MAHIRA

MAHIRA
bab 24 | Keluarga IPA 2



"Ini sudah lewat beberapa bulan nak." ucap pemuda berumur itu menatap ke depan dimana anak didiknya duduk.


"Saya bener bener takut pak untuk ngejaga kepercayaan yang bapa kasih untuk saya," jawab Damar.


"Saya boleh bilang sesuatu?" tanya Pak Andri.


Damar menatap bingung ke arah laki laki berumur ini.


"Kamu satu satunya murid yang saya pertahankan untuk tetap menerima kesempatan ini."


"Guru guru mulai mempertimbangkan kamu Damar. Karna sebentar lagi try out akan dimulai, mereka butuh seseorang yang pasti." tutur Pak Andri.


"Pak...saya...saya" Damar menarik nafas masih belum mampu menjawab pertanyaan Pak Andri selaku wakil kepala sekolahnya.


Pak Andri menghela nafas, "Bulan depan" ucap beliau.


"Maksud bapa?"


"Bulan depan bapa mau keputusan final kamu Damar." jelas Pak Indra tegas.


☄️☄️☄️


Damar menutup pintu ruangan itu bertepatan dengan Mahira yang sedang lewat. Buru buru pemuda itu menyapanya.


"Eeehh bidadari" goda pemuda itu.


Mahira melirik sekilas sambil berjalan seolah pemuda itu tidak ada.


"Ternyata gini rasanya dicuekin toh.." ucap Damar tertawa kemudian menyusul langkah gadis itu.


"Ra jangan judes judes dong sama gue, entar gue tambah sayang gimana?" canda Damar.


Mahira refleks berhenti dan menatap tajam pemuda itu.


Membuat Damar cengengesan, "Kenapa? Dah mulai suka sama gue juga?" tanya pemuda itu santai.


Mahira melotot memberi tatapan agar pemuda ini diam, walau koridor sedang sepi tapi tetap saja ia takut jika ada yang mendengarnya, bisa bisa ia semakin dijauhkan oleh anak sekolahnya.


"Brisik nanti ada yang denger." ujar Mahira datar lalu kembali berjalan.


Damar menahan tangan gadis itu membuat Mahira menoleh.


"Udah saatnya yang lain tau kalo gue sayang sama lo, jadi ga ada yang berani gangguin lo lagi." ucap Damar menatap intens mata gadis itu.


Mahira meneguk ludah mengalihkan wajah mencoba meredam suara detak jantungnya.


"Ga perlu. Gue bisa jaga diri." jawab Mahira kemudian melepaskan pegangan Damar pada tangannya.


Ia tidak boleh sampai jatuh mau bagaimanapun Damar masuk ke golongan most wanted sekolahan dan tidak menutup kemungkinan jika ia akan kembali dicibir jika ketauan memiliki hubungan dekat dengan pemuda itu. Batin Mahira berteriak.


☄️☄️☄️


Mahira membereskan buku bukunya memasukkan ke dalam tas lalu berdiri, sebelumnya pamit kepada Debi dan berjalan tenang ke arah pintu kelas.


"Mahira?"


Mahira menoleh kebelakang melihat anak kelasnya sudah menatapnya. Selanjutnya Adilla dan Hana maju menghampirinya membuat Mahira semakin bingung. "Kenapa?" bisiknya dalam hati.


"Kita... bisa ngobrol bentar sama lo?" tanya Hana gadis berwajah Jepang itu tersenyum sambil meraih tangan Mahira.


"Kita?" jawab Mahira ragu.


"Iya, lo dan kita semua Ra." sahut Adilla tersenyum.


"Sebentar aja kok Ra, ga bakal lama" ujar Edo ikut meyakinkan gadis itu membuat yang lain ikut menganggukkan kepala.


Mahira menoleh ke arah Debi yang sudah tersenyum dan mengangguk, membuat Mahira menoleh ke dua gadis tadi. "Oke."


Adilla tersenyum kemudian menarik tangan gadis itu mendudukkannya dikursi depan.


Berikutnya yang lain ikut maju ke depan dan menyusun kursi membentuk lingkaran.


Setelah berbentuk lingkaran, Sean selaku ketua kelas berbicara membuat yang lain ikut mendengarkan.


"Tapi gue bangga sama IPA 2, kita bisa jadi keluarga yang bisa ngelindungin sesama anggotanya, gue bukan terlalu puitis atau apalah itu tapi disaat kejadian Aziz berantem sama anak IPS 3 kita sama sama cari solusi, lalu saat Abel difitnah karna ngebawa rokok kita sama sama cari pelakunya, dan terakhir saat Debi berantem sama adik kelas yang udah nyebarin berita jelek tentang dia, kita sama sama datengin adik kelas itu minta pertanggung jawabannya dia. Dan banyak kasus kasus lainnya yang ga bisa gue sebutin satu satu disini." jelas Sean.


"Mahira, gue sebagai ketua kelas minta maaf sama lo karna selama ini kita selalu nganggap lo seakan akan lo ga pernah ada"


"Gue tau lo anaknya pendiem tapi ini masa masa akhir sekolah lo Ra, setelahnya lo ga bakal bisa ngerasain momen momen kaya gini, gue ga pernah minta lo jadi orang gila kaya cewe cewe dikelas ini, atau jadi orang yang malu maluin kaya cowo cowo dikelas ini, gue cuma ma- "


"Woy bajigur! enak amat lo ngatain kita, sebagai salah satu kaum hawa gue tersindir ya!" potong Adilla.


"Tau lo! padahal kaum hawa itu salah satu makhluk paling penting di dunia ini." sahut Debi ikutan.


"Heeh tuh! ga nyambung!" jawab Keyna.


Membuat yang lain menatap gadis itu bingung.


"Lo yang ga nyambung kunci gembok!" ucap Beben sudah ngegas.


"Kok lo ngatain gue sih?!" jawab Keyna ikut ngegas.


"Nama lo Keyna, Key artinya kunci! gimana sih anak IPA kok ga ngerti bahasa inggris" ejek Beben tanpa dosa.


"SINI LO GUE GUNDULIN KUNCIR DUA LO!" teriak Keyna sudah ingin maju tapi buru buru ditahan oleh yang lain.


Hari ini Beben memang mencoba eksperimen barunya dengan kuncir dua lalu dikepang menjadi satu.


Membuat pemuda itu harus menahan sabar karna sedari tadi anak anak perempuan dikelasnya menarik narik rambutnya.


"Woy diem." tukas Sean tegas. Membuat yang lain kompak terdiam.


"Kita cuma pengen lo terbuka Ra sama kita, apapun masalah lo kita siap buat dengerin." tutur Sean meyakinkan.


"Kita minta maaf sama lo Ra, karna di awal kelas kita selalu acuhin keadaan lo, nganggap lo seakan akan bukan bagian dari IPA 2." ucap Amel pelan.


Mahira ditempat duduknya sudah bergetar tidak karuan, baru sadar selama ini ia punya teman teman seperti mereka.


Gadis itu tersenyum sambil meremas sedikit roknya lalu berucap lirih, "Gue bahagia punya kalian."


Debi bangkit dari kursinya langsung memeluk Mahira membuat perempuan yang lain mengikuti.


"Jangan ngerasa lo ga punya siapa siapa lagi ya Ra." ucap Reva kepada gadis itu.


Selanjutnya mereka semua berangkulan sambil membentuk lingkaran dan menyatukan tangan membentuk tos.


"IPA 2 ?!" teriak Sean.


"OUR FAMILY!!" teriak yang lain kompak bersamaan sambil mengangkat tangan ke udara.


Setelahnya mereka pulang satu per satu menyisakan Mahira, Sean dan Debi.


"Dah yo balik" ajak Sean membuat kedua perempuan itu mengikuti.


"Pulang sama siapa Ra?" tanya Sean.


"Ohh jadi Mahira doang yang ditanyain? Gue engga? Oke fine." sahut Debi.


"Lo mah ga penting." jawab Sean pedas.


Membuat Debi melotot dan refleks menjitak kepala pemuda itu.


Sean meringis mengusap kepalanya akibat jitakan gadis itu.


Mahira tersenyum sudah mulai biasa dengan gadis ini yang jika sudah mengamuk siapapun bisa jadi korban.


"Ayo Ra balik sama gue aja" kata Debi memegang tangan Mahira.


"Ga usah gue naik bus aja." tolak gadis itu tidak enak.


"Dah berisik lo, ayo ah! Duluan ya Yan!" pamit Debi lalu menarik tangan Mahira.


Mahira hanya tersenyum tipis pada pemuda itu lalu mengikuti langkah Debi yang sudah menariknya.


Meninggalkan Sean yang tersenyum samar memandangi gadis pendiam itu.