
Debi mengangkat tangan meregangkan ototnya yang terasa kaku sejak tadi. Debi Anjani memang tidak bisa disebut sebagai siswi pintar, tapi termasuk kedalam siswi aktif yang berbakat dalam hampir segala bidang non akademik.
Atau dengan kata lain gadis itu pintarnya spontan.
Sama seperti tadi saat mengerjakan Utbk. Ia sibuk menulis dan menghitung berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakannya.
Mahira yang berbeda beberapa kursi dari gadis itu juga menyenderkan punggungnya ke kursi sedikit lega karna berhasil menyelesaikan Utbk semaksimal mungkin.
Berbeda lagi dengan kedua teman laki lakinya, Nino dan Beben yang saat ini sudah memasang wajah nelangsa.
Debi bangkit lalu menghampiri Mahira untuk kembali ke kelas setelahnya menarik Beben dan Nino yang sekarang mengulet ngulet malas.
Mereka berempat keluar dari ruangan Utbk dimana empat hari sebelumnya mereka berjuang untuk mengerjakan soal semaksimal mungkin.
☄️☄️☄️
"GUA STRESS!!" seru Nino saat memasuki kelas.
"GUA JUGA!" Nino menoleh, tatapannya berbinar begitu saja ternyata ia tidak sendiri.
Sean maju ke depan mengintrupsi yang lain membuat mereka fokus siap mendengarkan.
"Oke ga usah basa basi, gue bangga kalian udah mengerjakan soal dengan semaksimal mungkin."
"Gue cuma pengen bilang Unbk tinggal menghitung hari dan gue mohon sama kalian untuk benar benar belajar sebaik mungkin, buktikan ke mereka yang memandang IPA 2 sebagai kelas IPA paling rendah untuk bisa mendapat nilai tertinggi di angkatan."
"Gue yakin kita bisa!" ucap pemuda itu tegas mengeluarkan jiwa pemimpinnya.
Membuat mereka bertepuk tangan heboh meyakinkan diri bahwa mereka tidak serendah itu.
Debi pamit pulang lebih dulu kepada Mahira dan yang lainnya karna benar benar lelah.
Membuat ia buru buru ke arah parkiran dan masuk ke mobil bersiap pergi dengan hati yang seakan kembali retak.
☄️☄️☄️
Kamar dengan dominan warna pink biru itu serta aroma buah jeruk menguar saat sang empu membuka pintu kamar.
Menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang begitu saja menikmati nyamannya keadaan kamar yang mulai terasa dingin. Ia benar benar lelah setelah empat hari kemarin berjuang untuk Utbk.
Debi berguling ke kanan memeluk guling, merangkak ke arah meja belajar disamping ingin meraih laptop disana, bertepatan saat ia menarik laptop itu selembar foto polarid jatuh ke atas wajahnya.
Ini fotonya bersama dengan seorang pemuda manis yang telah ia coret mukanya, bersama sama tertawa bahagia sambil menunjukkan gigi masing masing.
Debi tersenyum sendu masih teringat dimana ia harus membujuk setengah mati pemuda ini untuk berfoto bersama.
Suara telfon berdering tiba tiba mengagetkan Debi yang tengah memperhatikan foto itu lalu merangkak kembali meraih ponselnya.
Mengernyitkan kening mendapati nomer tidak dikenal menelfonnya.
Sebenarnya ragu tapi ada bagian dari perasaan gadis itu yang menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo"
"Debi kan?" tanya seseorang langsung diseberang. Sepertinya laki laki.
"Iya, ini siapa?" tanya Debi merasa asing.
Hening diseberang.
"Halo... siapa sih gue tutup nih" ancam Debi lagi mulai geram.
"Gue Bintang." ucap seseorang diseberang.
"Lah jauh dong" jawab Debi meracau.
Tidak sadar seseorang diseberang sudah ingin tertawa mengingat bagaimana gadis ini disekolah memiliki selera humor yang rendah.
"Bintang siapa ya? gue ga kenal" kata Debi kembali fokus.
"Lo ga perlu tau gue siapa" jawabnya singkat.
"Yaudah lah gue juga ga minat, ada apa lo nelfon gue?" tanya Debi tidak peduli.
"Selesaiin apa yang harus lo selesaiin, waktu ga akan pernah nunggu lo lagi kalo lo terus nunda ini semua. Disini bukan cuma lo yang bakal terluka, ada dua hati lain yang ikut terlibat. Terutama Mahira." jelas pemuda itu.
Telfon mati begitu saja. Menyisakan Debi yang terdiam akan penjelasan pemuda bernama Bintang itu.
Mahira?
Debi meraih foto polaroid itu memandangnya dalam diam, meyakinkan diri sendiri bahwa ia sudah yakin dan menerima apapun resikonya.
Termasuk mengorbankan perasaannya sendiri.
☄️☄️☄️
Lama Debi tiduran diambal berbulu kamarnya, bolak balik melihat nama kontak pemuda itu lalu menaruh ponselnya kembali. Begitu terus berulang ulang.
Teringat kembali saat Mahira bercerita tentang pemuda bernama Damar itu yang menelfon, melihat samar rona merah tercetak dipipi tembam gadis itu membuat Debi bisa menyimpulkan sendiri.
Bahwa Mahira memang sudah jatuh tapi berusaha mengelak.
Mengangkat kembali ponselnya lalu melihat wallpapernya sedang bersama Mahira di sekolah. Foto mereka berdua saat classmeeting. Sama sama menunjukkan senyum termanis mereka dengan Debi yang merangkul pundak Mahira.
Di rambut mereka terdapat jepitan kecil lucu dengan jepitan Mahira bergambar kopi dan jepitan Debi bergambar susu. Itu jepitan kembar yang Debi beli saat mereka tidak sengaja berjalan jalan di sekitar toko aksesoris.
Tapi tidak bisa juga terus terusan menyembunyikan semuanya karna Mahira juga berhak tau.
Menarik nafas sekali lagi lalu mendial nomor pemuda itu.
Nada sambung lama terdengar sampai suara pemuda itu terdengar.
"Halo"
Hening.
Debi tidak siap.
"Halo... halo" ucap suara diseberang.
Debi memejamkan mata menahan agar dirinya tidak keceplosan menanyakan kabar pemuda itu. Sejak lama.
"Salah sambung? gue tutu-"
"Tunggu" potong Debi langsung.
"Hm? lo.. De-"
"Iya gue Debi." potong gadis itu kembali.
Hening lagi. Tidak sadar seseorang diseberang menjauhkan ponsel menghembuskan nafas yang tercekat.
"Sorry ganggu. Besok setelah pulang di rooftop sekolah." jelas Debi cepat. Selanjutnya mematikan sambungan begitu saja tidak membiarkan pemuda itu menjawab.
Melempar ponsel ke samping meraih bantal mendekapnya lalu mengeluarkan suara aneh aneh dari sana. Bahkan menirukan suara macan.
Emang ya yang namanya Debi Anjani hidupnya selalu random dikeadaan apapun.
☄️☄️☄️
Mahira berdiri diatas tangga rumahnya memperhatikan kedua orang itu yang sedang bertengkar.
Kedua orang tuanya.
"Kita memang sudah tidak bisa sama sama lagi Andin! Perjodohan sialan itu yang membuat saya harus menikah dengan kamu!" murka Edwin ayahnya.
"Jaga mulut kamu ya! Kalo dari awal kamu memang tidak mau, kamu bisa ceraikan aku dari awal!" teriak Andin juga tidak kalah.
"Lalu sekarang kamu ingin cerai? setelah adanya Mahira?" tanya Andin dengan nada tinggi.
"Saya tidak pernah ingin ada anak dikeluarga ini." tandas Edwin tajam.
Plak!
Mahira menutup mulut. Menahan pekikan ketika melihat ibunya menampar ayahnya. Walau tak pelak air matanya sudah luruh sejak tadi.
Ia tau bahwa kedua orang tuanya terlampau sibuk sampai bertemu dengannya saja susah sekali.
Tapi tidak menyangka pernyataan yang keluar dari mulut ayahnya sendiri membuat ia seakan tertampar keras. Benar benar tertohok bahwa selama ini ia tidak diinginkan.
Berjalan mundur lalu berbalik masuk kamarnya, menutup pintu perlahan berusaha tidak mengeluarkan suara apapun.
Meringkuk di depan balkon kamarnya sambil memeluk lutut sadar bahwa selama ini hidupnya semenyedihkan itu.
Menatap langit dengan air mata yang sudah mengalir deras tanpa pernah bisa ia tahan.
Kecewa, bingung serta emosi menjadi satu membuatnya seakan ingin lari dari bumi secepatnya.
Memukul mukul kepalanya sendiri seakan tengah menghilangkan kalimat kalimat yang terus berputar dikepalanya. Sesak itu tidak bisa ia tahan sampai harus membekap mulutnya sendiri agar suara raungan tangisannya tidak terdengar.
Di kamar dengan dengan nuansa warna abu abu itu menjadi saksi bisu Mahira benar benar terluka.
☄️☄️☄️
Mahira terbangun dengan peluh membasahi wajahnya menengok sekeliling ternyata ia ketiduran diambal kamarnya.
Sedikit susah membuka mata karna ia tau matanya pasti bengkak setelah menangis tadi sampai ketiduran.
Hidungnya mencium aroma familiar membuatnya menengok ke samping dan menemukan secangkir kopi yang sudah dingin. Mahira tersenyum samar.
Bi Minan.
Bi Minan pasti tau tadi mama dan papanya bertengkar dan terdengar sampai satu rumah.
Membuat beliau dengan pengertiannya membuatkan kopi untuknya karna wanita itu pasti tau bahwa ia mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
Menyeruput sedikit membuat perasaannya sedikit lebih tenang. Mahira memperhatikan cangkir digenggamannya kopi memang salah satu pelarian terbaik.
Menoleh ke samping memperlihatkan malam dengan bintang yang masih bersinar terang, Mahira melamun teringat sekilas mimpinya barusan.
Di mimpinya Mahira melihat Debi, mereka berdua sama sama menangis karna ucapan yang Debi katakan tapi anehnya di mimpi itu Mahira tidak bisa mendengar apa yang Debi ucapkan.
Tapi ada satu yang mengganggu sedikit perasaannya. Damar.
Pemuda itu juga ada dalam mimpinya ia melepaskan pegangannya dari tangan Mahira membuat Mahira kembali hilang.
Hilang dari terang dan kembali menuju kegelapan.