
Di bagian teratas sekolah Britania seorang pemuda dengan rahang tegas serta tatapan tajamnya itu berdiri menatap gedung gedung tinggi di depan sana.
Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana abu abunya menambah kesan tampan dalam diri pemuda tersebut.
"Den.."
Pemuda itu bergeming mendengar suara panggilan dari belakangnya.
"Ayden..."
Damar meneguk ludah mendengar suara lirih itu tanpa menengok kebelakang pun ia sudah tau siapa pemilik suara ini, perlahan membalikkan tubuhnya.
Melihat gadis cantik itu mulai berjalan pelan kearahnya. Damar menatapnya sampai gadis itu berada tepat dihadapannya.
Hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan hanya suara embusan angin yang terdengar.
Sampai tiba tiba suara tangisan gadis ini mulai terdengar membuat Damar mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya. Menahan diri untuk tidak menenangkan gadis ini.
"Gue jahat banget ya?" ucap gadis itu lirih.
"Gue...semunafik itu."
Damar diam saja membiarkan gadis ini berbicara.
"Gu.. gue.. gatau.. kenapa susah banget.. lu.. lupain lo." tutur gadis itu sesenggukan.
"Seberdosa it.. itu salah gue di ma.. masa lalu, sampe Tuhan kaya ga.. ga pernah kasih gu.. gue kesempatan lagi."
"Tarik nafas. Tenang dulu" kata Damar akhirnya tak tahan juga melihat gadis ini.
Membuat gadis didepannya menurut, perlahan menarik nafas mengontrol tangisannya yang kian lama makin deras.
"Den... gue semurah ini ya? masih berharap sama lo yang kenyataannya lo udah ga cinta sama gue lagi?" ucap gadis itu pelan.
"Gue selalu berusaha untuk ikhlas kalo pada akhirnya lo emang bukan sama gue, gue coba untuk benci sama lo untuk ilangin perasaan ini"
"Tapi gue ga bisa... karna pada akhirnya gue yang sakit karna harus terima kenyataan kalo semua usaha gue pada akhirnya bakal sama aja"
"Lo yang udah pergi dan ga mungkin gue raih lagi Den.."
Gadis ini menutup mulut menahan tangisan yang seakan seperti meraung raung.
"Semua udah telat." ucap Damar tegas.
"Karna kenyataannya lo sama gue udah bukan kita lagi."
"Gue udah ga cinta sama lo. Lo pantas bahagia... dan bahagia lo bukan di gue." jelas pemuda ini pelan.
Gadis di depannya kini menutup mata dengan bibir yang menggigit kencang bagian dalam bibirnya menahan raungan tangisan yang seakan kian menghantam dadanya.
Ia mencoba untuk tetap tegar tapi ternyata pertahanannya hanya sebatas gelembung yang disentuh sedikit langsung pecah.
Bahkan tadi sebelum benar benar menaiki tangga rooftop ia sudah meyakinkan dirinya untuk tidak akan pernah menangis di hadapan pemuda itu.
Tapi pertahanannya lagi lagi runtuh saat satu fakta menamparnya keras bahwa pemuda ini sudah pergi. Sudah hilang.
Suara gemuruh dilangit terdengar membuatnya seperti merasa itu adalah gambaran perasaannya saat ini.
Mendenguskan hidung dan mendongakkan wajah untuk menghalau air mata yang kini kembali ingin mengalir deras.
Bertepatan dengan sepasang manik mata pemuda ini yang masih memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan.
"Sorry. Harusnya semua ini udah selesai dari awal. Salah gue yang engga pernah selesain perasaannya dari awal." ujar gadis ini pelan.
"Sekarang gue tau. Lo cuma seseorang yang Tuhan kasih sementara buat gue. Dan gue bakal tetep bahagia walau nantinya lo bukan sama gue." kata gadis ini diam diam menggigit bibirnya berusaha menguatkan diri.
"Tapi maaf kalo pada akhirnya gue gagal. Karna berusaha menumpuk kebencian untuk lo itu sama aja dengan menutupi perasaan gue sendiri."
Damar tidak tahan melihatnya. Dalam sekali hentakan ia memeluk gadis ini membuat gadis dengan rambut tergerai itu tersentak walau tak pelak ia juga balas memeluk pemuda tegap ini.
Karna perasaannya tau ini adalah pelukan terakhir mereka.
Dalam pelukan hangat itu ia menumpahkan semuanya. Sakit serta sesak yang ia pendam selama ini dengan tangisan lirih tapi jelas sekali terluka.
Damar mengusap rambut panjang itu dengan perasaan yang bergemuruh. Merasa sangat bersalah karna telah menyembunyikan fakta ini.
Dalam pelukan Damar gadis itu berucap, "Gue sayang Mahira. Tapi gue ga munafik kalo gue masih sayang sama lo."
Damar memejamkan mata. "Sorry. Bahagia gue untuk Mahira... bukan lo lagi Debi."
Selesainya kalimat pemuda itu membuat gadis dengan rambut panjang itu seakan kembali dilempar dalam sebuah kenangan dimana pemuda ini bersikukuh padanya, bahkan sampai datang ke rumahnya untuk memohon agar hubungan mereka tidak selesai.
Tapi Debi dengan sejuta ego selangit dan melebeli diri bahwa Ldr bukanlah hubungan yang sehat, mematahkan hati pemuda ini.
Air matanya kembali luruh bersamaan dengan tetes tetes air hujan yang mulai turun.
Krek!
"Mahira!"
Damar melepaskan pelukannya begitu saja membuat Debi yang mendengar nama itu membeku.
Pemuda tegap itu berlari mengejar Mahira yang sudah menuruni tangga dengan terburu buru.
Debi meluruh jatuh ke lantai rooftop begitu saja dengan tatapan kosong menatap lantai dingin itu.
Semakin merasa hancur saat fakta kembali datang bahwa Mahira mungkin sudah dengar semuanya.
Tetes tetes air hujan dari langit semakin deras mengguyur tubuhnya yang kini terduduk dilantai dingin roftoop sore itu.
Hawa dingin disekitarnya seakan sudah menerobos masuk membuatnya tidak bisa merasakan kembali. Kehangatan yang tadi pemuda itu ciptakan nyatanya memang sudah bukan untuknya lagi. Lebih tepatnya jarak yang memang tidak pernah ingin lagi mereka bersama.
Memeluk lututnya dengan kedua tangan mengabaikan gemuruh petir dilangit, merasakan hatinya kembali remuk oleh kenyataan.
Di bawah hujan sore ini tepatnya di rooftop SMA Britania menjadi saksi bahwa Debi Anjani gadis cantik dengan segudang bakatnya telah kalah oleh perasaannya sendiri. Lebih memilih untuk hancur.
☄️☄️☄️
"Ra..."
"Mahira.."
Mahira mendengar pemuda itu terus memanggilnya tapi ia tetap berjalan seolah olah pemuda itu memang tidak ada.
"Ra berenti dulu. Ini engga seperti apa yang lo duga."
Damar mempercepat langkah kakinya mengejar gadis didepannya yang terasa dekat tapi anehnya tidak bisa ia raih.
"Ra plis.."
"Ira"
"Sebentar aja Ra plis.."
Mahira berhenti ditengah koridor yang telah sepi itu tapi tetap tidak membalikkan badannya. Kedua tangannya terkepal disisi tubuhnya menguatkan diri sendiri.
Damar mendekati gadis itu lalu berdiri di belakangnya.
"Ra ini engga seperti apa yang lo bayangin. Gue selalu pengen jujur sama lo tapi gue ga pernah nemu waktu yang pas untuk bilang ini semua." ucap Damar langsung.
Mahira perlahan membalikkan tubuh. Raut wajahnya yang tenang justru membuat Damar tau gadis ini menahan semuanya.
"Ra plis lo jangan salah paham"
"Gue bakal jelas-"
"Apa" potong Mahira langsung.
"Mau jelasin kalo selama ini kalian bohongin gue?" tanyanya tajam.
Damar menggelengkan kepala mengangkat tangan ingin menyentuh pundak gadis didepannya. Mahira menepis tangan pemuda itu kasar.
"Gue ga sudi dipegang sama lo." ucapnya datar.
Damar menarik nafas, "Ra, gue sama Debi cuma sekedar masa lalu."
"Kita udah selesai ra." tutur Damar tegas.
"Gue ga peduli." jawab Mahira dingin.
"Harusnya gue tau Mar, orang kaya lo terlalu naif untuk gue percaya." ucapnya lagi.
Damar menatap Mahira dalam membuat Mahira mengalihkan tatapannya tidak mau terbuai kembali. Damar meraih tangan gadis itu menggenggamnya walau Mahira sempat berontak tapi Damar mengeratkan genggamannya tidak ingin melepaskan.
"Denger ra. Gue ga pernah sesayang ini sama perempuan kecuali sama lo. Lo yang buat gue keluar dari rumitnya perasaan gue sendiri ra, lo yang akhirnya menjadi salah satu dermaga dimana kapal gue bakal tinggal disana." ucapnya lembut.
"Tolong.. Gue mohon dengerin dulu"
Mahira menghempaskan tangan pemuda itu. Menatapnya dingin dengan sorot mata terluka.
"Sayangnya dermaga yang lo bilang itu udah hancur akibat gelombang besar dari kapal lo sendiri." tuturnya dingin.
"Lo brengsek Damar." jelas Mahira.
Melangkahkan kakinya pergi dari sana secepatnya tidak membiarkan pemuda itu melihat air matanya yang sudah tergenang dan siap meluncur kapan saja.
Hujan lebat diluar sekolah tidak membuat Mahira berhenti, ia berlari menerobos hujan tidak peduli jika nantinya ia akan jatuh sakit.
Karna Mahira bersyukur karna hujan lebat itu bisa menyamarkan tangisannya yang kini sudah tumpah dengan hati yang mulai kembali terluka.
Dengan berlari dibawah hujan ia bisa sedikit menekan kecewa didadanya yang sejak tadi ia tahan. Kecewa dimana dari dulu semuanya seakan tidak pernah memberinya sedikit kebahagiaan untuk tersenyum.
Termasuk sahabatnya sendiri.