MAHIRA

MAHIRA
bab 32 | Microphone



Jam dinding telah menunjukkan pukul 6 lebih 15 menit tapi seorang gadis dengan piyama kebesaran itu masih bergelung di bawah selimutnya, enggan untuk bangun dari tempat tidur ditambah dengan cuaca dingin sehabis hujan membuatnya tambah merapatkan selimut.


Hari ini sampai 2 minggu kedepan merupakan hari bebas bagi murid kelas 12 dimana SMA Britania akan membebaskan murid muridnya sebelum melaksanakan ujian akhir.


"Mbaa Iraaaa!!"


"Mbaa ayo bangun, udah siang nanti telat!!" teriak Bi Minan sambil membuka pintu kamar.


Geleng geleng kepala melihat gadis ini yang bahkan tidak terusik sedikit pun.


"Mba Ira bangun! udah siang ini mbaa"


Mahira mengerjapkan kedua matanya karna suara Bi Minan yang mengganggunya, "Nanti bi 5 menit lagi.."


"Ayo ayo sekarang, anak perawan kok bangunnya siang" omel Bi Minan lagi.


Mau tidak mau Mahira menyibak selimutnya lalu duduk dengan kondisi mata masih setengah terpejam.


"Ayo mandi setelah itu turun ya, bibi udah siapin sarapan" kata Bi Minan lalu keluar dari kamar.


Gadis itu berjalan lunglai ke kamar mandi kamarnya lalu melaksanakan ritual paginya seperti biasa.


☄️☄️☄️


"Udah ya bi Ira berangkat" pamit Mahira setelah selesai sarapan lalu mencium tangan Bi Minan.


"Iya hati hati ya mba" jawab wanita itu tersenyum sambil mengelus pundak Mahira.


Mahira tersenyum lalu melambai singkat ke arah Bi Minan.


Selagi kakinya melangkah untuk keluar dari rumahnya ada perasaan mengganjal dalam benaknya seperti perasaan gelisah. Entah apa... tapi ia merasa ada sesuatu yang akan hilang.


Cepat cepat menepis perasaan itu berujar dalam hati bahwa akan baik baik saja.


☄️☄️☄️


Mood Mahira pagi ini sedang dalam kondisi yang kurang baik berbanding terbalik dengan Debi yang sekarang tengah berlari lari dengan riang dari parkiran kearahnya.


"Hoy masih pagi. Muka dah ga enak amat" goda Debi.


Mahira melengos tidak berniat menanggapi gadis ini.


"Dih dasar lo samyang extra spicy!"


"Hah?" bingung Mahira.


"Iya bikin mules!" seru Debi tertawa lalu berlari duluan meninggalkan Mahira yang sudah melotot.


Datangnya Debi juga membuat kelas itu makin rusuh karna gadis itu langsung berlari ke tengah kelas dan mengambil microphone bluetooth yang kemarin ia beli.


IYA MICROPHONE BLUETOOTH YANG WARNA WARNI ITU TANPA KABEL.


"Anjrit lu beli gituan deb?" tanya Nino bengong.


"Heh anak dugong. Telat! kita dah mau lulus lo baru beli" seru Adilla.


"Ya mang ngapa sih? Ga boleh? Sombong amat" jawab Debi santai.


"Ga nyambung goblok" umpat Hana emosi.


Debi menjulurkan lidah tidak peduli. Mengangkat mic bersiap konser.


"TAPI SAYAAAANG, MASIH PANTAS KAH KAU PANGGIL SAYAAAANG..." nyanyi gadis itu sudah mulai.


"AKU TAK MAU BICARA SEBELUM KAU CERITA SEMUAAAA" sambung Amel.


"AK- "


"Heh brisik! Duduk semua ada Bu Syana" ucap Sean dari arah pintu kelas.


Debi melengos sebal mau tidak mau memasukkan microphone tersebut dalam tas.


Mahira yang sudah duduk anteng dikursinya tertawa kecil memperhatikan gadis itu. Debi yang melihat itu sontak melotot garang "Apa?! Apa lo?"


"Kasian deh lo" ucap Mahira mengejek lalu kembali membaca bukunya.


Membuat Debi yang disebelahnya mengumpat kecil.


☄️☄️☄️


Bel pulang sekolah berdering nyaring. Mahira mengernyit melihat Debi terlihat terburu buru membereskan buku bukunya. Walau terlihat terburu buru tapi tatapan gadis itu kosong.


Berdiri dari tempat duduk dan memegang pundaknya, "Gue duluan ya ra. Sorry ga bisa anterin lo."


Mahira mengangguk angguk saja masih fokus membereskan bukunya. Tapi sedikit bingung Debi tidak kunjung melepaskan pegangannya pada pundaknya membuat Mahira menoleh.


Gadis cantik itu mengerjab kecil lalu buru buru menurunkan tangan dan melambai padanya.


Mahira kali ini memperhatikan gadis itu sampai hilang dibelokan pintu kelas mengingat kembali tatapan Debi padanya.


Kosong.