MAHIRA

MAHIRA
bab 14 | Curhatan Rooftop



Mahira merebahkan tubuh dikasur kamarnya melirik jam dinding di kamar pukul 20.56 malam. Ia sudah selesai membereskan buku dan peralatan lain untuk besok pergi sekolah.


Memilih memandang langit kamarnya dan mengingat kembali perlakuan pemuda itu.


Damar itu menyebalkan tapi ada satu sisi dimana Mahira bisa melihat bagaimana sifat lain dari pemuda itu.


Peduli. Satu kata yang membuat Mahira sedikit ragu dengan apa yang dia rasakan, Damar menunjukkan kepeduliannya entah itu semua hanya modus belaka atau memang benar benar tulus.


Seperti tadi saat Damar bersikeras untuk mengantarnya pulang karna sudah malam.


Bahkan mengulurkan tangan untuk membantunya naik ke atas motor besar hitam pemuda itu.


Mahira memilih untuk menerima uluran tangan itu dan saat memastikan Mahira sudah duduk dengan benar Damar menjalankan motornya perlahan meninggalkan angkringan.


Hening menghiasi keadaan dua manusia itu. Bahkan sepertinya perjalanan dari angkringan ke rumah Mahira seperti jauh sekali. Hanya suara deruan motor besar itu saja yang menjadi pengisi kekosongan malam itu.


Sampai depan rumahnya Mahira turun dengan meminta izin memegang pundak cowo itu membuat Damar tersenyum samar dibalik helmnya.


Tak ada kalimat basa basi dari gadis ini untuk mengajaknya mampir ke rumah membuat Damar terkekeh sendiri, ia lupa bahwa ini Mahira manusia tidak peka.


Membuat Mahira mengangkat alis bingung melihat pemuda itu terkekeh sendiri, "Lo ngapain ketawa sendiri" ucapnya dengan nada datar.


"Gue lupa kalo lo itu Mahira manusia ga peka, ngapain gue nungguin lo ya buat basa basi diajak mampir?" sahutnya lalu tertawa kembali. Membuat Mahira ternganga sendiri menyadari selain menyebalkan pemuda ini juga punya sifat geer.


"Engga gue bercanda kalaupun lo basa basi juga gue bakal tolak kok udah malem juga," tuturnya.


"Yaudah gue balik deh udah malem" pamitnya mulai menyalakan mesin motor dan menoleh kembali melihat Mahira.


Damar tersenyum kepada gadis itu lalu dibalas dengan senyum tipis oleh Mahira, "Duluan Ra" ucapnya lalu melajukan motor meninggalkan rumah Mahira.


Mahira memperhatikan punggung itu sampai hilang ditelan kegelapan, dalam hati berusaha menahan degup jantung yang berdetak cepat tidak seperti biasanya.


Mahira menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan perlakuan pemuda itu di ingatannya selanjutnya memilih memejamkan mata untuk tidur.


Ia tidak mau terlambat lagi seperti beberapa hari yang lalu.


☄️☄️☄️


Di tempat teratas bagian sekolahnya perempuan itu duduk bersender di sofa usang sambil menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.


Tatapannya kosong dengan pikiran yang entah menerawang kemana, berkali kali berucap dalam hati bahwa ini semua tidak nyata laki laki itu tidak berada di sini.


Perempuan itu Debi. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa dibalik sifat ceria gadis ini terdapat luka yang bahkan belum sembuh sepenuhnya.


Kedatangan pemuda itu lagi seakan mengulang kembali memori beberapa tahun yang lalu.


Laki laki itu pasti tidak melihatnya karna saat itu dia sedang bermain basket membuat Debi berkali kali meyakinkan dirinya bahwa ini hanya mimpi.


Hal itu yang membuat dirinya kembali ke kelas dengan sifat berbeda dari biasanya.


"Dilarang galau yang ada lo loncat dari atas sini" ucapan dengan nada datar itu membuatnya tersentak dan membalikkan badan melihat Mahira berjalan tenang kearahnya.


"Lo ngapain disini Ra?" balas Debi dengan raut bingung, "Ini bukan sekolah lo kan? Gue bebas mau dimana aja" jawab Mahira tanpa beban.


Membuat Debi menghela nafas, "Ra plis deh gue lagi gamau berantem sama lo gue cuma pengen galau jangan gangguin gue deh" sahutnya dengan nada setengah sebal.


Mahira mengangkat alis, "Gue bukan lo yang suka gangguin orang." balasnya telak membuat Debi terdiam.


Kali ini Debi terdiam melirik Mahira yang menjatuhkan tubuh di sofa sampingnya, mereka sama sama bungkam sembari menatap depan dengan pikiran berbeda.


Membuat Debi memutuskan untuk bercerita kepada gadis ini, "Menurut lo.. perasaan orang itu berubah ga?" Mahira diam bukan bermaksud tidak peduli tapi lebih tepatnya menunggu sampai Debi menyelesaikan apa yang ingin dia bicarakan.


Tidak ada sahutan dari Mahira membuat Debi melanjutkan, "Apa gue salah masih nyimpen perasaan yang sama disaat semuanya udah berakhir?" lanjutnya lagi. "Gue cuma pengen lupa Ra, bahkan gue gatau perasaannya masih sama atau udah berubah? Gue cuma pengen bebas tanpa harus ingat kenyataan pahit itu" tuturnya dengan nada lirih menahan bulir hangat yang berkumpul di pelupuk matanya.


Mahira diam membiarkan gadis ini meluapkan sesak sampai ia lega dengan sendirinya.


Lalu mulai berucap, "Lo yakin perasaan lo masih ada untuk dia? Apa sebelumnya lo udah mastiin kalo itu adalah rasa lo yang dulu masih lo anggap atau cuma rasa sesal lo aja yang ngebuat lo beranggapan bahwa lo masih sayang dia?" Mahira berucap dengan nada tenang tapi menembaknya tepat membuat Debi terdiam tidak bisa menjawab.


Mahira tersenyum samar lalu kembali berucap, "Gue ada kalo lo butuh" dengan nada dingin Mahira berucap tanpa menengok ke arahnya.


Membuat Debi menengok sepenuhnya ke arah Mahira lalu tersenyum riang dan langsung maju memeluk gadis itu.


Membuat Mahira yang mendapat pelukan tiba tiba itu langsung meronta ronta minta dilepaskan.


Debi tertawa masih sambil memeluk Mahira ia bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan manusia dingin seperti Mahira.


☄️☄️☄️


Mereka berdua tidak sadar di ujung tangga tepat satu tangga sebelum mencapai rooftop sekolah pemuda berbadan tegap dan memiliki senyum manis itu terdiam bagaikan disihir, menyadari bahwa semuanya ternyata berkaitan satu sama lain, jika ia sampai salah langkah bukan hanya gadis itu yang terluka tapi gadis yang lainnya juga akan ikut terluka.


Pemuda itu tidak tau bahkan tidak sadar bahwa dari awal ia sudah melangkah. Membuat semuanya kian menjadi rumit.