanya Debi.
"Samain aja" jawab Mahira.
Gadis itu menyerahkan uang kemudian Debi berlalu ke tempat penjual makanan.
Tatapan tatapan tidak suka dari cewe cewe disekitarnya membuatnya jengah sendiri, sejak tadi saat baru menginjakkan kakinya di kantin ia sudah mendapat tatapan tidak suka dari sebagian orang yang rata rata perempuan. Sudah biasa.
Menopang pipinya dengan tangan memperhatikan lalu lalang orang yang ramai sambil melamun. Lagi lagi teringat dengan pemuda itu.
"Heh ngelamun aja lo!" Debi datang tiba tiba sambil menaruh nampan pesanan mereka.
Membuat lamunan Mahira buyar begitu saja.
Selanjutnya menaruh pesanan Mahira ke depan gadis itu.
"Nih punya lo, dah makan" Mahira diam tidak menyentuh makanannya, ia merasa risih disini.
"Ra, makan" ucap Debi.
"Lo kenapa? Ada yang gangguin lo?" tanya Debi menatap wajah Mahira yang kini menunduk.
Mahira mencuri curi lirikan ke arah kiri membuat Debi mengikuti arah lirikan gadis itu.
Dari dua meja dari tempat mereka duduk ada sekumpulan cewe cewe yang menatap Mahira dengan tatapan sinis membuat Debi paham kenapa gadis ini begini.
"Udah gapapa lo makan dulu aja, ntar mereka gue yang urus." kata Debi tiba tiba.
"Engga, engga biarin aja" sahut Mahira cepat tidak mau gadis ini berkelahi lagi.
"Yaudah lo makan" ujar Debi kemudian mulai menyantap makanannya.
Mahira meneguk ludah, perlahan melirik ke kiri cewe cewe itu masih memperhatikannya membuat Mahira mengambil sendok lalu mulai memakan makanannya.
"Mauan aja sih temenan sama cewe kaya gitu."
"Paling dimanfaatin doang."
"Cari muka banget ew"
"Kayaknya dia ngedeketin Damar juga deh"
"Mukanya doang kalem aslinya murahan kali"
Bisikan bisikan itu terdengar membuat Mahira makin merasa risih, Debi yang mendengar itu juga lama lama lelah sendiri.
"Lo bisa ga sih ga usah ngurusin hidup orang?" suara Debi terdengar membuat cewe cewe itu tertawa sinis.
"Sadar kali Deb paling lo cuma dimanfaatin dia doang" sahut salah satu dari mereka.
"Seenggaknya Mahira asli engga kaya lo semua. Palsu." jawab Debi tenang.
"JAGA YA UCAPAN LO! LO GATAU APA APA! " jawab salah satu dari mereka dengan rambut ombre warna coklat.
"See? lo marah berarti ucapan gue bener." jawab Debi tersenyum sinis.
Cewe itu hendak maju tapi ditahan oleh teman temannya.
"Udah lah Bi, ga usah diladenin" kata Mahira pelan menarik Debi agar keluar dari kantin yang seluruhnya sudah menatap mereka.
Debi menurut membiarkan Mahira menarik tangannya, sebelum benar benar keluar dari kantin ia berucap, "Lo salah kalo iri sama Mahira, lo... ga selevel sama Mahira." kata Debi tajam.
Mahira buru buru menariknya karna kantin sudah benar benar ramai menonton mereka.
☄️☄️☄️
Mahira membawa Debi ke taman belakang sekolah mendudukkan gadis itu disana.
"Ra? lo kenapa diem aja sih tadi?" tukas Debi.
"Kalo lo diem mereka bakal nganggap lo lemah tau ga?" kata Debi lagi.
"Mereka terlalu ga penting buat gue urusin." jawab Mahira.
"Tapi lo ga bisa gini terus Ra, mereka bakal terus kaya gitu sama lo, padahal kan lo ga punya salah apa apa." sergah Debi lagi.
"Trus menurut lo gue harus apa? Nanggepin mereka? Berantem sama mereka?" balas Mahira.
"Dari kelas 10 gue udah biasa dapet omongan nyinyir kaya gitu dan yang bisa gue lakuin cuma tutup kuping ga peduli." jelas gadis itu lagi.
Debi menghembuskan napas keras mengalah kepada Mahira, gadis keras kepala itu.
Mereka sama sama bungkam menikmati suasana sejuk disini, tempat yang jarang sekali orang kunjungi.
"Tadi di kelas lo mau ngomong apa?" tanya Debi tersadar.
Mahira kali ini tidak langsung menjawab pertanyaannya ia bingung harus memulai darimana.
"Damar..." ucap gadis itu menggantung.
Debi refleks menoleh ke arah Mahira menunggu kalimat selanjutnya.
"Dia bilang... sayang sama gue." ungkap Mahira pelan.
Debi mematung ditempatnya. Jadi? sudah sejauh itu?
Debi berusaha mengatur raut wajah perlahan berkata, "Bagus dong tandanya dia serius sama lo."
Mahira menoleh ke arah Debi menunggu kalimat berikutnya.
"Lo juga suka kan? Trus diterima ga?" tanya Debi.
"Dia cuma nyatain bukan nembak." jawab Mahira, "Lagipula gue takut kalo harus sayang sama seseorang."
"Kenapa?" ujar Debi.
"Gue takut saat gue udah bener bener jatuh sama dia, dia pergi." jujur Mahira pelan.
"Lo ga perlu takut, Damar ga gitu kok orangnya" jawab Debi.
Mahira menoleh kemudian mengernyitkan kening, "Lo tau dari mana?" tanya Mahira menatap Debi.
Debi yang mendapat pertanyaan itu sontak mengalihkan wajah. Gugup.
"Bi? kenapa?" kata Mahira menyentuh punggung tangan Debi pelan.
Debi menoleh lalu tersenyum, "Gapapa kok Ra"
Mahira menipiskan bibir merasa ada yang aneh lalu berucap, "Debi? Ga ada yang lo sembunyiin dari gue kan?"
Debi tersenyum membalas genggaman tangan Mahira, "Engga ada Ra lo tenang aja."
Banyak Ra.
Mahira tersenyum tipis percaya kepada gadis ini.
"Lo ga perlu takut, walau gue baru pertama kali liat dia gue rasa dia ga main main sama lo, tatapan mata dia ke lo seakan akan dia beneran pengen jaga lo." tutur Debi menepuk pundak gadis disampingnya.
"Kalo lo selalu diem dan ga jujur sama apa yang lo rasain lo bakal selalu terkurung sama ketakutan lo sendiri." lanjutnya lembut.
"Dunia bakal berputar Ra, ga selalu lo bakal dibawah terus entah besok, lusa atau beberapa tahun ke depan lo bakal temuin kebahagiaan lo walau sekarang lo harus sakit sakit dulu." jelas Debi tersenyum.
Mahira ikut tersenyum menggenggam erat tangan Debi dalam hati percaya akan ucapan gadis itu.