
"Main ke rumah gue yo Ra"
"Males." jawab Mahira
"Ayo dih lo cuma sekali doang ke rumah gue ya, itupun karna lo minta maaf waktu itu" ujar Debi memelas.
"Engga." ucap Mahira malas.
Debi diam saja mengabaikan, diam diam tetap melajukan mobilnya ke arah rumahnya bukan rumah Mahira.
Gadis itu tidak sadar karna sudah sibuk memejamkan mata sambil mendengarkan musik melalui earphone.
Tidak lama setelahnya mobil Debi sudah berhenti didepan gerbang rumahnya membuat Mahira membuka mata dan tersentak begitu saja.
"Yu turun" ajak Debi riang.
Membuat Mahira mendengus keras, bisa bisanya ia tidak sadar bahwa ini arah ke rumah gadis itu bukan arah ke rumahnya.
Mahira turun lalu menutup pintu mobil dengan sedikit kencang tanda ia kesal dengan gadis itu.
"He! rusak Ra!" ucap Debi yang sudah sampai di pintu utama rumahnya.
Mahira tidak peduli lalu berjalan gontai menghampiri gadis itu yang sudah cengengesan ditempatnya.
"Seneng lo?" tanya Mahira sinis.
Membuat Debi tertawa melihat wajah judes Mahira.
Pintu utama terbuka menampilkan sosok wanita anggun berdiri disana, walau sudah berumur tapi parasnya yang cantik masih tetap terlihat di wajahnya yang sudah mulai menua itu.
"Eh mama! ini Mahira yang Debi bilang mah" ujar Debi sambil menoel pundak Mahira.
Wanita anggun itu menoleh lalu tersenyum.
"Jadi kamu ya Mahira?" tanya wanita itu tersenyum lembut.
"Iya tante." jawab Mahira bingung.
"Kenalin saya Ana, mamanya Debi." ucap wanita itu masih tersenyum.
Mahira mengangguk sopan menanggapinya.
"Debi sering cerita sama tante tentang kamu." tutur Ana.
Mahira menoleh ke samping membuat Debi menaik turunkan alisnya, "Termasuk kejamnya lo sama gue!" canda Debi tertawa.
Mahira memicingkan mata membalas gadis itu.
"Yaudah ayu masuk" ajak Ana. Membuat mereka mengikuti walau Mahira sedikit canggung.
"Mah kita ke kamar ya!" ucap Debi kemudian menarik tangan Mahira untuk menaiki tangga.
Mahira hanya tersenyum saja pamit kepada wanita anggun tersebut.
Membuat Ana tersenyum sendu menatap Mahira, ia sudah tau sedikit tentang gadis manis itu karna putrinya Debi sudah banyak cerita tentang gadis itu. Termasuk lukanya.
☄️☄️☄️
"Nyokap gue psikiater Ra, lo bisa cerita sama dia kalo lo mau" ucap Debi saat mereka sudah duduk di kasur gadis itu.
"Psikiater?" tanya Mahira.
Debi tersenyum kemudian mengangguk, "Nyokap gue tau apa yang lo alamin, gue emang cerita sama dia tentang lo, tapi mungkin kalo gue ga cerita sama dia pun dia bakal tau karna ngebaca raut muka lo." terang Debi tersenyum.
"Lo ngapain sih cerita tentang gue?" sela Mahira.
"Kenapa?" tanya Debi bingung.
"Gue ga suka Bi masalah gue diumbar ke orang lain," tegas Mahira. "Sekalipun itu nyokap lo."
"Ra..."
"Gue cerita sama lo karna gue tau lo orang yang bisa gue percaya tapi bukan gini, gue ga suka dianggap lemah sama orang lain." tukas Mahira.
"Ra, dengan lo selalu aja nutupin semuanya, lo bakal merasa lo hebat? dengan berpura pura lo baik baik aja padahal lo lagi hancur itu, lo pikir lo hebat?" tanya Debi sarkas.
"Semua orang pengen bantu lo Ra.. IPA 2, Nyokap gue, dan terutama gue!"
"Kenapa sih lo tuh selalu aja nyimpen semuanya sendiri? lo punya kita semua Ra, seperti kata Sean kita bakal selalu ada" ujar Debi pelan.
"Bi.. gue cuma ga mau ngerepotin banyak orang karna gue." lirih Mahira.
Debi menarik nafas lalu maju dengan perlahan merengkuh tubuh gadis itu. Menepuk punggungnya pelan.
"Semua peduli sama lo Ra."
Mahira diam saja. Diam diam meresapi kalimat itu baik baik.
Mahira menguraikan pelukan mereka lalu menggenggam tangan gadis itu.
"Tapi sorry, gue belum bisa cerita sama nyokap lo." ungkap Mahira jujur.
Debi mengangguk, "Gapapa, sorry juga tadi gue kebawa emosi."
"Yaudah gue kebawah bentar ngambil minum, sekalian pesen grabfood aja gimana?" tanya Debi baranjak.
"Lo mau apa?"
"Samain aja." jawab Mahira membuat Debi mengangguk. Lalu keluar dari kamar.
Setelahnya Mahira mengitari pandangan di kamar ini, kamar gadis ini nyaman dengan harum buah buahan seperti jeruk bercampur mint. Familiar.
Mahira bangkit kemudian berjalan ke arah meja belajar gadis itu yang berantakan, terlihat buku buku pelajaran, novel horror sampai notes besar.
Gadis itu mengambil salah satu novel horror berniat ingin membacanya saat selembar foto polaroid jatuh ke bawah.
Mahira membungkuk mengambil foto itu terlihat disana Debi dengan seorang pemuda manis berfoto berdua, dengan wajah pemuda itu yang sudah tercoret spidol tapi masih terlihat senyumnya.
Mahira mengerutkan kening merasa familiar dengan senyum pemuda itu, Tapi siapa?
Kemudian Mahira membalikkan foto mereka dan terdapat tulisan 'Sorry ra, but my feelings are still the same'
Mahira mengerutkan kening, "ra?", "perasaan ku?", "sama?" batin gadis itu.
Siapa? Dirinya? Tapi tidak mungkin, Debi termasuk gadis yang mudah bergaul dan pasti temannya bukan hanya Mahira saja dan... ra itu pasti bukan ia.
Tapi entah kenapa Mahira merasa perasaan tidak enak tiba tiba menyerangnya. Bukan dia. Iya, pasti bukan Mahira.
Tapi... Perasaan ku? sama? apa maksudnya..
☄️☄️☄️
"Ra?" panggil Debi masuk ke kamar.
Mahira menoleh menatap gadis itu yang menghampirinya.
Keduanya duduk dibalkon kamar Debi dengan pemandangan bukit bukit kecil terlihat dari atas sini.
Mereka baru saja selesai makan dan tadi Debi pamit sebentar ke bawah dan kembali membawakan sekaleng kopi instan.
Hening menghiasi mereka saat keduanya memilih bungkam terhadap perasaan masing masing. Sebenarnya ada banyak yang ingin Mahira tanyakan kepada gadis disampingnya, sementara banyak yang ingin Debi utarakan kepada gadis disebelahnya sebelum semuanya terlambat.
"Lo pernah punya pacar?" tanya Mahira tiba tiba.
Debi tersentak walau itu hanya pertanyaan biasa tapi entah kenapa membuatnya takut.
"Pernah." jawab Debi sambil menatap ke depan.
Mahira menggumam saja tidak bertanya lebih lanjut, membuat Debi diam diam sedikit lega karna Mahira tidak bertanya banyak.
"Ia harus mengontrol keadaan agar tidak canggung seperti ini" pikir Debi dalam hati.
Lalu ia berdehem dan tiba tiba tertawa membuat Mahira menoleh horror padanya.
"Gue jadi inget lagi deh waktu pertama kali kita kenal" ucapnya kemudian tertawa.
"Lo dingin banget sama gue, gue ajak temenan lo gamau, dih so ngartis lo!"
Mahira menjitak pala gadis itu.
Selanjutnya Debi melanjutkan, "Trus gimana susahnya gue buat bikin lo mau jadi temen gue Ra, susahhh bangettt"
"Tapi akhirnya gue seneng bisa temenan sama lo, walau lo orangnya nyebelin, judes banget tapi gue sayang sama lo."
"Kalo kesan lo pertama kenal gue gimana ra?" tanya Debi
"Lo so kenal, berisik, dan.. kepoan" jawab Mahira datar.
Debi menggeram kepada gadis ini bersiap maju dengan tenang Mahira berkata, "Apa? Lo mau war sama gue?"
"Cih so iye lu es batu." sungut Debi.
Membuat Mahira mengumpat pelan.
"Resolusi lo tahun ini apa Ra?" ucap Debi berganti topik.
Mahira berfikir sebentar lalu dengan mantap ia berkata, "Bahagia" balasnya singkat.
"Itu aja?"
"Sebenernya banyak," kata gadis itu, "Tapi dengan gue merasa bahagia semua bakal baik baik aja."
"Kalo lo?" tanya Mahira bertanya balik.
"Gue cuma pengen...bisa terus temenan sama lo, gue tau ini alay tapi...lo satu satunya orang yang bisa ngubah pola perasaan gue sendiri."
"Lo ngerti gue Ra. Bahkan disaat gue ga ngerti sama diri gue sendiri." ungkap Debi jujur.
Kali Mahira dibuat diam oleh gadis cantik itu, merasa ada yang ingin disampaikan Debi tapi enggan untuk diutarakan.
"Ada yang mau lo ceritain?" tanya Mahira.
Debi menoleh tapi tidak berani menatap mata Mahira, yang dilakukannya hanya memain mainkan kuku menampik segala kemungkinan yang mulai berkeliaran dikepala.