MAHIRA

MAHIRA
bab 15 | Malam hangat dengan tawa



Mahira" panggil pemuda itu.


Mahira menengok ke belakang melihat Damar di ujung koridor menatapnya dengan tatapan yang.. sedikit berbeda


Pemuda itu berjalan lurus ke arahnya masih sambil menatap tepat kedua manik mata gadis ini.


Mahira mengalihkan tatapannya mencoba menghindari tatapan pemuda itu. Detak jantungnya mulai tidak karuan saat melihat mata pemuda itu membuat Mahira bingung sebenarnya apa yang terjadi padanya.


Damar berhenti tepat 2 langkah didepannya membuat Mahira menunduk berusaha sekeras mungkin agar degupan jantungnya tidak terdengar.


"Ra" panggil pemuda itu dengan intonasi dalam membuat Mahira mendongak melihat pemuda ini yang memang jangkung.


Gue ga bisa mundur. Batin pemuda itu berusaha menelisik ke dalam mata coklat gadis ini, mencoba menguaknya.


"Gue boleh minta nomer lo?" pinta pemuda itu, Mahira diam enggan untuk memberikannya.


Karna sampai saat ini jarang sekali seseorang menghubunginya bahkan ponselnya hanya ada nomer Papa Mama Bi Minan dan Debi.


Miris.


Melihat Mahira yang hanya diam membuat Damar peka gadis ini masih belum bisa terbuka. Membuatnya tersenyum, "Yaudah gapapa hari ini mau bareng gue baliknya?" tanya pemuda itu.


Mahira menggelengkan kepalanya lalu mengangguk sedikit tanda ia akan pamit. Tidak ada balasan dari laki laki itu sampai beberapa langkah suara panggilan itu terdengar lagi, "Gue harap semua bakal baik baik aja, hati hati Ra pulangnya" ujarnya tersenyum lalu berbalik arah.


Membuat Mahira bingung apa maksud kalimat pemuda itu barusan walau tidak menangkis kenyataan bahwa perasaannya mulai sedikit tidak enak.


☄️☄️☄️


Damar berdiri di tengah lapangan dengan kedua tangan memegang bola basket seakan sudah siap menembakkan bola itu ke ring, tapi ada hal lain yang membuatnya meragu seperti bagaimana jika bola itu meleset? Atau yang lebih parah bola itu menghantam ring dan berbalik ke arahnya.


Sekolah sudah sepi karna ini sudah lewat jam pulang sekolah hanya ada anak anak yang eskul saja yang masih ada namun ia tak peduli.


Menggelengkan kepalanya berusaha tidak mengaitkan perasaannya dengan bola basket ditangannya.


Sampai ia yakin untuk menembakkan bola itu ke dalam ring dan tembakannya tidak meleset, masuk ke dalam ring sebagaimana mestinya.


Kali ini ia yakin dengan menyingkirkan segala ragu, dan mengesampingkan masa lalu ia akan terus bergerak maju sama seperti bola itu dengan berkali kali meyakinkan semua akan baik baik saja.


Karna ia yakin dengan keputusannya sejak awal.


☄️☄️☄️


Debi masih berada di ruang guru sampai sore begini.


Membuatnya berkali kali menguap dan menggaruk tengkuknya merasa bosan.


Bu Syana memang memanggilnya tadi saat jam pelajaran terakhir, "Bantuin ibu ya nulis berkas kelas kamu" ucapnya saat ditanya oleh Debi.


Membuat Debi bertanya, "Sekretaris kelas kan bukan saya bu" sahut Debi tapi tetap mengikuti langkah Bu Syana ke ruang guru. Lalu dengan tenang Bu Syana menjawab, "Debi sama kamu itu ibu bisa curcol jadi nurut aja ya" jawabnya santai.


Membuat Debi ternganga dengan tingkah wali kelasnya ini yang benar benar random.


Akhirnya dua jam itulah Debi terpaksa mendengarkan curhatan wali kelasnya ini sampai sampai ia tidak fokus mengisi berkas kelasnya.


Membuatnya salah mengisi dan dengan enteng Bu Syana bilang, "Debi kamu yang fokus dong jangan kaya ibu juga ga fokus kalo ngeliat Pak Martin"


Debi hampir mengumpat.


Ngomong ngomong Pak Martin itu guru olahraga kelas 11 salah satu guru muda ganteng yang kalo udah senyum bikin siapa aja salting.


Termasuk Debi sendiri. Tapi ia ga nyangka kalo wali kelasnya juga demen brondong. Kan ga enak nanti kalo masuk indosiar judulnya 'Aku vs Wali Kelasku' membuat Debi terkekeh tapi juga mengumpat.


"Bu saya boleh pulang ya? Udah sore gini nih" pintanya dengan wajah dibuat memelas, Bu Syana menoleh lalu dengan bingung dia berkata, "Loh kamu masih disini? Ibu kira udah pulang dari tadi" jawabnya dengan wajah bingung.


Membuat Debi kembali istighfar dalam hati.


"Makasih ya Debi yaudah sana pulang udah sore" ucap guru itu lagi, Debi tersenyum lalu pamit dan berlalu keluar.


MASSYAALLAH TUH GURU INI GUE DAPET DOSA ATAU PAHALA YA? TADI GUE NGUMPAT SEKALIAN ISTIGHFAR SOALNYA. Batinnya berteriak teriak.


Sambil berjalan ia mengambil hp di saku rok lalu menghubungi seseorang, "Halo Ra gue kerumah lo ya ga ada penolakan bayy" ucapnya lalu memutuskan sambungan telfon begitu saja tanpa membiarkan orang diseberangnya menjawab.


Ia berjalan cepat karna hari sudah mulai gelap sambil merogoh tas untuk mengambil kunci mobil lalu membuka dan masuk ke mobilnya.


Sebelum meninggalkan area sekolah ia meraih ponsel karna satu pesan masuk ke ponselnya.


Mahira : Ga terima tamu.


Debi : Gue sayang lo Ra hihi


Sambil menunggu ac mobilnya dingin ia membuka aplikasi film melihat film seru apa yang akan mereka tonton nanti, bertepatan dengan suara motor besar melintas di depan mobilnya.


Membuat Debi tidak asing dengan si pengendara itu lalu detik berikutnya ia terdiam menyadari lalu pikirannya membawanya ke beberapa tahun yang lalu.


Tubuh itu?


☄️☄️☄️


Mobil Debi sampai di depan rumah Mahira membuatnya segera beranjak turun lalu dengan gaya tengil ia memanggil gadis itu seperti ingin mengajak bermain layangan.


Mahira keluar dari rumahnya dengan tatapan datar menatap Debi yang sudah cengengesan ditempatnya.


"Halo ratu es" sapa Debi.


Mahira menarik nafas lalu menghembuskannya kasar, "Mau ngapain sih lo?" ucap gadis itu sebal. "Ya mau main lah, gue sendirian di rumah nih orangtua gue keluar kota daripada gabut gue ke rumah lo kan" jelas Debi sambil menaik turunkan salah satu alisnya.


"Toa lo" balas Mahira lalu membuka pagarnya lebih lebar membuat Debi tersenyum lebar lalu kembali ke mobilnya untuk memasukan ke garasi rumah Mahira yang luas itu.


Debi menyusul Mahira yang sudah masuk kedalam, melihat rumah ini yang sepi membuat gadis itu bertanya, "Rumah lo sepi, ga ada orang?"


Sampai di kamarnya Debi menjatuhkan tubuhnya ke ranjang empuk gadis itu merasa nyaman begitu saja. "Raa" panggil gadis itu, Mahira yang sibuk membereskan meja belajarnya bergumam lagi.


Kamar Mahira merupakan definisi kamar nyaman sesungguhnya. Dengan ranjang empuk besar di tengah lalu dikelilingi dengan ambal berbulu, di dinding kamar juga terdapat Tv besar Lcd lengkap membuatnya bisa ditonton di sisi manapun. Lalu dipojok ruangan terdapat rak buku tingkat dengan bantal bulat di sisi rak tersebut. Kamar dengan seluruh warnanya berwarna abu abu dengan bagian atas bergambar hujan itu pasti membuat siapapun pasti betah dikamar ini.


"Nonton film yo" ajak gadis itu tanpa mendengar jawaban dari Mahira, Debi langsung melompat turun dari kasur menuju layar besar di sudut kamar ini.


Setelah memilih film Debi memilih duduk di ambal berbulu dengan Mahira yang menyusul di sebelahnya.


"Film apa?" tanya Mahira sedikit was was.


"Horror nih" jawab Debi santai tak sadar Mahira disebelahnya sudah merinding duluan.


"Lo takut Ra?" Debi bertanya dengan raut mengejek membuat gadis itu sebal, "Engga, gue berani" balas Mahira tidak mau kalah.


"Oke kita buktiin" tantang Debi menyebalkan membuat Mahira melirik gadis ini sinis. Yang dilirik hanya tertawa.


"Lo ngapain di sekolah sampe sore" tanya Mahira. Membuat Debi refleks menoleh padanya.


"Lo? Lo nanyain gue barusan?!" ujar gadis itu semangat.


"Apaan sih lo yaudah ga jadi" ucap Mahira mencari posisi nyaman.


"Yaelah baper, gue ga percaya loh Ra lo nanyain gue kaya gitu biasanya kan lo cuek banget sama gue jadi kaget aja bro" jelas Debi jujur. Membuat Mahira tertegun sendiri merasa bersalah.


"Dah mulai" tutur gadis itu, membuat Debi segera mencari posisi nyamannya juga.


Mereka nonton dengan keadaan hening sampai beberapa menit kemudian setan setan itu mulai muncul secara tiba tiba membuat keduanya refleks latah.


Lalu setelah mereka latah selanjutnya Debi tertawa bodoh.


Sampai di pertengahan film setan dengan wujud seram muncul tiba tiba di layar membuat mereka kompak berteriak nyaring.


"Woahhhhh jantung gue!!" teriak Debi merapat pada Mahira membuat Mahira ikut ikutan merapat pada gadis itu.


Saat adegan film mulai berlanjut kembali, lagi lagi setan dengan wujud seram muncul membuat Debi yang tidak siap reflek mengumpat kasar.


Iya, Debi ngumpat. Mahiranya istighfar.


"Ra lo tau ga tadi gue pulang sore banget karna apa?" ucap Debi. Mahira hanya menoleh lalu menggeleng.


"Karna Bu Syana Ra dia curcol tuh sama gue tentang Pak Martin katanya dia suka sama tuh guru padahal kan gue juga demen" sungut Debi sebal.


"Oiya gue lupa tadi waktu gue di mobil pas lagi cek hp gue li-" ucapan Debi terpotong karna suara nyanyian menyeramkan dari film tersebut.


"ASTAGFIRULLAH MAKKKK" teriak gadis itu sudah sibuk menutup telinga dan berlari lari mengitari kamar.


"Yaallah Bi Minan ini gimana matiinnya!!" sahut Mahira ikut panik menutup telinga.


"Deb ini gimana matiinnya?!?" teriak Mahira sudah panik bercampur takut.


"Ini kan tv lo Ra ngapa nanya gueeee?!" jawab Debi membantu gadis itu mencari tombol offnya.


Mendadak mereka berdua jadi manusia bodoh.


Sampai matiin tv aja lupa saking paniknya.


GIMANA GA PANIK YA INI NYANYIANNYA BIKIN HORROR BANGET DITAMBAH RUMAH MAHIRA LAGI KOSONG GA ADA ORANG.


Lalu dengan keadaan yang udah ga karuan Debi refleks mencabut kabel tv dari stop kontaknya membuat tv mati begitu saja.


Mereka berdua saling pandang terduduk dengan keringat bercucuran. Dengan perasaan yang masih tidak karuan mereka bertatapan lalu Mahira menyeletuk, "Ga guna lo"


Debi refleks mengumpat.


☄️☄️☄️


Mereka berdua sudah tiduran di tempat tidur Mahira dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuh kecuali muka.


Malam ini Debi menginap di rumah Mahira, sebenarnya tadi Debi sudah ingin pamit pulang tapi Mahira bilang kompleks perumahannya pasti udah sepi.


Gadis itu bilang Debi nginep aja tapi Debi kekeh bilang mau pulang aja.


Lalu dengan kurang ajarnya Mahira bilang, "Nanti kalo hantunya ada dibelakang pas lo nyetir gue ga tanggung jawab."


Membuat Debi menjitak kepala gadis itu lalu memutuskan menginap.


Saat Mahira menawari gadis itu mandi pun Debi bilang dia gamau karna takut tapi Mahira memaksanya dengan ancaman "Kalo ga mandi lo tidur di bawah." ucapnya tadi.


Akhirnya Debi mau dengan satu syarat Mahira harus menemaninya di dalam kamar mandi.


Membuat Mahira gantian menjitak kepala gadis itu.


Debi mengalah lalu dengan ancaman dia bilang, "Yaudah kalo lo gamau temenin gue di dalem lo tunggu di sini depan pintu kaya satpam, jangan kabur lo" ujar gadis itu lalu dengan malas masuk kamar mandi dan menutupnya.


"Lama gue tinggal" ucap Mahira.


"Lo gue ceburin ke parit sini" balas Debi berteriak dari dalam membuat Mahira tertawa begitu saja.


Sampai sudah ditempat tidur pun Debi masih tidak mau diam karna takut dengan film tadi membuat Mahira melotot menyuruh gadis itu diam.


Pukul 22.38 Mahira sudah terlelap duluan membuat Debi tersenyum menatap gadis disampingnya.


Kebersamaan mereka tadi membuat Debi yakin bisa meruntuhkan tembok besar yang dibangun Mahira.


Kali ini Debi terdiam lalu menengok ke sekelilingnya menyadari ia sendiri, buru buru menutup mata dan memeluk Mahira disampingnya.