MAHIRA

MAHIRA
bab 18 | Debaran itu ada?



Pagi ini Mahira menyusuri sekolah dengan wajah datar ingin segera sampai di kelasnya. Udara yang kian dingin membuatnya semakin merapatkan cardigan yang ia kenakan pagi ini.


Sebetulnya ia malas ke sekolah pagi ini, percakapan tadi sebelum berangkat ke sekolah dengan sang mama menambah moodnya kian buruk.


"Hari ini mama harus ke Eropa ada proyek disana, uang udah mama taruh di atas meja belajar kamu Ra"


Mahira diam mencoba tidak meledakkan emosinya saat ini juga.


"Oiya kalo kurang kamu bisa telfon mama biar mama transfer lagi" ucap mamanya lagi.


Mahira meneguk ludah lalu menoleh menatap datar sang mama, "Ira ga perlu uang." ucap gadis itu.


Andin. Mama Mahira menoleh sekilas, "Kamu ga perlu jadi manusia rumit, udah ya mama ga mau berantem lagi sama kamu" jawab Andin kembali mengetik di layar laptopnya.


"Mama yang buat semua jadi rumit" ucap gadis itu datar.


"Ira ga pernah minta aneh aneh Ira cuma minta mama luangin waktu sebentar, sesusah itu?" ujar gadis itu dengan nada sedikit bergetar.


"Mahira! mama kerja juga untuk kamu untuk memenuhi kebutu-"


"Untuk kesenangan mama juga?" potong Mahira dengan nada dingin, "Sampe mama lupa kalo mama punya aku."


"Udah lah Mahira cape harus gini terus, Mahira cape ngomong sama orang sibuk kaya mama." sambung gadis itu lelah.


Beranjak dari meja makan dan keluar dengan emosi yang bergemul di kepala.


"Mahira! mama belum selesai bicara" teriak Andin, tapi gadis itu tidak peduli berlari keluar dari rumah dengan air mata yang sudah menetes entah sejak kapan.


Ia butuh pelampiasan.


☄️☄️☄️


Mahira berbalik arah, tidak jadi ke kekelasnya. Ia berjalan ke lapangan indoor sekolahnya tempat yang pas selain roftoop untuk menenangkan diri.


Membuka pintu tinggi menjulang itu dan menemukan keadaan didalam yang sepi lalu berjalan pelan ke arah tribun dan duduk disana.


Gadis itu melamun dengan tatapan mengarah ke lantai, keadaan lapangan indoor yang sepi membuat pikiran gadis itu bertambah penat.


Ia menghapus kasar air mata yang jatuh ke wajahnya lalu dengan keadaan yang belum tenang menonjok lantai itu melampiaskan emosinya disana.


Sakit itu menjalar di sekitar tangannya tapi tidak sesakit apa yang sedang ia rasa, menutup mata mencoba meredam semua emosinya.


Suara langkah kaki datang membuatnya menarik nafas tapi tidak berniat untuk mengetahui siapa yang datang.


"Mahiraa?!" ujar gadis itu.


Tanpa perlu menengok pun ia tau suara siapa ini.


"Lo gue cariin kemana mana Ra, gataunya disini" ucap Debi.


Mahira diam tidak peduli.


"Ayo Ra ke kelas bentar lagi masuk lo gamau kan dihukum gara gara telat masuk kelas?" kata Debi sambil meraih lengan Mahira berniat mengajak berdiri.


Menyentak kasar tangan Debi dari lengannya membuat Debi terkejut. "Lo kenapa Ra?" tanya gadis itu.


Mahira menatap gadis itu dengan pandangan tajam lalu berucap dengan nada dingin, "Ga usah so peduli. Gue gabutuh." ujar gadis itu dingin.


Debi terdiam ditempatnya, "Lo kenapa sih? kalo ada apa apa cerita Ra" jawab Debi menatap Mahira.


Lalu perlahan matanya melirik ketangan Mahira yang mulai terlihat memar kebiruan disana, membuatnya terkejut dan refleks ingin meraih lengan itu, "Ga usah pegang pegang!" sentak Mahira.


Debi refleks memandang gadis ini, "Lo kalo ada masalah cerita ke gue Ra, jangan dipendem gini" tutur gadis itu sedikit bergetar.


Membuat Mahira makin menajamkan tatapannya melihat gadis itu, "Gue ga butuh lo. Lo itu cuma pengganggu." tekan Mahira tajam lalu melangkah melewati Debi keluar dari lapangan indoor.


Debi berbalik badan menatap nanar punggung gadis itu.


☄️☄️☄️


Mahira mengusap wajahnya kasar merasa menyesal karna melampiaskan emosinya terhadap gadis itu.


Ia benar benar tidak berniat melakukannya, Debi datang disaat ia benar benar dipuncak emosi membuatnya tanpa sadar meledak kepada gadis itu.


Berjalan dengan langkah linglung tanpa peduli bel masuk sudah berdering nyaring.


Ia mengarahkan langkahnya ke roftoop sekolah berniat tidur disana, mengistirahatkan semuanya.


Keadaan roftoop sepi, mungkin karna memang tidak ada yang berniat ke sini, karna anak anak yang biasanya bolos akan lebih memilih gedung belakang untuk tempat mereka bersembunyi.


Merebahkan tubuhnya disofa lalu menatap ke langit, semilir angin membelai wajahnya membuat perasaan kosong itu semakin besar.


Bertepatan dengan pesawat yang melintas di atas walau tidak terlalu dekat dengannya setidaknya Mahira bisa melihat dengan jelas pesawat itu.


Teringat kembali akan mamanya membuatnya tertawa sinis.


Ia benar benar lelah dan hampir hancur saat ini juga, berkali kali ingin mencoba menyakiti diri sendiri tapi Tuhan selalu menggagalkannya. Ia benar benar sudah diambang akhir dan menjadi tidak peduli adalah dunianya saat ini. Mahira hanya ingin bahagia apa begitu sulit untuk Tuhan mengabulkannya?


Perlahan gadis itu terlelap dengan mengabaikan sakit di tangannya yang tidak sebanding dengan sakit yang dirasa oleh perasaannya sendiri.


☄️☄️☄️


"Gue butuh ngomong sama lo, taman belakang" ucap gadis itu berbicara kepada pemuda didepannya.


Pemuda itu menoleh mengikuti langkah gadis cantik itu didepannya.


Mereka sampai ditaman dan berdiri berhadap hadapan.


"Gue harus gimana Den?" tanya gadis itu pelan.


Pemuda itu diam sudah menebak kemana arah pembicaraan mereka.


"3 tahun lo pergi gitu aja" ucap gadis itu menatap pemuda didepannya.


"Lalu sekarang lo dateng perjuangin cewe lain?" gadis itu menggelengkan kepala mengusir sesak.


"Lo yang akhirin semuanya, padahal gue sanggup untuk ngejalaninnya lalu tiba tiba lo ngomong gini seakan akan disini gue yang salah?" tutur pemuda itu setelah lama berdiam.


Membuat gadis itu Debi terdiam dengan sorot mata terluka menatap pemuda itu.


"Perjalanan gue selanjutnya bukan lo lagi Debi." cetus pemuda itu lalu berlalu pergi.


Meninggalkan Debi yang kini terduduk di tanah dengan tatapan kosong serta kedua tangan menumpu tubuhnya.


☄️☄️☄️


Mahira mengerjapkan matanya, perlahan menyesuaikan dengan cahaya matahari yang langsung menyorotnya.


"Astaga!" refleks gadis itu menemukan pemuda tinggi ini duduk disebelahnya dengan tenang.


Damar menoleh kearahnya dengan wajah polos, "Eh lo dah bangun?" tanya pemuda itu.


Mahira yang masih terkejut itu refleks mendorong pemuda itu sebal.


"Ngapain sih lo" tanya Mahira sinis.


Suasana hatinya masih belum membaik membuatnya malas jika harus berinteraksi dengan pemuda sinting ini.


"Lo ngapain disini sendirian? engga sama temen lo?" ucap Damar.


"Bukan urusan lo." kata Mahira singkat.


"Gue kan temen lo jadi harus tau dong kalo lo lagi kenapa napa" Damar menaik turunkan alisnya.


Mahira diam saja malas meladeni pemuda ini.


"Mana sini tangan lo" pinta Damar.


Mahira menjauhkan tangannya dari jangkauan pemuda itu tapi Damar dengan sedikit memaksa mencoba meraihnya.


"Ini kalo dibiarin bisa bengkak," ucap pemuda itu lalu membuka kotak P3K. Entah mendapat dari mana.


Mahira meringis tertahan saat pemuda itu mengobati luka di tangannya membuatnya sedikit mencengkram roknya.


"Sampe rumah jangan lupa dikompres pake air es, jangan air esnya lo pake buat minum kopi" tutur pemuda itu mengingatkan.


Mahira bergumam lalu menatap tangannya.


Keadaan kembali hening lalu Damar mendecak tidak suka dengan suasana hening.


"Eh jangan diem aja dong Ra, mending main tebak tebakan nih gue punya nih," ujar pemuda itu.


Membuat Mahira menoleh sekilas.


"Nih lo jawab ya, siapa penyanyi luar negeri yang susah nelen?" ucap Damar memberi tebak tebakan, membuat Mahira menggeleng tidak tau, karna selain tidak tau ia juga malas untuk berfikir.


"Ah payah lo Ra, jawabannya Ed Sered! wuahahaha!!" pemuda itu tertawa membuat Mahira ternganga ditempat.


"Apa apaan Ed Sered" ucap gadis itu dalam hati.


Damar menghentikan tawanya lalu kembali berucap, "Adalagi nih Ra, siapa wakil presiden yang sering nonton streaming?" cetus pemuda itu lagi.


Membuat Mahira berfikir sebentar lalu menggelengkan kepala.


"Tuh kan masa lo nyerah lagi sih Ra nih ya jawabannya, Muhammad Yutub Kalla" Damar tertawa lagi memperlihatkan lesung pipinya membuat pemuda itu terlihat manis.


Membuat getaran di dadanya kembali datang tanpa peringatan.


Kali ini Mahira tersenyum walau sedikit, melupakan masalahnya sebentar.


Setelah Damar menyelesaikan tawanya pemuda itu menghadap ke arah Mahira karna posisi mereka yang duduk bersebelahan membuat Mahira bisa melihat wajah itu dari jarak dekat.


"Gue gatau apa yang lo rasain sekarang, tapi kalo lo mau gue bisa jadi pendengar lo Ra, lo ga perlu takut sama mereka yang bakal jahatin lo karna gue bakal jagain lo terus." jelas pemuda itu menatap tepat ke bola mata coklat miliknya.


Mahira merasakan seperti ada yang berterbangan di perutnya membuatnya ingin teriak sekarang juga.


Gadis itu berdehem mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang sudah melewati batas seperti ini.


"Thanks tawarannya." ucap gadis itu singkat.


Damar masih menatap gadis ini dari samping mencoba menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh rapuh disebelahnya.


Selanjutnya berbisik pelan, "Gue bakal terus disamping lo." tutur pemuda itu kemudian menghadap depan seperti apa yang Mahira lakukan.


Tidak sadar bahwa gadis disampingnya sudah menahan diri untuk mempertahankan benteng hatinya agar tidak runtuh.


☄️☄️☄️


Mahira mengerutkan kening saat ia keluar kelas, Damar sudah bersender di tembok.


Damar yang menyadari itu langsung menoleh, "Ayo balik" ajak pemuda itu.


Mahira diam saja tidak mengikuti langkah pemuda itu membuat Damar menoleh lalu kembali lagi.


"Yailah malah diem disini ayo Ra balik" ajak pemuda itu lagi.


"Ga." tolak Mahira datar.


Bertepatan dengan Debi yang keluar kelas, gadis itu tersenyum, "Duluan ra." pamitnya tersenyum kepada Mahira lalu beranjak tanpa perlu repot repot menyapa Damar yang berdiri disebelahnya.


"Engga biasanya Debi ga nyapa orang, bahkan orang yang dia engga kenal sekalipun biasanya ia sapa." Mahira berucap dalam hati mengamati punggung gadis itu yang semakin menjauh.


Di tempat duduk tadi Mahira benar benar merasakan canggung, Debi yang biasanya bercerita hal hal konyol mendadak diam sibuk menulis entah apa, membuat Mahira menghela nafas sepertinya ia harus meminta maaf kepada gadis itu besok.


Lambaian tangan di depan wajahnya membuatnya tersadar.


"Ayo Ra balik malah ngelamun" ajak pemuda itu seakan tak pernah bosan.


"Gamau" tolak Mahira lagi lalu berjalan meninggalkan pemuda itu.


Membuat Damar mengejar dan menghadang langkah gadis itu.


"Tangan lo kan sakit jadi apa salahnya pulang bareng gue?" ucap pemuda itu membuat Mahira mengangkat sebelah alis.


"Yang sakit tangan gue bukan kaki gue jadi ga ada hubungannya" ketus gadis itu.


"Ga ada hubungannya? Sama dong kaya gue dan lo ga ada hubungannya" ucap Damar lalu tertawa.


Membuat Mahira mendengus, "Sinting" ujarnya lalu kembali ingin berjalan tapi Damar lagi lagi menghadangnya.


"Mau lo apasih" tutur Mahira sudah kesal sejak tadi.


"Elo hehe," kembali melanjutkan, "Lo tunggu disini sebentar, kalo sampe kabur awas aja besok lo kemana mana bakal gue ikutin" ancam pemuda itu lalu berlari.


Mahira menghembuskan napas keras lalu duduk di bangku koridor yang sudah sepi itu merunduk memandangi sepatunya.


Sampai tak lama kemudian sekaleng kopi instan muncul tiba tiba membuatnya mengangkat wajah, menemukan Damar dengan senyum manis menggoyang goyangkan kopi kaleng itu.


Membuat Mahira tanpa sadar tersenyum lalu menerimanya.


"Nah anteng kan lo kalo dikasih kopi ternyata jinaknya pake kopi ya" kata pemuda itu kembali menyebalkan.


Membuat Mahira melotot.


"Ayo balik" ajak Damar.


"Engga" ujar Mahira menolak.


"Lahhh kok masih gamau sih kan dah gue beliin kopi" ucap pemuda itu.


"Jadi lo ga ikhlas? Yaudah nih gue balikin" sahut Mahira menyodorkan kembali kopi tersebut.


Damar mendecak susah sekali mengajak gadis ini pulang bersama.


"Gue balik. Makasih kopinya" ucap gadis itu berlalu membuat Damar memijat keningnya pusing sendiri.


Lalu berteriak, "GUE ANGGEP UTANG YA, NEXT TIME HARUS BALIK BARENG GUE!" teriak pemuda itu membuat Mahira berbalik badan.


"Sinting!" balas gadis itu masih terdengar sampai Damar membuat pemuda itu terkekeh.


Mahira kembali membalikkan tubuh berjalan cepat keluar parkiran dengan senyum menghiasi wajah serta debaran hangat melingkupinya.