MAHIRA

MAHIRA
bab 30 | Proyektor =Bioskop



"Mahiraaaa!!" teriak Debi langsung berlari menghampiri saat ia melihat Mahira.


Damar sedikit tersentak akibat teriakan melengking gadis itu lalu menoleh ke arah Mahira dan tersenyum, "Gue ke kelas dulu, kalo ada apa apa telfon aja."


Mengacak pelan rambut Mahira lalu berlalu meninggalkan kelas itu.


Debi yang melihat itu semua, diam diam menghela nafas.


"Ra! lo engga papa?! gue denger lo tadi dilabrak sama Areya?!" ucap gadis itu heboh.


Berikutnya teman teman perempuannya yang lain ikut mengerubunginya.


"Beneran ra? dimana??" tanya Hana.


"Lo engga kenapa napa kan? ada yang luka ga?" sela Adilla lalu memegang wajah Mahira memperhatikan.


"Dia ngapain lo ra?!" seru Abel ikutan memegang tangan Mahira mengeceknya.


Mahira yang diserang pertanyaan tiba tiba itu bingung sendiri, bagaimana bisa teman temannya sudah tau padahal kejadiannya baru saja terjadi.


"Tadi ada yang kasih tau kita ra, belum sempet kita samperin eh lo dah ke kelas." sahut Hana seakan menjawab pertanyaan dikepalanya.


"Gue gapapa kok." jawab Mahira tersenyum tipis.


Dalam hati merasakan bahagia luar biasa karna seumur umur ia belum pernah diperlakukan sedemikian rupa oleh seorang teman.


"Gais mau kita serang kapan IPS 1?" tanya Adilla menatap teman temannya.


Mahira buru buru menahan, "Jangan jangan!" ucap gadis itu panik.


"Kenapa sih ra?? mereka tuh Areya sama temen temennya di IPS 1 udah sering buat masalah. Kalo ke orang lain sih ya terserah, tapi ini kan elo bagian dari kita. Jelas kita engga terima." sungut Debi.


"Orang kaya mereka harus sekali kali dikasih balasan ra, kalo di diemin yang ada makin ngelunjak." ucap Amel menambahkan.


"Bener tuh! udah lo ga usah takut biar itu bibit bibit cabe kita basmi!" seru Keyna.


"Engga usah engga usah" kekeh Mahira menahan mereka yang sudah bersiap ingin pergi.


"Bentar lagi Utbk kalian mau kena masalah?" tanya Mahira.


Mereka mundur kebelakang lalu menghembuskan napas.


"Udah lah lagian gue juga gapapa, orang orang kaya mereka tuh cuma haus popularitas aja jadi ga usah diladenin. Malah harusnya kita temenin biar kita ngerti." jelas Mahira.


Membuat sebagian teman perempuannya mendelik tidak setuju.


"Apa? temenan sama itu cabe cabean?" ucap Debi.


"Heran gue ya ra masih ada aja orang kaya lo." tutur Hana lalu menarik tangan yang lain agar mundur.


"HE CIWI CIWI BALIK BALIK KE TEMPAT DUDUK, BELAJAR BELAJAR" teriak Nino dari belakang kelas.


Mahira tersenyum tipis mengikuti teman temannya yang lain untuk kembali ke tempat duduk, "Gue bener bener bersyukur ada dikelas ini." ucapnya dalam hati.


☄️☄️☄️


12 IPA 2 lagi lagi jam kosong.


Membuat kelas itu sudah heboh tidak karuan dari tadi, padahal waktu Utbk sudah menghitung hari.


Sean yang melihat itu semua menghembuskan napas berat, lalu kembali menunduk bermain ponsel.


"BANJARMASIN ENGKOL SANAKK?!!" teriak Debi kembali menjadi biduan.


"SAKIT PINGGANGG, CARI UANG SAMPAI HARUS BANTING TULANG!!" teriak yang lain kompak membalas.


Berikutnya sebagian dari kelas itu berjoget gila didepan menjadi pengiring si biduan dengan Edo yang memakai kaleng bekas astor berpura pura menjadi videografer.


Mahira dikursinya memperhatikan mereka semua dengan tawa samar di bibir gadis itu.


"BRISIK LO SEMUA!" seru Adel tiba tiba masuk kelas.


"Hooh brisik! daripada ntar dimarahin Bu Rina lagi mending kita nobar aja bareng bareng." sahut Keyna ikut masuk juga ke dalam kelas.


"Pake apaan? layar tancep?" tanya Nino bodoh.


"Pake muka lo aja gimana no?" sahut Hana pedas.


"Hadeehh gini nih kalo masuk jurusan IPA tapi otaknya minjem." ucap Idrus tanpa dosa.


"Bolos kan? kita ke bioskop?" sambungnya kembali.


Hana, gadis itu yang berdiri didekat pemuda cungkring itu menoyor palanya membuat Idrus jatuh kebelakang dengan lemahnya.


"He! lo bercanda?" tanya Adilla.


Disetiap kelas memang selalu disediakan layar proyektor tujuannya memang untuk mempermudah proses belajar karna di SMA Britania ini lebih dominan dengan pembelajaran sistem internet.


"Yaudah lah santuy aja, lagipula ini bisa nambah momen di masa terakhir sekolah kan?" jawab Adel.


Berikutnya mereka bekerja sama memasang kabel proyektor dan mengesampingkan meja dan kursi menyisakan bagian tengah kelas yang luas.


Setelah semua selesai mereka duduk berjajar di tengah menghadap proyektor dengan Keyna yang masih setia mendengarkan mereka yang rusuh ingin menonton film apa.


"Romance aja romance" ucap Reva.


"Engga engga action aja woy! Biar greget!" seru Aziz kekeh.


"Apasih lo semua kartun aja elah!" ucap Hana tidak mau kalah.


"Horror aja horror biar seremnya saingan sama Idrus!" celetuk Nino tanpa dosa.


Idrus yang duduk lesehan di pojok mengangkat wajah horror mengangkat tangan ingin melempar cilok ditangannya.


Keyna di depan kelas akhirnya tak tahan juga, "HEH LU KATA INI BIOSKOP, CUMA ADA FILM HORROR DOANG SAT!" teriak gadis itu ngamuk.


"Woy kalem woy bentar lagi berubah jadi macan dia" ucap Beben meracau.


"Iya ratu"


"Baik nyonya"


"Siap kanjeng" celetukan celetukan asal itu membuat Keyna makin geram ingin melempar laptopnya.


"Sabrina aja." putus Sean akhirnya.


"Mantan gua nyed" ucap Nino masih sempat.


Sean yang sudah geram sejak tadi mengangkat kotak bekal disampingnya ingin melempar pemuda itu.


"Yan kalem yan" ujar Aziz tertawa tawa.


Film akhirnya dimulai membuat mereka kompak diam dan fokus menonton.


Sampai akhirnya celetukan celetukan tidak jelas dan suara latah mereka mulai terdengar saat mulai memasuki pertengahan film.


"****** matanya gerak gerak"


"Eeee lebih serem ade gua!"


"Ngapain nelpon dulu puah!"


"Woy jingan! ngomel ngomel aje"


Mahira yang fokus menonton sedikit terusik oleh celetukan celetukan itu walau tak mengelak ia juga tertawa dalam hati.


"********! NGAGETIN AJA!" seru Beben sudah mengumpat.


"NGAPAIN NONGOL JUGA JUPRI " ucap Adilla ikut kaget.


"EEHH JANTUNG GUA!"


"PLISS PLISS BIASA AJA MUKANYA UDAH SEREM ANJRIT!"


Itu suara umpatan umpatan mereka saat tiba tiba boneka sabrina memunculkan wajah seramnya.


Mahira yang sedari tadi tenang menatap layar ikut terkejut juga dan refleks mengumpat tanpa suara karna tiba tiba wajah seram boneka itu muncul lagi.


Film terus berputar sampai tiba di ending.


Membuat mereka kompak merapat satu sama lain dengan tangan saling berpegangan.


Idrus yang duduk dipojok sambil bersandar juga ikut maju ke depan merapat ikut memegang tangan yang lain.


Membuat mereka tanpa sadar sudah saling merapat dengan tangan saling berpegangan seakan ingin menyebrang.


"WOAHHH!!" teriak mereka kompak saat lagi lagi wajah sabrina muncul dilayar kemudian layar menghitam.


Film selesai begitu saja.


Dengan tubuh masing merapat satu sama lain, mereka bertepuk tangan lalu tertawa gila bersama.


Kalo kata Abel 12 IPA 2 waktu pembagian otak mereka datang telat jadi cuma dapat ampas doang.


Tidak penting memang.