MAHIRA

MAHIRA
bab 10 | Balkon Kamar dan Pikiran



"Eh ketemu lagi" Mahira yang sedang berjalan ke arah gerbang sekolah menghela nafas mendengar suara menyebalkan ini.


Membuat Damar yang sedang duduk di motornya turun lalu berjalan ke arah Mahira. "Ra panas loh bareng gue aja yo" ajak Damar sambil tersenyum, membuat Mahira diam terus berjalan seakan pemuda ini makhluk tidak nyata.


"Panas banget nih Ra mending sama gue aja" ajak pemuda itu mengekori dibelakang Mahira berhenti mendadak membuat Damar yang ada dibelakangnya refleks menabrak punggung gadis itu.


Membuat Mahira menoleh "Panas denger suara lo" ucapnya pedas lalu berbalik badan melanjutkan langkah.


Membuat Damar kini mengelus dada mencoba sabar menghadapi gadis itu.


Lalu dengan tanpa dosa, "Besok gue tungguin ya di parkiran balik sama gue!" teriaknya membuat orang orang yang diparkiran menoleh.


Membuat Mahira merutuki pemuda itu karna sekarang orang orang refleks menoleh padanya.


Dasar pemuda sinting.


☄☄☄


Mama : Ra mama ada rapat mendadak kita pergi next time ya?


Mahira terdiam membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


Sore ini Mahira sudah mandi dan bersiap ingin pergi bersama sang mama ke mall, tadi saat pulang sekolah mamanya mengabari untuk bersiap siap karna sore nanti akan mengajak Mahira berbelanja ke mall.


Senang.


Satu kata yang menggambarkan perasaannya saat mamanya akhirnya memiliki waktu luang dengannya, tapi itu semua lenyap saat notifikasi pesan dari sang mama masuk.


Membuat Mahira muak jika harus dihadapkan dengan situasi seperti ini terus.


Berjanji, dibatalkan, berjanji lagi lalu kembali diingkari. Mahira bosan tapi dengan bodohnya ia percaya segala hal yang dijanjikan oleh mamanya pun papanya.


Melihat kembali melihat ponselnya lalu memutuskan tidak membalas pesan itu.


Berjalan pelan ke arah jendela yang menghubungkan langsung dengan balkon lalu berdiri disana menikmati angin sore yang membelai lembut wajahnya membuat perasaannya sedikit tenang.


Memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong serta pikiran berkelana entah kemana.


Disaat merasakan perasaan seperti ini, sebenarnya ia hanya butuh seorang teman tapi yang menjadi salah satu masalahnya ia hanya takut, takut akan kemungkinan kemungkinan di dalam kepalanya yang akan terjadi.


Salah satunya takut ditinggalkan lagi.


Menyingkirkan sejenak pikiran itu kembali larut dalam pikiran lain, kali ini berbeda memikirkan kemungkinan jika setelah lulus ini ia akan mengambil negara yang jauh untuk jenjang pendidikan selanjutnya.


Mahira tersenyum tipis sepertinya bukanlah pilihan yang buruk.


☄☄☄


Musik dangdut bergema keras di kamar dengan didominasi warna pink biru disertai dengan nyanyian semangat beberapa orang menambah riuhnya suasana kamar malam itu.


Debi sendiri bingung kenapa tiba tiba kamarnya seperti area dangdut dadakan.


Tadi selepas maghrib ketukan pintu rumahnya terdengar membuat Debi yang sedang di ruang makan buru buru berjalan untuk membuka pintu rumahnya.


Cengiran teman temannya menyambutnya saat ia membuka pintu membuat Debi melongo begitu saja.


"Halo Debii" sapa Keyna riang.


Dengan polos Debi bertanya "Lo semua ngapain?"


"Mau main dong bersama biduan kita Debi Anjani" sahut Adilla semangat, membuat teman teman yang lain ikut mengangguk.


"Sorry ya gue ga terima sumbangan" sinisnya membuat yang lain mendelik tidak terima.


"Deb inget kata pepatah tamu adalah raja" sahut Hana kemudian menaik turunkan kedua alisnya.


Lalu memutar bola mata dan membuka pintu lebih lebar mempersilahkan teman temannya masuk. Membuat yang lain bersorak lalu berebutan masuk, mereka yang berjumlah 6 orang itu mengekori Debi ke lantai atas menuju kamarnya.


Gatau ya Adilla Maheswari udah gila dari sananya apa emang gimana tapi saat mereka sedang asyik bercanda suara pengharum ruangan yang berbunyi membuat Adilla refleks latah lalu berbisik, "Siapa yang bersin deh? Perasaan kita ga ada yang bersin" tanyanya dengan wajah polos.


Dengan ringan guling yang ada didekapan Amel melayang begitu saja ke Adilla membuat gadis itu jatuh dengan lebaynya.


"Itu pengharum ruangan ****" jawab Keyna sudah tak tahan. Membuat Debi tertawa ngakak "Bersin katanya Yatuhan Adilla ******"


membuat gadis itu mendelik bersiap maju ingin menyerang.


"Lo semua diem aja bisa ga? Sedetik aja ga usah jadi sule" ucap Reva lela.


"Re ngaca lo juga kalo lagi kumat ya kaya mereka" jawab Hana, "Ya tapi kan gue bisa kalem juga kaya Mahira tuh" sahut Reva lagi sambil melotot membuat perhatian yang lain fokus ke satu nama yang Reva ucapkan.


"Btw dia diem banget ya keliatan banget ga mau berbaur sama kita" ujar Amel memulai sesi gosip.


"Dari kelas 10 udah gitu kok gatau ya udah dari lahir pendiem atau emang ada sesuatu" sahut Adilla kini mengambil bantal di sebelahnya lalu menumpu wajahnya dengan siku mencari posisi nyaman.


"Gua kaya merasa kita sebagai temen sekelasnya harus ngembaliin sikap dia, ya ga sih?" tanya Abel kini bertanya "Dia harus tau serunya nikmatin masa masa akhir SMA tuh kaya gimana karna bakal jadi kisah yang paling menyenangkan buat dikenang" ujarnya lagi memberi usul.


"Tapi menurut gue dia ga bakal suka kehidupan pribadinya diubah boro boro diubah diatur aja mungkin dia ga bakal mau" jawab Keyna ikut menyambung.


"Udahlah lo semua apasih kalo emang dia nyaman dengan sifat dia yang sekarang kenapa harus kita ubah kan? toh walau dia gamau temenan sama kita, kita bakal terus ada di deket dia. Simpel." sahut Reva yang sedari tadi hanya mendengarkan.


"Kalaupun ada suatu hal yang ngebuat dia kaya gitu kita ga bisa paksa dia buat berubah, kalo dia udah nyaman dengan kelas ini juga dia bakal terbuka dengan sendirinya. Udah udah ayo dangdutan kenapa jadi gosip gini sih" ucapnya lagi sekaligus menutup pembicaraan tentang Mahira.


"Ah lo mah lagi seru nih" jawab Hana sebal lalu bangkit mengikuti yang lain untuk bersiap mengatur posisi.


"Debi lo ga ikutan?!" tanya Adilla yang sudah siap di posisinya membuat Debi yang melamun tersentak, "Kalian duluan aja gue lagu kedua" jawabnya membuat yang lain menyoraki gadis itu membuat Debi melotot mengancam melempar gelas disampingnya.


Debi kembali terdiam sambil memeluk guling ia memikirkan kembali ucapan teman temannya bahwa selama ini Mahira tidak sadar bahwa banyak orang orang disekitarnya yang peduli dengannya.


Debi tersenyum lalu bangkit untuk bergabung bersama teman temannya yang sudah benar benar seperti konser.