
Pukul 5 lebih 45 menit Mahira sudah duduk manis sambil membaca buku pelajaran di kursi kelasnya. Kelas masih kosong hanya ada ia seorang.
Tadinya ia ingin belajar di perpus sampai jam pulang sekolah. Malas rasanya jika berada dikelas. Tadi Adilla mengabarinya bahwa ulangan Fisika hari ini tidak jadi membuat Mahira menyesal lebih baik ia bolos saja tadi.
Suara berisik yang datang tiba tiba itu membuat Mahira melirik melihat Adilla, Hana, Beben, Nino serta Sean datang.
"Yoo watsap may besfren" ucap Beben heboh.
"Ngomong apa sih lo" jawab Adilla.
"Ra belajar mulu dah lo? Udah pinter juga" ujar Hana duduk didepannya lalu disusul Adilla yang duduk di samping gadis itu.
Mahira tersenyum tipis tidak terlalu menanggapi. Mulai membuka buku catatan dan mulai menghitung rumus.
Adilla memperhatikan itu lalu tak lama mulai bercerita heboh dengan Hana.
Bel masuk berdering tapi kursi disebelahnya masih kosong menandakan pemiliknya belum datang.
"Ra ini si biduan kemana dah? Tumben belum dateng" tanya Adilla membalikkan tubuh.
Mahira melirik kursi disebelahnya lalu mengendikkan bahu tidak peduli. Adilla mengangkat alis lalu memutar tubuh menghadap depan lagi.
Sampai lebih dari dua jam bel masuk kursi itu masih kosong, membuat Beben yang melihat kursi itu kosong langsung ngacir ke sampingnya.
"Eh neng geulis, ga jadi ulangan neng hehe" ucap Beben menggodanya.
Mahira tidak peduli masih fokus mengerjakan latihan soal didepannya. Sampai ia tiba tiba mengangkat wajah melihat seorang pemuda yang berusaha ia hindari hari ini berdiri didepan pintu mengobrol dengan Nino.
Mahira memasang wajah datar mulai menempelkan kepalanya di meja tapi baru akan melakukan aksi pura pura tidur ia menoleh melihat Beben disampingnya fokus bermain game dilaptop.
Masih dalam posisi wajah menempel pada meja ia menyenggol lengan pemuda itu membuat sang empu latah mengumpat.
"Mati anjeng Ra" umpat Beben langsung menoleh dengan delikan sebal.
Mahira menaruh telunjuk di depan bibir lalu mengisyaratkan Beben untuk diam saja. Pemuda itu paham lalu bertanya kenapa tanpa suara.
Mahira mengarahkan bola matanya ke arah pintu lalu berbicara tanpa suara "Kalo ada yang nyari gue bilang aja tidur." bisik Mahira.
"Ngapain sih Ra? Lu mau ngapain?" balas Beben juga berbisik.
Mahira melotot lalu melirik Nino yang kini menoleh ke arah mejanya. Membuat Mahira buru buru menutup mata pura pura tidur.
"Lah tidur nih bocah?" tanya Nino saat sudah sampai ke samping Beben.
"Iya, heeh tidur. Mau ngapain lo?" tanya Beben.
"Itu si Damar anak IPS nyari Mahira eh gataunya tidur anaknya." balas Nino. "Tapi ada apaan ya? Mahira kan ga pernah tuh keliatan deket sama cowo" lanjut Nino memulai gosipnya.
"Bener juga, diem diem kali biar kagak dimintain pj. Tapi pantes lah Mahira cakep, pinter gini siapa yang gamau." jawab Beben tanpa dosa.
Mahira yang masih dalam posisi pura pura tidurnya itu mengumpat dalam hati, gemas ingin menabok 2 kepala pemuda itu.
"Ada masalah kali si Damar mukanya kusut banget keliatannya si Mahira juga dari tadi dingin banget mukanya." ucap Nino masih tidak mau berhenti.
"Lah Mahira mah emang udah dari sono bentukan mukanya begini." jawab Beben santai tanpa dosa.
Mahira yang tidak tahan akhirnya diam diam menginjak kaki Beben dibawah meja.
"Anj-" umpat Beben tertahan.
"Napa lo? Lahiran?" tanya Nino.
"Dasar buyut kluwek lu!" ujar Nino mengelus dadanya karna benar benar kaget saat pemuda ini berteriak begitu saja.
Beben melotot mengancam ingin melempar laptop didepannya. Membuat Mahira disampingnya sekuat tenaga menahan agar tidak tertawa melihat 2 pemuda bodoh itu.
Setelah dirasa Nino sudah pergi ia membuka matanya pelan pelan lalu melirik ke pintu pemuda itu sudah tidak ada. Beben yang disampingnya menyenggol lengan gadis itu membuat Mahira mengerjap.
"Napa?" tanya Beben.
"Engga, engga papa" jawab Mahira singkat.
Diam diam Mahira menghembuskan nafas kecil melirik sendu ke arah tempat duduk sampingnya lalu ke arah pintu kelas.
☄☄☄
Bintang mendecak melihat Damar yang tengah memantul mantulkan bola basket ditengah lapangan dengan wajah lusuh. Pemuda tampan itu akhirnya masuk ke tengah lapangan lalu dengan sengaja mendorong Damar membuat bola basket itu menggelinding menjauh.
Damar mendecak lalu menoleh, "Ngapain sih lo?!" sembur pemuda itu langsung.
"Mandi gua! ayo lah tanding sama gua" ucap Bintang tengil.
"Males." jawab Damar singkat lalu melangkah ingin meninggalkan lapangan.
"Cupu" ucap Bintang. Damar tetap melangkah menulikan pendengarannya.
"Lo itu cupu!" ucap Bintang lagi kini agak mengeraskan suaranya. Damar berhenti mengeraskan rahang mencoba tidak emosi.
"Kenapa lo berhenti? Ngerasa?" cecar Bintang kian jadi. Damar membalikkan tubuh menatap datar Bintang yang kini tersenyum kecil.
"Mau apa sih lo?" tanya Damar dengan kedua tangan dimasukkan ke kedua saku celana abu abunya.
Bintang mengangkat sebelah alis berbalik badan mengambil bola yang menggelinding tadi. Lalu melemparkannya kepada Damar membuat pemuda itu menangkapnya.
"One by one sama gue. Buktiin kalo lo bukan cupu." ujar Bintang.
"Gue gamau." kekeh Damar lalu melempar kembali bola itu. Berbalik badan bersiap pergi.
"Pantes lo nyakitin dua cewe karna sik-" ucapan Bintang terpotong saat Damar menoleh lalu berjalan cepat dan meraih kerah seragam Bintang mencengkramnya.
"Gua gamau buat wajah lo babak belur sekarang." tekan Damar tajam. Membuat Bintang diam diam meneguk ludah berusaha menguasai diri.
Damar menghela nafas lalu melepaskan cengkeramannya dari kerah seragam pemuda itu menatap tajam pemuda didepannya yang memasang wajah tengil.
"Ck elah, ayo lah" ucap Damar akhirnya mulai mendribble bola itu membuat Bintang tersenyum lebar.
Dengan keadaan sekolah yang sudah sepi dua pemuda itu tetap melanjutkan permainan dengan tawa lebar dimasing masing wajah. Sampai Damar seakan lupa pada masalah awalnya.
"Gitu kek lu dari tadi" ucap Bintang lalu duduk ditengah lapangan. "Muka lu lusuh banget dari pagi."
Damar tidak menjawab masih sibuk mendribble bola basket ditangannya. Bintang disamping pemuda itu menepuk pundaknya "Sorry tadi gue sengaja mancing lo kaya gitu, biar lo bisa ngeluarin emosi lo dengan one by one sama gue."
Damar menoleh "Lo itu kaya anjing tapi lo sahabat gua satu satunya." ucap Damar gantian menepuk pundak Bintang disampingnya.
Bintang mendecih lalu keduanya tertawa. "Gue bakal bantu lo Mar," jelas Bintang. "Gue bisa ngomong ini sama Mahira."
Damar kembali tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. "Gue traktir besok"
"Tenang ada gua! Mahira bakal maafin lu atau kalo ga dimaafin juga paling akhirnya Mahira suka sama gua." ucap pemuda itu ringan.
Damar disebelahnya mendengus memutar bola mata malas.