MAHIRA

MAHIRA
PROLOG



"Kenapa ga pernah bilang dari awal?" ucap perempuan itu sendu sembari memegang surat dengan tatapan kosong dan mata mulai menghangat.


"Lo ga pernah mau dengerin gue Ra, udah berapa kali lo ngehindarin kita?" jawab perempuan di depannya sekuat tenaga menahan tangis yang ingin pecah sekarang juga melihat perempuan didepannya seakan hilang arah.


"Dia mikir dengan dia pergi lo mungkin bakal baik baik aja" tutur perempuan itu lagi semakin merasa bersalah melihat sahabatnya yang semakin terluka.


"Baik baik aja dia bilang?! dengan dia pergi tanpa kata kata dan cuma ninggalin ini," perempuan itu mengacungkan surat abu abu yang ada di genggamannya sekarang, "Ngebuat gue ga bisa ngelakuin apa pun sekarang! gue benci ditinggal, gue benci perpisahan! dan dia dengan gampangnya ngomong itu seakan akan semua hal yang dia lakuin itu ga pernah berarti apapun?!" teriak perempuan itu sambil terduduk lemas. "Gue sayang dia" lirih perempuan itu lagi sambil mengeratkan pegangannya pada surat warna abu abu itu. Warna kesukaannya.


Sedangkan perempuan yang berdiri di hadapannya ini hanya bisa berdiam dengan bibir terkatup rapat seakan menyadari bahwa sahabatnya ini benar benar kehilangan.


 


☄☄☄


 


Dalam hening aku berdiri


Menatap jauh tanpa keraguan


Berdiam seakan semua adalah luka.


Tanpa tau sebenarnya hati ini sudah rapuh


Diselingi rindu yang seakan kian beradu


Rasanya memang masih sama seperti dulu


Bahkan tidak berubah dan tidak akan pernah berubah.


Seperti saat secarik kertas itu diberikan


Yang bahkan sampai sekarang masih disimpan dalam pikiran walau sudah lapuk dimakan kerinduan


Hadirnya masih kutunggu bahkan untuk beberapa tahun kedepan.


Kadang semesta bilang


Dia sudah pergi dan ga akan kembali


Tapi semesta kan suka bercanda


Jadi aku tidak percaya dan tidak pernah berhenti.


Semuanya kadang masih kuingat dengan baik


Perlakuannya, kata kata, wajah sampai sekarang pun masih terasa jelas diingatan


Tanpa tau kapan harus berhenti untuk melakukan ini.


-tertanda aku.


 


☄☄☄


 


"Iraaaa!" teriak perempuan bergaun merah marun itu dengan gaun aksen kupu kupu di sekitar leher membuatnya semakin terlihat cantik.


Perempuan yang dipanggil menoleh dan tersenyum sambil berjalan ke arah keduanya, dua perempuan itu sontak terperangah melihat jelas perubahan besar perempuan ini dengan Bride Mate Gown warna gold serta rambut yang digulung sampai atas memperlihatkan leher jenjangnya.


"Makin makin aja lu Ra" ucap Adilla sambil tersenyum lebar. "Lo tambah tinggi Adilla" jawabnya sambil tersenyum kalem. Yang dipuji hanya senyum senyum tidak membantah 'kapan lagi dipuji sama orang cantik kan ' gumamnya tertawa dalam hati.


"Sean! sini dong sombong deh lu" ucap Debi yang berada di sebelah Adilla memanggil laki laki itu yang berjarak beberapa langkah dari tempat mereka berdiri, yang dipanggil menoleh lalu pamit kepada temannya dan datang menghampiri mereka bertiga yang sekarang sudah sibuk mengobrol satu sama lain. "Gile cakep sekarang, dulu mah apa ampas" ledek Debi lagi sambil memandang laki laki itu, yang diledek hanya diam saja dan maju untuk menjitak kepala temannya itu sama seperti dulu yang biasa dia lakukan saat Debi sudah mulai tidak waras.


Tidak mau kalah Debi maju untuk menyekek leher laki laki ini membuat ruangan menjadi arena gulat dadakan. Kedua perempuan itu tertawa seperti sudah biasa melihat pertengkaran Debi vs Sean.


Mahira akhirnya maju menarik Sean membuat Debi membentuk cakaran di depan wajah Sean seakan geram sekali dengan tingkah tengil pemuda ini.


"Mahirakuuuu!" teriak suara dari belakang membuat Mahira menoleh menemukan Beben, Nino, serta Hana menuju ke arahnya.


Hana mempercepat jalannya lalu langsung menubruk tubuh Mahira memeluknya erat.


Dengan sengaja mendorong Sean yang ada disebelah Mahira membuat pemuda itu mendelik.


"Gue kangen banget sama anak kecil ini." ucap Hana bahkan sampai menggoyang goyangkan tubuhnya kecil.


"Biduankuuuu! Terompetkuuu!" seru Beben saat melihat Adilla dan Debi. Dua gadis itu mendelik tapi tak urung juga tertawa riang.


"Udah dong Han ga usah lama lama lo meluknya" seru Sean lalu menarik Mahira yang ada didekapan Hana ke sampingnya.


"Napa sih lo sirik banget" sinis Hana kembali menarik tangan Mahira lalu merangkulnya.


"Mending peluk abang Neng Ira" sahut Beben lalu maju mengulurkan tangan membuat Sean refleks mendorong kening pemuda itu.


"Hah! rasain lo bakteri ebola!" ejek Adilla.


Selanjutnya Beben maju menerkam gadis tinggi itu membuat meja yang mereka tempati kembali ramai tak karuan.


Mahira tertawa disamping Hana seakan kembali menyaksikan momen momen ini seperti dulu.