MAHIRA

MAHIRA
bab 34 | Hujan



"Kalo ada satu hal yang bisa ngabulin permintaan manusia lo mau minta apa ra?" tanya Debi.


"Tukar pikiran dengan orang lain."


"Dih ga seru permintaan lo. Kalo gue sih bakal minta jadi istri nya Jefri Nichol lumayan memperbaiki keturunan haha"


"Halu lo" jawab Mahira cuek.


"Lebih halu elo ya!" seru Debi.


"Tapi kenapa lo mau tukeran pikiran sama orang lain?" tanya Debi sambil menilai beberapa bunga disekitar mereka.


Jam ketiga kali ini 12 IPA 2 ditugaskan untuk mengobservasi tanaman di lingkungan sekolah dan kelompoknya merupakan teman sebangku. Hal itu yang membuat Debi langsung menjerit senang.


"Bukannya jadi orang lain itu ga enak ya? Kenapa lo mau minta hal itu?" tanya Debi kembali saat Mahira belum menjawab.


"Supaya gue ngerti gimana cara orang lain ngerasain luka dari pandangan mereka." tutur Mahira lalu kembali menulis.


"Pulang sekolah have fun yu! Itung itung me time. Mau?"


Mahira menutup mata teringat percakapan itu bersama Debi. Mengepalkan tangan berusaha menahan tangisnya sendiri.


Hujan membasahi tubuhnya tapi tidak membuat ia berhenti untuk berteduh melainkan tetap melangkah mengikuti arah kakinya yang entah akan kemana.


Ia beruntung karna hujan bisa menyamarkan air matanya yang sejak tadi sudah luruh.


Perasaan sesaknya tidak kunjung hilang sejak tadi mengingat pernyataan pernyataan jujur gadis itu. Dari awal juga ia sudah merasa ada hal yang disembunyikan gadis itu darinya tapi Mahira mencoba mengerti dan membiarkan Debi untuk berbicara sendiri.


Tapi kenyataannya seakan menamparnya keras bahwa sudah berbulan bulan ternyata mereka membohonginya. Tidak ada rasa marah dalam diri Mahira karna yang gadis itu rasakan sekarang adalah kosong bercampur dengan kekecewaannya sendiri.


Gemuruh dilangit mulai terdengar lebih keras dari sebelumnya membuat Mahira berhenti sejenak di pinggir jalan yang kini kosong oleh kendaraan. Mendongakkan kepala ke atas membiarkan air hujan langsung menimpa wajahnya.


Membiarkan hujan deras itu membasahi membuat perasaannya kian tidak menentu.


Dari awal Mahira tidak pernah menyangka jika kenyataan ini yang akan ia dapat. Kenyataan yang seakan menamparnya bahwa selama ini ia tidak mengenal Debi. Sahabatnya sendiri.


Tidak tau bagaimana ceritanya ia pergi ke rooftop sambil membawa sekaleng kopi berharap tempat dan minuman tersebut membuat perasaan membaik. Tapi rentetan pernyataan pernyataan jujur yang terdengar dari seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya membuatnya terdiam bagai patung dan mati rasa detik itu juga.


Ia hanya ingin menjalankan kehidupan masa SMA nya dengan prinsip yang dari dulu ia pegang yaitu tidak percaya dengan siapapun. Itu mengapa Mahira begitu menutup diri dengan sekitarnya.


Tapi perkenalannya dengan Debi dan pertemuannya secara tidak sengaja dengan Damar membuat prinsip yang dari dulu ia pegang berubah begitu saja.


Tentang Debi yang sering mengajaknya berbaur, bersosialisasi, mengakrabkan diri dengan dunia diluar kelasnya membuat Mahira sedikit lebih terbuka walau tetap saja masih ada yang menyindirnya secara terang terangan.


Lalu Damar dengan segala sikap menyebalkan pemuda itu tapi dilain sisi bisa berubah menjadi pemuda manis membuat Mahira bisa merasakan perasaan berbeda beda saat bersama pemuda manis itu.


Tapi lagi lagi semesta seakan tak pernah mau memberinya sedikit ruang untuk bisa merasakan kebahagiaan, bahkan dalam waktu yang hampir bersamaan Mahira kehilangan semuanya.


Rasa kecewa kepada Ayahnya, Debi, maupun Damar membuatnya tertawa miris. Bahwa selama ini ternyata ia hidup di dalam kebohongan.


Suara klakson motor menyadarkannya membuat Mahira menoleh melihat seseorang mendekat.


"Ra lo ngapain hujan hujanan gini?" tanya Sean turun dari motornya.


Itu ketua kelasnya.


Mahira menggeleng. Tidak menjawab.


"Ayo balik gue anter."


Refleks Sean meraih tangan Mahira menahannya. Lalu menatap dalam kedua bola matanya membuat Mahira mengangkat alis.


"Gue anter lo balik. Ayo" tutur Sean.


"Gue bi-"


"Bentar lagi ujian. Lo mau sakit?"


"Gue anter. Ayo naik." tegas Sean seakan tak mau dibantah.


Mahira menghela nafas menuruti pemuda ini. Membuat Damar menuntun Mahira ke motornya lalu mengulurkan tangan membantu gadis ini naik.


"Sorry ya gue ga bawa jaket."


Mahira menggumam karna ia juga sudah terlanjur basah.


"Pegangan ra. Nanti jatuh." ujar Sean lalu menutup helmnya.


Gue udah jatuh.


Mahira berpegangan pada tas pemuda ini setelah memastikan Mahira sudah berpegangan Sean mulai menjalankan kendaraannya.


Motor besar dengan warna biru tua itu pergi meninggalkan seorang pemuda yang menatap keduanya dengan tatapan gamang.


Itu Damar. Sejak tadi pemuda itu menjalankan motornya dibelakang Mahira seakan menjaga gadis itu dari belakang. Sengaja memberi waktu Mahira untuk sendiri.


☄️☄️☄️


Selama perjalanan tadi Mahira hanya melamun menatap jalanan dengan satu tangan memegang tas Sean.


Sampai akhirnya perjalanan yang begitu lama itu berakhir. Mahira turun dari motor dengan berpegangan pada bahu tegap Sean.


"Thanks." ucapnya tersenyum tipis.


"Nanti langsung mandi abis itu makan dan istirahat. Gue gamau ya anggota gue ada yang ga bisa ikut ujian karna sakit" jawab Sean iseng.


Mahira tersenyum tipis tidak berniat menanggapi candaan pemuda ini.


Sean tersenyum lalu memperhatikan sejenak gadis ini.


Gadis yang mencuri perhatiannya sejak awal sekolah. Tapi ia yang tak pernah berani maju dan akhirnya hanya bisa memperhatikan dari jauh. Melihat bagaimana kuatnya gadis ini saat disindir ataupun dicemooh membuat Sean seakan ingin melindungi. Tapi ia yang begitu takut untuk mencoba maju sampai akhirnya ada murid baru yang dengan lugasnya maju mendekati Mahira begitu saja.


"Ngapain bengong?" tanya Mahira bingung.


Sean mengerjab pelan lalu tersenyum. "Yaudah gue balik ya."


Mahira menganggukkan kepala pelan. "Hati hati."


Menyalakan motornya bersiap pergi tapi sebelum benar benar pergi ia menyempatkan diri menoleh kembali, "Kalo ada apa apa lo boleh cerita ke gue ra. Kadang lo ga pernah sadar ada orang yang bener peduli sama lo karna terlalu fokus dengan apa yang mengejar lo."


Sean tersenyum. "Duluan ya."


Mahira mengerutkan kening menatap pemuda itu yang melajukan motornya sampai hilang dari pandangannya.


Menggelengkan kepala tidak mau memikirkan hal hal yang lain.