
"Engga terasa ya Ra kita udah 4 bulan jadi murid kelas 12 beberapa bulan lagi kita bakal lulus" ujar Debi memandang lapangan didepannya.
Mereka berdua sedang duduk dilapangan sekolah melihat murid kelas 12 yang lain sedang bermain bola.
Awalnya Mahira menolak, ingin ke perpustakaan saja membaca buku tapi Debi dengan seluruh kekuatannya membujuk gadis ini untuk ikut dengannya ke lapangan.
Dengan terpaksa Mahira mengikuti gadis itu.
Ternyata dilapangan ramai bahkan bukan hanya dirinya saja tapi anak kelasnya pun ada disana membuat Mahira canggung begitu saja.
"Debi sini!" panggil Adilla melambaikan tangan selanjutnya sadar, "Eh Mahira! ayo sini sini" panggil gadis itu kemudian tersenyum.
Debi menoleh kepada Mahira memberi kode untuk ikut lalu menarik tangannya.
"Lo berdua kemana aja sih, seru tau ngeliat kelas kita tanding sama 12 IPS 1" tanya Abel.
"Ini nih Mahira susah diajak kesini maunya ke perpuus aja" tunjuk Debi membuat Mahira memutar bola mata.
"Kali kali mah gapapa kali Ra disini, kapan lagi kan nonton sama anak kelas" sahut Hana dibelakang Mahira, Mahira hanya tersenyum tipis.
Selanjutnya sorakan sorakan heboh itu terdengar dari kelasnya meneriakkan murid laki laki supaya lebih semangat lagi.
"BEBEEEENN!! AYO DOONG SEMANGAT LO DAH GUE KASIH NOMER CEWE SEKOLAH DEPAN JUGA!!" teriak Adilla meneriaki cowo dari lampung itu yang sedang menggiring bola.
"NINOO AWAS LO NANTI TAMBAH GOSONG!!" ucap Debi ikut ikutan meneriaki.
Membuat Nino menoleh kemudian mengumpat.
"KEPALA SUKU GO! GO! GO!" teriak Abel mengacungkan pom pom yang ia pinjam dari anak cheers.
"YO! YO! YO! 12 IPA 2 YO! HABESEEEN!!" ucap Keyna sudah dalam mode ambyar seperti yang lain.
Selanjutnya Adilla dan Hana sudah mengangkat banner besar berwarna kuning dengan tulisan hitam besar disana bertuliskan, 'AYO 12 IPA 2 KETURUNAN ANAK BIAWAK SEMUA! SEMANGAT!!'
Mahira melongo ditempatnya, "Ini benar kelas IPA?" ucapnya dalam hati.
Hari ini memang hari lahir sekolahnya sudah menjadi tradisi turun temurun dari dulu setiap hari ini datang, sekolah akan mengadakan banyak pertandingan.
Debi kebelakang lalu kembali lagi dengan banner besar yang sudah ia angkat dengan kedua tangannya, disana tertulis 'SEMANGAT IPA 2! KALAH MENANG TETAP MAKAN MAKAN!'
Berikutnya yang lain juga ikut heboh menyemangati.
Membuat sebagian penjuru disekolahnya menatap mereka, heran. Karna biasanya anak IPA dikenal dengan anak ambis. Kaku. Tapi 12 IPA 2 mematahkan persepsi mereka bahwa IPA tidak seambis dan sekaku itu.
Skor 1-1 membuat wasit meniup pluit dimana pemain bisa istirahat selama 15 menit. Membuat pemain 12 IPA 2 berbondong bondong ke tempat kelasnya berada.
Amel dan Reva selaku seksi konsumsi langsung memberikan minuman dan handuk untuk pemain kelas mereka.
"Lo semua dah keren kok tenang aja" ucap Debi menyemangati.
"Iya kalau kalah gapapa tapi usahain harus menang!" kata Abel.
"Inget ya semboyan kita! Kalah menang tetap makan makan!" ujar Adilla menepuk pundak yang lain.
"Iya ibu ibu kita bakal menang" ucap Nino meluruskan kakinya.
Sean tersadar bahwa ada Mahira bersama mereka selanjutnya menyapa gadis itu.
"Eh Ra, ga ada kata kata semangat nih buat kita?" tanya Sean membuat yang lain refleks menoleh ke gadis itu, Mahira tersentak lalu dengan pelan ia berucap, "Semangat IPA 2"
Membuat cowo cowo itu langsung heboh seperti mendapat lotre dadakan.
"Woy woy disemangatin Mahira efeknya gini amat yak langsung semangat!" sahut Idrus tertawa.
"Bidadari turun dari kayangan woy" celetuk Beben.
"Ini mah kaya abis istirahat lama! Seger lagi" jawab Edo menimpali.
"Abis mati maksud lo?" tanya Keyna tanpa dosa.
Membuat Edo mengumpat.
"Heh Key kebanyakan gaul sama Debi sama Adilla gini nih" ucap Nino.
"Lo gua ceburin ke parit sini" ancam Debi bersiap maju.
"Bebeeeen sini rambut lo gue iket dulu biar tambah fokus nanti" ucap Reva datang sambil membawa kuncir rambut.
"Engga woy engga lo pikir gue anak tk?!" sungutnya sudah memegangi rambut.
"Udah Been gapapa siapa tau gara gara lo dikuncir lo bisa nge gol gawang lawan trus cewe sekolah depan mau jadi pacar lo" sahut Adilla yang sekarang sudah sibuk jadi tukang pijit dadakan.
Akhirnya Beben pasrah saja rambutnya dikuncir oleh Reva.
Beben tuh punya rambut kriwil yang jatohnya itu sebenernya kribo membuat anak kelas suka gemas ingin kuncir rambutnya, dan diantara yang lain Reva lah yang paling gemas dengan rambut cowo itu.
Dan saat selesai menguncir, 12 IPA 2 sontak tertawa ngakak melihat hasil kunciran gadis itu.
Dengan ikat dua di kanan kiri setelah itu disatukan membuat pemuda itu mirip seperti anak tk yang akan berangkat sekolah.
"Sumpah mukanya mirip adek gue kalo berangkat sekolah, bodoh yaallah" sahut Nino sudah tertawa.
"He berisik lo semua, bagus kok ini gue jadi lucu" ucapnya memain mainkan rambutnya.
Membuat yang lain kompak mengumpat.
Suara pluit terdengar menandakan babak selanjutnya akan segera dimulai membuat yang lain segera berdiri.
Sebelum mereka berdiri Debi sontak berkata, "Tos dulu yuk biar semangat!" ucapnya mengajak.
Membuat yang lain berduyun duyun membuat lingkaran. Bersiap tos.
Mahira berdiri canggung ditempatnya, membuat Adilla memanggil gadis itu, "Ira ayo sini! Ikutan!" panggil gadis itu.
Adilla yang gemas melihat Mahira tidak melangkah sontak manarik gadis itu mengajaknya membuat lingkaran.
"Ga usah canggung Ra ini kelas lo juga, kita semua temen lo" tutur Nino yang berdiri disamping Mahira, Mahira tersenyum menoleh pada pemuda itu.
"IPA 2?!" teriak Sean.
"OUR FAMILYY!!!" balas yang lain berteriak kompak sambil mengangkat tangan ke udara bersama.
Mahira kali ini ikut tersenyum bersama yang lain.
Melihat cowo cowo itu mulai memasuki lapangan siap bertanding.
Dalam hati ikut berdoa semoga kelasnya menang.
☄️☄️☄️
12 IPA 2 sontak melompat lompat riang saat tau bahwa di menit menit terakhir Idrus mencetak gol yang membuat IPA 2 keluar sebagai pemenang.
Hal itu membuat yang lain mengangkat tubuh kurus itu ke udara lalu menangkapnya kemudian melakukannya lagi sampai berulang ulang.
"WOY TURUNIN! HE INI GUA DAH KURUS GA USAH LO LEMPAR LEMPAR LAGI YA ANJENG!" paniknya sudah mengumpat ngumpat.
Membuat yang lain menurunkan pemuda kurus itu dan dengan tanpa dosanya Idrus menoyor satu satu kepala anak anak cowo tadi yang sudah mengangkatnya.
Lalu tanpa sengaja Idrus menarik kunciran Beben membuat pemuda itu ngamuk begitu saja.
"Heh! kunciran gua ****" ujarnya kesal sambil membenarkan kunciran tersebut.
"Idiot amat anjeng" sahut Idrus tertawa lalu berlari.
Membuat Beben sudah ingin maju melempar tubuh kurus itu ke tempat sampah depan.
Berikutnya Sean menyuruh anak anak kelasnya untuk kembali ke kelas.
Membuat Debi mengamit lengan Mahira menggandengnya. Saat akan menaiki tangga suara dari pengeras suara terdengar, "PANGGILAN KEPADA DAMAR XAYDEN PURNAMA KELAS 12 IPS 2 DIHARAPKAN KE RUANG PAK ANDRI SEGERA, SEKALI LAGI PANGGILAN KEPADA DAMAR XAYDEN PURNAMA UNTUK SEGERA KE RUANG PAK ANDRI" setelahnya mati, membuat Mahira mengerutkan kening samar bertanya tanya dalam hati.
☄️☄️☄️
"Saya pak? Bapa ga salah?" tanya pemuda itu terkejut.
"Kamu siswa aktif disekolah ini Damar," ucap Pak Andri selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan itu menatap anak muridnya.
"Saya ga ngerti maksud bapa aktif itu apa? Bahkan saya baru pindah ke sini pak" ungkap Damar masih terkejut.
"Ada beberapa hal yang membuat kamu bisa mendapat kesempatan ini Damar, di Nusa Tenggara sana kamu termasuk kedalam siswa pintar dan mampu membuat human story organization? Bahkan guru guru disini saat pertama kali kamu masuk sudah menyarankan kamu untuk mengambil jurusan IPA tapi kamu kekeh untuk mengambil jurusan IPS," tutur Pak Andri.
"Yang pintar melebihi saya masih banyak pak ada Marlo, Dewa, bahkan Mahira. Mereka selalu menyabet juara umum kan pak? Tapi kenapa saya?" ucap Damar melihat Pak Andri.
"Mereka memang siswa siswi kebanggaan sekolah, kalo kamu tanya kenapa bapak tidak kirim salah satu dari mereka karna bapak percaya kamu bisa, keaktifan mereka juga benar benar kami ragukan. Sedangkan syarat kesempatan ini adalah selain pintar harus aktif dalam menyampaikan segala ide. Maka dari itu kami sebagai para guru harus memutuskan yang terbaik diantara yang paling baik." jelas Pak Andri membuat Damar terdiam lalu kembali melanjutkan,
"Kamu bisa pikir pikir dulu Damar, karna ini adalah awal langkah dari kesuksesan mu," kemudian Pak Andri mengambil surat di laci mejanya menyerahkan kepada Damar.
"Ini bisa kamu tunjukkan kepada orang tua kamu kalau kamu mendapat kesempatan ini, saya tunggu ya Damar kesempatan ini tidak datang dua kali." ujar Pak Andri menepuk pelan pundak pemuda itu.
Damar pamit kepada Pak Andri untuk keluar dari ruangannya, setelah menutup pintu ruangan itu ia menatap surat putih itu dengan amplop berlogo nama sekolahnya.
Ini salah satu cita citanya, lagipula siapa yang tidak mau jika diberi kesempatan sebesar ini? Tapi ia kembali berfikir, jika mengambil kesempatan ini bukan hanya orang tuanya saja yang akan ia tinggalkan tapi..
Gadis itu juga. Gadis unik yang tanpa sadar sudah membuat Damar jatuh begitu saja.
Dibelokan koridor gadis itu melihat pemuda itu memegang surat dengan amplop berlogo nama sekolah mereka, membuat dadanya bergemuruh bertanya tanya dalam hati.
Karna jika seseorang sudah mendapat surat berlogo nama sekolahnya itu, hanya ada dua kemungkinan, pertama panggilan orang tua karna melanggar aturan dan yang kedua kesempatan olimpiade atau tawaran beasiswa.
Gadis itu paham karna sering mendapat surat seperti untuk mengikuti olimpiade.
Tapi tidak mungkin..
Ia tau, walau menyebalkan pemuda itu tidak pernah berbuat ulah.
Walau tidak bisa ditepis perasaannya mulai merasa tidak enak.