
Malam ini Damar duduk ditepi kolam renang rumahnya dengan tangan memegang selembar kertas tentang beasiswanya. Menatap kedalam kolam lalu berganti ke kertas itu berulang secara terus menerus.
Memijat pelipis merasa benar benar bingung kali ini. Ia harus memberikan kepastian jawabannya kepada Pak Andri setelah Unbk nanti sedangkan Unbk akan dilaksanakan minggu depan.
Suara getaran disaku celananya membuat Damar mendecak, malas sebenarnya diganggu. Tapi getaran itu terus menerus membuatnya merogoh dan nama Bintang tertera disana.
"So ngartis banget lu he buduk" semprot suara disebrang.
"Apa" tanya Damar datar.
"Parah lu ya tadi si Debi lu tinggalin gitu aja. Untung ketemu sama gua." ucap Bintang.
Damar tersentak benar benar melupakan gadis itu karna tadi ia langsung mengambil motornya dan mengikuti Mahira dari belakang. Pikirannya kalut tanpa sadar ia sudah meninggalkan Debi yang masih di rooftop begitu saja.
"Sorry, gua bener bener lupa." ucap Damar menyesal.
"Minta maap sama dia lah! Ngapain sama gua. Ngomong ngomong lu udah jujur sama Mahira?" tanya Bintang mengalihkan topik.
"Belum. Tapi dia udah tau." ujar Damar
"******. Tau dari mana?!"
"Waktu gua ngomong sama Debi. Ternyata Mahira denger semuanya. Termasuk cerita yang berusaha gua tutupin."
"Tambah ******." umpat Bintang.
"Mak lu nyekolahin lu bukan buat ngumpat mulu Bin. Sadar sat." sewot Damar tidak tahan.
"Ya maap lu sih nistable. Pengennya dihina mulu."
Damar diam saja malas menanggapi manusia tidak jelas ini.
"Mar gue sebagai temen lo sih cuma bisa bilang lo keterlaluan."
Damar mengangkat sebelas alis tapi tetap menunggu temannya ini berbicara.
"Bukan cuma hubungan lo sama Mahira aja yang rusak. Persahabatan Debi sama Mahira juga bakal rusak mar."
"Sorry kalo gue ngomong gini, lo sama Debi mungkin sama sama berusaha nutupin cerita kalian dari Mahira, sedangkan lo jelas tau Mahira sahabatan sama Debi. Lo niat ngelindungin mereka tapi nyatanya lo yang bikin semua rusak mar."
"Mungkin lo bisa atasin ini. Tapi Mahira yang jelas jelas lo tau kalo dia udah rapuh, gimana mar? " tanya Bintang.
Damar menutup sambungan telfon begitu saja menatap kosong ke dalam kolam renang disampingnya.
☄️☄️☄️
Mahira melamun diangkringan yang hanya terdapat beberapa orang itu. Diluar hujan membuatnya makin menatap dalam butiran butiran air yang jatuh itu lalu menghilang.
Sejak pulang sekolah tadi ia hanya ke rumah sebentar untuk pamit kepada bi Minan lalu langsung ke sini tanpa mengganti seragam sekolahnya.
Memilih mendengarkan dalam diam suara orang orang yang tengah mengobrol disekitarnya. Meminum sedikit es kopinya yang es batunya sudah mencair.
Mahira menghembuskan napas mengusap air mata yang tanpa sadar kembali mengalir.
Perasaannya kembali merasa diremas. Menutup mata mencoba menetralkan diri karna bayang pemuda itu yang pergi terasa begitu membuatnya terluka.
"Neng Ira" tepukan pelan dilengannya membuat Mahira menoleh. Menemukan mang ipul sudah duduk didepannya dengan tatapan cemas.
"Neng gapapa?"
"Neng... Mau mamang anterin pulang aja? Mukanya pucet banget neng." tanya mang ipul.
"E..enggak.. gapapa mang." jawab Mahira.
Ia sedikit mengatur nafasnya yang sedikit terengah engah.
"Minum dulu ini" ucap mang ipul menyodorkan segelas air putih. Mahira mengucap lirih terima kasih.
"Neng Ira kalo ada masalah cerita aja gapapa. Manusia kan juga punya batas kelemahan neng, engga bisa terus terusan keliatan kuat." tutur mang ipul tersenyum ramah.
"Angkringan mamang selalu terbuka kapan pun buat Neng Ira."
Mahira menoleh melihat laki laki berumur 40 tahun ini sudah tersenyum menenangkan. Ikut tersenyum seakan meminta kepada Tuhan agar selalu menjaga mang ipul.
☄️☄️☄️
Mahira kembali ke rumah dan mendapati mobil sedan putih terparkir dihalaman rumahnya. Itu mobil mamanya.
Membuka pintu utama rumahnya mendapati sang mama duduk di sofa sambil membaca majalah.
"Mama tidak tau kalau jadwal pulang sekolah kamu ternyata sudah berubah." ucap Andin.
Mahira melengos berjalan tidak peduli ke arah tangga ingin segera naik ke lantai atas.
"Mama sedang bicara dengan kamu Mahira."
Mahira tidak menoleh tetap menaiki anak tangga seakan tidak pernah ada orang di rumahnya.
"Sudah mulai jadi gadis malam?" tanya Andin.
Mahira sontak berhenti di tengah tangga. Tapi tetap tidak menengok ke belakang.
"Kamu dari mana? Kenapa baru pulang sampai selarut ini?" ucap Andin kembali.
Mahira kali ini menoleh menatap datar ke arah Andin.
"Kenapa? Ngapain peduli sama Ira?" tanya Mahira dingin.
"Mama tidak pernah mengajarkan seperti ini Mahira! pulang larut malam, ponsel tidak bisa dihubungi, orang tua bertanya tidak dijawab."
"Pernah mama ngerasa ajarin Ira? bukannya dari dulu Bi Minan yang dari dulu selalu ada buat Ira mah?" ucap Mahira datar.
"Mahira. Mama sudah bilang mama cari uang un-"
"Mahira ga peduli mah! Ira ga butuh"
"Dari dulu Mahira selalu sama Bi Minan. Sekarang Ira tanya, apa mama masih inget kapan terakhir kali mama nanyain kabar Ira?" tanya Mahira mencoba menahan emosi yang akan meledak.
"Engga inget kan mah? Karna emang mama sama papa pun ga pernah sadar kalo di rumah ini ada Ira!"
"Mahira, mama sayang Ira nak" jawab Andin bergetar mulai melangkah maju.
"Stop mah stop. Ira ga pernah minta untuk lahir di dunia kalo nyatanya ga ada yang ingin Mahira ada!" ujar Mahira sesak.
Andin tersentak baru menyadari ternyata Mahira dengar pertengkarannya dengan Edwin tempo hari.
"Kenapa mah? Kaget kalo Ira tau?"
"Mahira ini engga seperti apa yang kamu dengar nak" ucap Andin.
"Lalu apa mah? Sejelas apapun mama mau jelasin, kenyataannya bakal tetap sama mah. Mahira emang engga pernah diinginkan di sini." pungkas Mahira.
Gadis itu berbalik badan menaiki tangga dengan cepat menghiraukan Andin yang terus memanggilnya.
☄️☄️☄️
Mahira menutup pintu kamarnya dengan sedikit bantingan seakan melampiaskan emosi yang sejak tadi tertahan. Ia bersender dipintu itu lalu merosot dengan kedua tangan terkulai lemah di samping tubuhnya.
Ia sudah tidak bisa menangis karna air matanya seperti sudah habis. Tapi sakitnya belum habis. Masih terasa bahkan sampai malam seperti ini.
Dering telfon mengagetkannya saat sudah hampir terlelap masih dalam posisi seperti tadi. Mengangkat ponsel melihat pemuda itu menghubunginya. Mahira mengeraskan rahang dengan perasaan yang kembali terluka. Buru buru ia menolak panggilan itu dan mematikan total ponselnya agar tidak diganggu siapapun.
Mahira melirih lalu merangkak pelan ke arah kasurnya. Tanpa sengaja menyenggol botol minum yang menggelinding ke bawah kasurnya.
Gadis itu mendecak mulai meraba bawah kasurnya sampai tangannya tanpa sengaja memegang sebuah benda. Mahira mengernyit lalu menarik benda itu yang ternyata berbentuk kotak.
"Hah apaan nih?"
Rasanya ia tidak pernah memberi barang seperti ini. Sampai tanpa sengaja sekelebat wajah seseorang muncul.
Ia kembali mengeruhkan raut wajah, ia baru ingat siapa yang memberi kotak ini. Melempar kotak itu begitu saja tidak mau repot-repot membukanya.
Memilih masuk kamar mandi untuk menyegarkan wajah serta tubuhnya.
☄️☄️☄️
Ada satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Beben : Ra udah tidur?
Mahira : Knp?
Tidak ada balasan. Mahira merebahkan tubuhnya di kepala kasur bersiap membuka aplikasi novel online, sampai satu balasan masuk tiba tiba.
Beben : Lah ngapain ra?
Mahira : Ga ush ngajak gue berantem. Udh mlm.
Beben : Oiya iya gue yang chat duluan ya. Dasar Mahira bodoh
Mahira refleks mendelik.
Beben : Lo ada sesuatu ya sama Sean?
Lah napa jadi Sean??
Mahira : Lo kalo lgi ngigo jgn mlh cht gua.
Beben : Trus gue harus apa?
Mahira : Terjun.
Beben : :(
Beben : Ra sumpah ini mah gue nanya serius. Ga bisa deh Rahul diginiin :(
Mahira : Lo jgn jadi najis bisa ga?
Beben : Najis apa tuhh..
Mahira : Mugaladoh. Mknya klo pljrn agama jgn cabut mulu.
Diseberang sana Beben mengumpat. Greget sendiri dengan gadis ini.
Mahira : Gue ga ada apa apa. Kita temen.
Beben : Kasian banget dah temen gua
Mahira : Maksud lo?
Beben : Makanya neng buka lah matamu selebar dunia inii~ dan rasakan banyak orang yang perduli~
Mahira : Pergi lo. Ga penting.
Beben : Yah si neng judes amat, MAKANYA PEKA DULU RA PEKA.
Mahira mengangkat alis melihat pemuda ini tiba tiba ngegas.
Mahira : NAPA? NANTANGIN GUA?
Beben : IYA NIH GREGET BANGET ANJING GUA SAMA LU
Mahira : NAPA JADI GUA?!
Beben : YA LO CUEK AMAT. LEBIH MEMILIH IKAN GURAME DARI PADA IKAN SAPU SAPU.
Mahira : YA LEBIH MAHAL IKAN GURAME LAH DARI PADA IKAN SAPU SAPU.
Beben : Ah? oh ya bener juga lu.
Mahira : Dasar badak Papua.
Beben refleks mengumpat padahal tadi ia sudah akan kalem tapi melihat balasan Mahira membuat ia kembali turn on.
Beben : BERANI LO YA SAMA GUA?!
Mahira : NAPA GUA HRS TAKUT SAMA LO?!
Beben : Oke kita musuhan.
Ditempat tidur Mahira menghembuskan nafas lelah sendiri menghadapi sifat random pemuda Lampung ini.
Mahira : Oke.
Beben : Jauh jauh lo dari gue. Gue gamau temenan sama lo. Lo itu jahat melebihi Rangga di aadc.
Lah napa jadi dia yang jahat??
Mahira : Oke. Besok ulhar Fisika kan?
Beben diseberang sana membulatkan kedua mata baru ingat besok akan ada ulangan Fisika, dan satu satunya harapan Beben di kelas hanya Mahira.
Pemuda itu memias panik sendiri. Lalu tak lama mulai berulah kembali.
Beben : Ra lo napa dah? Itu bukan gue yang ngecht lo ra sumpah
read
Beben : Ra bener ini mah ra. Abang Beben ga bakal jahat sama neng geulis
read
Beben : Ra lo liat ke jendela deh. Ga ada bintang malem ini karna malam ini sudah disinari terang oleh cahaya mu neng.
Mahira : Perumahan kita sama. Dan diluar ujan. ****.
Beben tersentak baru ingat kalau ia dan Mahira satu perumahan hanya saja berbeda blok.
Beben : Yaampun neng inget aja nih kita satu perumahan. Lama lama juga satu rumah ntar
Mahira : Tiap sore Mba Lela sm Bi Minan ngerumpi di teras.
Beben mengumpat baru sadar. Iya juga ya Mba Lela asisten rumah tangganya kan setiap sore ke rumah Mahira untung ngerumpi dengan asisten rumah tangga gadis itu.
INI BEBEN YANG ENGGA BISA NYEPIK CEWE ATAU MAHIRA YANG PUNYA INDRA KESEPULUH SIH BISA SKAK APA AJA PERTANYAAN ORANG????
Beben : Mahira huhu
Beben : Mahira hanya kepada engkau aku berserah
Beben : Ra jangan gitu dong sama Rahul
Beben : Woy ra tadi mah kidding kidding bae, jangan lah kau anggap serius adinda
Beben : P
Beben : P
Beben : P
Beben : P
Beben : Ini ga kasian apa ya sama justin??
Mahira blocked you.
Beben : Guguk :)
Pemuda itu mendecak lalu mencari kontak yang lain.
Beben : Sean anjeng.
Sean : Gimana?
Beben : Udah digas, besok ga dicontekin ulangan, diblock lagi
Sean : Mampus.
Beben : *******. Temen anjing lo.