MAHIRA

MAHIRA
bab 3 | Penasaran



Mahira keluar dari kelas dengan tatapan dingin dan suasana hati memburuk 'siapa tadi namanya? Debi? apa apaan baru kenal langsung bertanya hal hal pribadinya ' ungkapnya dalam hati merasa sebal.


Ia tidak suka perempuan itu meledak ledak, so asik, terlalu kepo, dan terlalu riang? walau wajahnya cantik khas orang campuran tapi sifat perempuan itu berbeda jauh dengan fisiknya dan perempuan itu merupakan salah satu orang yang harus ia hindari.


Berjalan pelan ke toilet untuk mencuci muka lalu setelahnya akan ke rooftop untuk mencari ketenangan, ia masuk dan mendapati toilet dalam keadaan sepi lalu mencuci muka untuk menyegarkan wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin membuatnya merasa saat ini bukanlah dirinya yang asli ini hanya topeng untuk menutupi semuanya.


Keluar dari toilet dan berlari kecil ingin segera sampai di rooftop membayangkan sofa disana dan semilir angin membuatnya tersenyum sendiri dalam hati.


Saat akan belok kanan


Brukk..


"Jir" umpat seseorang di depannya kecil.


Ia ditabrak seseorang yang Mahira yakini adalah seorang laki laki.


"Sorry sorry gue ga liat lo sorry banget" ucapnya panik sambil sedikit menunduk ingin menyejajarkan wajahnya dengan wajah Mahira.


Mahira yang kaget karena wajahnya yang tiba tiba dekat sekali dengan laki laki ini refleks mundur dan hanya mengangguk untuk menjawab.


"Sorry gue bener bener ga liat lo," matanya tidak sengaja melirik ke arah baju Mahira yang terdapat noda coklat khas orang kecipratan air genangan.


Lalu teringat tadi pagi kala dirinya mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan melewati genangan dimana ada seorang gadis yang berdiri di dekatnya, ia tidak sempat berhenti dan minta maaf kepada gadis itu karna terlalu buru buru. Jangan jangan..


"Eh lo yang ta-" belum selesai bicara, perempuan itu buru buru memotong "Gue buru buru" ucapnya singkat lalu berlalu pergi tanpa senyum atau ucapan apapun lagi.


Laki laki itu memperhatikan punggung perempuan itu sampai hilang dibelokan koridor, mengernyitkan kening merasa penasaran dengan perempuan tadi.


☄☄☄


Membuka novel yang tadi belum selesai dibaca karna diusik terus menerus oleh perempuan bernama Debi itu.


Mulai larut dengan kegiatannya membuatnya sadar bahwa kegiatan sederhana itu bisa memperbaiki moodnya. Ditambah semilir angin membuat perasaannya kian membaik.


☄☄☄


"APA SALAH DAN DOSAKU SAYANG"


"CINTA SUCI KU KAU BUANG BUANG LIHAT JURUS YANG KAN KU BERIKAN!" teriak Debi sudah dalam mode penyanyi dangdut, "JARAN GOYANG JARAN GOYANG" ucap satu kelas kompak.


"APASIH GALAU SEMUA DAH LU PADA" cetus Nino yang dari tadi memperhatikan kelasnya dengan pandangan lelah.


"HE INI DANGDUT YA BUKAN GALAU!" teriak Adilla lagi sudah memegangi kemoceng sebagai mik.


"Teman teman rakyatku yang budiman dan santuy alangkah baiknya kita membuat kelas ini jadi arena dangdut sekian terimakasih" tutur Debi kemudian tertawa gila sendiri.


"Arena dangdut jir kenapa ga arena balap sekalian ****" ucap Sean ikut ikutan tertawa gila."


Lalu dengan kurang ajarnya Edo mendukung sekaligus menoyor laki laki itu. "Jangan Deb jangan, arena tinju aja si Adilla kan calon petinju" celetuk Idrus laki laki bertubuh kurus itu.


Yang disebut hanya tersenyum dan tiba tiba maju mencekek laki laki kurus tersebut.


12 IPA 2 di hari pertama sekolah ini sudah ramai tidak jelas diisi oleh manusia manusia alien seperti mereka ini.