
"Mahira"
Mahira yang tengah berjalan di koridor sambil menunduk memainkan ponsel refleks mengangkat wajah.
Melihat pemuda jangkung dengan wajah manis itu berdiri didepannya. Gadis itu melengos.
"Ra, gue perlu ngomong sama lo." Mahira diam saja tetap melanjutkan langkahnya mengabaikannya pemuda itu.
"Mahira." panggilan dengan suara serak berat itu membuat Mahira kini berhenti melangkah. Damar tersenyum tipis dibelakang.
"Gue perlu jelasin ini Ra," ucap Damar.
"Apa? Apa yang mau lo jelasin?" tanya Mahira sarkas.
"Ini engga seperti apa yang lo kira, bahkan gue sama Debi pun udah selesai dari lama."
"Semuanya udah selesai jauh sebelum lo datang, Ra."
"Semuanya menurut lo emang udah selesai, tapi engga bagi Debi!" ujar Mahira.
"Gue ke sini cuma mau nyelesain apa yang harus gue selesain." jawab Damar tegas.
Sorot mata pemuda itu melembut, "Sejak pertama kali liat lo, gue tau Ra gue yakin setelah ini gue bakal melangkah kemana."
"Gue sayang sama lo Ra, udah berkali kali gue selalu bilang ini sama lo."
"Sayang? Bahkan dengan gampangnya lo bilang sayang sama gue disaat kisah lo dengan sahabat gue sendiri pun belum selesai!"
"Lo itu punya hati ga sih?!" tanya Mahira tajam.
Damar menatap wajah gadis didepannya ini, ia tidak menangis hanya suara gadis itu yang tajam seakan menahan emosi.
"Ra.." panggil Damar lirih berusaha meraih tangan Mahira, menggenggamnya.
Mahira menepis menjauhkan tangannya dari jangkauan pemuda itu, hatinya sesak seakan luapan kekecewaannya sejak kemarin ingin meledak saat ini juga.
"Gue tau gue salah, gue minta maaf Ra" tutur pemuda itu.
"Gue tau bodoh banget dari awal untuk engga jujur sama lo tentang semuanya. Gue cuma mau ngelindungin semuanya, Ra"
"Gue gamau ada yang sakit."
Mahira bergeming menatap lapangan disampingnya dengan tatapan kosong. Gadis itu tau jika maksud pemuda ini baik, tapi lebih baik jika dari awal pemuda ini jujur agar Mahira tidak pernah jatuh kepada pemuda manis ini.
Tatapan gadis itu makin tajam yang tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya. Damar meraih wajah itu.
"Jangan nangis Ra, jangan pernah nangisin cowo kaya gue." Damar menghapus air matanya. Tidak ada yang tau bahwa diam diam Damar juga terluka.
Mahira meremas rok seragamnya kuat menahan bulir air mata yang seakan ingin keluar lebih banyak. Gadis itu menoleh menatap tepat kedua bola mata pemuda didepannya.
Damar terkesiap membalas tatapan gadis itu, mata gadis itu masih sama, masih nampak aura kesepian disana.
Damar tersentak seakan tertembak telak dengan tubuh yang seakan beku.
"MAHIREEEE!!" teriakan seseorang membuat Mahira tersentak. Melihat Beben, Nino, Adilla serta Hana berlari ke arahnya.
"YAAMPUN! LO KITA CARI KEMANA MANA GATAUNYA NYANGSANG DISINI RA" ucap Adilla heboh.
Mereka berempat langsung menyeruak membuat Damar terdorong begitu saja.
"Heeh! Gua laper anjer, tapi kata Hana ga boleh makan dulu. Nungguin lo katanya." sahut Nino heboh. Hana yang disamping pemuda itu menoyor kepalanya ke belakang.
"Ngapain dah Ra disini? Lo kebawa angin?" celetuk Beben. Lalu berikutnya empat orang itu tersentak lalu menoleh kompak ke arah Damar yang sejak tadi bingung menatapi kehebohan mereka.
"Lah lo ngapain disini Mar?" tanya Beben polos.
Damar refleks mengumpat kecil. Menabok pemuda itu.
"Lo berdua ngapain berdua duaan gini? Haduh anak SMA" tanya Nino lalu mengernyit memegang dagu.
"Hah? Haduh?" celetuk Hana.
"DUH ADUH MEMANG ASEEKK, PUNYA PACAR TETANGGAA" sahut Adilla langsung maju berjoget.
Beben serta Nino yang mendengar lagu itu langsung turn on ikut berjoget mengikuti gadis itu.
"BIAYA APEL PUN IRIT, NGGAK USAH BUANG DUITT!" lanjut Adilla.
Mahira yang berdiri di sana melongo melihat teman temannya bisa kambuh mendadak begini bahkan diluar kelas.
Damar yang melihat itu juga ternganga parah melihat mereka yang kini sudah bernyanyi nyanyi dan berjoget joget gila di tengah koridor.
INGAT DI TENGAH KORIDOR.
Hana yang duluan tersadar langsung maju menghentikan, "HEEE LO SEMUA! BERENTI WOY MALU BUSET!" teriak Hana membuat ketiga orang itu mendadak diam dan tertawa bodoh.
Mahira memijat kening lelah menghadapi teman temannya ini.
"Andai aja si Debi ada, gue yakin dia ga bakal berenti" celetuk Nino.
Raut wajah Mahira berubah perlahan ketika mendengar nama gadis itu, mengalihkan wajah menyembunyikan tatapan tajamnya dengan menatap lapangan disampingnya.
"Dah lah ayo makan, laper gua" ajak Nino lalu memimpin di depan.
Membuat Hana yang disamping Mahira mengamit tangan gadis itu beranjak dari sana. Tak lupa mereka berpamitan pada Damar yang diam diam Damar menatap Mahira yang kini mengalihkan wajah enggan untuk menatapnya.
Gerombolan itu pergi tapi Damar masih memperhatikannya yang kini Beben sedang dorong dorongan dengan Adilla serta Hana yang berbicara sesuatu kepada Mahira membuat kedua gadis itu tertawa tawa.
Damar mengalihkan pandangannya menatap langit yang kini sedikit mendung, pemuda itu menatap sendu langit dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana seragamnya.
Rahang pemuda itu mengeras, masih ragu jika harus pergi.