
Mahira menaiki bus kota yang datang karna sudah sore begini angkutan kota jarang lewat.
Naik lalu duduk di kursi belakang dekat jendela membuatnya bisa leluasa melihat pemandangan jalanan disebelahnya.
Menumpu wajah dengan tangan sambil menoleh ke jendela manatap keadaan jalan yang ramai ditambah penduduk ibu kota yang seperti tidak pernah tidur.
Kembali membayangkan perilaku Damar padanya tadi, pemuda itu seperti tidak pernah main main untuk mengajaknya berteman bahkan tanpa ragu bisa membuatnya tersenyum.
Detak jantungnya yang berdetak melebihi normal ketika bersama pemuda itu membuat Mahira menepis semuanya.
Berusaha mengelak dari rasa.
Membentengi diri bahwa..
Ia tidak akan luluh begitu saja.
Walau tidak bisa dipungkiri Mahira senang bisa mengenal bahkan mengobrol dengan Damar melihat sikap ceria pemuda itu membuatnya nyaman begitu saja.
Mahira sampai di rumah dan mendapati rumahnya gelap.
Kemana Bi Minan?
Menyalakan semua lampu lalu naik ke atas menuju kamarnya, segera mandi dan bersiap.
Ia harus meminta maaf kepada seseorang.
Mahira turun lagi kelantai bawah setelah mandi dan bersiap siap tapi tidak menemukan keberadaan Bi Minan membuatnya meraih ponsel ingin menghubungi wanita itu.
Tapi ternyata ada satu pesan masuk dari bi Minan sejak tadi.
Bi Minan : Mba, bibi siang tadi harus ke Bandung makanan udah bibi siapin di meja makan, kemungkinan baru bisa pulang lusa. Maaf ya mba baru ngabarin. Mba Ira hati hati di rumah jangan lupa kunci pintu kalo mau pergi atau tidur.
Mahira : Iya Bi, jangan lama lama ya! take care!
Gadis itu tersenyum menatap pesan dari bi Minan bahkan mamanya saja tidak pernah berlaku seperti ini padanya.
Mahira berjalan ke ruang makan mendapati sudah banyak makanan diatas meja membuatnya tersenyum.
"Gue bawa deh buat makan, sekalian makan bareng nanti" gumamnya lalu mengambil beberapa tempat makan besar di rak.
Memasukan sebagian makanan itu kedalam tempat makan dan mengambil tote bag memasukkannya ke dalam ditambah dengan beberapa potongan buah yang sudah ia potong dan dimasukkan ke dalam tempat kecil serta beberapa minuman kaleng.
Setelah dirasa cukup ia keluar dari ruang makan dan berjalan ke arah pintu rumahnya, tanpa sengaja matanya melihat kunci mobil tergantung didekat tv membuatnya berfikir "Apa lebih gampang naik mobil aja?" Mahira berfikir sebentar lalu memutuskan untuk mendekat dan meraih kunci mobil itu.
"Gapapa deh lagipula ke rumah Debi doang" gumamnya lalu melangkah ke garasi.
Mobil ini sebenarnya miliknya hadiah ulang tahunnya saat berumur 17 tahun, tapi tidak pernah ia pakai karna harapan Mahira saat itu.
Ia hanya ingin bersama mama papanya.
Menjalankan mobilnya perlahan keluar dari kompleks perumahan menuju rumah gadis itu.
☄️☄️☄️
Suara ketukan pintu di kamarnya membuat Debi mendecak, "Siapa" tanya gadis itu.
"Bibi Neng" ucapnya dari luar.
"Ada temen Neng Debi diluar."
"Bilangin aja Bi Debi lagi ga ad-"
"Siapa yang ga ada?" potong nada datar itu diambang pintu.
Debi yang sudah kembali tengkurap di kasurnya sontak menoleh lalu terduduk dengan wajah terkejut.
"Lahh lo ngapain disiniii?!" tanya Debi sudah histeris.
"Biasa aja." jawab Mahira.
Lalu melangkah memasuki kamar gadis itu, dengan kamar yang di dominasi warna pink dan biru ditambah aroma lembut dari buah buahan membuat siapa saja pasti betah dikamar ini.
Mahira duduk di ambal berbulu dengan Debi yang menyusul disebelahnya.
Setelahnya hening tidak ada yang memulai percakapan sampai akhirnya Mahira berdehem.
"Gue minta maaf" ucap Mahira sedikit canggung.
Debi menoleh lalu tersenyum, "Gapapa, lagian gue sadar kok gue emang pengganggu di hidup lo" sahut gadis itu pelan membuat Mahira menoleh ke gadis ini.
"Gue ga maksud ngomong gitu, gue tadi lagi emosi jadi ga sengaja lo yang kena imbasnya." tutur Mahira merasa bersalah.
"Iya gapapa Ra gue ngerti, gue ga marah kok sama lo jadi lo ga perlu minta maaf" balas gadis itu meraih tangan Mahira lalu menggenggamnya.
"Gue tau susah bagi lo untuk cerita sama gue, gue bakal selalu temenin lo, lo ga perlu khawatir" balas gadis itu tersenyum membuat Mahira ikut tersenyum dibuatnya.
Baru akan menarik Mahira ke pelukannya gadis ini sudah mendorongnya.
"Ga usah peluk peluk lo ya!" ancam Mahira.
"Lo mah ah, rusak kan suasana sedihnya" geram Debi membuat Mahira memutar bola mata malas.
Selanjutnya meraih tote bag yang ia bawa tadi mengeluarkan makanan.
Debi tersenyum lebar begitu saja.
"Lo sana ambil piring sama sendok gue tadi lupa bawa" perintah Mahira membuat senyum Debi luntur seketika.
"Ini kan rumah gue kenapa jadi gue yang di babuin?!" ucap gadis itu sebal lalu melangkah keluar kamarnya.
Dengan iseng menarik rambut Mahira yang dikuncir membuat Mahira mengumpat dalam hati.
☄️☄️☄️
"Sumpah ya gue kenyang banget" ucap Debi mengelus perutnya.
"Lagian lo makan banyak banget" sahut Mahira geleng kepala.
Melihat tadi Debi makan sampai nambah 3 kali membuat Mahira ternganga.
Mahira tau gadis itu doyan makan tapi tidak tau bisa sampai sebanyak ini.
"Dia dateng ra." ujar Debi sendu membuat Mahira mengerutkan kening.
"Tapi dia dateng bukan untuk gue, menurut lo gue harus apa?" tanya Debi bersender.
"Ikhlas." sahut Mahira singkat.
Debi kali ini mencerna jawaban singkat itu, bukan tidak mudah baginya untuk merelakan apalagi ikhlas karna setiap ia mencoba hatinya lagi yang harus berkorban.
Debi kali ini diam mencoba menutup mata menghalau ribuan air mata yang siap jatuh.
Membuat Mahira yang disebelahnya menatap gadis itu dari samping, sebetulnya siapa?
☄️☄️☄️
Suara telfon berdering membuat kedua gadis yang sedang fokus menonton film itu tersentak berikutnya saling pandang dan meraih ponsel masing masing.
Mahira mengerutkan kening membaca nomer tidak dikenal ini menelfonnya lalu dua detik kemudian mati, lalu tak lama kembali menelfon membuatnya mengabaikan panggilan itu.
"Angkat aja Ra siapa tau penting" ucap Debi lalu kembali fokus menonton.
Membuat Mahira menggeser tombol hijau itu mengangkat panggilan.
"Mahira?" sapa orang diseberang.
"Siapa" tanya Mahira bingung tapi tidak asing dengan nada suara ini.
"Lo lupa? Gue Damar Ra yaallah yang tadi ngasih lo kopi kaleng" ucap pemuda itu sebal.
"Kok lo jadi bahas kopi yang tadi mulu sih!" sahut Mahira ikut sebal.
"Woyy Ra yaallah ini kenapa jadi masalah kopi sih" ujar Damar diseberang sudah pusing.
"Oiya lo dimana sekarang? Udah makan?" tanya pemuda itu.
"Di rumah Debi udah makan" jawab Mahira.
Hening sebentar diseberang sana membuat Mahira mengira pemuda itu sudah mematikan sambungan.
"Lo dapet nomer gue darimana?" tanya Mahira penasaran.
"Dari bidadari tadi dia ngirim nomer ini ke gue" sahut Damar kemudian terkekeh.
"Sinting" ucap gadis itu pelan, tapi Damar masih bisa mendengarnya.
"Gue denger ya Ra lo ngatain gue apa" ucap pemuda itu.
"Eh jangan lupa simpen ya ini nomer gue."
"Yaudah gue tutup ya, night Ra" tutur Damar.
Mahira tersenyum samar selanjutnya mematikan sambungan.
Night juga.
☄️☄️☄️
Debi tersenyum tipis, mencoba fokus menonton tanpa pernah Mahira tau kalau gadis ini berusaha manahan.