
Damar Xayden Purnama, pemuda tegap dengan senyum manis serta lesung pipinya itu yang membuatnya menjadi sorotan di hari pertama masuk sekolah sebagai murid baru. Pemuda berdarah asli Nusa Tenggara itu sukses menjadi perbincangan hangat selama berminggu minggu baik oleh seangkatan maupun adik kelas.
Dengan sifat pemuda itu yang ramah dan cepat bergaul membuatnya menjadi daya tarik sendiri di SMA Britania. Selain pintar juga pemuda itu memiliki organisasi yang ia buat sendiri bersama dengan teman temannya di Nusa Tenggara sana.
Human Story Organization atau Organisasi Cerita Manusia. Hampir seluruh siswa di Britania terpukau saat tau bahwa anak baru itu bisa mendirikan sebuah organisasi sendiri. Organisasi yang didirikan sekaligus diketuai oleh pemuda itu ternyata bermanfaat agar anak bangsa bisa berbagi ceritanya masing masing.
Mahira tersenyum saat ia kembali memikirkan pemuda itu dan segala hal yang bersangkutan dengan Damar. Diakhir menjadi murid kelas 11 Mahira memang sering mendengar akan ada seorang siswa baru yang akan masuk, dan poin lebihnya ia bukan hanya tampan tapi juga pendiri organisasi sendiri.
Gadis itu menggelengkan kepala tidak menyangka bahwa murid baru yang sering dibicarakan itu nyatanya hanya seorang pemuda sinting yang sering mengikutinya kemana pun.
"Mba Ira" Mahira menoleh melihat Bi Minan berdiri di depan pintu sambil tersenyum, "Ada nyonya Andin."
"Ngapain?" tanya Mahira dingin.
"Mba Ira turun dulu ya, ditunggu sama nyonya." ujar Bi Minan lalu menutup pintu.
Gadis itu dengan langkah pelan keluar dari kamar lalu berdiri melihat dari atas sang mama sudah duduk dibawah dengan baju rapi seperti biasa.
"Mahira, setelah persidangan selesai kamu ikut mama ya, kita tinggal di luar negeri." ucap Andin to the point saat melihat Mahira.
Mahira yang masih berjalan di tangga sontak berhenti. "Sidang?"
"Persidangan cerai mama dan papa" jawab Andin.
Jantung Mahira seakan mencelos, dengan mata melebar gadis itu meraih pegangan tangga merasa lemas begitu saja.
"Ra? Kamu ikut mama ya? Kita ke luar negeri, buat hidup baru disana." lanjut sang mama.
"Mah.." tanggap gadis itu lirih.
Mahira menggelengkan kepala tapi gadis itu tidak bisa bersuara, seakan tidak bisa mengutarakan bahwa ia menolak keadaan seperti ini.
Andin terdiam di tempatnya, diam diam wanita itu menenangkan diri.
"Mahira, mama sama papa udah ga bisa sama sama lagi. Seperti yang sering mama bilang, tujuan kami udah beda, Ra" ucap Andin pelan.
"Kamu ga perlu takut, kita bakal ke luar negeri. Kita mulai semuanya dari awal"
Mahira terduduk di tangga dengan tatapan nanar melihat lantai. Gadis itu terdiam bahkan untuk menjawab satu kata pun ia tidak mampu.
"Maafin mama ya Ra, harusnya dari awal mama bawa kamu pergi, supaya kamu ga perlu tau rasanya seperti ini."
"Mama minta maaf ya Ra, sekarang kamu belajar, fokus untuk ujian beberapa hari lagi. Ya?"
"Mama minta kamu untuk ga mikirin masalah ini, biar mama yang urus Ra. Kamu cuma perlu belajar." jelas Andin. Tersirat dari nada suara wanita itu ia juga berusaha untuk tidak bergetar.
Andin mendekat lalu mencium kening Mahira, "Mama sayang kamu, Ra" selanjutnya wanita itu berbalik berjalan ke arah pintu utama, lalu menghilang begitu pintu besar itu dibuka.
Saat itu buliran air menetes di pipinya tanpa sempat ia tahan. Mahira menangis dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya.
"Mba Ira??" ucap Bi Minan mendekat memasang wajah khawatir, wanita itu pasti tau.
Mahira menggeram tertahan berusaha mengeluarkan sesaknya, yang pada akhirnya gadis itu hanya bisa terisak.
Bi Minan yang melihat itu hanya bisa diam sambil duduk di samping Mahira, mengusap lengan gadis cantik ini pelan.
Tangis gadis itu makin menjadi seakan akan semesta sedang menghukumnya, mengingat kembali kejadian kejadian kemarin membuatnya merasa sesak luar biasa. Seperti ada yang ingin meledak di dadanya tapi seperti ada bongkahan batu besar yang menahannya.
Mahira terluka. Seperti banyaknya peristiwa yang menghujamnya tanpa ampun dari kemarin. Gadis itu berusaha berdiri tegak, mencoba untuk bertahan, tapi ia juga manusia yang sewaktu waktu bisa hancur kapan pun tanpa diminta.
Gadis itu memejamkan mata rapat, berharap Tuhan menjemputnya malam ini saja kalau bisa. Air matanya masih mengalir tapi tidak ada isakan disana, pertanda ia sudah benar benar lelah.
Bi Minan yang melihat itu, ikut meneteskan air mata. Ia tau bagaimana Mahira, gadis cantik yang dirawatnya dari kecil itu seakan sudah biasa diposisi rapuh seperti ini. Tapi baru kali ini ia melihat Mahira dalam kondisi benar benar hancur.
Dan yang lebih tidak baiknya anak majikannya ini tidak pernah menolak, selalu diam saja jika Andin atau Edwin, kedua orang tua gadis ini memutuskan sesuatu. Ia tau bahwa Mahira bisa memberontak tapi gadis itu memilih diam dan menutup rapat rapat.
Mahira berdiri tiba tiba membuat Bi Minan terlonjak, gadis itu berbalik arah menuju lantai dua tidak menghiraukan Bi Minan yang memanggilnya.
☄️☄️☄️
4 orang di meja cafe itu sontak ternganga, tidak percaya akan cerita dari gadis di depan mereka.
"Wah, jahat banget lo, Deb" celetuk Nino polos.
Adilla yang disampingnya, menoyor pemuda itu menjauh, lalu melotot menyuruhnya diam.
Debi menghembuskan nafas berat. Bersiap mendengarkan umpatan mereka.
Adilla, Hana, Nino serta Beben tadi memang mendadak datang ke rumahnya dan memaksa gadis itu untuk ikut. Dan berakhirnya mereka disini, Cafe Day. Cafe langganan anak anak Britania.
"Trus lo mau gimana Deb?" tanya Beben.
Hana yang tengah memakan martabak telurnya melirik, "Menurut lo?!" sahut gadis itu sewot.
"Mati aja lu Han" jawab Beben. Hana mendelik mengancam ingin melempar martabaknya, dan dengan bodohnya Beben membuka mulut, bersiap.
"Gue jahat banget.." lirih gadis itu perlahan matanya kembali menghangat.
Adilla yang melihat itu maju merangkul pundak Debi, mengelusnya perlahan.
"Gue bukan mihak Mahira, tapi ini juga bukan sepenuhnya salah lo. Debi, kita semua tau, kita sadar walau Mahira ga pernah bilang dia sayang sama Damar," ucapan Hana berhenti. Gadis itu menarik nafas pelan.
"Lalu dia tau kenyataan, kalo sahabatnya pernah punya cerita sama orang yang dia sayang sekarang. Dan disini keadaannya lo belum sepenuhnya selesai dari Damar."
"Padahal kan lo bisa jujur dari awal Deb, Mahira bakal ngerti." sahut Nino. Sebenarnya sedikit kesal.
"Sekarang lo masih sayang Damar?" tanya Hana. Membuat sang empu menoleh tapi tidak menjawab. "Deb? Lo sayang Damar?" tanya Hana sekali lagi.
Debi memejamkan mata, tidak mampu menjawab.
"Kita perlu kejujuran lo disini, biar kita tau harus apa selanjutnya. Lo bilang tadi mau nyelamatin semuanya, itu bukan nyelamatin Debi." ucap Nino tegas.
"Lo ngelindungin diri lo sendiri." sindir Nino tajam.
Debi menunduk tidak ada yang boleh tau bahwa sejujurnya ia juga terluka.
"He! Apa apaan sih lo berdua, kok jadi nyudutin gini?" ujar Adilla.
Nino mengalihkan wajah, meraih es jeruknya menenangkan diri.
"Lo berdua kalo ga bisa kasih saran diem aja, kita bawa Debi kesini buat cari solusi. Bukan buat nyudutin dia." ungkap Adilla jengah sendiri melihat Debi yang disudutkan begitu.
"Sorry Deb, gue bener bener kebawa kesel tadi." kata Hana kini bangkit lalu duduk disebelah Debi.
"Sekarang kita bakal apa?" tanya Adilla mengambil alih. "Mahira temen kita juga."
"Apa gue jaga jarak dari Mahira?" tanya Debi.
"Ya, jangan!" sambar Beben langsung. "Lo mau dia mikir aneh aneh?"
"Gimana kalo kita buat seakan sinetron?" sahut Hana.
"Ha?"
"He?"
Nino yang mendengar itu juga menoleh.
"Iya, kita buat dunia seakan di dunia sinetron." ujar Hana.
"Na, lo kalo keseringan nonton sinetron jangan gini lah" ucap Beben. Hana menggeram menabok jidat pemuda itu.
"Jadi gini, kita buat Mahira sama Debi terus terusan ketemu. Dengan gitu, Debi bisa leluasa kan mau jelasin apa yang mau dia jelasin." jelas Hana.
"Ahhh gue ngerti, jadi seakan akan Mahira ga punya ruang untuk kabur kan?" ujar Adilla.
"Yap! Gue mikir dengan gitu, semoga aja Mahira bisa ngerti." lanjut Hana lagi.
"Wah! cemerlang juga ide lo, abis minum bayclin ya jadi kinclong?" celetuk Beben.
Hana yang ingin menghiraukan jadi terpancing, menendang keras pemuda itu dari kursi.
"Kalo gagal gimana?" tanya Nino tiba tiba yang sejak tadi diam.
Hana mengatupkan bibir, meraih kentang goreng dan memakannya.
"Kita coba dulu intinya." ujar gadis itu sedikit ragu.
"Sampe kapan? Unbk tinggal ngitung hari, lo pikir untuk orang pinter kaya dia, mau repot repot ngurusin ini?"
Adilla tersentak, "Kalo emang lo ga setuju sama ide ini, lo bisa sampein apa yang mau lo sampein." sela gadis itu.
"Ga perlu lo nyinyir, seakan akan hidup lo bener semua." sahut Adilla tajam.
"Gue bisa ngomong gini, karna gue kenal sama dia." jawab Nino.
Adilla, Beben, serta Hana mengerutkan kening. "Apa?"
Nino menoleh, menatap Debi tepat yang dibalas tatapan juga oleh gadis itu.
"Kita tau disini Mahira yang emang gamau denger semuanya, nutup telinga seakan akan dia ga peduli."
Nino berhenti bicara lalu menarik nafas pelan.
"Bahkan dia rela Damar untuk kembali sama lo. Demi lo. Demi sahabatnya."
Debi tersentak dengan jantung yang seakan tertembak tepat.