
Gue Debi Anjani SD 6 tahun, SMP 3 tahun. Pernah ikut lomba modelling dan dapat juara satu, ikut lomba storry telling, pernah juga jadi duta anak anak di SD, juga pernah dinobatkan jadi princess waktu SMP. Serta dapat predikat siswi cantik dan berbakat.
Tapi semuanya hampir hilang saat gue naik sepeda baru ke sekolah dan nyungsruk di tengah lapangan sekolah yang lagi ramai ramainya. Sepeda yang baru dibeli sama bokap gue dengan warna pink serta ada keranjang dan tempat duduk dibelakangnya.
Dan selama satu bulan predikat gue bukan sebagai princess sekolah tapi 'Debi si tragedi sepeda.'
Sejak saat itu gue ga pernah naik sepeda lagi.
Saat masuk SMA gue ketemu satu cewe dan ternyata anaknya dingin banget gue gatau ya ada orang sedingin itu? disaat anak anak yang lain bener bener nikmatin waktunya dimasa akhir sma dia seakan akan ga pernah pingin ada di sekolah ini.
Gue ingat namanya, Mahira cewe paling dingin yang pernah gue temuin. Ga pernah senyum, ga pernah ketawa, bahkan ekspresi mukanya bener bener ga bisa gue tebak sama sekali. Aneh.
Mahira cantik gue akuin dengan rambut lurus sampai pinggang, kulit putih, dan tubuh mungil ditambah dengan garis wajah dinginnya ngebuat dia seakan akan seperti perempuan mahal.
Maksud gue bukan seperti anak anak SMA yang cantik tapi murahan.
Mahira seakan punya aura tersendiri.
Tapi emang anak anak di sekolah cuma bisa mandang dia dari muka, dari yang gue liat banyak banget anak anak sekolah yang ga suka sama Mahira entah itu karna faktor muka atau emang sikap classy nya yang seakan ngebuat dia dicap sombong.
Gua pernah denger tentang Mahira dulu tapi cuma sekilas aja ga bener bener tau.
Mahira masuk dalam deretan siswi pintar di sekolah, karna sekolahnya menerapkan sistem ranking paralel setiap kenaikan kelas pasti nama Mahira menduduki ranking di urutan ketiga seangkatan.
Membuat Debi diam diam merasa iri dengan semua hal yang gadis ini punya.
Kalau aja Mahira punya sifat yang terbuka dan ceria, ga nutup kemungkinan bakal banyak banget temen yang dia punya.
Bahkan kalo gue liat ada beberapa anak cowo yang coba untuk deketin Mahira tapi semuanya dianggap ga nyata sama cewe itu.
Bunganya emang diterima tapi dikasih lagi ke penjaga perpus atau satpam sekolahan. Mereka lupa satu fakta bahwa ini Mahira perempuan dinginnya sekolah.
Tapi yang seakan menyentil hatinya saat mengingat penolakan pertemanan di koridor sekolah dan cerita Nino tadi membuat Debi merasa benar benar ingin berteman dengan gadis itu.
Debi tidak pernah ditolak berteman, dia selalu disambut dengan tangan terbuka oleh lingkungannya bahkan tanpa perlu ia meminta pun banyak orang yang mengajaknya berteman.
Sikapnya yang humble membuatnya tau betapa mudahnya berteman dan akrab dengan orang orang sekitar.
Dan sifatnya yang ceria ini yang mempertemukannya dengan seseorang 3 tahun yang lalu.
Tapi ia lupa akan satu hal tidak semua orang memiliki sifat sepertinya.
Tapi Debi tau Mahira itu kesepian.
Di hari pertama sekolah tepat di jam pulang teman teman kelasnya sudah berisik untuk pergi bersenang senang membuat Debi menoleh ke teman sebangkunya ini berniat untuk mengajak perempuan itu ikut bersenang senang juga.
Saat akan membuka mulut ia terdiam lalu menolehkan kepala ke depan berusaha mengatur raut muka, mendapati Mahira menatap depan ke arah teman kelas yang lain dengan tatapan sendu.
Dari dua hari ini Debi mulai sedikit paham akan sifat teman sebangkunya ini ia bukan sombong, raut mukanya yang dingin seakan akan seperti menutupi luka.
Debi tau ketika ia mencoba untuk masuk ke kehidupan Mahira akan mendapat penolakan seperti tadi pagi, tapi Debi tidak akan berhenti ia sudah mendapat titik nyaman untuk berteman walau sikap Mahira yang dingin seperti es.
Mungkin ajakan bertemannya tadi terlalu terburu buru ia hanya butuh waktu untuk meluruhkan dinding es yang dibuat Mahira, tapi ia akan berusaha untuk membuat Mahira menjadi seorang gadis ceria atau setidaknya memiliki teman di akhir masa sma nya.
Semoga.