
Bulan ini SMA Britania kembali memasuki jadwal padat bagi murid kelas 12, tepatnya mereka akan melaksanakan Utbk dimana ini adalah 2 tahap akhir sebelum Unbk.
Mahira duduk di kursinya, kali ini tidak membaca buku pelajaran seperti biasa, tapi ia fokus menonton video di YouTube tentang cara membuat burung dari kertas.
Berikutnya mengambil kertas buku, merobeknya lalu mulai mengikuti cara caranya, awalnya ia masih paham tapi begitu sampai di pertengahan ia mulai bingung tapi tetap mencoba melipatnya yang tak lama bukannya berbentuk burung, kertas itu malah menjadi gumpalan aneh dengan bentuk sayap yang seakan dipaksakan.
Mahira mendengus lalu meremas kertas itu melemparnya ke kolong meja, ujung ujungnya mengambil buku pelajaran lalu kembali membacanya.
☄️☄️☄️
Berbeda dengan pemuda manis yang sekarang tengah duduk melamun di kelasnya, tadi saat baru saja sampai di sekolah ia diberi tau temannya agar segera ke ruang guru menemui Bu Dewi wali kelasnya.
"Ada apa ya bu?" tanya pemuda itu saat sudah dipersilahkan duduk.
Bu Dewi tersenyum kecil, "Ibu sudah tau kesempatan apa yang Pak Andri tawarkan untuk kamu."
Damar meneguk ludah, takut jika harus memutuskan sekarang juga.
"Ibu selaku wali kelas kamu bangga sama kamu Damar, kamu memang siswa pindahan tapi kamu mampu untuk membuat Pak Andri memilih kamu untuk menerima kesempatan luar biasa ini." ucap Bu Dewi.
"Pak Andri nitip pesan agar saya menyampaikan ini sama kamu, beliau sedang di luar negeri untuk beberapa pekerjaan disana dan akan pulang 2 bulan lagi tepat saat kamu selesai Unbk," tutur guru itu lalu kembali melanjutkan, "Beliau pulang dan berharap bisa mendapat jawaban pasti dari kamu Damar."
Damar menatap wali kelasnya lalu tersenyum merasa bersalah, "Maaf bu karna saya, ibu jadi ikutan repot"
Bu Dewi tersenyum, senyum yang Damar tau bahwa wanita tersebut menunggu apa yang ingin Damar ceritakan.
Damar tidak lupa satu fakta bahwa beliau adalah wali kelas yang merangkap menjadi guru bk di sekolahnya juga.
"Saya... bener bener seneng saat Pak Andri beri saya kesempatan luar biasa seperti ini bu, orang tua saya bilang ini terserah saya karna ini adalah salah satu dari bagian mimpi saya bu" ucap Damar pelan.
"Tapi saya merasa berat untuk ninggalin Indonesia... karna ada seseorang yang ingin saya jaga di kota ini."
"Maksud kamu?" tanya Bu Dewi menggantung.
"Mahira...12 IPA 2" jujur Damar lugas.
Bu Dewi tidak perlu bertanya lanjut karna ia sudah mengerti bagaimana keraguan Damar.
"Boleh ibu tau sejak kapan kalian dekat?" tanya Bu Dewi.
"Dari awal saat saya sudah pindah kesini bu, lebih tepatnya kita bukan dekat tapi saya yang selalu godain dia" jawab Damar.
"Lalu sekarang?" ucap guru itu lagi.
Damar terdiam tidak langsung menjawab karna memang ia tidak tau bagaimana perasaan gadis itu.
Melihat Damar yang tidak kunjung menjawab membuat Bu Dewi mengerti bahwa sebenarnya pemuda itu juga tidak tau.
"Saya sayang dia bu, saya pengen jaga dia sekuat saya... broken home memang benar benar membuat pribadi seseorang jadi berubah." tutur pemuda itu.
"Tapi saya juga berat untuk menolak kesempatan ini"
Bu Dewi memperhatikan anak didiknya lalu berucap kalimat yang membuat Damar terdiam.
"Suatu saat ibu yakin kalian akan bertemu kembali dalam keadaan yang sama sama baik, melepaskan bukan pilihan nak jika memang harus, semua akan baik baik saja."
"Maksud ibu, saya.." tanya Damar ragu.
Bu Dewi tersenyum, "Yakin Damar. Kota Milan menunggu kamu."
☄️☄️☄️
Mahira berjalan seorang diri melewati lorong menuju ke perpustakaan berniat mengerjakan soal latihan disana.
Dari depan ia sudah melihat teman seangkatannya berjalan lurus sambil menatapnya membuatnya mengangkat sebelah alis.
Mahira kenal cewe itu. Itu Areya siswi cantik yang pernah membuat heboh satu sekolah tahun lalu karna bertengkar hebat dengan kaka kelasnya sendiri, serta beberapa teman teman cewe itu yang tidak Mahira kenal.
Mereka berempat berhenti menghadang langkahnya membuat Mahira berhenti dan menatap datar empat orang didepannya.
"Secantik apa sih lo? Sampe suka sama Damar?" ejek gadis itu.
"Udah merasa punya temen disini? Eh Ra lo engga sepenting itu. Lo pikir mereka temenan sama lo tulus? Mereka cuma manfaatin lo doang, karna lo itu juara umum disekolah." sahut cewe disebelah Areya menatap rendah Mahira.
"Ga usah kecentilan lo di depan Damar! lo itu palsu." sinis Areya tajam.
Mahira tidak membalas perkataan mereka, ia diam saja masih sambil menatap ke empatnya dengan tatapan dingin.
Mereka berempat memang berdiri mengelilinginya membuatnya berdiri merapat ke tembok.
"Cewe kaya lo tuh ga pantes Ra punya temen, apalagi dapetin Damar. Mimpi lo!" ucap Areya kembali.
"Kenapa, lo takut? takut Damar lebih milih gue daripada lo?" sahut Mahira akhirnya buka suara. Suara gadis itu yang terkesan tenang dan tidak takut membuat Areya mengepalkan tangan menahan emosinya.
"Takut? Ngapain gue harus takut sama orang kaya lo?" jawab Areya sinis.
"Lo datengin gue. Marah marah. Lo takut." balas Mahira telak. Gadis di depannya ini semakin menajamkan tatapannya. Lalu berucap dengan keras
"LO ITU BENALU MAHIRA! LO! GA PANTES ADA DI DUNIA INI!" teriak Areya.
Mahira merasa sedikit tertohok dengan ucapan gadis itu tapi ia menyembunyikannya dengan menatap wajah Areya dingin.
"Seenggaknya gue ga semurah badan lo." sahut Mahira tajam.
Areya maju mendekat dengan tatapan tajam lalu mundur sekali ke belakang dan mengangkat tangan ingin menamparnya.
Membuat Mahira refleks memejamkan mata.
5 detik...10 detik. Perlahan gadis itu membuka mata saat tidak merasakan tangan gadis itu dipipinya lalu terkejut saat melihat pemuda jangkung dengan tatapan datar itu memegang tangan Areya yang sudah berada di depan wajahnya.
Damar menatap Areya datar lalu menghempaskan tangan gadis itu begitu saja. "Gue udah peringatan lo untuk ga macem macem sama Mahira." ucap Damar dingin.
"Tapi kayaknya lo terlalu ngeremehin apa yang gue bilang waktu itu."
"Sekarang lo pilih video lo waktu mabok parah di club itu gue sebar ke anak anak atau gue bisa langsung kasih ke kepsek." tanya pemuda itu dingin.
Areya membeku tidak bisa mengelak lagi, Damar tersenyum mengejek "Opsi pertama lo bakal dapat cyber bullying bahkan lebih parah, opsi kedua lo bakal langsung di DO dari sekolah ini."
"Gue saranin opsi pertama, karna bakal bikin lo tambah terkenal kan?" tutur Damar datar.
"Tapi terkenal dengan status cewe ga bener." ujar Damar tajam.
Areya terdiam tidak menyangka bahwa aib yang selama ini selalu ia tutup rapat, ternyata Damar yang notabenenya pemuda yang ia suka mengetahui itu.
Gadis itu berbalik lalu pergi dari sana diikuti teman teman gadis itu yang ikut terkejut tidak menyangka.
Mahira masih terdiam tidak menyangka, walau ia sedikit tau bahwa siswi model Areya pastinya wajar jika pergi ke club club malam tapi tidak menyangka jika gadis itu...
"Heh!" Damar menoel pundak Mahira membuat gadis itu tersentak.
"Ngapain lo sendirian ke perpustakaan? Lorong ini kan sepi, kalo tadi gue ga denger ada suara dia teriak gue ga bakal tau." ucap Damar datar.
"Temen temen lo pada kemana? Kan bisa minta temenin salah satu dari mereka Ra, bahaya tau ga." ucap pemuda itu masih sedikit mengomel.
"Gue... mau ngerjain soal diperpus tadinya" jawab Mahira pelan sedikit mengkerut.
Damar menghela nafas, meredam emosinya akibat perbuatan Areya tadi.
"Kalo mau kemana mana minta temenin temen lo atau lo bisa telfon gue, gue bakal temenin Ra." ucap pemuda itu lebih lembut.
"Jangan kaya tadi ditelfon ga diangkat, di chat ga dibales. Gue cari ke kelas ga ada, ke taman belakang ga ada, sampe ke uks."
"Gue khawatir Ra." jujur pemuda itu dalam.
Mahira menatap sedikit wajah pemuda itu, ada beberapa peluh dibagian leher dan kening Damar, membuat Mahira sedikit ragu mengangkat tangan mengusap peluh itu.
Damar sedikit tersentak tapi tidak menghentikan gerakan Mahira, karna diam diam Damar merasa nyaman dengan sentuhan tangan Mahira diwajahnya.
"Gue baik baik aja mar." jawab Mahira menurunkan tangannya.
Meninggalkan debaran jantung di perasaan masing masing.
Damar menarik nafas lalu menghembuskannya, perlahan meraih jemari gadis itu menggenggamnya lembut.
"Gue anter ke kelas." ucap pemuda itu seakan tak mau ada bantahan.
Mahira diam saja tidak menolak, membiarkan pemuda itu membawanya ke kelas sambil menggenggam tangannya.
Tangan pemuda itu besar seakan akan diciptakan untuk menggenggam tangannya agar ia tidak bingung lagi.
Mahira memperhatikan tangannya lalu berganti ke wajah pemuda ini yang dari samping terlihat lebih manly. Dalam hati membenarkan bahwa ia memang sudah jatuh.
Jatuh pada pemuda manis ini.