MAHIRA

MAHIRA
bab 23 | Mungkin Bertambah



Di dunia ini ada 3 hal yang Mahira suka. Pertama novel, kedua kopi dan ketiga hujan. Tapi ia merasa selain 3 hal tersebut ada satu hal yang sekarang menjadi salah satu kesukaannya juga. Yaitu, senyum Damar.


Entah sejak kapan ia mulai suka dengan senyum pemuda itu, lesung pipinya membuat Mahira betah berlama lama jika harus memandang senyum manis itu.


Ditambah dengan detak jantungnya yang selalu melebihi batas normal membuat Mahira menikmati semua itu.


Tapi seperti ada yang mengganjal, entah apa..


Mahira memikirkan kembali ucapan Debi kala itu di taman belakang sekolah. Sudah saatnya ia keluar dari ketakutannya sendiri, mencoba untuk melawan semuanya tapi ia benar benar takut.


Broken home membuatnya menjadi seperti ini.


Tertutup.


Dan yang paling ia sadari ia benar benar takut ditinggal. Kesibukan kedua orangtuanya yang bahkan tidak pernah ada waktu dengannya, membuatnya sadar jika merasakan ketakutan besar jika ditinggal oleh orang yang ia sayang.


"Hei, ngelamun aja" suara seseorang membuat Mahira terkejut dan refleks menoleh.


Damar tersenyum mendudukkan dirinya disebelah gadis itu.


Rooftop seperti biasa sepi membuat keheningan melanda keduanya.


"Ra sorry ya," ucap Damar tiba tiba.


Mahira menoleh mengerutkan kening seakan bertanya. "Kenapa?"


"Lo inget waktu lo kecipratan genangan air di hari pertama masuk sekolah?" kata Damar.


"Inget." jawab Mahira.


"Itu gue Ra, motor besar hitam" balas Damar sedikit malu.


Mahira menyipitkan matanya menatap sinis pemuda ini. Pantas saja ia seperti familiar dengan motor itu.


Damar menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu meringis merasa bersalah.


"Gue buru buru banget soalnya, kan gue murid pindahan masa telat sih" tutur pemuda itu, "Sekali lagi maaf ya udah ngebuat baju lo kotor, sebenernya gue mau minta maaf pas gue nabrak lo di depan toilet waktu itu" jelas Damar.


Mahira mengingat kembali, ketika saat itu ada seorang pemuda menabraknya.


"Gapapa, udah lewat juga." sahut Mahira.


Damar bergumam saja memutar otak mencari topik kembali.


"Ra?" panggil Damar.


"Hmm.." gumam Mahira yang sekarang sudah memejamkan mata menikmati semilir angin.


Damar tersenyum begitu saja melihat wajah itu terpejam dengan senyum samar sedikit terlukis disana.


"Kalo seandainya lo dapet kesempatan besar lo bakal ambil ga?" tanya Damar masih fokus menatap wajah gadis itu.


"Seperti?" tanya Mahira masih memejamkan mata.


"Beasiswa luar negri?" jawab Damar ragu, membuat Mahira kali ini membuka mata menoleh kepada pemuda itu yang ternyata sedang menatapnya.


Detak jantungnya lagi lagi menggila mendapati Damar tidak mengalihkan tatapannya.


"Pasti gue ambil." jawab Mahira lugas.


"Kenapa?" tanya Damar.


Mahira terkekeh pelan merasa aneh dengan pertanyaan pemuda itu. "Kesempatan ga dateng dua kali." ujar Mahira.


"Walau artinya lo bakal ninggalin semuanya?" tanya Damar memancing.


"Ya." balas Mahira tegas.


"Kenapa? Lo dapet beasiswa?" tanya Mahira


Damar tidak mengangguk tapi juga tidak menggeleng, pemuda bingung karna kepastian jawabannya saja belum ia tentukan sampai sekarang.


"Untuk kehidupan lebih baik kenapa engga?" tutur Mahira pelan.


Dalam hati sedikit terganggu dengan pertanyaan pemuda itu.


☄️☄️☄️


"IZINKAN AAKUU!! UNTUK TERAKHIR KALINYAAA! SEMALAM SAJA BERSAMAMU! MENGENAANG ASMARA KITAA!" teriak Debi sudah loncat loncat seperti konser.


Membuat 12 IPA 2 sontak ikut melompat lompat juga mengikuti nyanyian gadis itu.


Sean di tempat duduk sudah menghela nafas lelah melihat teman temannya.


Pintu kelas terbuka memperlihatkan Idrus dan Edo berdiri disana dengan cengiran masing masing, ditangan mereka sudah ada kepala tengkorak serta kain panjang.


"Mau ngapain lo?" tanya Amel penasaran sambil menutup pintu setelah dua orang itu masuk.


"Nih ya lo semua harus liat," ucap Idrus kemudia memegang kepala tengkorak diatas kepala.


Selanjutnya Edo dibelakang pemuda itu menutup tubuh mereka berdua dengan kain panjang yang dibawa tadi.


"****** jadi begitu" umpat Nino saat tau.


"Barongsai kelas murah haha bodoh" ucap Hana sudah tertawa gila.


Berikutnya yang lain sibuk mengumpati kebodohan dua cowo itu.


Gimana ga gemes ya. Ini mereka mau dangdutan, lompat lompat. Tapi yang dateng beginian. Iya, barongsai.


"Yaudah lah kita jadi pengiringnya aja" ujar Adilla.


"LANJOTTT!!" teriak Beben.


"KU HANYA DIAAAMM!! MENGGENGGAM MENAHAN SEGALA KERINDUAAAAN! MEMANGGIL NAMA MUU!!" teriak Debi sudah menghayati lagu.


"DISETIAP MALAAAAM! INGIN ENGKAU DATANG DAN HADIIR DI MIMPIKUUU!" teriak Keyna sudah memegang dada seakan merana.


"RINDUUUU!!" ucap yang lain kompak.


Setelahnya pintu terbuka tiba tiba memperlihatkan Bu Rina berdiri disana dengan tatapan tajam.


Membuat Idrus dan Edo yang masih jadi barongsai itu sontak tengkurap di lantai menyembunyikan diri.


"12 IPA 2!" ucap guru itu tegas.


"Iya kami bu" jawab Aziz polos.


"Ngapa dijawab ******" bisik Nino kepada pemuda itu


"Dari tadi kalian berisik sekali! ibu yang ada di kelas IPA 4 sampai terdengar suara berisik kalian!" ucap guru itu.


"12 IPA 2! kalian adalah siswa siswi pintar, kenapa kalian berperilaku seakan akan kalian yang hanya ada disekolah ini! teriak teriak, menyetel musik."


"Kalian itu kelas IPA, salah satu kelas unggulan. Bersikap lah seakan akan kalian adalah murid IPA bukan murid lain seperti dijalanan."


"Ibu akan kasih kalian hukuman, kerjakan buku paket halaman 216 sampai 221 dikumpulkan lusa." perintah Bu Rina seakan tak mau ada bantahan.


"Sean temui ibu di ruang guru setelah pulang sekolah." setelahnya guru itu menutup pintu.


Hening seketika membuat yang lain refleks menoleh ke arah Sean dengan tatapan bersalah.


"Its okey gapapa, mending sekarang semuanya kerjain." ujar pemuda tampan itu meraih buku paketnya.


Membuat yang lain kembali ke tempat duduk ikut meraih buku paket lalu mulai mengerjakan.


Sambil sibuk menggerutu dalam hati karna guru itu.


Debi menipiskan bibir ditempat duduknya membuat Mahira yang disebelahnya menepuk pundak gadis itu.


"Bukan salah lo, salah kita semua" ucap Mahira datar lalu mulai mengerjakan soal.


☄️☄️☄️


Pulang sekolah mereka semua tidak langsung pulang menunggu Sean dari ruang guru akibat panggilan dari Bu Rina tadi.


Mereka sudah sibuk bergosip tentang guru muda yang galak itu.


Lalu tiba tiba Sean masuk kelas dengan langkah tenang membuat yang lain menghampiri pemuda itu.


"Kenapa Yan? Lo diapain?" tanya Edo langsung.


"Kita kena hukuman ya?" ucap Debi.


"Lo dimarah marahin tadi?" tanya Adilla juga.


"Kenapa sih elah ngomong dong lo, diem aje dari tadi" sahut Nino gemas.


"Gua mau ngomong, tapi lo semua ngomong mulu dari tadi." tutur Sean.


"Lah iya bener, dari tadi kita ngomong mulu" ujar Amel.


Sean menghela nafas sudah biasa menghadapi tingkah tidak jelas anak kelasnya.


"Ga di apa apain hampir diomelin tadi, cuma Bu Syana keburu dateng dan belain gue." ucap pemuda itu.


"Kok bisa tiba tiba dateng sih?" tanya Abel.


"Gatau gue juga, Bu Syana langsung aja bilang berisik itu wajar buat anak anak seumuran kita."


"Yang ga wajar tuh yang udah tua malah berisik, trus Bu Rina bilang tapi berisiknya kedengeran sampe IPA 4 kan ngeganggu gitu." ucap Sean lalu melanjutkan, "Trus Bu Syana langsung bilang 'Ibu wali kelas IPS kan, waktu itu IPS berisiknya kedengeran loh bu sampe kelas saya yang lagi ngajar di IPA 2, tapi ga saya tegur karna saya tau itu hal yang wajar' Bu Rina langsung diem aja, akhirnya dia pamit" tutur Sean panjang lebar.


"Wih gokil dah tuh wali kelas kita" sahut Hana.


"Beruntung ya dapet wali kelas kaya dia di akhir masa sekolah." ucap Nino menimpali.


"Yaudah ayo balik dah sore nih" ucap Sean memberi komando, membuat yang lain mengambil tas dan pamit satu sama lain.


Sean tersentak melihat Mahira keluar paling akhir saat ia ingin ke belakang mengambil tas buru buru ia memanggil gadis itu.


"Mahira" panggil Sean membuat Mahira menoleh.


"Balik sama siapa? Udah sore" ucap Sean.


"Sama Debi." jawab gadis itu singkat.


Sean menganggukkan kepala mengerti, sedikit kecewa karna gagal bisa mengantarkan gadis ini pulang.


"Kirain ga ada yang nganter, tadi mau gue ajak balik bareng tadinya." ucap Sean.


Mahira diam saja kemudian menganggukkan kepala dan tersenyum samar sekilas pada pemuda itu, tanda ia akan pamit.


"Hati hati Ra." tutur Sean.


Mahira menganggukkan kepala kembali, lalu benar benar berbalik badan berjalan menjauh.


Sean ditempatnya memandang punggung gadis itu sampai hilang dibelokan tangga lalu tersenyum tipis.