
"Mahiraa!" teriak Debi melambai riang di koridor yang ramai karna sudah jam pulang sekolah.
Membuat sebagian orang di koridor menoleh karna teriakan nyaring itu.
Mahira hanya menoleh dengan tatapan tajam seakan memperingatkan gadis ini karna sekarang mereka jadi pusat perhatian.
"Eh sorry gue kelepasan teriak manggil lo" ucapnya cengengesan.
"Apa" tanya Mahira dengan intonasi datar serta tatapan tak minat menatap gadis di depannya ini.
"Bareng gue yu pulangnya", ajak Debi dengan riang, Mahira menaikkan alisnya bingung "kenapa perempuan ini terlihat seperti sudah kenal lama dengannya?" ucapnya dalam hati "Ga perlu" jawabnya singkat lalu berlalu pergi.
"Eh Ra nanti dulu" tahannya lagi sambil menarik kecil ujung tas Mahira, membuat Mahira lagi lagi berhenti dan menghela nafas lelah, "Lo kenapa sih Ra? sikap lo dingin banget.." ucapnya jujur walau merasa sedikit takut akan aura gadis didepannya ini.
Lalu kembali melanjutkan "Anak kelas pada bingung lo itu kenapa tapi gue tau Ra ini bukan sifat asli lo kan?" ujarnya sambil berusaha menatap Mahira yang masih enggan untuk menatapnya, "Gue pengen jadi temen lo boleh?" ungkapnya yakin berusaha jujur terhadap Mahira.
Mahira terdiam menatap gadis di depannya ini, seumur umur tidak pernah ada yang mengajaknya berteman setiap orang yang pernah kenal dengannya akan melebelinya sebagai gadis sombong.
Jujur Mahira ingin menerima ajakan pertemanan Debi tapi hatinya bersikukuh untuk menolak setiap orang yang akan masuk ke hidupnya, ia sudah biasa sendiri untuk melakukan apapun membuatnya tumbuh menjadi gadis mandiri.
Bahkan dulu saat sd disaat ada pelajaran yang mengharuskan untuk berkelompok tidak ada satupun teman yang mengajaknya, membuatnya memilih untuk mengerjakan tugas itu sendiri.
"Gue ga butuh temen" tukasnya setelah lama berdiam, memutuskan berbalik lalu melangkah cepat menahan sesak yang semakin menghantam.
Debi hanya melihat punggung Mahira sampai hilang ditengah ramainya orang membuatnya menipiskan bibir.
☄☄☄
"Deb?" panggil Nino saat berpapasan di parkiran.
Tidak ada sahutan.
"Debi!"
"Anjing" umpat Debi refleks menutup mulut.
"Yaallah ukhti mulutnya" Nino menggeleng gelengkan kepalanya seakan akan kesalahan Debi besar sekali.
"LO NGAPAIN SIH HA?!" ucapnya yang sudah bersiap maju.
"YA LU YANG NGAPAIN NGELAMUN SAMBIL JALAN ****" sahut Nino ingin ikut maju juga.
"Dah bacot lu item" ejeknya lagi membuat Nino sudah beneran ingin maju.
Nino emang punya kulit sawo matang khas orang jawa walau memiliki darah campuran dari ayah dan ibunya tapi tetap saja kulitnya menjadi kambing hitam saat perkelahian seperti saat ini.
"No kalem coba kalem" ucap Debi seakan menenangkan pemuda di depannya ini.
"Lu yang ngegas dari tadi ya sapi betina" balas Nino masih belum mau diam.
"No, lo tau Mahira?" ucap Debi tiba tiba sambil menoleh. "Mahira? yang duduk disamping lo?" Debi hanya mengangguk.
"Oh tau, kenapa?" tanyanya mengernyitkan kening
"Dari dulu emang sifatnya dingin gitu ya?" tanya Debi menunggu jawaban pemuda ini.
Di kelas 10 dulu memang Nino satu kelas dengan Mahira melihat secara jelas hal hal yang dilakukan teman perempuannya ke gadis itu membuatnya secara naluri ingin melindungi karna bagaimanapun Mahira ini perempuan.
Setelah satu tahun dan naik ke kelas 11 ia pisah kelas dengan Mahira membuatnya tak tau kabar gadis itu. Lalu di satukan kembali di kelas 12 membuatnya ingin melindungi gadis ini seakan Mahira adalah adiknya sendiri.
"Tapi gue ga pernah nyesel pernah tolong dia waktu dia dibully sama temen perempuan gue di kelas 10 dulu" ucapnya sambil menerawang jauh ke depan. "Kenapa emang?" tanya Debi penasaran.
☄☄☄
1/5 tahun yang lalu.
Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester, kelas 10 IPA 4 berbondong bondong untuk bertanya sana sini perihal pelajaran Kimia yang akan menjadi ujian kali ini. Tapi tidak dengan pemuda yang duduk gelisah sambil menatap tidak fokus buku di atas mejanya, pelajaran Kimia adalah salah satu kelemahan terbesarnya membuatnya lagi lagi harus meneguk ludah susah payah.
Nino Arabican nama pemuda itu yang sedari tadi gelisah sambil menatap jam di tangan berharap waktu berhenti saat ini juga.
Bel berdering nyaring menandakan ujian akan segera dimulai terdengar suara ramai teman temannya untuk saling memberi kode jawaban nanti disaat ujian membuatnya tidak bisa menutupi rasa takutnya akan pelajaran yang satu ini, tapi tidak dengan gadis di sebelahnya yang sedari tadi tenang sambil membaca buku kimia di atas mejanya seakan akan tidak terganggu akan suasana disekitarnya.
Bu Rina memasuki kelas dengan tatapan tenang namun mengintimidasi setiap orang yang melihat matanya, lalu berdiri di depan kelas dan mempersilahkan ketua kelas memimpin doa setelah itu meminta semua tas dikumpulkan di depan beserta buku kimia membuat kelas 10 IPA 4 meneguk ludah bersiap ujian kimia kali ini mendapat nilai dibawah rata rata.
Sambil membagikan lembar jawaban dan lembar soal matanya tak pernah lepas untuk melihat keadaan kelas lalu berucap dengan nada tegas "Tidak ada tengok kanan kiri, diskusi, ataupun menyontek jika saya melihat tidak segan saya akan robek kertas ulangannya, tidak peduli jika kalian harus remedial sekarang juga" membuat 10 IPA 4 lagi lagi pucat.
Nino di kursinya sudah seperti orang yang hilang arah tidak tau lagi harus bagaimana melihat soal yang ada di atas mejanya. Mendadak seperti soal di tingkatan kelas 12 tidak bisa ia jawab sama sekali.
Waktu tersisa 20 menit lagi..
Tapi di lembar jawabannya hanya ada beberapa isian pilihan ganda yang ia tidak tau itu benar atau salah membuatnya pasrah. Sampai tiba tiba Bu Rina berjalan ke arah kursinya membuatnya tanpa sadar menahan napas lalu guru itu menunduk mengambil kertas yang jatuh tepat di pertengahan mejanya dan meja gadis di sebelahnya, lalu mengacungkan kertas itu di hadapannya.
"Ini punya kamu?" tanya guru itu,
"Hah..e..bu-" belum sempat menyelesaikan ucapannya gadis di sampingnya memotong "Iya bu itu punya dia, tadi jatuh pingin dia ambil cuma takutnya dikira contekan sama ibu" ucapnya dengan nada tenang.
Nino yang mendengar itu terdiam melihat gadis di sampingnya ini dengan kening berkerut samar sambil menerima kertas dari Bu Rina.
Setelah ia buka kertasnya, ternyata jawaban dari pilihan ganda bahkan sampai essay sudah tertulis rapi disana disertai ucapan terima kasih kecil di pojok bawah membuatnya sadar gadis ini sedang membalas apa yang sudah dia lakukan kemarin.
Saat dimana gadis ini terlihat pucat lantaran dibully dan dipojokkan oleh teman perempuannya di kelas lalu Nino datang mengusir perempuan perempuan itu menyuruhnya untuk tidak mengganggu gadis ini lagi.
Tidak ada ucapan terima kasih tapi hanya tatapan dingin lalu berlalu, tapi gadis itu membalasnya di kemudian hari tepatnya di ujian kimia.
Satu nama yang harus membuatnya mengucapkan beribu ribu terima kasih karna berkatnya nilai 90 ada di tangan Nino.
Mahira.
☄☄☄
Debi terdiam dengan pikirannya sendiri setelah mendengar apa yang Nino ceritakan membuatnya percaya bahwa sifat yang di tunjukkan Mahira selama ini bukanlah sifat aslinya.