MAHIRA

MAHIRA
bab 37 | Berusaha dulu



Malam ini Damar duduk di atas motornya menatap rumah besar mewah disampingnya. Pemuda itu meragu padahal sejak tadi satpam di rumah ini sudah mempersilahkannya masuk tapi Damar hanya tersenyum dan berkata sebentar lagi.


Sudah lebih dari 15 menit tapi pemuda itu tetap diam dimotornya lalu ucapan Bintang ditelfon tadi melintas di pikirannya.


"Semuanya mungkin emang bener bener nyakitin dia, tapi apa salahnya kalo lo coba jelasin?"


Menarik nafas lalu mulai melangkah Damar tersenyum menyapa satpam tadi lalu berjalan lurus ke arah pintu utama. Pemuda itu menekan bel sampai tak lama pintu besar itu terbuka.


"Malam." sapa Damar ramah.


"Malam mas, siapa ya?" tanya wanita di depannya dengan sopan.


"Saya Damar bu, teman Mahira. Mahira ada?"


Wanita didepannya tampak mengernyitkan kening samar.


"Saya Bi Minan asisten rumah tangga disini. Maaf ya mas, mba Mahira sudah tidur." ucap wanita itu tersenyum.


Damar menipiskan bibir, pemuda manis itu menghela nafas lalu mengucap terimakasih dan pamit untuk pulang.


Bi Minan menghela nafas.


Sedangkan Damar duduk diatas motor sambil menatap lantai dua rumah besar ini. Terlihat sangat sepi disana. Mengembuskan napas berat lalu menyalakan mesin bersiap pergi dari sana.


Tak tau bahwa Mahira dari jendela kamarnya mengintip dengan air mata menggenang dipelupuk matanya.


☄☄☄


Ini sudah hari Selasa dan mulai Minggu depan SMA Britania akan menjalan unbk. Tidak banyak yang berubah bagi Mahira ia masih tetap sama, datar dan dingin. Kali ini Debi masuk tapi tidak ada obrolan apapun sejak tadi pagi mereka berdua terlalu sibuk dengan dunia masing masing.


Bahkan yang biasanya Debi pagi pagi sudah berceloteh riang ditempat duduk mendadak pagi ini tempat duduk mereka hening hanya suara lembaran buku Mahira saja yang terdengar.


Debi mengembuskan napas, melirik Mahira disampingnya yang fokus membaca buku pelajaran sambil sesekali menulis. Ia berdehem kecil.


"Ra" panggil Debi pelan.


Mahira tidak menjawab masih fokus menulis.


"Ra" panggil Debi sedikit keras.


"Apa" jawab Mahira datar.


Mata gadis itu kembali memanas lalu berucap pelan, "Gue minta maaf Ra"


"Gue udah nyakitin lo."


Mahira mengeraskan rahang tidak peduli walau sebenarnya gadis itu mencoba berkali kali membaca tulisan pada baris yang sama.


"Plis kasih gue kesempatan untuk jelasin semuanya." lirih Debi memohon.


"Sorry." ucap Mahira dingin, menatap tajam buku didepannya lalu membereskannya, bersiap pergi dari sana.


Debi tidak menahan menatap nanar punggung Mahira yang berjalan ke arah pintu kelas mengabaikan panggilan Beben.


☄☄☄


Disinilah Mahira berada sekarang duduk dipojok perpustakaan sekolahnya. Perpustakaan SMA Britania merupakan salah satu tempat favorit Mahira di sekolah, tempat ini dingin dengan beberapa ac disudut ruangannya ditambah beberapa karpet di bagian kanan untuk membaca secara lesehan disana.


Mahira dulu pernah beberapa kali duduk lesehan di sana bersama Debi walau niatnya ia ingin membaca tapi berakhir dengan bercerita dengan gadis itu.


Mahira menggelengkan kepala lalu membuka buku pelajarannya serta buku tulis melanjutkan belajar kali ini. Walau pada nyatanya gadis itu tidak bisa konsen, berkali kali mengetuk ngetuk pulpen di meja mencoba fokus tapi akhirnya ia menaruh pulpen dan mulai melamun seperti biasa.


Teringat kembali dengan Debi lalu Damar serta kejadian di rooftop sekolah tempo hari membuat Mahira kian menyalahkan perasaannya sendiri. Gadis itu berteriak dalam hati mencoba melampiaskan walau pada nyatanya itu semua terasa sia sia.


Ia memijat kening lelah, mendongak ke atas menahan buliran air yang mulai berkumpul di pelupuk matanya. Meremas roknya menahan sesak disana.


Berikutnya menempelkan wajah di meja tanpa sadar terlelap disana.


☄☄☄


Damar mengumpat ngumpat sebal karna Bintang ia harus ke perpus mencarikan buku sejarah lama untuk Pak Anto guru sejarahnya. Tadi sebenarnya pemuda itu yang disuruh tapi Bintang beralasan tidak tau letak bukunya dimana membuat Pak Anto menunjuknya untuk ikut menemani Bintang ke perpus.


Damar masuk mendapati perpustakaan dengan keadaan sepi lalu mulai melangkah ke arah rak rak belakang dimana biasanya buku buku lama diletakkan di sana.


Damar menoleh ke belakang kembali mengumpat melihat Bintang belum kembali karna tadi pemuda itu bilang ingin pergi sebentar ke toilet.


Pemuda jangkung itu mulai menelusuri berharap cepat ketemu lalu kembali ke kelas sampai tanpa sengaja matanya menangkap seseorang duduk dipojokan dengan kepala menempel ke meja. Awalnya Damar tidak mau mendekat takut tiba tiba itu bukan manusia sampai ia mendengar suara dengkuran pelan.


Damar mendekat lalu melongok dan tersentak bahwa orang ini adalah Mahira. Pemuda itu mengelus dada kaget sendiri lalu memutuskan untuk mendekat.


Pemuda manis itu duduk disampingnya memperhatikan lekat wajah Mahira yang polos jika tertidur. Ia tersenyum mengangkat tangan ingin mengusap rambut gadis ini sampai ia menurunkan tangannya kembali tidak mau mengganggu.


"Kalo lo kaya gini gue mana tega Ra ninggalin lo?" tanya Damar pelan.


"Lo sering bilang sama gue kalo banyak yang nyakitin lo, tapi lo selalu gamau kasih tau gue siapa orang itu dan sekarang gue tau Ra, gue termasuk salah satu orang yang nyakitin lo juga ya?"


Damar tertawa miris dengan pelan masih menatap lekat wajah gadis disampingnya ini.


"Lo inget ga Ra? Waktu kita jalan jalan dibawah hujan lo pernah bilang setelah lulus sekolah lo mau pergi jauh tanpa mama, papa atau orang lain, lo inget? Gue sebagai orang yang sayang sama lo berusaha untuk engga membuat mimpi itu jadi nyata Ra,"


"Gue ga pernah mau lo pergi, dan saat hari itu juga gue janji sama diri gue sendiri untuk selalu jagain lo."


Damar menarik nafas merasa sesak tiba tiba.


"Tapi gue bersyukur dengan lo benci sama gue, jadi nanti ketika gue pergi lo ga perlu merasa kehilangan."


Damar mengepalkan tangan tapi pemuda itu tidak mengalihkan pandangannya pada Mahira disampingnya.


"Mar"


Damar menoleh mendapati Bintang memanggilnya pelan dengan buku yang sedang ia cari ada di tangan pemuda itu. Damar mengangguk. Lalu menoleh kembali melihat wajah Mahira.


Dengan mengumpulkan keberaniannya pemuda itu mengangkat tangan dan mengelus puncak kepala Mahira singkat. Merasakan lembutnya rambut gadis itu. Damar kembali memperhatikan wajah Mahira yang seakan tidak terganggu sama sekali. Lalu dengan pelan berucap.


"Gue sayang banget sama lo."


☄☄☄


Mahira terbangun lalu menatap sekitar dengan kesadaran yang belum kembali seluruhnya, ia mengusap wajah lalu mengerutkan kening merasakan bengkak sedikit di kelopak matanya.


Ia mencoba mengingat ingat mimpi tadi. Mimpi yang terasa begitu nyata tapi ia tidak ingat, yang gadis itu ingat ia hanya melihat samar punggung seorang pemuda yang berjalan membelakanginya.


Mengusap sisa air matanya yang masih bersisa lalu membereskan buku bukunya melirik jam ternyata sudah jam pulang sekolah, pantas saja sepi. Berbelok ke toilet dahulu untuk mencuci muka dan menatap pantulan matanya yang jelas sekali terlihat sembab disana khas orang habis menangis.


Gadis itu berjalan pelan ke arah kelasnya sambil menunduk dan mendapati kelasnya sudah kosong, buru buru ke tasnya di bagian belakang dan memasukkan peralatannya disana. Mengambil ponsel di kolong meja dan mengerutkan kening ada sticky note kecil tertempel disana, "Hati hati Ra pulangnya, jangan mampir² langsung pulang." kalimat itu yang tertulis di sticky notenya.


Mahira meneguk ludah mengalihkan wajah ke arah lain.


☄☄☄


Mahira berjalan tenang di koridor yang sudah sepi itu tapi di lapangan utama sekolahnya masih ada beberapa yang sedang bermain basket.


Menatap langit yang kini terasa lebih teduh dari biasanya, saat melihat ke depan ia melihat ada seorang pemuda yang bersender di tiang dengan kaki menekuk menatap ke arah depan.


Mahira yang tidak peduli melewati pemuda itu begitu saja, sampai tiba tiba ada yang menarik ujung ranselnya. Mahira menoleh menatap datar pemuda itu yang menariknya.


"Kenalin gue Bintang" ucap pemuda itu tanpa basa basi.


Mahira mengerutkan kening walau mau tak mau memperkenalkan diri juga, "Mahira"


"Bisa ngobrol sebentar?" Mahira tambah mengerutkan kening.


☄☄☄


"Mungkin menurut lo ini ga jelas ada orang yang tiba tiba kenalan sama lo dan ngajak lo ngobrol gini." ucap Bintang memulai pembicaraan.


Mereka berdua tengah berada di warung dekat sekolah tempat yang biasanya ramai murid lelaki SMA Britania duduk duduk setelah pulang sekolah, tapi anehnya kali ini warung itu sepi.


Mahira yang tengah mengaduk ngaduk es kopinya mengangguk ngangguk tapi belum juga menoleh.


Bintang menjilat bibir sekilas, terasa canggung.


"Gue temennya Damar, Ra." adukan sedotan di gelas kopi itu berhenti tapi Mahira tetap diam menunggu penjelasan selanjutnya.


"Mungkin ini klise, tapi tolong dengerin penjelasannya dulu Ra. Semua ini salah paham, bukan ini maksud Damar. Bukan seperti ini rencananya."


Mahira tertawa sinis, "Rencana?"


"Rencana yang ngebuat semuanya tambah rumit karna dia terlalu takut untuk jujur sama gue dari awal?"


Bintang terpaku diam diam meneguk ludah. Merasa diskak oleh gadis ini.


"Ra, ada beberapa hal didunia ini yang engga bisa diungkapkan secepat lo ngebalikin telapak tangan." ujar Bintang menjelaskan pelan pelan.


"Semuanya butuh waktu termasuk Damar."


"Mau berapa lama lagi?" tanya Mahira kembali mengaduk es kopinya.


"Sampe dia pergi?"


Bintang tersentak menatap Mahira lama.


"Gue ga pernah tau kenapa, tapi gue selalu punya firasat kalo dia bakal pergi. Gue gatau dia pergi kemana, gue ga ngerti." jelas Mahira.


Bintang mengatur raut wajah, kembali bertanya pelan "Kalo dia emang bener pergi, lo mau apa Ra?"


Mahira menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah sendu menatap es kopi didepannya.


Kali ini Bintang yang menyedot minumnya mencoba menenangkan diri, walau dikenal sebagai pemuda yang sering melempar lawakan dimana mana tetapi ia juga bisa merasa ikut bergetar menghadapi gadis pendiam disampingnya ini.


"Ra, lo perlu denger dari Damar ataupun dari Debi. Lo juga harus bisa nilai dari mereka juga." ujar Bintang pelan.


Mahira menggelengkan kepalanya samar, "Gue...ga sanggup." jawab Mahira lirih. Kali ini gadis itu menutup mata mencoba untuk tidak menumpahkan air matanya kembali.


"Sakit banget Ra?" tanya Bintang kembali.


Mahira diam sebentar, "Bahkan gue ga bisa ngerasain semuanya lagi, Bin."


Bintang kali ini juga diam tidak bertanya kembali sampai akhirnya Mahira beranjak dari kursinya membuat Bintang terkejut, gadis itu membayar lalu menoleh ke arahnya.


"Gue duluan." pamit gadis itu singkat.


Bintang yang sempat ingin mengejarnya akhirnya hanya bisa melihat punggung Mahira yang berlari ke arah bus kota yang kebetulan sudah tiba disana.


Pemuda tampan itu memperhatikan sampai bus kota yang dinaiki Mahira benar benar hilang dari pandangannya.