
Hari ini akhirnya tiba. Hari dimana seluruh murid kelas 12 SMA Britania melaksanakan ujian akhir sekolah. Hari dimana penentuan perjuangan mereka selama 3 tahun. Mahira kini berada di depan mading sekolah bersama teman teman kelasnya sedang melihat dimana ruang ujian mereka. Dan lagi lagi sepertinya ia harus mengelus dada karna kembali satu ruangan dengan Beben, Nino serta...
Debi.
Walau ia tau kursi mereka akan berjauhan tapi rasanya akan terasa canggung pasti.
"Anjeng! Napa gua ga seruangan lagi sama Mahira?!" sewot Hana. Gadis itu menoleh lalu menatap datar ketiga temannya sudah menaik naikkan alis bangga. "Pucek" ucap gadis itu datar.
"Lo bertiga bukan temen gua. Musuhan nying" ucap Adilla membalikkan badan dari mading. Gadis heboh itu juga kesal.
Reva tertawa lalu merangkul gadis itu, "Sabar sabar bos, biasanya yang begitu ntar kaga lulus."
"Sembarangan anjing" refleks Debi kasar.
"Diem kek diem, gila anjer gua deg degan parah" seru Nino.
"Sama woy gua juga, tadi pagi gua dah dijampe jampe sama mak gua katanya 'awas lo ye kaga lulus gue penggal pala lo' gitu sialan." jawab Beben ikut heboh.
"Heh! Kualat lo sama mak lo, gak lulus ujian tau rasa lu" sahut Edo.
"Eh beda ya tadi nyokap gue bilang gini 'Yang bener lu ye ujiannya kalo kaga lulus langsung kawin aja dah' gitu coba" sambar Adilla sambil memperaktikan.
"Yaudah lu ga usah lulus aja biar nikah sama gue." jawab Idrus santai. Adilla yang mendengar itu melotot lalu maju mendorong pemuda itu keras.
"Tapi gapapa lu nikah sama Idrus, ntar gue sama Keyna. Ya ga Key?" ucap Nino tengil.
"Lo mau gua terjang trus masuk ke parit?" jawab Keyna santai.
"****** masuk parit" kekeh Edo.
"Gapapa woy! Ntar lu sama Idrus, Dil. Ntar Nino sama Keyna, Edo sama Debi, trus gue sama Mahira." ujar Beben.
"Nanti masuk tv jadi acara Tetangga Masa Gitu." sambung Hana
"Iya! Ntar kalo malem takbiran yang gendang si Edo sama Nino, trus yang nyanyi Debi sama Adilla." ucap Abel ikutan.
"Lo diem aja deh juragan sendal."
Abel melotot lalu maju menghantam Edo sampai terjatuh ke belakang dengan alaynya.
Fyi itu karna tiap hari gadis itu selalu membawa sendal ke sekolah dan selalu berganti ganti warna tiap harinya.
Debi menghela nafas melirik sinis teman temannya yang sudah kumat jika sedang bersatu seperti ini.
Sean menghela nafas berat, "Bacot lu semua. Ayo masuk ruangan." suara Sean terdengar membuat IPA 2 berhenti mengoceh lalu saling melambai dan pergi ke ruangan masing masing.
"Ayo woy peliharaan gua! Masuk kandang semua." teriak Beben membuat orang orang menoleh. Debi menggeram lalu menarik pemuda itu berjalan ke ruangan mereka. Diikuti Nino dan Mahira dibelakangnya.
☄☄☄
"Parah bener ini soal, baru hari pertama juga." ucap Beben dibangkunya membuat Debi menoleh.
Ujian pertama mereka selesai, dan diperbolehkan pulang tapi 4 orang ini masih setia duduk di kursi belum mau beranjak.
"Padahal bahasa Indonesia tapi gue merasa lagi baca ensiklopedia." sambung Debi memutar bola mata.
"Tadi ada soal cerita, yang dongeng tuh. Lu pada dapet kaga?" tanya Nino ikut menoleh.
"Dapet gua! Napa emang?" jawab Debi.
"Trus lu jawab apa?" tanya Nino kembali
"Cinderella."
"Si anjing gua jawab frozen." ujar Nino
Mahira yang diam sambil membaca buku itu mengumpat.
"**** bener dah ini orang" ujar Beben geleng geleng. Debi tergelak lalu menoyor kepala Nino begitu saja.
"Diem anjer diem, malu gua sama yang pinter." ucap Nino menaruh telunjuk di depan bibir.
"Yeee Mahira juga tau gimana bobroknya elu." sahut Beben. Lalu menoleh ke arah serong kanan belakangnya dimana kursi ujian Mahira. Kembali menoleh melihat Nino lalu Debi yang kini memainkan ponsel.
Hening tiba tiba. Sampai suara tertawa ngakak seseorang dari ponsel Debi terdengar membuat Beben terlonjak setengah mati.
"Busett sape tuh, ngagetin bener." ucap Nino mengelus dada.
"Si itu ya yang lagi viral. Si pentol."
"Kekeyi anj-" jawab Beben tidak tahan. "Gua baprak lu ya Deb, ngagetin aja!"
"**** dasar" jawab Debi santai lalu tertawa.
"NGAJAK GELUT LU!"
"NAPA SIH SANTAY AJA DONG!" jawab Debi ngegas.
"YA LU ELU DEB, NGAJAK TAWURAN MULU"
"INI NGAJAK BACOT PLIS BUKAN TAWURAN" ucap Debi menjitak kepala pemuda Lampung itu.
"Woy" suara dari arah pintu membuat mereka berhenti lalu menoleh melihat Sean sudah berada di ambang pintu menatap mereka datar. Lalu muncul kepala Hana serta Adilla yang ternyata ikut juga.
"Woy ma brader!" sapa Beben.
"Ettt bos, ngapain nih kesini sini. Jauh Yan dari ruang 8 ke 3." ucap Nino cengengesan.
Sean memasuki kelas itu lalu menyerobot Debi dan Beben yang masih berdiri berhadapan membuat kedua orang itu jatuh ke kursi.
"Ayo balik Ra" ucap Sean berdiri di samping meja Mahira.
"Aiguuu"
"Settt sett settt seeeettttttt"
"Mantap ini, gue suka neh!"
"Berasa nonton Kim Tan sama Cha Eun Sang euyy"
"Maju boss"
"Bensin full tangki nih ye"
Sean menoleh ke belakang lalu melotot menyuruh diam karna hebohnya mereka kini sudah ramai memenuhi kelas yang isinya mereka saja.
"Berisik. Ntar Mahiranya gamau." ucap Sean.
Setelah kalimat itu membuat sorakan tambah ramai menyoraki Sean yang kini menatap Mahira tenang.
"Ga usah Yan, gue bisa sendiri." jawab Mahira yang sejak tadi diam.
"Yah ditolak Yan."
"Emang Mahira mah maunya sama gue doang Yan, sori nih." ucap Beben cengengesan.
Debi yang melihat itu menipiskan bibir.
"Bjir berasa nonton Rio sama Kekeyi." celetuk Hana polos.
Debi membelalak, Nino mengumpat, Beben menoleh horror serta Adilla yang mengelus dada sabar.
"Emang mau mati ya lu Na, dari tadi pagi?!"
Sang empunya hanya cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
Sean menghembuskan napas lelah, sudah biasa. Sampai ia menoleh kembali ke Mahira.
"Ayo cepet, kalo kelamaan makin jadi sama mereka." ucap pemuda tampan itu. Mahira menarik nafas lalu mengemaskan barang, menurut.
"Siap nih tuan putri udah ready, tinggal cus ke pelaminan." ucap Beben kembali menyampah.
Sean membalikkan tubuh tak lupa untuk menoyor Beben dan Nino membuat kedua cowo itu mengumpat, mereka melewati gerombolan rusuh itu.
"Eanjir langsung balik lu, temen gua jagain." ucap Adilla.
"Ntar." sahut Sean singkat.
"Lah, mau mana?" tanya Nino bingung.
"Makan pentol." jawab Sean lalu menarik Mahira.
"*******." Nino mengelus dada sabar.
☄☄☄
"Dah ya" pamit Mahira lalu melangkah duluan.
"Lahh? Mau mana?" tanya Sean bingung.
"Pulang" jawab Mahira polos.
"He? Kan sama gua"
"He.. emang beneran?" tanya Mahira mengerutkan kening.
Sean tersenyum sabar lalu berjalan ke arah Mahira. "Ya bener dong, Ra"
"Ayo dah" ajak Sean kembali. Mahira kini menurut melangkah bersisian dengan pemuda tampan ini.
Sean kembali melirik Mahira yang berjalan tenang disampingnya membuat pemuda itu greget sendiri.
"Apa" tanya Mahira datar lalu menoleh. Sean mengerjapkan mata, salting.
"Emm.. lo cantik" ucap pemuda itu.
Mahira menoleh, lalu memutar bola mata "Garing lo" ucapnya datar. Lalu berjalan meninggalkan Sean yang kembali tersenyum sabar.
"He tungguin." ucapnya lalu menyusul.
"Mahira" panggilan dari belakang membuat kedua orang itu menoleh, mendapati Damar berdiri disana.
Damar maju lalu melirik sekilas pemuda disamping Mahira yang juga menoleh. "Pulang sama siapa?" tanya Damar.
Mahira mengalihkan wajah merasa panas sendiri karna ditatap dalam oleh pemuda manis ini.
Sean yang tak merasa Mahira akan menjawab akhirnya buka suara, "Sama gue."
Damar menoleh lalu memperhatikan pemuda ini, sedangkan Sean yang ditatap seperti itu berusaha mengendalikan diri.
"Lo siapa?" tanya Damar buka suara.
"Ahh.. gue Sean. Ketua kelas Mahira" ucap Sean memperkenalkan diri.
"Damar," ucap Damar menggantung lalu melirik Mahira.
"Calon pacarnya." lanjut pemuda itu mengarahkan dagu ke Mahira yang sejak tadi diam.
Mahira tersentak begitu juga dengan Sean yang kini menatap datar. Sean menoleh, "Pacar lo?"
"Bukan." jawab Mahira dingin.
Sean tertawa kecil membuat Damar makin menajamkan mata melihat itu.
"Ayo Ra" ajak Sean kembali.
"Lo ga liat ada gue disini?" tanya Damar. Sean membalikkan tubuh lalu mengangkat alis.
Damar maju lalu berhadapan dengan Sean, menatap lurus pemuda itu, "Lo ga boleh sembarangan ajak cewe pulang"
"Kenapa? Lo siapa emang?" tanya Sean datar.
"Gue udah bilang, gue calon pacarnya." jawab Damar santai tapi rahang pemuda itu mengeras.
"Bahkan lo ga pantes untuk larang dia balik sama siapapun." sahut Sean dingin.
Mahira meneguk ludah melirik keadaan yang masih terdapat beberapa orang membuat mereka bertiga jadi pusat perhatian.
Damar tertawa sinis, "Siapapun yang lo maksud itu, nyatanya selalu ada disaat dia lagi merasa ga punya siapapun" jawab Damar telak.
"Harusnya gue yang nanya sama lo. Lo siapa?" tanya Damar kembali menantang.
Sean menatap tajam Damar, pemuda itu menggertakkan gigi menahan emosi.
"Gue? Gue orang yang ga pernah bohong untuk bilang sayang sama seseorang yang kenyataannya dia adalah sahabat dari masa lalu lo sendiri." jelas Sean tajam.
Mahira tersentak.
Damar mengeraskan rahang lalu maju mencengkram kerah seragam Sean membuat Mahira terlonjak.
"Lo gatau apa apa anjing" ucap Damar pelan sarat akan emosi tertahan disana.
Mahira yang merasa benar benar menjadi pusat perhatian akhirnya maju ketengah tengah kedua pemuda jangkung itu. Memisahkan, menatap tajam mereka yang kini saling melempar tatapan menusuk.
"Apa apaan sih lo berdua? Malu maluin tau ga?" ujar Mahira tajam.
Damar menghembuskan nafas mencoba meredam emosinya disana, ia menoleh melihat sekeliling yang kini menatap mereka bertiga terang terangan.
"Bubar lo semua." tegas pemuda itu membuat mereka menurut menyisakan ketiga orang ini yang kembali diam.
Sean berdehem menatap kembali Damar yang masih menatapnya tajam.
"Lo ga usah merasa paling dewa disini, lo sama gue sama. Belum ada yang dapetin hatinya." ucap Sean pelan. Melirik Mahira yang kini sudah mundur.
"Lo salah. Lo itu orang luar. Dan lo gatau apa yang udah kita lewatin sama sama." jawab Damar kembali membalas. Kali ini Sean yang terdiam.
Pemuda tampan itu merasa kembali ragu karna memang ini salahnya yang tidak pernah mau mencoba sampai akhirnya gadis itu bersama yang lain. Walau memang Mahira belum dimiliki siapapun tapi jika dibanding Damar, jelas Sean kalah telak oleh anak baru ini.
Sean kembali maju mendekat membuat Mahira melotot lalu kembali ke tengah tengah kedua pemuda jangkung itu, mendorong mereka menjauh.
"Cari mati ya lo berdua?!" sentak gadis itu kesal. Lalu melangkah meninggalkan kedua pemuda itu.
Refleks Damar meraih tangan kanan Mahira begitupun dengan Sean yang menarik tangan kiri Mahira membuat kedua pemuda itu kembali saling memandang dengan tatapan kesal.
"Balik sama gue Ra" ucap Damar menarik tangan Mahira ke sisinya.
Sean yang melihat itu merasa tak terima, "Ayo Ra, tadi kan lo mau balik sama gue." ujar Sean gantian menarik Mahira ke sisinya.
"Lo bakal aman sama gue Ra, gue jajanin es kopi." ucap Damar menarik kembali Mahira sambil menatap tajam Sean.
Sean memicingkan mata "Gue bukan penjahat Ra, gue bisa beliin lo kopi se-indomaret. Ayo Ra" ajaknya kembali.
"Apaan lo? Lo kata Rafathar beli es krim sekalian pabriknya." kata Damar sewot.
"Mending lu beli pentol sono"
"Ngapain? Lu kata gue mau cosplay jadi kekeyi?!" sahut Sean ikut sewot.
Mahira yang sejak tadi menahan diri karna sudah ditarik tarik itu, melepaskan kedua tangannya membuat kedua pemuda itu yang sedang debat tersentak.
"Mending lu berdua ke rumah kekeyi, minta ajarin bikin pentol." ujar Mahira datar lalu dengan masa bodoh berbalik badan melangkah.
Kedua pemuda itu ternganga, lalu kembali melangkah bersama menyusul Mahira.
Sedangkan Mahira yang mendengar langkah kaki mereka dengan wajah dingin berbalik arah lalu mengangkat satu tangan menyuruh kedua pemuda itu berhenti. Bagai anak anjing mereka dengan kompak berhenti.
"Ga usah ikutin gue" ucap gadis itu datar.
"Lah? Ra, kan tadi mau balik sama gue" protes Sean.
"Mending sama gue kan Ra? Aman.." ucap Damar.
"Apaan sih lo nyerobot mulu dari tadi" sewot Sean menoleh.
"Dih geer bener lu, ngapain gue nyerobot lu. Yang ada penyok badan gua." jawab Damar tengil.
"Lu kata gue hulk?! Kenceng bener keknya tenaga gua" sahut Sean semakin jadi.
"Nah tuh tau jadi minggir lu"
"Apaan sih orang gua duluan yang ngajak dia balik bareng."
"Kalo Mah-"
"Diem." potong Mahira tidak tahan. Ia menatap kedua pemuda itu yang kini sudah mengatupkan bibir masing masing.
"Gue gamau balik sama lo berdua" putus Mahira.
"Trus sama siapa?" tanya kedua pemuda itu serempak lalu saling menatap dan membuang muka.
"Terbang." jawab Mahira datar. "Kalo sampe lo berdua ngikutin, gue gamau ngomong sama kalian." ancamnya. Ketika melihat kedua pemuda itu yang akan kembali melangkah.
Mahira berbalik badan, berlari kecil ke halte yang kebetulan bus sudah ada disana.
Kedua pemuda itu memperlihatkan lalu menghela nafas dan menoleh dengan tatapan sinis satu sama lain.
"Sono lu beli pentol sekalian sama kekeyinya" sewot Damar lalu melangkah meninggalkan Sean ke arah parkiran.
Sean yang mendengar itu hanya memutar bole mata kesal.