
Mahira lagi lagi kesiangan.
Lebih tepatnya bersama Debi
Dan dua gadis itu sekarang sudah sewot sewotan tidak jelas di dalam mobil saling menyalahkan satu sama lain.
"Lo sih" ucap Mahira sebal terus melihat ke jam tangannya.
"Lah gue? elu tuh tadi pake ada yang ketinggalan segala" sahut Debi sambil terus terusan mengklakson mobil depannya.
"Lo heboh gue jadi bingung" sangkal Mahira lagi. Memang tadi mereka sempat balik lagi kerumah Mahira karna buku kimia gadis itu tertinggal.
"Takut banget sih lo, kaya gue dong santuy hari ini aja gue ga bawa buku apa apa cuma buku tulis" ejek Debi.
"Masuk ipa lo nyewa otak dimana?" balas Mahira pedas membuat Debi terkekeh lalu menjitak kepala gadis itu.
Pukul 06.47 mereka masih terjebak kemacetan di lampu merah sedangkan jarak ke sekolah mereka masih lumayan jauh.
"Bi buruan" kata Mahira sudah panik.
"Massyaallah sabar dong Ra, lo kata gue pembalap" jawab Debi ikutan panik.
Setelah melewati kemacetan di persimpangan sekolah mereka, pukul 7 kurang 3 menit mereka sampai disekolah dengan rusuh sampai sampai menerobos gerbang yang akan ditutup oleh satpam.
"Ayo Ra cepet, pak satpam maap ya pak! nanti dibeliin kopi pak tenang aja sama Mahira!" teriaknya sambil menarik tangan Mahira untuk berlari, Mahira hanya mendelik mendengar ucapan gadis ini.
Mereka berlari lari dari parkiran ke arah kelas membuat orang orang yang masih disekitar koridor memperhatikan.
"Lo ngapain sih lari lari" ungkap Mahira bingung.
"Lah ini udah jam 7 lewat woi pelajaran pertama kan Pak Budi ntar tuh guru ribet ceramahnya" balas Debi masih terus menarik tangan Mahira.
Sontak Mahira menghentikan larinya membuat Debi yang didepan ikut ikutan tertarik ke belakang.
"Pak Budi kan hari ini izin" sahut Mahira polos, membuat Debi ternganga dengan wajah bodoh.
"Lahhh ngapa ga bilang dari tadi panjul?! Gue dah jadi pembalap trus dari tadi kita dah lari larian kaya lomba marathon dari parkiran sampe sini" cetus Debi geram.
"Salah lo juga ga ngedengerin kemaren" balas Mahira tidak mau kalah.
Mereka lanjut berjalan masih sambil debat satu sama lain.
"Ya kan lo bisa bilang tadi pas macet" ucap Debi.
"Gue kira lo tau" balas Mahira.
"Ira kalo gue tau gue ga bakal nga-"
"Mahira" panggil suara dibelakang membuat Debi yang sedang bercuap cuap berhenti begitu saja.
Mereka sontak menoleh ke belakang menemukan pemuda jangkung itu berdiri tidak jauh dari mereka.
Pemuda itu berjalan tenang ke arah mereka lalu tersenyum. "Telat lagi? Lo minum kopi berapa gelas tadi malem?" tanya pemuda itu tenang sambil tersenyum kearah Mahira.
Membuat Debi menoleh ke arah Mahira, mereka saling kenal? ucapnya dalam hati.
"Abis nonton film sama dia sampe malem" ucap Mahira mengarahkan dagunya menunjuk Debi yang berdiri kaku disampingnya.
Kali Damar menoleh ke gadis disebelah Mahira lalu berusaha mengatur raut muka.
"Damar" ucapnya mengulurkan tangan mengajak kenalan.
Debi menipiskan bibir menatap uluran tangan itu meyakinkan diri bahwa ia perempuan kuat.
"Debi" jawabnya pelan perlahan membalas uluran tangan itu.
Diam diam Mahira sedikit aneh dengan Debi tidak biasanya gadis itu seperti ini.
"Ayo Ra ke kelas" ajak Debi menggandeng tangan Mahira.
"Duluan" pamitnya kaku kepada Damar membuat pemuda itu mengangguk kecil, Mahira ikut tersenyum kecil seakan pamit kepada Damar membuat Damar membalas dengan senyum tipis.
Debi merapatkan bibir meremas kecil rok dengan tangan kiri.
Setelahnya mengusap wajah merasa tidak sanggup untuk maju jika pada akhirnya salah satunya akan tersakiti.
☄️☄️☄️
"Kenapa lagi?" tanya pemuda tampan yang sedang duduk bersandar dikursi menatap sahabatnya yang berkali kali mengusap rambut.
"Gue bener bener bingung gue ga bisa" jawab pemuda disebelahnya.
"Mahira bakal terima kalo lo bisa jujur dari sekarang" tutur pemuda itu lagi.
Bintang Aleo Reksa. Pemuda jangkung pemilik wajah tampan itu menoleh melihat Damar.
"Gue yang ga sanggup Bin, gue takut bakal nyakitin dua duanya" jawab Damar pelan.
"Keputusan lo Mar gue udah bilang ini dari awal, selanjutnya ini urusan hati lo" jelas Bintang lalu menutup percakapan melihat guru sejarah mereka masuk ke dalam kelas.
Damar terdiam menyadari sudah sepengecut ini dari awal, seharusnya ia bisa tegas terhadap dirinya sendiri
Sepertinya ia yakin akan benar benar melangkah kemana setelah ini.
☄️☄️☄️
"AAAKU IINGIN KAU MENERIMA SELURUH HATIKUU!! AKU INGIN KAU MENGERTI DI JIWAKU HANYA KAMUU!! NAMUN BILA KAU TAK BISA MENERIMA AKUU!! LEBIH BAIK KU HIDUP TANPA DUIDD!!" Teriak Debi di depan kelas dengan gagang sapu sebagai mik.
"Yaallah typo Deb typo" sahut Edo dibelakang.
"Deb ayo dong lagi gue dah siap nih" ucap Hana mengambil posisi menjadi pengiring.
Dan dengan bodohnya Adilla, Nino, dan Idrus mengikuti gadis itu.
"Oke kita mulai lagi !!!" ujar Debi semangat.
"Heiiiii yang ada disanaaaa!" tunjuk Debi ke arah kursi belakang paling pojok dimana Mahira sedang memperhatikan teman temannya.
"Lah gue?" sahut Mahira polos sambil menunjuk dirinya sendiri.
Membuat Debi mengumpat sambil mengelus dada.
"Bukan Ra bukan ini si biduan lagi nyanyi" cetus Adilla dibelakang Debi mencoba sabar.
"Oke teman teman kita salah nunjuk orang sepertinya" kata Debi lalu mulai menyanyi lagi seperti awal dan kembali menunjuk seseorang yang lain.
Edo yang tengah mengobrol dengan Amel dan Keyna sontak mengerjab polos, "Lah gue?" ucapnya saat Debi menunjuk pemuda itu.
"Anj" sahut Nino yang sudah siap menjadi pengiring hampir mengumpat.
"LAMA LAMA GUE BAKAR NIH KELAS!!" ucap Debi emosi sendiri.
"HE LO AJA SINI YANG GUE BAKAR" sahut Keyna mendelik ingin maju. Debi yang sudah siap perang juga ingin maju tapi ditahan oleh Nino yang memegang kerah belakang kemeja sekolahnya.
"YAUDAH YAUDAH KITA BAKAR BAKAR AJA DI RUMAH KEPALA SUKU" celetuk Idrus tanpa dosa.
"Lo aja sini yang gua bakar biar beneran jadi tulang doang" ujar Sean dari belakang.
Membuat Idrus refleks berjalan ke belakang dan menabok kepala cowo itu.
Kelas 12 IPA 2 memang dipimpin oleh Sean si ketua kelas yang baru dipilih beberapa minggu yang lalu.
Itu juga karna celetukan asal Debi yang menyebut, "Sean punya badan tegap bu jadi bisa ngelindungin kelas ini" celetuknya kala itu. Membuat Bu Syana selaku wali kelas mereka dengan gampang mengiyakan.
Membuat satu kelas bersorak riang.
Karna hari itu Sean sedang tidak masuk membuatnya tidak tau apapun, sampai besoknya ia masuk ke kelas terdapat banyaknya ucapan selamat dan banner bertuliskan 'SELAMAT DATANG WAHAI KEPALA SUKU IPA 2' membuatnya ternganga dengan wajah polos.
Bahkan Hana dan Abel memakaikan mahkota dan kalung berisi bola bola ke cowo itu.
Membuat Sean menghembuskan napas keras harus bertanggung jawab mengurus kelas dengan isi 20 anak dugong lepas.
"Oke teman teman kayaknya jangan lagu dangdut hari ini, jadi kita bakal nyanyi lagu JKT 48 yeyyy!!" ujar gadis itu kembali riang.
Dan IPA 2 hari ini ramai diisi dengan lagu JKT 48 ditambah dengan tarian tarian konyol dan celetukan tidak jelas membuat kelas itu ramai diantara kelas IPA lain yang sedang hening belajar.