
Mahira sampai di kelas dengan wajah lusuh serta baju yang masih terdapat noda coklat namun ia tak peduli, mengedarkan pandangannya untuk mencari kursi kosong dan satu satunya kursi yang masih tersisa ada di bagian belakang paling pojok, tanpa peduli tatapan orang orang yang melihatnya seperti makhluk aneh turun dari angkasa.
Langsung saja ia menuju kursi dibagian belakang dan duduk disana dengan tatapan dingin seakan akan enggan untuk berada disini. Lagipula untuk apa punya teman? ia sudah biasa melakukan semuanya sendirian 'karna dari dulu memang tidak ada yang pernah bisa peduli.'
Jam menunjukkan pukul 7 lewat tapi bel tidak kunjung berdering membuatnya mengernyitkan kening dan tersadar bahwa hari ini adalah kelas bebas. Memang di setiap awal semester baru atau selepas libur kenaikan kelas. Sekolahnya SMA Britania akan membebaskan kegiatan belajar selama seminggu full, mungkin hanya wali kelas yang baru saja yang akan masuk selebihnya bebas.
Mahira yang enggan untuk berkenalan atau sekedar menyapa teman barunya itu hanya duduk diam di kursinya sambil mendengarkan musik dari earphone dan novel yang selalu dibawa kemanapun.
'Bosan' tiba tiba terbersit kata kata itu di benaknya, sebenarnya bukan ini yang dia inginkan bukan tatapan sinis dari orang orang, bukan tatapan merendahkan dari teman sekolah juga, tatapan tidak peduli dari orang terdekatnya ia hanya ingin hidup tanpa memiliki masalah dengan orang lain tapi, memang sebagian orang hanya bisa menilai dari mendengar bukan dari apa yang mereka cari tau.
Tapi jauh di dalam hatinya ia hanya ingin punya teman seperti yang lain.
☄☄☄
Suara berisik yang datang tiba tiba membuatnya mendecak dan mengangkat kepala melihat seorang gadis cantik putih memasuki kelas dengan senyum lebar memandangi sekitarnya, "Wah mantep juga kelas gue" ucapnya yang masih terdengar sampai ke telinga Mahira ia mendengus karna merasa aneh dengan perempuan itu.
"Halo everybadehh! halo teman teman baru!" teriaknya dengan nada riang sambil menyapa yang lain. "Ngapain ***** gua sekelas sama lu lagi" ucap perempuan yang duduk di kursi kedua dari depan "He parijem gue juga ogah ya sekelas sama lo lagi" jawabnya sambil menjulingkan mata kepada teman sekelasnya di kelas 11.
Perempuan itu hanya mendelik dan mengacungkan tinjunya bersiap perang. Hana Fariza awal masuk kelas 11 memperkenalkan diri dengan nama Hana tapi salah satu temannya memanggil dengan nama belakang yaitu Parija dan diplesetin jadi Parijem.
"Berisik lu dateng dateng kaya petasan" celetuk laki laki berambut cepak yang duduk di tengah, "Iya makasih do makasih" sahut perempuan itu masih riang, yang disahuti malah mendelik seakan akan sudah biasa menghadapi gadis ini.
"Eh iya kenalin gue Debi. Debi Anjani" ucapnya masih riang memperkenalkan diri di depan kelas dengan semangat, "Gue Adilla" sahut perempuan yang duduk di bangku kedua dari belakang sambil tersenyum jenaka "Gue Dania" ucap perempuan yang lain ikut memperkenalkan diri. "Gue dong gue Reva," sahutnya juga bahkan sampai mengangkat tangan agar terlihat "Ikutan sinetron anak jalanan lu ya?" ledek laki laki yang bersender di pintu kelas, yang diledek hanya mendelik dan mengancam ingin melempar sepatunya.
"Lo gue lempar ya yan" Sean namanya hanya tertawa tanpa merasa bersalah.
"Eh eh ini ngapain deh gue berdiri di depan kelas kaya Nino yang lagi dihukum Pak Maman" ucapnya tertawa sendiri mengingat Nino teman kelasnya di kelas 11 yang sekarang satu kelas lagi dengannya dihukum berdiri di depan kelas karna ketauan terlambat.
"He ga usah buka aib gue lo disini" sahutnya yang ternyata mendengar apa yang Debi ucapkan lalu menolah sambil melotot mengancam.
"Belajar yang bener woy maen maen mulu dah idup lu pantes hati juga dimainin" sahut Nino sambil menoyor kepala perempuan itu lalu berlalu keluar kelas dengan santai "Gue sumpahin kejebur got lo!" teriaknya sebal.
Melangkahkan kakinya ke bangku belakang dan masih sempat menyapa teman teman barunya itu. Sampai di belakang, "Misi gue boleh duduk disini?" tanyanya dengan kalem berbeda dengan beberapa menit yang lalu.
Perempuan itu tidak menoleh hanya mengangguk tanpa mengucap satu katapun membuatnya deg degan karna merasakan hawa dingin dari teman sebangkunya ini. Tapi cepat cepat ia mengusir pikiran itu dan berniat kenalan "Haii" sapanya riang, perempuan itu hanya diam sambil mengangkat alis, tidak mendapat respon ia kembali melanjutkan, "Gue Debi. Debi Anjani"
"Gue tau" jawabnya singkat.
"Loh tau darimana gue kan belum kenalan sama lo" ujarnya mengerutkan kening.
Perempuan di sampingnya ini hanya menggerakan dagunya ke arah depan papan tulis seakan memberi kode. "Oiya tadi gue perkenalan semangat banget ya," ucapnya merutuki diri sambil meringis malu.
"Jadi nama lo siapa?" ucapnya lagi, "Ira" jawab perempuan itu singkat.
Perempuan itu kembali diam menunduk kembali membaca novel sambil mendengarkan dari earphone yang menyumbat telinganya entah apa yang didengarnya.
Debi yang duduk disampingnya memperhatikan perempuan ini dengan aneh "Lo dengerin apa sih Ra?" tanyanya lagi membuat perempuan bernama Ira itu menoleh, "Lagu."
"Lagu kan banyak ra ada lagu lagu galau trus dangdut ada lagi tuh lagu yang nge rock gitu" jelasnya sambil menatap perempuan itu lagi, lalu kembali melanjutkan "Nama lo Ira aja atau ada yang lain gitu?" ucapnya masih tak mau berhenti.
"Mahira" lagi perempuan itu menjawab dengan singkat, "Nama lo bagus" Mahira hanya diam untuk menanggapinya kembali ingin melanjutkan kegiatannya tapi lagi lagi, "Eh lo suka baca?" Mahira hanya diam berusaha fokus untuk membaca, "Lo ngoleksi novel kan pasti? gue boleh pinjem ga? atau kalo lo gamau berat gue mau kok ma-"
"Lo bisa diem? berisik tau ga" potong Mahira dingin karna sudah tak tahan dengan perempuan ini.
Cepat cepat mengambil hp dan novel lalu berlalu keluar kelas dengan tidak peduli meninggalkan tatapan penghuni kelas yang menatapnya penuh tanya serta Debi yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.