MAHIRA

MAHIRA
bab 39 | Maaf



Mahira melamun menatap lapangan sekolahnya dengan tangan memegang kopi kaleng. Tadi ada Beben, Nino, Adilla serta Hana yang menemani tapi empat orang itu dipanggil ke ruang guru.


Di kelas memang Mahira lumayan dekat dengan empat orang itu plus Debi, tapi semenjak kejadian rooftop Mahira yang selalu menghindar jika Debi ikut bergabung. Berkali kali Debi mendekatinya berkali kali juga ia menjauh berusaha tidak peduli apapun.


Mahira tidak marah ia hanya kecewa, gadis yang selalu menemaninya, membantunya, menghiburnya, bahkan yang selalu ada disaat Mahira tidak punya siapa siapa dunia ini ternyata punya rahasia begitu besar yang tenpa sadar menyangkutnya.


Suara decitan bangku disebelahnya membuat Mahira melirik kecil setelahnya menoleh mendapati Debi sudah duduk disampingnya. Gadis itu tersenyum membuat Mahira beranjak ingin pergi dari sana.


"Ra, sebentar" tahan Debi sambil memegang tangan Mahira yang bebas.


"Apa kabar?" tanyanya pelan.


"Berasa udah lama banget karna gue sama lo ga pernah ngomong lagi,"


Debi menatap sendu Mahira yang kini mengalihkan pandangannya. "Gue kangen lo."


"Maafin gue Ra, maafin gue" ucap gadis itu bergetar. "Maaf udah nyakitin lo."


"Maaf udah bikin semuanya berantakan."


"Maaf gue yang terlalu pengecut untuk jujur tentang semuanya. Maafin gue Ra" ucap Debi beruntun sambil tetap memegang tangan Mahira.


Mahira memejamkan mata sebentar, menatap terluka Debi di depannya. "Gue kecewa sama lo." ucap Mahira serak.


"Mau lo minta maaf pun, gue udah terlanjur luka" lanjutnya dingin.


Debi menunduk sambil tetap menggenggam tangan Mahira. "Maaf Ra. Maafin gue" serak gadis itu.


Mahira didepannya menarik nafas dalam diam diam mengontrol diri agar tidak maju merengkuh Debi di depannya.


"Maaf udah sayang sama Damar, maaf kalo gue belum bisa lupain dia."


"Maaf udah bohongin lo, karna tau ini semua dari awal."


"Maaf kalo sampe hari itu gue belum bisa hilangin perasaan gue, Ra" Mahira memejamkan mata semakin terluka saat kalimat demi kalimat keluar dari bibir gadis didepannya.


Kalimat kalimat jujur Debi kian menamparnya keras bahwa selama ini mereka saling melukai.


"Cukup Bi cukup!" tutur Mahira pelan.


"Ra, gue ga-"


"Stop Bi gue gamau denger lagi!" seru Mahira dengan air mata sudah menetes dari kedua matanya.


Debi kali ini melepaskan tangan Mahira, menutup mulut menahan tangisannya. Sedangkan Mahira menutup rapat mulutnya menahan sesak, perlahan ia meluruh jatuh ke lantai.


Membiarkan air matanya jatuh begitu saja ke lantai koridor sekolah yang hening itu. Kedua gadis itu meluruh ke lantai dengan tangisan tertahan mereka. Berusaha saling melindungi tapi nyatanya saling melukai.


"Mahira?! Debi?!"


Teriakan seseorang diikuti larian itu menghampiri kedua gadis yang kini masih duduk dilantai itu dengan Debi yang masih mengeluarkan air mata tapi tidak dengan Mahira yang kini hanya menatap kosong lantai di depannya.


"Ra? Kenapa?" tanya Hana langsung memeluk Mahira. Begitu pula Adilla yang langsung memeluk Debi.


Debi kembali menangis dipelukan Adilla yang kini mengelus punggungnya berusaha menenangkan. Sedangkan Mahira hanya diam di pelukan Hana tidak bersuara sama sekali.


Beben dan Nino yang melihat itu secara naluri mendekat dengan Beben ke samping Mahira serta Nino ke samping Debi. Nino merapatkan bibir, sebenarnya sudah dari kemarin ia merasa ada yang berbeda dari kedua gadis ini, Debi yang biasanya berisik dan Mahira yang biasanya menyeletuk pedas mendadak bungkam saat mereka sedang bersama.


Apalagi saat kemarin ada tugas yang mengharuskan mereka satu kelompok dengan teman sebangku, Debi yang biasanya berisik dan berceloteh riang itu mendadak diam saja. Awalnya Nino mengira tidak terjadi apa apa.


"Kita pulang ya? Udah sore" ucapan Adilla membuyarkan lamunan Nino. Empat orang itu sontak membantu kedua gadis itu berdiri.


Hana diam saja masih sibuk merapihkan rambut Mahira tapi diam diam gadis itu paham.


"Gue anter ya Ra? Gue bawa mobil." tawar Hana sambil tersenyum. Mahira mengangkat wajah tersenyum tipis, "Ga usah." tolak gadis itu pelan.


"Udah sore Ra, biar Hana yang anter lo." sahut Adilla juga.


Mahira menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, "Gapapa, gue bisa sendiri."


Gadis itu pamit lalu melangkahkan kaki melewati Debi yang sedang dirangkul Adilla. Debi menahan lengan gadis itu, menatap sendu Mahira.


"Maaf Ra udah nyakitin lo." ucap Debi pelan tapi masih bisa didengar oleh yang lain.


Mahira melepaskan pegangan Debi pada lengannya, kembali berjalan tanpa mau menengok ke belakang lagi.


Adilla kembali memeluk Debi yang kini Hana ikut maju memeluknya juga, membuat Nino dan Beben yang melihat itu menipiskan bibir tidak berkomentar apa apa.


☄☄☄


Mahira berhenti di depan gerbang sekolah menoleh kanan kiri menunggu ojek onlinenya. Sampai seseorang mendekat membuat ia menoleh.


"Mau pulang? Gue anter ya?" pinta Damar mendekat.


Mahira diam saja sekilas melihat kebelakang Damar terlihat pemuda kemarin yang berbicara dengannya tengah duduk dimotor menunggu.


"Naik apa pulangnya?" tanya pemuda itu lagi. "Ojek online?" sambung pemuda itu melirik ponsel digenggamannya.


Damar menipiskan bibir melihat gadis disampingnya diam saja, bahkan menoleh pun enggan.


"Yaudah kalo gamau bareng, gue tungguin ya?" ucap Damar.


Diam diam Mahira meneguk ludah, berharap ojek onlinenya segera tiba.


Hening. Damar menggaruk tengkuknya yang yang tidak gatal, diam diam ia menoleh memberi kode ke arah Bintang yang masih duduk dimotor menunggunya.


Damar meneguk ludah, "Ra- "


"Kak Mahira?" Damar menoleh lalu menarik nafas melihat pria berjaket hijau itu sudah datang.


Mahira mengangguk sekilas meraih helm yang disodorkan lalu mulai naik tanpa perlu repot repot menoleh ke arah Damar.


"Maaf ya kak lama. Tadi saya rada bingung soalnya. Udah kak?" tanya si ojek online tersebut.


"Gapapa." sahut Mahira singkat.


Ojek online itu bersiap pergi sebelum Damar menghentikannya, "Mas tunggu mas."


"Kenapa ya mas?" tanya si ojek online bingung.


Damar tersenyum sekilas, "Hati hati ya mas, tolong jagain pacar saya. Dia lagi ngambek makanya gamau pulang sama saya."


Mahira mendelik melirik sinis Damar yang kini tersenyum manis tanpa dosa.


"Siap! Mari mas.." pamit ojek online tersebut.


Damar memperhatikan motor tersebut, sampai hilang dari pandangannya. Lalu bergumam, "Pacar? Amin..." ucap pemuda itu lalu tertawa kecil.