MAHIRA

MAHIRA
bab 13 | Obrolan di angkringan



Mahira mengernyitkan kening melihat perubahan sikap Debi yang sekarang duduk anteng di sebelahnya.


Sejak kembali dari lapangan tadi mendadak sikapnya berubah menjadi diam tidak seperti biasa.


Bahkan Debi yang jarang sekali main hp dikelas karna lebih sering menjahili yang lain, sekarang malah duduk tenang dengan ponsel di genggamannya sibuk menulis sesuatu di layar.


Tapi ada yang berbeda, tatapannya dan gerak tubuhnya menggambarkan ia sedang gelisah, Mahira tau karna sejak Debi kembali ke kelas ia sudah memperhatikan gelagat berbeda dari teman sebangkunya ini.


Membuat Mahira menggelengkan kepalanya samar berusaha untuk tidak ikut campur.


☄️☄️☄️


Malam ini cerah.


Membuat Mahira keluar kamar dan buru buru turun ke bawah untuk pamit dengan Bi Minan.


"Bii Ira ke angkringan depaan" ucapnya sambil melangkah ke arah pintu.


"Hati hati mba! jangan pulang malem malem ya" balas Bi Minan membuat Mahira tersenyum lalu melambai ringan dan hilang dibalik pintu.


Udara malam berhembus kencang menyapu wajahnya dan menerbangkan anak anak rambutnya yang dicepol asal, malam ini dingin membuatnya makin memasukan kedua tangan ke saku jaket.


Mahira melangkah dengan tenang ke arah angkringan di depan komplek perumahannya.


Dari jarak jauh ia sudah melihat cahaya terang dari arah angkringan membuat Mahira mempercepat langkahnya sudah tidak sabar untuk memesan es kopi dan seporsi sate usus kesukaannya.


Saat memasuki angkringan suara khas dari Mang Ipul menyambutnya, "Halo Neng Ira, biasa neng?" tanyanya seakan sudah hapal.


Mahira tersenyum lalu mengangguk berjalan ke arah kursi kosong dan duduk disana. Dari sini ia bisa lihat keramaian jalan membuatnya tersenyum tipis lalu menengok ke arah Mang Ipul yang sedang membuat pesanannya.


10 menit kemudian pesanannya datang, "Ini Neng Ira es kopi dan seporsi sate usus dengan tambahan bawang goreng diatasnya" ucap mang ipul sambil menaruh pesanannya. Mahira yang sedang melamun refleks menoleh begitu saja.


"Makasi ya mang" sahutnya sambil tersenyum, Mang Ipul yang sudah biasa melihat Mahira melamun sendiri hanya tersenyum.


"Neng Ira kalo ada apa apa angkringan mamang selalu dibuka untuk Neng Ira" tutur Mang Ipul lagi ikut merasa terenyuh melihat gadis ini. Mahira tersenyum berkata dia baik baik saja.


Membuat Mang Ipul tersenyum lalu pamit untuk melayani pembeli yang lainnya.


Mahira meminum sedikit es kopinya untuk meredakan sesak di dadanya. Menutup mata dan berkata ke diri sendiri bahwa ia mampu.


☄️☄️☄️


"Gue merasa kalo lo itu jodoh gue soalnya dimana mana ketemu" Mahira refleks mengangkat wajah kaget, tidak percaya melihat pemuda sinting itu berdiri tidak jauh dari kursi tempatnya duduk.


Membuat pemuda itu tertawa begitu saja melihat wajah kaget gadis satu ini.


Lalu tanpa permisi mengambil tempat duduk di depannya masih sambil tersenyum.


"Ngapain lo" ucap Mahira datar karna melihat pemuda ini.


"Makan" jawabnya santai lalu memanggil untuk memesan. Membuat Mang Ipul datang, "Mau pesan bapa mas?" tanyanya. "Es jeruknya satu sama sate satenya ya mang" ucapnya memesan. Membuat Mang Ipul mengangguk lalu beranjak tapi sebelum beranjak ia bertanya, "Masnya temennya Neng Ira?" membuat Mahira yang dari tadi tidak peduli refleks melotot.


"Mang apasih udah sana tuh banyak yang beli tuh" sahutnya sebal, membuat laki laki yang sudah berumur 40 tahunan itu tertawa.


"Iya Mang saya temennya Mahira" jawabnya lugas sambil tersenyum membuat Mahira mendelik kepada pemuda itu.


Mang Ipul tersenyum, "Ditunggu ya mas" kembali berlalu untuk membuat pesanan.


Malam ini Damar sukses terpana dengan penampilan sederhana gadis ini dengan jaket bermodel cardigan berwarna baby pink, trening hitam serta sendal jepit ditambah dengan rambut yang dicepol asal. Membuat Damar gemas dengan gadis ini.


Mahira yang sadar diperhatikan lekat oleh pemuda itu akhirnya mengangkat wajah, "Lo ngapain sih ngeliatin gue gitu banget." ucapnya sinis.


Damar mengangkat sebelah alis lalu mengelak, "Gue merhatiin cepol rambut lo. Lucu" jawabnya santai. Mahira melirik tidak sadar jantungnya berdetak lebih cepat karna pujian singkat pemuda ini.


"Lo sendirian ke sini?" tanya Damar. Mahira mengangguk samar, kembali hening membuat pemuda ini bingung harus memulai topik pembicaraan.


Saat hening yang terasa lama itu pesanan Damar datang memecah kecanggungan Damar didepan gadis ini. Mengucapkan terima kasih lalu suasana hening datang lagi.


"Lo sering kesini?" tanya Damar meminum es jeruknya lalu mengambil satenya mulai menyuapkan ke dalam mulut. Anggukan kecil dari Mahira membuat Damar lagi lagi harus memutar otak untuk mencari topik.


"Kayaknya lo kenal akrab ya sama penjulnya" ujar Damar penasaran. Karna sebelum masuk angkringan ini Damar sudah melihat dari motor bagaimana akrabnya Mahira dengan si penjual. Bahkan ia tadi sempat melihat Mahira tersenyum membuatnya refleks ikut tersenyum juga.


"Gue sering kesini." jawab Mahira


"Gue suka disini nyaman," ucap Damar lagi.


"Di Nusa Tenggara juga enak" jawab Mahira masih menunduk melihat ponselnya, membuat Damar memperhatikan gadis ini bingung, "Lo pernah kesana?" anggukan kecil Mahira membuat Damar menatap lekat gadis ini.


"Kapan?" ucap Damar, "Kelas 6 SD" jawab Mahira kini mengangkat kepala.


Membuat Damar terdiam karna bisa menatap dengan dekat mata gadis ini, Mahira punya mata berwarna coklat dengan sekitarnya warna putih bening membuatnya tanpa sadar terpana begitu saja.


"Disana lo udah kemana aja?" tanya Damar lagi, "Gue lupa," ucap Mahira lalu terdiam dan kembali melanjutkan, "Tapi ada beberapa tempat yang belum gue kunjungin" balas Mahira menahan diri supaya tidak terpancing untuk bercerita lebih banyak.


Mahira mengambil es kopinya lalu meminum es itu yang tinggal tersisa setengah berusaha menenangkan diri.


"Kenapa gue ga ketemu lo dari dulu aja ya?" tutur Damar menaik naikkan alisnya dengan gaya tengil berubah lagi menjadi pemuda menyebalkan.


Mahira memutar bola mata tidak peduli, Damar yang melihat itu tertawa lalu kembali bicara, "Di sana emang enak tapi ada sesuatu yang gue tinggalin disini." ucapnya membuat Mahira menatap pemuda itu lagi.


"Sebenernya bukan apa apa gue cuma pengen selesain apa yang harus gue selesain disini lalu berteman sama lo" ujarnya lalu tersenyum. Membuat Mahira mengernyitkan kening, "Kenapa harus sama gue?" balas Mahira, "Bukan apa apa gue cuma merasa lo itu ga palsu dan orang orang kaya lo itu udah jarang ditemui di bumi." jawab Damar.


Gue pakai topeng kalo lo mau tau. Batin Mahira lirih dalam hati.


"Gue ga seperti yang lo liat dan gue ga butuh temen" jawab Mahira dingin lalu menoleh ke arah lain.


"Gue tau lo pasti ga mau, tapi gue bakal berusaha supaya gue bisa jadi temen lo" tandas Damar menatap mata gadis ini.


Mahira kali ini terdiam tidak mengelak, pemuda ini mengingatkannya pada seseorang.


Debi.


Gadis itu juga berkata akan berusaha agar Mahira bisa jadi temannya dan sepertinya memang benar.


Gadis itu selalu menganggap Mahira ada, bahkan tidak segan untuk mengajaknya ke kantin ataupun lapangan walau berakhir dengan tolakan.


Tepukan pelan di tangannya membuat Mahira mengerjapkan mata lalu menoleh melihat Damar, "Lo ngelamun. Ngomong ngomong kenapa lo suka kesini? tanya Damar kembali mengambil satenya lalu memakannya.


Mahira diam ada jeda sedikit sebelum ia menjawab pertanyaan itu, "Gue suka disini," lalu terdiam dan kembali melanjutkan, "Sederhana dan ramai." tuturnya lalu menarik nafas menghembuskannya perlahan berusaha menahan bulir hangat.


Damar yang kali ini dibuat terdiam kembali menatap lekat wajah gadis dihadapannya.


Membuatnya membatin Mahira bukan hanya pendiam gadis ini misterius dengan segala cerita yang coba ia tutup rapat dari semua orang.