
Pagi ini Mahira bangun dengan keadaan hati ringan dari hari hari sebelumnya entah karna apa tapi chat singkat dari Debi merupakan salah satu faktor yang membuatnya tersenyum samar.
Entah mendapatkan nomernya dari mana yang jelas saat ia terbangun tadi tengah malam sebuah notifikasi chat dari nomor yang tidak dikenal masuk begitu saja ke ponselnya.
082187643324 : Ira?
Mahira : Siapa
082187643324 : Due Debi, Debi temen sebangku lo
082187643324 : Takutnya lo lupa sama gue, oiya ini nomer gue jangan lupa save ya!
082187643324 : Tawaran pertemanan gue masih setia nunggu lo kok hehe nanti kantin bareng gue ya? oke! see you.
Read.
Ditempatnya Debi hanya mengkerut kecil melihat tidak ada balasan dari dinginnya cewe satu ini.
Setelahnya Mahira mematikan ponsel lalu beranjak dari tempat tidur untuk mandi dan bersiap ke sekolah.
☄☄☄
"Mba Ira sarapannya udah siap ayo turun" teriak Bi Minan dari lantai bawah.
"Iya Bi tunggu sebentar" teriak Mahira tak kalah nyaring.
Berikutnya mengambil tas dan memastikan tidak ada yang lupa lalu cepat cepat turun ke bawah karna kalau tidak Bi Minan pasti akan berteriak lagi.
Harum nasi goreng menyeruak memenuhi indra penciumannya saat langkahnya memasuki ruang makan, ini salah satu yang membuat Mahira menyayangi Bi Minan layaknya ibu kandungnya sendiri.
Hebatnya ia dalam memasak membuat Mahira lebih betah di rumah untuk menikmati lezatnya masakan rumah khas Bi Minan "untuk kesekian kalinya ia harus bersyukur karna memiliki bi minan" batinnya berucap disertai dengan senyum lebar.
"Harum seperti biasa" ucap Mahira sambil menarik kursi makan bersiap untuk duduk.
Bi Minan tersenyum dengan telaten menyendokkan nasi goreng ke piring ditambah dengan telur ceplok setengah matang serta taburan bawang goreng membuat senyum Mahira mengembang begitu saja.
"Makasih ya Bi" ucapnya mulai menyendokkan makanan ke mulut.
Enak. Seperti biasa. "Yang banyak mba makannya biar kuat di sekolahnya" jawab Bi Minan sambil mengelus puncak kepala Mahira lalu berlalu untuk menuju dapur.
Mahira tersenyum lalu memandangi kepergian beliau dengan tatapan sendu.
Lucu memang bahkan sampai sudah remaja ini Mahira jarang sekali melihat mamanya memasak untuk sarapan.
Sibuk. satu kata yang begitu Mahira benci selama ini.
☄☄☄
"Diem banget anaknya, kaya es batu"
"Halah es batu juga bisa mencair,"
"12 IPA 2 Mar kelasnya"
"Gue ga nanya"
"Awas lu ya nyed minta bantuin deket"
"Ga bakal lu mah ga guna"
Pemuda itu kembali memperhatikan perempuan dari lantai dua kelasnya yang sedang berjalan tenang membelah lapangan olahraga tanpa terusik dengan keadaan disekitarnya. Perempuan yang tidak sengaja ia tabrak di dekat toilet beberapa hari yang lalu.
Sepertinya pemuda ini tau akan berjalan kemana setelah ini.
☄☄☄
"Mahira ayo ke kantin" ajak Debi mencolek tangan Mahira yang sedang menulis.
"Males" jawab Mahira lelah, karna sudah dari tadi perempuan ini tidak henti hentinya mengajaknya untuk ke kantin.
"Iraa ayo dong gue laper nih abis ini kan pelajaran fisika Ra nanti gue pingsan gimana karna belum makan" cerocos Debi lagi membuat Mahira mengabaikannya dan masih sibuk menulis. "Ira! ayoo go go go!" kini sambil berusaha menarik tangan Mahira untuk bangkit dari duduknya.
Mahira melepaskan pegangan Debi dari lengannya dan memberi tatapan dingin seakan ia benar benar tidak ingin diganggu.
Membuat Debi merenggut dan sengaja menyenggol lengan Mahira yang sudah kembali menulis membuat tulisannya tercoret begitu saja.
Mahira mendecak lalu menoleh melihat Debi sudah berlalu keluar kelas disertai tawa dan lambaian tangan.
☄☄☄
Bel masuk berbunyi membuat Mahira yang ingin ke toilet mengurungkan niatnya karna ingat Pak Budi merupakan guru yang on time masuk kelas membuatnya mendesah pelan berusaha menahan sampai pelajaran ini selesai walau terdengar mustahil.
Ya gimana Pak Budi tipe guru yang ga suka muridnya ketinggalan pelajaran dia. Muridnya izin ke toilet aja dikasih wejangan biar cepet balik lagi.
Tapi kali ini Mahira sudah tidak tahan buru buru bangkit lalu menuju meja guru membuat anak anak dikelasnya memperhatikan.
"Pak saya izin ke toilet." ucapnya cepat karna sudah tak tahan.
Pak Budi yang sedang menulis di papan tulis menoleh "Lohh kamu ini gimana sih tadi kan udah istirahat kenapa ga tadi aja nak nak," ucap Pak Budi sudah mulai "Tapi cepet ya kalo ga kamu ketinggalan pelajaran saya loh kamu mau melewati ilmu lalu nanti sewaktu ujian ga ngerti apa apa?" jelas Pak Budi lagi dengan aksen jawab melekat di nada suaranya.
"Saya ke toilet pak bukan mau ke Kanada" jawab Mahira datar segera berjalan keluar kelas dengan cepat membuat anak kelasnya menahan tawa mendengar jawaban itu.
☄☄☄
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet ia berlalu keluar kemudian berbelok untuk menaiki tangga ke kelasnya.
Karna toilet di lantai tiga rusak terpaksa ia ke toilet di lantai dua karna setiap lantai disediakan toilet untuk memudahkan.
Menaiki tangga dengan cepat karna malas jika harus mendengar ultimatum dari Pak Budi.
"Ehem" deheman seseorang yang sedang berdiri sambil bersender dipertengahan tangga membuatnya melirik tidak peduli sambil terus melanjutkan langkah. "Mahira?" ucap suara di belakang membuatnya refleks berhenti dan menoleh.
Melihat pemuda yang sedang bersender tadi menegakkan tubuh lalu berjalan menghampiri Mahira membuat gadis itu mengernyitkan kening "Ternyata bener" ucap pemuda itu lagi tersenyum tipis lalu mengulurkan tangan "Gue Damar siswa baru pindahan dari Nusa Tenggara" kali ini Mahira dibuat bingung dengan pemuda di depannya tiba tiba berkenalan seperti ini.
"Apa hubungannya sama gue?" tanya Mahira hanya menatap tangan itu yang masih terjulur tidak berniat untuk membalas uluran tangan itu. Membuat pemuda itu Damar lagi lagi tersenyum dengan perlahan menurunkan kembali tangannya.
"Ya ga papa cuma pengen kenalan aja biar lo tau siapa gue" jawab pemuda itu sambil tertawa lalu kembali melanjutkan "Lo ga mau kenalin diri lo nih? Kapan lagi coba diajak ngomong sama gue. Siswa pindahan paling ganteng" ucap pemuda itu tengil.
"Sinting" jawab Mahira pelan walau masih sempat didengar oleh Damar membuat pemuda itu tertawa kembali, Mahira melanjutkan langkah kali ini sambil berlari kecil karna tau setelah ini akan di beri ultimatum menyebalkan dari Pak Budi.
Damar di belakangnya tertawa melihat punggung itu menjauh, "Kapan kapan gue traktir di kantin ya!" teriak pemuda itu nyaring.
Sinting dua kali.
Membuat Mahira mempercepat larinya tidak menghiraukan makhluk aneh dibelakangnya yang mirip dengan teman teman dikelasnya.